
"*Kak Hiroishi, aku kembali.."
"Begitu, baguslah.. Selamat kembali, Miyuki*."
Aku Yamashita Miyuki, guardian kakakku. Usiaku hampir sama dengannya, hanya berbeda 4 bulan lebih muda darinya. Ini kisah hidupku, yang awalnya tertawa dan berakhir tidur selamanya. Bisa dibilang hidupku begitu pahit setelah kehilangan semuanya,
..rasanya ingin menyerah di dunia ini.
Di awal usia ku 7 tahun, aku hidup bersama ibu ku dan pendudukku yang begitu damai di Izu. Semuanya tertawa, bahagia dan saling menyayangi satu sama lain. Aku memiliki banyak teman, ilmu, potensi dan anak yang disukai mereka. Semua itu berkat ibuku, dialah mengajariku agar menjadi perawat. Aku bertanya,
"Ibu, kenapa menginginkan ku menjadi perawat?"
Dia tersenyum tipis dan lembut, "karena suatu saat kau bisa menyelamatkan orang lain terutama dirimu."
Sebelumnya, aku menolak keinginannya. Meski keinginan itu terdengar lembut dan penuh harapan besar, tapi aku selalu bertanya-tanya.
"Aku tidak mengerti ucapan ibu.."
Hingga hari itu, beberapa orang membuat kerusuhan rumah kami. Ibu ku dan lainnya melawannya dengan tekad begitu kuat, orang-orang itu adalah klan Fujii yang memperlakukan kami seperti boneka.
Setiap hari kami ketakutan, suara tangisan anak perempuan dan ibunya ikut melayang didepan mata ku. Mereka mati, hanya tersisa aku dan ibu ku.
Pria kecil disamping ku menangis karena telah kehilangan ibunya, dia sepupu ku Ito Yamashita. Hanya dia satu-satunya pria kecil tersisa..
"Ito?"
Aku mencoba menenangkannya, tapi aku kaku merasakan kesepian itu dihatinya.
"Kenapa? Kenapa mereka menyiksa kami?"
Pertanyaan itu tak bisa ku tanggapi, melainkan hanya bisa memeluknya dan menumpahkan airmata bersama.
"Aku sangat takut.. Miyuki."
Satu-persatu orang-orang tidak bersalah itu menghilang hanya aku, Ito dan ibuku masih tersisa, kami meninggalkan Izu dan melarikan diri ke tempat yang jauh, Okinawa.
Selama 4 bulan kami bersembunyi, tapi aku tidak pernah melihat ibu ku menangis. Selama ini, ibu ku berusaha tegar dan menenangkan ku bersama Ito.
"Kau dan Ito tetap aman, selama ibu ada bersama kalian.."
Malam itu, kami berlari. Aku masih tidak mengerti, apa yang terjadi. Aku melihat wajah ibuku sangat panik dan ketakutan, apa orang-orang menemukan kami?
Tidak, itu ayahku Shimizu Kato. Dia adalah pimpinan klan cabang Shimizu, ibu ku pernah cerita bahwa dia dipaksa nikah dengannya. Meski ibu sudah sah menikah, tetap saja ayah memperlakukannya seperti boneka dan menghukum seenaknya. Dan tentu saja, ibu ku menderita tapi wajah penderitaan itu tidak pernah ku lihat.
Saat ini, ayahku mengejar kami. .
"Miyuki, Ito? Kalian sembunyilah di sini dan jangan kemana-mana sampai ibu kembali."
Aku mencemaskan, dia meninggalkan ku. "Tapi.."
Namun, dia tetap tenang dan melebarkan senyuman itu. "Ibu selalu disisi kalian.."
Kami memeluknya penuh rasa cemas dan berharap dia kembali. Melihatnya pergi saja membuat ku ingin menangis berdiam disini, apa itu terakhir aku bersama ibu ku?
"Lindungi ibu.."
Malam semakin menggelap, rasanya begitu sunyi dan ibu belum kembali. Rasa keyakinan ku mulai menghilang, Ito berusaha menenangkan ku. Namun, aku kehilangan batas menahan rasa cemas ku. Aku pergi mencarinya,
"Miyuki!" Ito berusaha menghalangi ku agar aku tidak pergi sendirian, aku bersikeras pergi dan meninggalkan Ito.
"Maafkan aku Ito, tapi perasaan ku merasa buruk tentang ibu. Aku khawatir, jika hari ini adalah..."
Aku berlari terengah-engah ke hutan mencarinya, dan langkah itu berhenti. Wanita berambut pendek warna coklat dan berponi seperti rambut panjang ku, berbaju putih dipenuhi noda darah dibagian perutnya dan wajah pucatnya juga terlihat, bibirnya sudah mengeluarkan darah.
"Mi..yu..ki.." Dia memanggilku, nada yang begitu lemah melihat diriku.
Perlahan-lahan aku mendekatinya dan sekujur tubuhku mulai kaku, "ibu.."
Wanita tadi, Yamashita Moyuka itu ibu ku. Aku syok melihat pedang raksasa milik ayah ku menusuk perutnya.
"Maaf..maafkan ibu, maafkan ibu.." Akhirnya airmata itu berlinang diwajahnya. Ini pertama kalinya bagiku, tapi aku kecewa. Kecewa bahwa selama ini ibu menyembunyikan penderitaan dariku. Aku menangis,
"Kenapa..kenapa ibu membohongi ku? Kenapa? Menyembunyikan rasa sakit itu dari ku, kenapa, ibu?"
Tangannya ternoda darah itu mengusap airmataku,
"*Yamashita memiliki sisi yang begitu lemah, mereka yang menderita akan tersenyum apapun situasinya karena..karena mereka tidak ingin kau melihatnya, Miyuki."
"..jika kau menyaksikannya, maka putriku akan merasakannya bukan*?"
Aku tidak menanggapinya dan membiarkan ibu memberitahu kebenarannya.
"Itu pasti menyakitkan, ibu mohon temukan orang yang bisa melindungimu dan selalu ada bersamamu, saat ini ibu tidak bisa menjagamu lagi, maafkan aku Miyuki."
"..berjanjilah untuk memenuhi keinginan ibu, ya?"
Mendengar ucapan itu, aku merasa bingung menentukannya. Tapi ku usahakan janji itu akan ku penuhi..
"Ya..ya, aku akan memenuhinya, tapi.."
Dia memintaku tidak mengharapkannya untuk kembali lagi,
"*Waktuku tidak banyak lagi, maukah kau menuntaskan dendamku Miyuki?"
"..bunuh ayahmu*," Dia menyerahkan samurai miliknya untukku.
Aku meragukannya, membunuh ayah sendiri itu sama saja melakukan kesalahan besar.
"Tapi, itu kan.."
"Ibu mengerti, melakukan kesalahan besar maka kau harus menanggungnya, tapi kau siap bukan? Tunjukkan padaku, kau bukan wanita yang lemah seperti ku."
"..ku mohon.." Nada itu berhenti, aku kehilangan ibu ku yang satu-satunya ibu yang ku sayanginya. Awan mulai menggelap dan tangisannya datang membasahi ku,
__ADS_1
Aku tak bisa berkata-kata apa lagi menyaksikan hal menyakitkan, tapi aku benar-benar marah dan sangat marah.
"AAAARGHHHHHH!!!!" aku berteriak dan menangis.
Kedua mataku terasa kaku dan gemetar, "KENAPA?!! KENAPA YAMASHITA HARUS MERASAKAN SAKIT INI?! KENAPA?!!!"
aku benar-benar merasa gila.
••
Sudah seminggu meninggalkan hal menyakitkan itu, Ito ikut menghilang entah kemana. Kini aku sendirian dan kesepian bersama pedang samurai milik ibu ku. Diusia ku 5 tahun, aku menghabiskan 3 tahun belajar bela diri karena aku ingin menjadi ksatria samurai bukan menjadi perawat. Tapi, mengapa harus memenuhi keinginan ibu? Aku masih tidak mengerti alasannya.
"Rasanya sulit sekali ya.."
9 november, aku memotong rambut panjangku dengan samurai ibu ku. Dan malam itu, aku memutuskan menuntaskan dendamnya.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Rasa amarah masih membara dalam lubuk hatiku, emosi lainnya seperti menangis, tertawa dan masih banyak lagi. Perlahan-lahan emosi itu tertidur hanya amarah yang tersisa mengendalikan ku bahwa aku tidak pernah memaafkan ayahku seumur hidupku.
"Aku menemukanmu, Shimizu Kato."
Berdiri diam di samping jalan yang sepi itu, tak menyangka aku menemukan pembunuh itu berwajah murung.
"Ada apa dengan wajah itu?"
"Miyuki?!" Nada yang begitu terkejut bercampur lega melihat ku.
Tapi, tingkah dingin ku malah mengabaikannya.
"Kejam sekali,"
"..setelah melenyapkan Yamashita, bisa-bisanya wajah itu tidak memperlihatkan rasa bersalahnya."
Aku merasa kesal, dia tidak menunjukkan rasa bersalahnya yang telah di lakukan pada ibuku melainkan bersandiwara tidak melakukan apa-apa terhadapnya.
Dia mencoba menjatuhkan dalam jebakan liciknya agar aku mau ikut bersamanya.
"Kau pikir itu mudah untukku, bodoh!"
Dia tidak menyerah, masih berusaha membujukku hingga perlahan-lahan langkahnya semakin mendekat ke hadapan ku. Bibirku tersenyum jahat, betapa senangnya langkah itu makin mendekat. Mau cari matikah?
"Sepertinya aku tidak usah repot-repot melakukannya, kematiannya juga sudah mau dekat." Gumam ku.
Ketika langkahnya tepat dihadapanku, tanpa berpikir panjang aku menusuk samurai ibu ku tepat di jantungnya.
"Kau benar-benar bodoh!"
Tentu saja, wajahnya mengekspresikan syok melihat samurai itu menusuknya.
"Kenapa?" Dia bertanya, mengapa aku menusuknya.
"*Kau harus mendapatkan pembalasan dari ibu ku yang sudah kau bunuh!"
Akhirnya wajah itu menunjukkan rasa bersalahnya dan meminta maaf, tapi semua itu terlambat.
"Meminta maaf saja tidak bisa memgembalikannya, kau bukan ayahku lagi!"
Tubuhnya jatuh tak berdaya itu penuh noda darah, aku meninggalkan samurai itu di tubuhnya seperti dia meninggalkan pedang raksasanya di tubuh ibu ku.
Akhirnya dendam ibuku tuntas di tangan ku sendiri, tapi aku sudah melakukan kesalahan besar dan tentu saja aku siap menanggung dosa-dosa ku.
"Apapun itu..aku siap."
Mulai hari itu dengan tekadku bersiap menghadapi apapun situasinya, diam-diam emosi itu tertidur selamanya.
••
Di usiaku 12 tahun, aku dipertemukan dengan Shimizu Mayumi. Gadis imut, bermata coklat kuning dengan rambut asli merah muda dan poninya sangat cocok untuknya.
Sebelumnya, ibunya alias Matsumoto menemukan ku. Dia tau segalanya bahwa aku membunuh suaminya alias mantan ayah ku, sebagai balasan aku dijadikan boneka Mayumi, anak satu-satunya dia sayanginya.
Awalnya dia semekar sakura, namun setelah kehilangan ayahnya perlahan-laham sakura berguguran. Aku melupakan sesuatu yaitu, keluarga Shimizu masih punya rasa sayang dan cinta pada mantan ayah ku terutama Mayumi.
"Bagaimana jika dia tau siapa pembunuhnya?"
Saat ini hanya Matsumoto yang memgetahuinya. Lalu, aku bertemu Yamashita Ito. Dia juga bonekanya Matsumoto, matanya berubah coklat menghitam tidak mendengarkan ku maupun mengenaliku. Apa dia dibawah kendali oleh Shimizu?
"Ku rasa itu benar."
Saat itu, aku masuk SMP demi menjaga Mayumi. Kami tidak pernah berbicara, dia menganggapku tidak ada dan membiarkan diriku selalu disampingnya. Tapi, sikap dinginnya menodai nama ku dihadapan teman-temannya hingga mereka menghantui ku.
Akan tetapi, aku sulit mengekspresikan emosi ku hanya berdiam diri layaknya robot.
Sampai SMA, dia dingin seperti biasanya dan menjelekkan ku. Tidak punya teman dan jadi bahan ejekan di tempat itu. Hingga hari itu, gadis cantik bermata biru dan berambut kuning keriting mencoba berteman dengan ku.
"Nama ku Saito Angelina, apa aku bisa berteman denganmu?"
Jujur saja, aku senang mendengarnya tapi mengapa bibirku sulit sekali tersenyum.
"Kau bisa tersenyum seperti ini." Dia mengajari ku cara tersenyum.
Begitu mencobanya, rasanya bibir ini kaku sekali hinggan senyuman itu jadi menakutkan.
"Hehehehe..sepertinya itu sulit untukmu, tapi berusahalah karena kau harus tetap tersenyum apapun situasinya."
Mulai saat itu, aku berteman dengannya. Dia mengajariku banyak hal terutama impian, disitulah aku membuat keputusan bahwa aku akan mengabulkan permintaan ibu ku, menjadi seorang perawat.
Namun, tak lama berteman dia meninggalkan ku dan bergabung dengan mereka. Apa yang terjadi? Apa aku membuat kesalahan? Sepertinya tidak, semuanya terasa baik-baik saja. Tapi aku tidak begitu memikirkannya.
Setiap pagi, aku belajar keperawatan dan setiap malam aku harus menerima hukuman karena Mayumi. Dan itu terjadi berturut-turut hari dan aku tidak pernah menangis maupun muak.
Aku hanya menjalani penderitaan hingga sekarang di usiaku ke 20.
••
__ADS_1
Di usia ku 20 tahun, ini pertama kalinya aku melihat Mayumi menangis dan merasakan bahwa dia juga menderita. Tapi, aku ingin tau jawabannya.
"Mayumi-sama, kenapa?"
Dia tidak menanggapinya namun dia memelukku menumpahkan airmatanya. Tangan ku mengusap rambutnya dengan lembut, dia mengubah warna rambutnya jadi coklat muda. Sekarang ini dia menjadi dokter.
"Jika kau punya masalah, kau bisa menceritakannya pada ku."
Tak menyangka, dia mau menceritakan masalahnya bahwa ibunya memintanya untuk bersandiwara dengan pacarnya agar dia dengan mudah merebut pimpinannya.
"Padahal aku mencintainya.."
Cinta? Aku merasa dadaku sesak dan sakit mendengar kata cinta. Tapi, dengan tenang aku menyembunyikannya.
"*Begitu, lalu apa yang kau lakukan Mayumi-sama?"
"Entahlah, aku tidak tau Miyuki*."
Hari masih berlanjut, Mayumi memintaku untuk mendaftarkan diri di RS Aizawa karena keahlianku begitu tertarik. Namun, itu rahasia kami tanpa sepengetahuan Matsumoto.
"Permisi, apa kau dokter Hiroishi?"
Pria tinggi 179 bertubuh kurus tapi kuat sedang berwajah murung melamun menyaksikan sesuatu, dia tidak menyadari kehadiran ku. Aku melihat apa yang dia lihat, ternyata dia menyaksikan pacar Mayumi sedang melamarnya.
"Dia menyukai Mayumi-sama?" Pikir ku.
Aku sedikit memperhatikan punggung belakang pacar Mayumi, meski aku sulit melihat wajahnya tapi jantungku berdebar-debar.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba perasaan ku menjadi aneh, aku tidak begitu mengerti emosi yang dirasakan oleh mereka terutama cinta.
Tak satupun emosi itu ada dalam tubuhku, rasanya mati kosong. Aku mencoba menyapanya lagi.
"Permisi, apa kau dokter Hiroishi?"
Akhirnya, dia menyadari ku. "Tentu, senang bertemu denganmu Miyuki."
Eh? Sejak kapan dia mengenali ku. Apa Mayumi memberitahunya, ku rasa begitu.
Setelah beberapa hari bekerja di RS Aizawa, aku betemu dengan tunangan Mayumi, pria tinggi 180 bertubuh besar dan berotot, memiliki kulit putih mulus dan mata yang begitu indah.
"Bukankah dia tunangan Mayumi-sama?" Tapi entah mengapa jantungku berdebar lagi.
Pekerjaan ku ketahuan oleh Matsumoto. Dia mengetahui informasi itu dari Ito, Hiroishi membela ku dan tidak membiarkan wanita itu menyakitiku.
Aku terkagum melihat dia membela ku, Hiroishi adalah pria pertama mengetahui penderitaanku di Shimizu. Semua itu berkat Mayumi, dia menceritakan betapa menderitanya aku di tempat itu tapi sayang sekali aku selalu saja menahan luka itu seolah tidak terjadi apa-apa disekitar itu.
Dan lagi, aku menerima hukuman berat hingga pingsan. Terdengarlah suara isak dari Mayumi, dia merasa bersalah akibat dirinya aku harus menanggung semuanya. Tapi aku masih bersikeras dengan tenang.
"Aku baik-baik saja Mayumi-sama."
Dia benar-benar tidak mengerti mengapa aku bisa menahan penderitaan itu? Aku tidak bisa memberitahunya karena ini kesalahan besarku dan harus menanggungnya seumur hidup, andai dia tau hal sebenarnya, apa dia masih mau mengasihani ku? Dia pasti membenci ku.
Sebulan kemudian...
"Mulai besok kau bebas dan buatlah keputusan itu sendiri."
Mayumi menghilang dan dinyatakan meninggal. Aku tidak mempercayakannya karena tidak merasakan sesuatu hal terjadi padanya justru masih merasakan keberadaannya masih ada. Akan tetapi, aku mendapat hukuman lagi.
Hari pemakaman, aku tidak menghadirinya melainkan jalan mencari udara. Berjalan sendirian di pinggir jembatan raksasa itu rasanya sepi sekali hanya suara kenderaan berlalu-lalang di sebelahku. Aku menghentikan langkahku dan memperhatikan laut luas dibawah ku.
"Indah sekali.."
Tiba-tiba airmata ku jatuh mengalir di pipi ku, "Eh? Aku menangis?"
Aku bingung, mengapa aku menangis? Apa kedatangan seseorang? Aku melihat disekeliling ku, tidak siapapun di sana. Tetapi di seberang ku adalah pria yang ku temui di rumah sakit, tunangan Mayumi.Dia sedang memanjat pagar jembatan itu,
"Jangan bilang kalau dia ingin..."
Aku terkejut menyadari dia ingin bunuh diri, aku berlari dan berusaha tepat waktu menyelamatkannya. Dia sudah siap-siap melompat, begitu melompat untungnya aku menarik tangannya.
"*bodoh! apa yang kau lakukan?!"
"pegangan yang erat*!"
Wajahnya sedikit terkejut melihat wajahku, aku bisa melihat bahwa dia menderita kehilangan Mayumi. Tapi, aku harus menyakinkan hidupnya tak harus berakhir karena cintanya.
"Dia benar-benar pengecut!" batin ku.
Dia berusaha melepaskan tangannya, aku menolak dan masih berusaha menariknya dan akhirnya itu berhasil.
"Syukurlah.." Entah mengapa, rasanya ingin menangis.
Tanganku mengayunkan ke wajahnya seolah menyadarkan dirinya. Aku menangis benar-benar menangis seolah emosiku terbangun melihat dirinya.
"Ku mohon..jangan menodai hidupmu hanya karena cinta!"
Aku tidak mengerti, mengapa aku menamparnya? Mengapa aku menangis tersedu-sedu dihadapannya padahal dia tidak menanggapiku sedikit pun melainkan berwajah membingungkan dan kenapa emosi itu terbangun lagi.
Apa batas dosa ku sudah selesai? Atau apa karena dia membangun emosiku yang tertidur ini? Rasanya benar-benar menyedihkan, menumpahkan penderitaan yang selama ini ku pendamkan dihadapannya.
Tangannya mengusap airmataku dengan lembut hingga mengingatkan sentuhan lembut dari ibu ku.
"*Aneh, mengapa kau menangis? Harusnya aku yang menangis dan memarahimu karena sudah menyelamatkan ku."
"..benar-benar payah*!"
Aku tidak menanggapinya, tapi aku merasakan sesuatu yang ada dalam dirinya yaitu malaikat, apa dia orangnya? Nishimura Ryuzaki.
Akan banyak hal yang perlu ku lewati bersamanya.
••
[Bersambung. . .}
__ADS_1