
Wanita berjas putih masuk ke ruang ICU di mana seorang pasien yang kemarin baru saja menjalani operasi transplantasi jantung dirawat. Ada binar kebahagiaan di pelupuk mata dokter spesialis jantung tersebut. Namun, dia masih mampu menguasai dirinya agar tidak menjatuhkan bulir bening di manik kecokelatan miliknya.
Seolah ingin bercengkerama dengan Greta, pasien wanita itu menggerakkan salah satu tangannya untuk memanggil sang dokter agat segera mendekat ke arahnya.
Di sampingnya seorang pria senantiasa menjaga wanita itu sepanjang waktu, "Maaf, aku baru saja tiba." ucap Greta menyapa sepasang suami istri yang telah banyak melewati rintangan.
"Jangan berkata seperti itu, dok! saya dan istri saya merasa berterima kasih yang tidak terhingga atas semua kebaikan dokter." Tak bisa dibohongi lagi, kedua mata suami dari pasien itu berkaca jika mengingat semua kebaikan Greta.
"Semua ini sudah jalan dari Tuhan,"
"Oya, sampaikan rasa terimakasih saya kepada suami Anda. Saya dengar dari departemen IGD, suami dokter Greta telah mengantarkan jantung untuk istri saya."
Greta berjalan mendekati ranjang ICU agar bisa lebih dekat dengan pasien wanita itu. Ditatapnya lebih lekat lagi seolah bisa berkomunikasi hanya melalui tatapan mata saja.
Kemudian wanita itu mengulas senyum, sangat jelas senyum itu tergambar meski terdapat penghalang yakni masker oksigen.
"Tenang saja! kami akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan bayimu." ucap Greta lalu mengusap lembut bahu pasiennya.
Pembicaraan dua wanita dengan gerak tubuh itu harus terhenti lantaran sebuah getar dari ponsel yang berada di saku jas Greta merusak kebersamaan itu.
Dilihatnya nama yang tertera di layar benda pipih miliknya. Rupanya Prada lah yang menghubungi Greta. Dokter wanita itu meminta izin keluar dari ICU meksi dengan setengah hati. Dia mengembuskan napas dengan sekenanya, meski telah banyak melukai hati Greta, nyatanya semalaman Greta juga memutar otak untuk memecahkan kode pesan dari papanya. Namun, Greta urung membagi hasil pesan itu kepada Prada karena pria itu sudah tak jujur padanya.
"Apa kau sibuk?" Baru saja Greta mengangkat panggilan itu dan Prada seolah kesetanan dengan melemparkan pertanyaan apa adanya.
"Seperti biasa, aku bertugas di IGD. Ada apa?" Sebenarnya Greta menyembunyikan sesuatu dari semua orang. Pagi tadi, sebelum dia bertugas di IGD, Greta sempat berbicara empat mata dengan sang paman. Direktur menarik kembali posisi Greta ke Departemen Jantung dan Pembuluh Darah. Dokter wanita itu langsung menolaknya tanpa pikir panjang.
"Bukankah aku sudah mendesak paman? Kenapa Greta masih berada di IGD? Atau aku perlu menarik dana investasi di rumah sakit itu?" Prada merasa kecewa karena Direktur mengabaikan permintaannya.
"Sepulang bekerja aku akan menjemputmu? Kita dinner bersama."
"Duh, maaf banget, ya ... aku udah ada janji tar." tolak Greta dengan halus.
__ADS_1
Istri Prada tidak membohongi suaminya, karena benar apa kata Greta bahwa dia memiliki sebuah janji temu dengan seseorang sore ini hingga malam.
"Dengan siapa? Ah maksudku hingga jam berapa? Apa aku perlu menjemputmu nanti?" Prada kini benar-benar mengubah perangainya menjadi lebih over protective kepada Greta.
Apalagi sejak kejadian yang hampir saja mencelakai sang istri, Prada seolah tidak ingin Greta keluar rumah meski hanya sejengkal saja.
"Tidak perlu, nanti Pak Surip akan mengantar jemput seperti biasanya." Prada memang telah memberi tanggung jawab secara penuh pada Pria setengah abad itu untuk terus mengawasi dan menjaganya.
Tiada kesempatan berjumpa bukan hal yang akan menurutkan usaha Prada demi kebahagian Greta. Rencana untuk mengajak sang istri berlibur sudah memasuki fase final. Bahkan kini, Prada telah mendapatkan dukungan valid dari seseorang yang akan menguatkan jawaban iya Greta nantinya.
"Baiklah! segera kabari aku jika kau sudah selesai."
Greta memang kesal sekali dengan Prada, hingga pada saatnya nanti dirinya tidak akan minta Prada untuk menjemputnya. Meskipun dia sebenarnya sangat berharap jika Prada bisa menemaninya menemui seseorang tersebut.
**
"Kau sudah datang, Sayang?" sapa seorang wanita paruh baya dengan dandanan fashionable seperti yang seiring Greta temui sebelumnya.
Rosaline mengundang menantunya untuk datang ke rumah. Dia ingin selangkah lebih dekat lagi dengan wanita yang dipilih oleh Prada anaknya. Namun, Rosaline sengaja tidak mengundang Prada karena sang putra tidak pernah bersedia datang jika diundang olehnya di rumah suami baru Rosaline ini.
Rumah mewah yang sangat besar itu terasa kosong, bukan karena kekurangan perabot. Melainkan, Greta sama sekali tidak melihat keharmonisan di rumah ini. Hanya tampak pengurus rumah yang lalu lalang melakukan pekerjaannya.
Rosaline mengajak Greta ke dapur dan mulai memasak untuk anak dan menantunya. "Ibu di rumah sendiri?" Maksud pertanyaan Greta adalah tak tampak ada anggota keluarga yang lain pada sore hari seperti ini.
"Suamiku melakukan kunjungan kerja, dan Amora sibuk dengan teman-temannya." Suara Rosaline terdengar bergetar, terasa ada sesuatu yang menahan emosinya.
"Ibu, jika ibu tidak keberatan, Ibu bisa menemuiku kapan saja jika Ibu mau."
"Tidak salah jika Prada sangat tergila-gila dengan wanita ini, dia begitu tulus dan tidak menaruh kecurigaan sama sekali pada orang lain."
Belum lama Greta di rumah mertuanya, Prada terus saja menghubungi dirinya karena merasa diabaikan. Menurutnya, Greta lebih memilih bertemu dengan orang lain daripada dengannya.
__ADS_1
"Ada apa, sih? Jangan ganggu aku! jangan khawatir, aku di rumah Ibu." Bentak Greta dengan kesal karena Pada terus menelponnya setiap tiga menit sekali.
"Di rumah Ibu?" Prada terlonjak dari tempat duduk di dalam ruangannya. Meskipun Greta menyuruhnya untuk tidak khawatir. Namun, itu justru semakin membuat Prada berprasangka buruk.
Pengacara itu tidak lagi memedulikan keadaan kantor dan memilih meninggalkan kantor untuk menjemput sang istri.
**
Tak berselang lama, Prada tiba di rumah ibu kandungnya sebelum waktu makan malam tiba. Secepat kilat langkah kaki Prada memasuki rumah mewah tersebut untuk menarik pulang Greta dari rumah itu.
Jantungnya terasa ingin berhenti berdetak, jika Prada sempat melihat jam tangan, mungkin ritmenya sudah tak tentu lagi.
Prada menarik tangan kanan Greta yang hendak menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut tipis itu.
"Ada apa?" Seolah tidak menyangka, Greta menegur ketidaksopanan Prada.
"Ayo pulang!"
"Tapi aku baru mau mencicipi masakan Ibu,"
Tanpa menerima jawaban dari Greta, Prada menarik sang istri keluar dari dapur. Hal tersebut menyisakan tanda tanya di benak Rosaline. Wanita tua itu buru-buru mengambil tempat makan yang sudah dia siapkan untuk dibawa pulang oleh Greta.
"Sayang, kamu lupa ini. Bawalah dan makan bersama suamimu!"
Tetapi ... belum sempat Greta menerimanya, Prada menangkis tempat makan itu hingga terlontarkan dan jatuh ke lantai. Karena jatuh dengan keras, semua isi kotak itu berhamburan keluar.
"Kamu ini apa-apaan? Gila, ya?'
Prada tidak peduli dan terus menarik Greta keluar dari rumah ibunya.
...****************...
__ADS_1