
"Ini desember, musim salju masih berlanjut seperti biasanya. Orang-orang menantikan kebahagiaan natal terutama The Santa Clous Story, ternyata jaman sekarang masih menantikannya. Aku bahkan tidak mempercayainya, merepotkan."
Musim salju adalah hal yang dinantikan banyak orang, terutama merayakan malam natal bersama keluarga, kekasih, sahabat dan teman-teman. Tetapi, Ryuzaki harus menghabiskan waktu menemani istrinya di RS Aizawa karena kondisi istrinya jatuh koma kembali.
"*Setelah kejadian malam itu, Miyuki harus kembali perawatan medis karena kondisinya masih belum stabil dan harus menjalani operasi namun, hasilnya dia koma. Dua bulan berlalu hingga saat ini, dia masih tertidur."
"Tapi...meski sudah terlewatkan, dia kembali*."
"Ryu..zaki?" Panggil Miyuki terdengar lemah.
"Syukurlah. . Kau kembali, Miyuki."
"Ma..afkan aku, apa aku membuatmu menunggu lama?"
Ryu menggenggam tangan istrinya, "tidak, ini waktu yang tepat."
"Kalau..begitu, aku kembali Ryu."
"Selamat kembali Miyuki." Ucap Ryu nan lembut membuat Miyuki makin jatuh cinta padanya.
Dia tersenyum senang. "Sudah musim salju ya, pasti kau kesepian merayakan malam natal bukan?"
"Yahh..begitulah."
"Bagaimana kalau, festival kembang api akhir tahun?" Tiba-tiba Miyuki jadi semangat karena sadar sudah membuat Ryu kesepian selama dua bulan.
"Eh? Sejak kapan kau memikirkan hal itu?"
"Tiba-tiba itu terlewat dipikiran ku, apa kita bisa pergi?"
Ryu jadi tersenyum aneh. "Apa ini kencan ya?"
Mendengarnya saja, pipi Miyuki memerah. "Huh? Kencan? B-bukan. .bukan, maksudku..."
Ryu mengecup tangan istrinya, "itu bukan apa-apa, lagipula kita ini suami istri bukan?"
"Ehhrr..yahh ku rasa begitu." Miyuki bahkan tampak gugup menatap Ryu begitu tampan baginya.
"Kau pembohong buas petir." Tegur seseorang yang tak sengaja mendengar ucapan mereka.
Mereka jadi terdiam sejenak melihat sosok Haru berdiri disamping pintu.
"Yo? Apa kabar kelelawar ku?" Sapa Ryu tersenyum pahit karena ketahuan hubungannya dengan Miyuki sepertinya terdengar oleh Haru. Dan tentunya Ryu tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menampilkan wajah pahitnya.
"Nggghhh...kau itu ya" Tentu saja Haru kesal dan menduga Ryu berbohong padanya.
"Seharusnya kau bilang dari awal, aku ini..woah!" Dia langsung mendadak jatuh,
"Selamat pagi!" Teriak Aori yang menyapa mereka dengan semangat. Namun, dia tidak sadar bahwa dia sedang menginjak seseorang. Miyuki dan Ryuzaki jadi khawatir nasib Haru.
"pa-gi juga, Aori." Jawab Miyuki.
"Anu..Ryu, apa mereka baik-baik saja?" Bisiknya.
"Mereka selalu seperti itu, jadi aku hanya membantu." Jawab Ryu.
"Huh? Ku pikir kau menghentikan mereka."
"Buat apa? Itu sudah jadi kebiasaan mereka, jadi biarkan saja." Ucap Ryu menenangkan Miyuki.
Mereka hanya bisa menyaksikan nasib Haru ditangan Aori.
"O-oi, apa..kau bisa liat ada..orang di sini?" Tanya Haru.
"Sepertinya aku mendengar suara Yoshida-kun, tapi dimana ya?" Aori bahkan tidak melihat Haru dibawahnya.
"Aku dibawahmu, tau!" Tegurnya.
"Bukan, itu kecoa Aori." Bisik Ryu, lantas membuat Aori geli dan takut.
Dia menutup mata karena tidak mau liatinnya dan. . .
AAAHH "itu kecoa!!" Teriaknya langsung menendang Haru keluar dari jendela.
"Apa yang kau lakukan?! Aori idiot!!" Teriak Haru nyangkut di pohon.
"Eh? Itu kau Yoshida-kun? Ku pikir aku sedang menginjak kecoa."
"Apa yang ada di pikiranmu, bodoh? Ini aku Yoshida Haru!!"
"Ooh, tapi Ryu bilang ada kecoa jadi..aku menendangnya saja."
"Ryuzaki?! Aku ini bukan kecoa!"
"Salahkan dirimu sendiri, kelelawar." Jawab Ryu.
"Emangnya dimana kesalahanku!"
"Kalau begitu, aku minta maaf sungguh benar-benar minta maaf." Balas Aori membungkukkan badannya.
Sepasang suami istri itu tak bisa berkata-kata lagi melihat Haru marah habis-habisan. tetapi Miyuki tertawa dan merasa lucu. Ryu sedikit terkejut dan senang karena ini pertama kalinya melihat Miyuki tertawa senang.
"Sepertinya dia benar-benar kembali." Leganya dan bibirnya tersenyum menyaksikannya.
••
28 desember, Miyuki diizinkan keluar dari rumah sakit. Seperti biasa, Hiroishi mengingatkan Ryuzaki menjaga Miyuki dan selalu tepat waktu memberi obat.
"Tidak perlu ingatkan aku, monster hitam!"
"Itu sudah jadi kewajibannya, dan tentunya aku sudah terbiasa." Sambung Miyuki tersenyum hangat.
"Kau benar-benar semangat ya, Miyuki."
"Ku rasa begitu, entah mengapa aku merasa jauh lebih baik."
"Oya, terima kasih perawatannya. Kapanpun itu aku akan hutang budi padamu, kak Hiroishi." Sambil membungkukkan badannya.
"Terserah kau saja, asal jaga dirimu."
"Baik, kapan aku bisa bekerja kembali?"
"Sebaiknya kau bekerja setelah kau benar-benar sembuh oke?"
Miyuki mengiyakannya, Ryuzaki jadi terganggu melihat dua orang itu begitu akrab hingga kehadirannya diasingkan.
"Sampai kapan percakapan kalian berakhir?"
"Heheheheh maaf Ryu, aku hampir melupakanmu."
"beraninya..."
Miyuki langsung menarik Ryu pergi tanpa buang waktu, "kami pergi dulu, sampai jumpa kak Hiroishi!!"
"Oi, aku belum selesai bicara!" Protes Ryu.
"Ayolah lupakan saja, sekarang ayo pulang aku merindukan rumah dan pastinya kau tidak membereskannya, bukan?"
"Ehhrr yahhh... T-tentu saja aku memb-bereskannya heheheh"
"Benarkah? Aku mencurigaimu."
"Sama suami kok pake curiga segala sih, aneh.." Gumam Ryu.
Miyuki tertawa kecil. "Cuma bercanda."
"APA?!"
Hiroishi menyaksikan mereka daritadi jadi senang dan lega melihat Miyuki ceria kembali. Diam-diam dia membungkukkan badannya ke arah mereka, seolah mengandalkan sesuatu.
"Terima kasih banyak dan. . .ku mohon jaga Miyuki..."
"..Nishimura Ryuzaki."
Ryu menoleh belakang sejenak dan melihat Hiroishi masih membungkukkan badan ke arahnya. Dia mengerti dan tersenyum kecil.
"Aku mengerti."
••
Begitu keduanya tiba kediamannya, mereka tak bisa mereaksi apapun melihat rumahnya malah terlihat ramai dan sebuah spandu besar berisi tulisan penyambutan kedatangan Miyuki.
"SELAMAT DATANG PENGANTIN BARU!!" teriak orang-orang familiar mengejutkannya.
"EHHH??"
"Hei, Ryu? Kau menyiapkan ini untukku ya? Rasanya. . .norak banget."
"Yahh, entahlah. . Aku tidak pernah meminta mereka melakukannya."
"Tapi. . .
. . Bagaimana kalian tau rumah ku disini?!" Seru Ryu hingga suaranya terdengar nyaring di telinga mereka.
"Ehhr.. Yahh, kami tau dari ibumu." Jawab Haru.
"Dia itu ya!"
Sebelumnya * * *
Haru membujuk mati-matian dihadapan Miya agar memberi tahunya alamat rumah Ryuzaki.
"Kenapa kau ingin tau alamatnya?" Tanya Miya.
"Ehrr.. Hanya ingin memberi kejutan."
"Kejutan?"
"Hari ini bukan ultahnya, idiot."
"Ibu dan anak sama saja ya." Gumam Haru diam-diam mengejeknya.
"Apa yang kau katakan? Mengejekku ya, beraninya ya."
"Ahh-hahaha, tidak ada apa-apa."
"Mau tidak mau aku menolak." Dingin Miya.
"Ehh? Aku mohon. . Kali ini saja."
"Sepertinya aku sedang menghadapi orang gila di sini."
"Eh? Orang gila? Siapa? Dimana orangnya?"
Miya mendengus kesal. "Bodoh!"
"Tapi dengan satu syarat." Tambahnya.
"Huh? Satu syarat?"
Miya membisikan sesuatu ditelinganya membuat Haru tertawa geli.
"Tenang saja, serahkan padaku."
Setelah mengingatnya, Haru diam-diam berwajah senang karena telah merencanakan sesuatu.
"Jadi, kau mengundang sampah-sampah ini ya."
"Siapa yang kau maksudkan sampah-sampah disini." Dingin Maya membuat Ryu setengah copot.
"Ehr..yah, bibi datang juga ya. Maksudku, ranting pohon disamping rumah ku sedikit mengganggu."
__ADS_1
"Kenapa tidak menyingkirkan saja, bodoh."
"Heheheh, benar juga ya."
Ryu terkejut melihat wajah Miyuki senang berbinar-binar,
"Ini pertama kalinya ya, terima kasih semuanya. ." Ucap Miyuki pada semuanya.
"Aku juga berterima kasih padamu." Sahut Yuri.
"Yuri, kau disini ya. Syukurlah, aku...benar-benar sangat beruntung hari ini."
Sepasang pengantin itu ikut menikmati pesta hari ini.
Miyuki bersama Aori, Yuri dan Minami sibuk didapur. Sebelumnya, Miyuki terkejut setelah tau Aori dan Minami adalah saudara.
"Memang benar kami ini bersaudara, kenapa?" Tanya Aori.
"Ehhr..pantas saja marga kalian sangat familiar."
"Apa si buas petir itu tidak memberitahumu ya? Sepertinya harus dikasih pelajaran tuh!" Geram Aori.
"Tenang Ao, biarkan saja dia bersama lainnya bersenang-senang hari ini. Simpan saja pukulan mu buat besok." Ucap Yuri sambil mencuci daun bayam.
"Apa kau tidur seranjang dengan Ryu? Dia pasti melakukan apa-apa padamu bukan?" Tanya Minami.
"Yahh, kalau dipikir-pikir. . ." Miyuki mencoba ingat-ingat, alhasilnya dia pernah tidur setubuh dengan Ryu kedua kalinya secara tidak sadar karena semua itu ulah Ryu menggodanya.
Wajahnya memerah mengingatnnya hingga menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah geli mengingat kembali.
"Tidak pernah." Jawab Miyuki berbohong.
"APA?!" tentunya mereka terkejut.
"Kau malang sekali ya." Ucap Aori.
"Yahhh, begitulah.. Aku tidak menyukai hal mesum." Sahut Miyuki berwajah pahit, merasa tidak enak hati setelah berbohong pada mereka.
"Si monster hitam itu, tidak datang ya." Tebak Ryu.
"Siapa bilang aku tidak datang, apa kau mengharapkan aku tidak hadir."
"Memang begitu niatku."
"Kejam lu."
Aori datang menyambut kedatangan Hiroishi dan mengajaknya masuk.
"Lama tidak bertemu, Hiroishi-sama." Ucap Aori.
"Yahh begitulah, dimana kelelawar jelek itu?"
"Namaku kelelawar tamvan bukan jelek, monster!" Tegur Haru.
"Sepertinya lengan besi ku itu cocok denganmu ya."
"Tentu!" 👍
Hiroishi duduk disamping Haru, "buas petir, liat ni." Sambil memberikan sebuah foto.
"Siapa ini?"
"Dia orangnya."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak mengerti ya, dia juga memiliki kekuatan khusus seperti kita."
"Ooh, jadi maksudmu dia orang terakhir ya."
Hiroishi membenarkannya.
Miyuki bersama geng perempuannya ikut bergabung. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Foto ini." Jawab Ryu memperlihatkan foto itu pada Miyuki.
"Ini. . Ini. . "
"Kenapa? kau mengenalnya?" Tanya Hiroishi.
"Tentu saja, dia. . Sepupuku, Ito Yamashita."
"EHHH, BENARKAH?"
"Anu, emang ada apa dengan Ito?" Tanya Miyuki.
"Dia mantan anggota militer senjata, jadi kami mencarinya untuk mengajaknya bergabung." Jawab Haru.
"Tapi kami tidak tau dimana dia berada sekarang? Dia seperti angin." Sambung Ryu.
"Lalu, kau tau dimana dia?" Tanya Aori.
"Ehr. . Dulu dia guardian Matsumoto-sama dan aku masih punya masalah pribadi dengannya."
"Hingga sekarang, dia menghilang disamping Shimizu." Tambahnya.
Diam-dia Yuri mencuri foto itu dan memperhatikannya. "Ngomong-ngomong dia ganteng juga yah." Gumamnya.
"Hei, ular putih! Elu nyuri ya?" Tanya Haru.
"Ular putih? Oi! Namaku Yuri!" Tegur Yuri.
Haru tidak peduli, dia mengambil foto itu kembali. "Aneh ya, apanya ganteng, rambutnya aja kayak kakek-kakek nggak kayak gua si tamvan."
Yuri langsung memberi pukulan hebat hingga Haru terlempar keluar.
"Keluar saja sana!!" Teriaknya.
"Aku setuju."
••
Menjelang sore yang hampir matahari tenggelam, dua wanita bersaudara sedang bicara dengan Miyuki dibawah ranting-ranting pohon nan indah.
"Sore yang indah ya " Ucap Miya.
"Benar, sore nan indah ditengahi salju dibawah matahari seolah menghiasi hari ini adalah hari yang menyenangkan. Terima kasih sudah datang, ibu dan bibi Maya." Jawab Miyuki.
"Benar juga ya, hari ini adalah hari menyenangkan." Sambung Maya.
"Apa yang kau rasakan sekarang setelah menghadapi penderitaanmu?" Tambahnya.
"Aku seperti kembali pada diriku yang dulu, gadis periang yang tidak mengerti airmata yang mengalir. Tapi, aku sudah mengerti sekarang." Jawab Miyuki.
"Syukurlah, tapi aku mencemaskan kondisi Ryuzaki." Ucap Miya lantas Miyuki berdiam sejenak menatapnya.
"Karena setelah itu, bukankah dia akan mengalami hal yang sama yaitu kutukan darimu."
"Itu..itu tidak benar, kutukan ini tidak mampu membunuh orang lain terutama Ryu. Kutukan ini hanyalah mimpi buruk yang selalu menghantui ku " Jawab Miyuki dengan jujur.
"Jika kutukan itu menghantuimu, bagaimana dengan Ryu?" Tanya Maya sedikit tidak mengerti.
"Huh? Apa maksudmu bibi?"
Karena terceplos, membuat suasana jadi tegang tercengang hingga Miyuki jadi tidak mengerti apa yang dimaksudkan ucapan Maya.
"Uhm, tidak lupakan saja." Dingin Maya.
Miya juga hampir copot mendengar Maya terceplos soal kondisi Ryu.
"Tapi tunggu, ku rasa ada yang aneh dari tadi."
Mereka jadi khawatir melihat Miyuki mulai curiga yang dikatakannya.
"Dari tadi kita hanya bertiga disini, kemana yang lain?" Tanya Miyuki.
"Heh?" Ternyata Miyuki hanya curiga, mengapa hanya mereka bertiga di tempat itu? Kemana yang lain?
Di sisi lain, Ryu menghilang dari rumah karena merasa tidak betah berada ditengah keramaian dan lagi dia juga tidak melihat Miyuki di tempat tadi.
"Padahal aku ingin bicara dengannya." Gumamnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti sejenak didepan toko perhiasan hingga mengingatkan sosok Miyuki yang sempat pergi ke tempat itu.
"*Anu, Ryu. . Semenjak hari itu, aku merasa aneh tanpa cincin pernikahan."
"Kenapa?"
"Tanpa cincin itu, aku merasa kau bukan siapa-siapa ku."
"Kejamnya mulutmu."
"Ehrr..maaf, yaa maksudku apa setidaknya salah satu jari kita mengenakan cincin."
"Nishimura tidak pernah mengizinkan cincin itu menempel di jari kita."
"Ooh, baiklah. Maaf*..."
Ryu menghela nafas panjang, "benar juga ya." Gumamnya.
Dia sadar tanpa cincin pernikahan rasanya aneh seolah jauh dari Miyuki.
Hingga malamnya, Ryu masih belum kembali. Dia memilih duduk di tepian jalan dan hujan salju datang menemaninya.
"Hujan salju ya. ."
"Sepertinya kau belum pulang juga ya." Ucap saura familiar itu.
"Yuri?"
"Ada apa dengan wajah lesumu? Ada masalah?" Tanya Yuri sambil duduk di sampingnya.
"Tidak ada."
"Lalu, sesuatu mengganggumu?" Tebak Yuri.
"Bukan urusanmu." Dingin Ryu.
"Apa setidaknya aku ikut mencampurinya? Dia khawatir kau tidak pulang."
"Aku hanya bingung saja, kenapa dunia ini tidak menerima kami menyatu." Ucap Ryu.
"Bukankah kau dan istrimu saling mencintai ya?"
"Itu sulit bagi ku, karena. ."
"Karena Mayumi kah?"
"Jangan sebut nama itu." Tegur Ryu.
"Maaf sih, tapi biar ku saran kan jika kau tidak mampu mencintainya akibat perasaanmu masih tersimpan untuk wanita yang pernah kau cintai, ku rasa kau perlu mengatakan sebenarnya."
"Sekecil apapun luka dihati wanita, rasa sakit itu sudah meraung ke seluruh tubuhnya. Kau paham maksudku, bukan?"
Yuri bangkit dari tempat duduknya. "Tapi menurutku, Miyuki adalah penyelamat hidup ku."
"Kau harus menghargainya bagaimana perjuangannya membuat syal untukmu." Tambahnya lalu menghilang.
"Huh? Membuat syal untukku?" Gumamnya.
••
Pada saat itu, dimalam acara festival kembang api akhir tahun. Tak disangka, hanya Miyuki seorang diri berdiri dipinggiran jalan.
__ADS_1
"Aku merasa aneh. . ada apa ya hari ini?"
Sebelumnya, Haru mengirim pesan pada Miyuki.
"Yo? Rubah cantik, malam ini Ryu tidak datang ke festival katanya lembur. Jadi maaf ya. . ."
Miyuki tak bisa berkutip membacanya, dia mencoba menghubungi Ryu minta penjelasan. Sayangnya, tak ada respon jawaban darinya.
"Huh? Apa...dia baik-baik saja?"
Dia menghela nafas panjang dan sedih kecewa melihat hasil syal yang dibuat untuknya.
"Padahal aku ingin memberikannya, tapi ya sudahlah. . Aku berangkat saja."
Hingga sampai sekarang, Miyuki hanya bisa putus asa karena terasa aneh. Orang-orang pada menghilang, dia menunduk sedih di tengah keramaian.
"Ryu jahat!" Gumamnya.
Dia memilih jalan sendirian, saking melamun dua pria asing mulai menggodanya.
"Hei, cecan? Lu sendirian?"
"Cecan?" Heran Miyuki.
"Artinya cewek cantik."
"Heh? Percakapan macam apa itu?" Bahkan Miyuki tidak mengerti bahasa apa yang mereka bicarakan.
"Ngomong-ngomong kenapa sendirian?"
Karena Miyuki sangatlah polos, dia tidak tau kalau mereka adalah pria mencurigakan.
"Ehhr anu, begini. .aku sendirian karena suami ku tidak datang." Jawabnya
"Ternyata secantik ini sudah menikah ya, sayang sekali."
"Pasti suamimu menghabiskan waktunya sama wanita lain, dia sama sekali tidak mencintaimu."
"Huh? Yahh..ku rasa itu mungkin benar." Sahut Miyuki.
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Berdiam disini, pengecut lu. ."
"Tapi, jika kau menyerah bergabunglah dengan kami."
"Benar, kami akan memperkenalkan teman-teman kami padamu."
"Benarkah?"
"Kalau begitu, aku ikut bergabung." Miyuki saking bahagia menerimanya tanpa berpikir sedikit pun.
Mereka hanya bisa menampilkan senyum buayanya pada Miyuki.
Sementara Ryu dikantor juga merasa aneh, melihat Haru terus menghalanginya keluar.
"Mau sampai kapan kau menahan ku disini?"
"Sampai besok."
Entah datangnya darimana, sesuatu yang mengingatkan Ryu.
"Bagaimana kalau, festival kembang api akhir tahun?"
Mengingatnya, Ryu jadi sadar. "Gawat, aku baru mengingatnya!"
"Ada apa?"
Ryu cepat-cepat mengenakan jasnya dan langsung menendang Haru keluar.
"Kau merencanakan hal ini ya?!"
"Eh? Ternyata kau sadar juga ya, ibumu yang minta."
"APA?!"
"Lalu, sejak kapan Miyuki berangkat?"
"Tiga jam yang lalu."
Ryu menginjaknya, "sepertinya kau sudah mengundang emosi ku ya!" Dinginnya.
Dia pun bergegas menemui Miyuki di tempat itu.
Dua pria itu membawa Miyuki ke pinggiran jurang.
"Anu. . Kenapa ke sini? Rasanya benar-benar aneh." Ucap Miyuki.
"Hehehehe..." Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mendorong Miyuki jatuh ke jurang.
"Huh? Ini. ." Dan Miyuki akhirnya sadar, bahwa semua ini hanyalah jebakan.
Ryu tiba di tempat itu tidak menemukan sosok Miyuki disana, namun tak disengaja mendengar obrolan dua pria familiar yang lewat.
"Cewek itu polos banget ya gak tau apa-apa.."
"Hehehehe, kenapa kita tidak memakannya dulu baru mendorongnya."
Mereka tertawa dan Ryu curiga, dia langsung mencekik leher keduanya.
"Siapa kalian maksudkan, hah?!"
"Apa..m-maksudmu?"
"Dimana istriku?! Apa kalian yang melakukannya?"
"Ooh, kau suaminya ya. Dia kesepian makanya kami mengajaknya."
"Lalu menghabiskan dengan menyentuhnya dan.. pushhh"
". . Jatuh dehh ke jurang, kasian sekali ya."
Ryu marah memukul mereka hingga tak bisa bicara lagi.
Miyuki yang tadinya jatuh ke jurang itu masih bertahan. Untungnya, syal itu nyangkut di ranting kecil pinggiran jurang.
"Syal ini. . .aku m-membuat untuknya, tak disangka rusak parah begini, apa yang harus aku lakukan? "
Dia merasa kesulitan bertahan dan salah satu kakinya juga ikut terluka. "Ryu. . .kau tidak datang ya, aku. . aku sangat takut."
Syal panjang itu mulai terbelah dua hingga membuat Miyuki khawatir dia akan jatuh.
"Gawat, apa. .aku akan jatuh? Tolong aku. ."
". .aku mohon."
"MIYUKI?!" teriak Ryu menemukan Miyuki.
"Ryu? Syukurlah, kau datang. ."
Sayangnya, syal itu terlepas dan Miyuki hilang kendali. "Huh? Ryu, gawat. ."
Dia bersama syalnya jatuh terjun, Ryu ikut kejar menyelamatkannya.
"Sial!"
"Miyuki, pegang tangan ku!"
Ryu berhasil memegang tangan Miyuki dan menggendongnya ke atas, nyaris saja dia tidak dapat menyelamatkannya. Untungnya, syal itu masih terlilit ditangan Miyuki.
"Maafkan aku, Miyuki." Ucap Ryu memeluk erat istrinya akibat kesalahannya.
••
Tepat pukul 12, langit malam dihiasi oleh kembang api warna-warni. Pasangan itu menyaksikannya dari kejauhan. Masing-masing merasakan kecewa tak dapat merayakan bersama di festival.
"Benar-benar malam yang buruk ya." Ucap Ryu memulai buka bicara.
Miyuki menunduk sedih. "Kau benar, tapi bagaimana pekerjaanmu? Kata Haru, kau lembur jadi..kau tidak bisa datang."
"Apa?! Lembur katanya? Si kelelawar itu ya!"
"Huh? Ada apa Ryu?"
"Dia menahan ku di kantor agar aku tidak datang, kau tau semua ini rencana ibuku, Yoshida itu malah ikut bergabung. Bikin kesal aja."
"Ooh begitu ya, ku pikir kau melupakannya."
"Ehr..yahh, kalau itu sih aku hampir melupakannya."
"Yahh, tidak apa-apa." Miyuki masih berwajah sedih melihat syal itu sudah rusak.
Dia tidak enak hati memberikan syal itu pada Ryu.
"Untukku ya?" Tebak Ryu.
Miyuki membenarkannya. "M-maaf, aku. .aku akan membuatnya lagi untukmu."
Ryu mengambilnya, "terima kasih."
"Huh? Tapi, syal itu terlihat rusak parah."
"Tidak apa-apa aku akan mengambilnya."
Miyuki tersenyum kagum meskipun airmatanya tampak mengalir. Ryu mengusapnya dengan lembut,
"Maaf Miyuki, aku melukaimu lagi."
"Ooya, aku ingin memberimu sesuatu untukmu." Sambil mengambil sesuatu di saku jasnya.
"Hm?" Miyuki hanya diam penasaran.
Ryu mengeluarkan kotak kecil bewarna hitam lalu berjongkok dihadapan Miyuki.
"Selamat ulang tahun, istri ku." Sambil membuka kotak kecilnya.
Miyuki terkagum bahagia melihat isi kotak kecil itu adalah cincin yang dia inginkan. Dia menangis senang lalu memeluk Ryu.
"Makasih, makasih Ryu, aku benar-benar berterima kasih padamu."
Ryu juga sedikit terkejut tapi kemudian bibirnya tersenyum senang dan lega sambil mengusap rambut Miyuki.
"Bagaimana kau tau hari ini ulang tahun ku?"
"Aku tidak sengaja melihat angka itu digelang tanganmu."
"Begitu ya."
"Kau menyukainya?" Tanya Ryu.
Miyuki membenarkannya dengan melebarkan senyumannya. Lalu, Ryu memasangkan cincin itu disalah satu jari istrinya.
"Wahh, cantik sekali."
Keduanya menatap langit yang masih terhias kembang api kembali. Ryu diam-diam menatapnya, dia juga lega Miyuki tersenyum kembali. Tapi, jantungnya jadi berdegup kencang.
"Meskipun malam ini buruk tapi terasa menyenangkan sekali, tapi lain kali. ." Ucapan Miyuki terhenti dan matanya membulat tak bisa berkata-kata melihat Ryu mencium pipinya.Lalu, menarik Miyuki jatuh kepelukannya.
"Aku merasa. .tidak mau kehilangan dia, aku ingin terus bersamanya dan menjadi pelindung hidupnya." Kata batin Ryu.
{Bersambung. . .}
••
__ADS_1