
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, komedi, fantasi, drama
Sebelumnya terima kasih sudah membaca karya saya sejauh ini, jangan lupa untuk like atau vote dan memberi tanggapan atau komentar jika ada pertanyaan dan sarannya atau pendapat kalian. Mohon dukungannya ya teman-teman. 😄😄
{Special Love Of Yoshida Haru}
Di awal februari, musim dingin mulai terasa merendah. Sosok Yoshida Haru mengenakan kemeja hitam nan rapi dengan membawa sebuket bunga lily menghadiri pemakaman seseorang.
"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?"
Haru duduk berjongkok lalu meletakan lily di sisi pemakaman. Diam-diam wajahnya terukir damai dan tenang dengan mencurhatkan isi hatinya.
"Aku membawa bunga kesukaanmu, seperti yang kau janjikan."
". . Miki Akane."
"Seseorang pernah bilang membunuh orang yang sudah mengakhirimu, itu sama saja tidak membuatmu kembali. Tapi, kau hanya kembali disisi ku tidak berdiri dihadapan ku. . .rasanya sulit ya melihatmu tak bisa kembali. ."
Miki Akane adalah gadis yang sangat dicintai Haru, dia meninggal saat perang aliansi asia ke-2 akibat mengorbankan dirinya demi mengakhiri perang. Tentunya hal itu sempat membuat Haru hampir gila kehilangannya.
27 Jun . .
Masa peperangan aliansi asia di Hiroishima, hal itu mengejutkan para penduduk melihat serangan dadakan mendatang maut. Rasa takut dan tangis banyak memuncaki mereka karena tak rela kehilangan orang dicintainya.
Perang itu masih berlanjut hingga tempat itu dikuasai mereka dan penduduk yang tersisa dijadikan budak pembangunan. Meski para tentara Hiroshima sudah lenyap, tetapi kabar buruk itu telah tersampaikan Pusat Markas Militer 1-0-2.
Pada malam itu, dua pria berpakaian baja alias anggota militer. Mereka tampak luka babak belur akibat serangan musuh hingga memilih bersembunyi di hutan yang kebetulan tempatnya damai.
"Aghh, sialan kaki ini!" Ucap Ryuzaki merasa kesal melihat dirinya lemah berjalan.
"Jangan maksa, lebih baik kita istirahat ditempat ini." Dan disampingnya, Haru membantunya berjalan dan meminta sembunyi di hutan.
"Apa kita sudah aman di tempat ini?" tanya Ryu.
"Entahlah, jika kita ditemukan.. Mau tidak mau kita harus kaburkan?" Sambil menyandarkan Ryu di bawah pohon.
Ryu kesakitan akibat kakinya terkena peluru musuh, Haru memintanya untuk istirahat.
"Ingat..jangan mati, buas petir."
"Siapa mau mati kelelawar, aku hanya tidur saja. Dasar **** lu."
"Baik-baiklah, anuu..apa mereka mencari kita?" Tanya Haru.
"Ku rasa begitu." Ryu memilih tidur daripada kesakitan.
"Kau yakin? Padahal hutan ini luas itu artinya kita sulit ditemukan."
Ucapan Haru mengganggu tidur Ryu hingga sakingnya tak tahan, dia memukul kepala pria itu dengan sarung pedang miliknya.
"Ad-duh! Ku pikir kau sudah tidur buas petir."
"Berisik! Aku tidak bisa tidur karena pertanyaanmu mengganggu ku!" Kesal Ryu.
"Hehehehe..maaf-maaf."
Ryu menghela nafas panjang. "Menyebalkan."
Kemudian, terdengar suara gadis meminta tolong. "Tolong! Siapapun disana tolong kami!!"
"Oi, buas petir?"
"Hm?"
"Kau mendengarnya?"
Ryu mengeluh sambil menutup selimut ditubuhnya. "Hoaah!..Aku mengandalkan mu kelelawar, selamat tidur."
"Oi! Kau ini ya, sial!"
Haru menyerah dan memutuskan mengikutu suara gadis tadi.
"Dimana suara itu? Hilang kah?"
"Hei! Apa seseorang mendengar ku? Aku sedang mencarimu." Teriaknya.
"Tolong aku disini!" Ucap suara gadis dibawahnya.
Haru terkejut menemukan gadis muda yang sedang bertahan di bawah jurang, dia tidak sendirian. Dia bersama gadis lebih tua darinya, namun kondisinya sedang tak sedarkan diri.
"Bertahanlah, aku akan menolong kalian."
Alhasilnya, Haru membantu dua gadis itu ke atas hingga terselamatkan.
"Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih padamu." Ucap gadis berpirang silver dengan mata cokelat nan indah itu memiliki wajah yang sama gadis disampingnya.
"Ehr..yahh, sama-sama.. Ngomong-ngomong dia saudaramu ya?" Tanya Haru memperhatikan gadis yang tak sadarkan diri.
"Benar, dia saudaraku Yuki dan aku Miki Akane. Anu, namamu siapa?"
"Oohh, namaku yaaahh Yoshida Haru."
"Tapi sebelum itu, kita harus pergi ke tempat yang aman."
"Baik."
Haru membawa mereka ke tempat yang aman, Ryu ikut tersadar menyaksikan dua gadis itu.
"Selamat datang kelelawar." Sapanya.
"Ughh, kau ini yaa." Kesal Haru.
Ryu malah mengabaikannya, "jadi..dua gadis ini yang kau maksud, kelelawar?"
"Kelelawar?" Miki heran. "Haru? Mengapa dia memanggilmu kelelawar? Kau kan punya nama."
"Ehhr begini.."
"Wajahnya mirip dengan kelelawar apalagi sayapnya juga."
"Eh? Sayap?"
Haru menutup wajah buas petir dengan kaos kakinya yang terbusuk hingga pria itu tidur kembali.
"Lupakan saja Miki, dia buas petir tidak sopan sekali sama perempuan apalagi sepertimu."
"Buas petir?"
Haru membuang nafas lega dan memilih duduk. "Panggil saja dia Ryu."
Miki membaringkan Yuki dipangkuannya. "Nama yang tidak asing ya."
"Hm?"
"Ahh tidak apa-apa."
"Anu, apa yang terjadi dengan kalian?"
"Yahh, akibat serangan dadakan. Kami lengah menghadapinya dan. . Kami anggota militer Hiroshima, ngomong-ngomong kau dan temanmu itu juga anggota militer bukan?"
Haru membenarkannya. "1-0-2 AU." Jawabnya.
"Hmm..begitu ya."
Miki menatap langit malam penuh bintang, airmata itu berlinang diwajahnya.
"Meski langit begitu indah, hidup dibawahnya saja sudah membuat ku muak. Itu cukup menyakitkan apalagi tangan kotor itu sangat menjijikan."
Diam-diam Haru menatapnya, tetapi tak mengerti apa yang dibicarakan oleh gadis itu. Pipinya saja sudah terlihat memerah merona membuat Haru tak bisa buka bicara sambil mengalihkan pandangannya.
Miki tidak menyadarinya, tangannya mengusap rambut coklat saudaranya dengan lembut.
"Cepat sadar kak Yuki."
Wajah dua gadis itu terukir kesedihan mendalam, setelah melewati masa penderitaannya. Tangan Yuki menggenggam erat tangan adiknya lalu bergumam dalam tidurnya.
"Aku..akan..melindungimu."
••
Suara kicauan terdengar menyanyi dihutan membuat orang-orang itu terbangun dari tidurnya dengan lembut. Namun, begitu sadar. .
"WOOAAAHHH!!! Makanan!! Sejak kapann. . . " Teriak Haru sangat terkejut melihat makanan enak tepat dihadapannya.
"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak semalaman Yoshida Haru?" Sapa gadis bernama Yuki.
"I-iya, darimana kau mendapat makanan selezat ini?"
"Berburu adalah kebiasaanku." Jawaban Yuki terdengar dingin, apalagi tatapannya membuat Haru menelan ludah.
"Ehhr, makasih."
"Tidak, akulah yang berterima kasih telah menyelamatkan kami. Lalu, apa temanmu itu baik-baik saja? Wajahnya pucat."
"Eh?"
Haru panik itu mencoba membangunkan Ryu, namun pria itu tak sadar-sadar. Miki ikut terbangun mendengar suara Haru nyaring mengganggunya.
"Ada apa ini?"
"Pria itu mengalami tekanan menurun, akibat pendarahan membeku. Terutama kaki kirinya, dia perlu pengobatan." Jawab Yuki berdiri disamping Miki.
"Bukankah kak Yuki mampu dalam hal pengobatan?"
Pertanyaan Miki itu seolah meminta Yuki untuk menolong Ryu. Yuki sebenarnya menolak, tetapi melihat wajah Miki tampak mengkhawatirkan. Yuki menyerah.
"Ku rasa aku tidak punya pilihan lain." Pasrah Yuki.
Dia mendekati mereka, "menyingkirlah, aku akan mengatasinya."
Yuki memeriksa luka Ryu masih membekas di betis. Gadis itu, mengeluarkan penawar alami untuk menyembuhkannya. Tetapi, pendarahan ditubuh pria itu masih belum normal.
"Apa secara oral kah?" Pikirnya.
"Apa ada masalah kak Yuki?" Tanya Miki melihat Yuki mematung gemetar sejenak.
Yuki tidak menanggapinya dan memilih meminum obat pahitnya mematikan lalu menyambungnya ke mulut Ryu. Lantas membuat wajah Haru panas memerah.
"Eh? Ci-ci-ciuman?"
"Salah, ini pengobatan secara oral." Jawab Yuki tampak dingin nan santai tanpa menunjukkan emosinya, namun dari wajahnya terukir memerah.
Miki juga menyaksikannya sedikit lega karena merasa Yuki tampak akrab dengan Ryu.
Akhirnya pria itu sadar, namun matanya tertuju pada Yuki tepat dihadapannya. "Kau..?"
"Sepertinya bekerja dengan baik, temanmu ini sangat cengeng ya." Ujar Yuki memilih pergi sejenak dari tempat itu.
"Jangan lupa dimakan makanannya, keburu dingin." Sarannya.
Haru langsung memeluknya penuh rasa lega, "syukurlah, ciuman itu bekerja sekali untukmu."
"Ciuman?"
__ADS_1
"Ahh, gadis tadi bernama Yuki itu mengirim obat ke mulutmu jadi..aku menyebutnya ci.." Belum sempat Haru menyelesaikan ucapannya.
Ryu menendangnya hingga nyangkut diranting pohon. "A-adduhhh! Buas petir, apa masalahmu hah?!"
"Semalam kau menutup wajahku dengan kaos kakimu terbusuk itu, jadi melihat wajahmu saja membuat ku muak."
"Heheheh..ku pikir kau tidak mengingatnya."
Suara tawa dari Miki membuat dua pria itu heran menatapnya. "Kalian lucu sekali ya."
"Jadi dia kakakmu, Miki?" Tanya Ryu dan Miki ikut membenarkannya.
"Aku belum sempat berterima kasih padanya." Tambahnya.
"Nanti juga dia kembali kok."
"Kalau begitu, selamat makan." Tanpa menghiraukannya, Ryu langsung mempersiapkan diri menghabiskan makanannya sebelum Haru.
"Oi! Tunggu aku buas petir."
Menjelang sore, Yuki sedang membersihkan pedang miliknya di pinggir sungai. Meski suara tempat itu tampak hening, tetapi keheningan itu menyadarkannya kedatangan seseorang.
"Ada apa?"
"Sebelumnya terima kasih sudah menyembuhkan ku."
"Aku hanya berhutang budi padanya." Singkat Yuki, dia berdiri lalu berbalik menatap pria itu.
Pria itu menunjukan wajah murungnya yang tenggelam dalam lamunannya, gadis itu mendekatinya. "Apa sesuatu mengganggumu?"
"Tidak, aku merasa kita pernah bertemu. Tapi dimana?"
"Ku rasa tidak pernah karena melihat wajahku saja hari ini maka besok kau melupakannya."
"Kenapa?"
"Kenapa ya? Apa ini kebaikan untukmu dan lainnya? Aku tidak tau, tapi perang ini harus segera diakhiri." Jawab Yuki menghindar dari pertanyaan itu.
Dia menyentuh kedua pipi pria itu dengan tangan lembutnya. "Ternyata kau lebih tinggi dari ku ya, memiliki kulit begitu putih dan mulus bagaikan pangeran, tetapi kau memiliki hidup yang selalu berakhir dengan tertutup."
Ryu tak bisa buka bicara melainkan membiarkan gadis itu berbicara karena melihat wajah itu membuatnya ingin memeluknya.
"Tidak, jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Ayo, sepertinya monster-monster itu sudah bergerak."
Yuki menyadari wajah itu, dia memutuskan untuk segera melupakannya dan fokus terhadap perang.
"Baik."
••
Hari masih berlanjut, empat orang itu berkelana di hutan. Banyak hal mereka temukan, dimulai dari binatang buas, tempat bersantai dan masih banyak lagi hingga malam itu, perlawanan panjang mengakhiri hidup mereka.
"Miki, awas!" Teriak Haru mempersiapkan tubuhnya melindungi Miki dari beberapa panah api.
Tetapi, "Aaagh!" Terdengar suara kesakitan di belakang Haru.
"Huh? Kak Yuki?!" Miki terkejut menyaksikan Yuki mengorbankan punggungnya mengenai panah api.
Haru dan Ryu tak percaya gadis itu senekat mengorbankan tubuhnya.
"Jangan khawatir, t-tubuhku..b-bukan apa-apa."
Gadis itu bangkit dengan tatapan yang menyala, entah apa yang merasuki tubuhnya tetapi kedua bola matanya tampak berwarna kuning bening mengerikan.
"A-apa?! D-dia monster kah?" Tanya Haru.
Miki menangis dan memohon agar Yuki mengendalikan tubuhnya.
"Kak Yuki, tenangkan dirimu!"
Ryu hanya memperhatikannya dengan serius, seolah ingin tahu apa yang terjadi dengan tubuh gadis itu. Apa benar gadis itu monster?"
"Hmmm..tenang saja, aku..aku hanya ingin bermain malam ini. Tolong jaga Miki, dan serahkan padaku." Sahut Yuki menunjukkan wajah mengerikan pada pasukan musuh dari kejauhan.
"Baiklah, mari kita mulai." Tak sampai satu detik, Yuki menghilang ditempat itu dan berdiri ditengah musuh.
Hingga tempat itu meledak, tiga orang itu masih menyaksikannya.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Ryu.
"Dia monster kah?" Haru ikut bertanya pada Miki disampingnya.
"Tidak, dia bukan monster. Kak Yuki hanyalah manusia kutukan dipenuhi rasa sakit, penderitaan dan ketakutan. Sebanyak apapun pukulan atau panah yang menusuknya itu tidak akan mempan padanya." Jawab Miki.
Tak disangka menjelaskan jawaban itu membuat tubuh Miki jatuh lemah. Haru menyambutnya,
"Miki, kau baik-baik saja?"
Salah satu warna rambut gadis itu berubah menghitam, dua pria itu tidak mengerti. Miki berusaha menjawabnya, tetapi dia mengubah jawaban itu.
"Aku baik-baik saja, tapi. . Bisakah kau membawa kakakku kembali? Aku ingin tau apa yang terjadi dengan warna rambutku." Dia memohon Ryu membawa Yuki kembali.
"Kenapa?"
Namun jawaban Miki hanya melebarkan senyumannya. Ryu juga tidak punya pilihan lain dan memilih menurutinya.
"Aku mengerti."
Sementara Yuki masih tengah permusuhan dan menghadapinya sendirian dengan pedang miliknya.
"Cih! Membuat ledakan hanya karena ingin menjebakku kah?" Gumamnya.
"Serang gadis rubah itu!"
Para musuh itu menjebak Yuki dengan api sekelilingnya. Hal itu membuat Yuki makin menggila hingga terdengar tawa jahat darinya.
"Hahahahhaha...yahh itu bagus, teruskan karena aku sangat lapar melihat kalian." Ucapnya.
"T-tidak, jangan bunuh aku." Teriak salah satunya.
Yuki mendekatinya. "Jangan membunuh katamu? Hei-hei, coba liat apa yang sudah kau lakukan di tempat ini? Kau dan temanmu sudah menghancurkannya apalagi kalian menyakiti adikku."
"Adikmu? Si bom nuklir itu?!"
"Hmm entahlah, ayo katakan selamat tinggal." Yuki dengan senang hati menusuk-nusuk pria itu. KRAKK!
Dia tertawa kembali. "Hahahahahha!!..ini belum cukup, kali ini giliran kalian." Sambil menatap yang lainnya masih ketakutan.
Saking takutnya, mereka kabur dan Yuki hanya diam membiarkannya hingga wajah itu menunjukkan kesedihan.
"Maafkan a..ku."
Gadis itu jatuh lemah hingga disambut oleh pria dibelakangnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Entah.." Singkat Yuki tampak lega melihat orang itu datang tepat waktu. Dia pun memilih tidur akibat punggungnya yang terluka.
Ryu menatapnya sambil mengusap kepalanya. "Kau benar-benar bodoh ya."
••
Dia membawa gadis itu ke tempat aman sementara, karena area itu adalah area musuh. Akibat tak punya jalan lain, lebih baik memilih bersembunyi. Dia berharap Haru dan Miki tetap aman disana.
Yuki tersadar kembali melihat Ryu menyalakan api unggun.
"Apa mereka baik-baik saja di sana?" Tanya Yuki.
"Lebih baik pikirkan kondisimu, punggung mu terluka parah." Jawab Ryu.
Yuki menundukkan wajahnya. "Kalau begitu tolong periksa dan obati." Sambil membuka setengah bajunya.
"Eh? O-oi apa yang kau lakukan?" Pipi Ryu agak memerah melihat setengah tubuh gadis itu terbuka.
Yuki tidak mempedulikannya namun dia sarankan agar tidak berpikir bukan-bukan.
"Lakukan saja." Perintahnya.
"Oh, b-baik."
Ryu menurutinya meski tangannya gemetar membersihkan luka punggung nan indah gadis itu.
"Apa rambutnya mulai menghitam?" Tebak Yuki memulai pembahasan.
"Bagaimana kau tau?" Tak heran kalau Yuki juga tau hal itu.
"Memang benar, rambutnya menghitam."
"Begitu ya. Miki bukanlah adikku maupun saudara ku melainkan..."
"Hasil modifikasi nuklir."
Jawaban Yuki lantas membuat Ryu bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Orang-orang itu menyiksa ku dan mengambil DNA ku agar menghasilkan eksperimen lebih berguna dari ku. Tetapi, eksperimen itu gagal hingga tubuh itu jadi bahan nuklir."
"Tubuh yang diincari musuh agar bisa meledakkan tempat ini." Sambungnya.
"Lalu, apa yang membuatmu kemari? Kau dan Miki bukan anggota Hiroshima bukan?"
Yuki membenarkannya. "Aku membawanya kabur, Miki memiliki rasa yang sama seperti ku kecuali emosi. Bagiku dia sempurna dan aku hanyalah manusia terkutuk tanpa emosi sedikit pun."
Ryu hanya mendengarkannya sambil membalut perban di punggung gadis itu. "Warna rambut itu?"
"Rambut itu adalah waktu, jika semuanya menggelap maka dia sudah berakhir. Aku tidak menginginkannya itu terjadi, demi hidupnya aku rela mengorban tubuh ini karena melihat setetes darah mengalir itu akan membuatnya takut dan lemah memudar."
"Jadi yang kau maksud kelemahannya darah itu?" Tebak Ryu dan Yuki membenarkannya.
"Cepat atau lambat hal itu akan terjadi bukan?"
••
Hingga pagi itu, Ryu dan Yuki masih belum kembali. Miki masih menyandarkan kepalanya dipangkuan Haru itu merasa tubuhnya semakin lemah.
"Ooh, kau sudah bangun ya. Selamat pagi Miki." Sapa Haru melebarkan wajah ceria nan hangatnya.
"Selamat pagi juga, Haru."
"Apa kak Yuki dan Ryu belum kembali?" Tanya Miki terlihat khawatir. Perlahan-lahan wajah itu menunjukkan rasa bersalahnya.
"Semua ini salah ku."
Haru yang tenang itu menggenggam salah satu tangan Miki. "Jangan salahkan dirimu, sebesar masalah apapun yang menimpamu jangan pernah menyalahkanmu karena ada banyak orang juga seperti mu."
Miki lega mendengar jawaban itu, bibirnya tersenyum lembut. "Benar ya."
Pria itu dengan santainya menggendong Miki hingga pipi gadis itu merona. "O-oi, a-anu apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
"Huh?"
Haru membawa putri cantik itu ke suatu tempat yang dipenuhi berbagai macam bunga, dengan sinar pagi yang mengindahkan bunga itu membuat suasana jadi meriah.
"Ini. .Ini. . Indah sekali." Tentu saja si putri sangat mengagumi saksikan bunga-bunga nan indah itu.
Haru membawanya ke tengah tempat itu lalu menurunkannya. "Kau menyukainya?"
"Wahhh..tempat ini adalah mimpiku, aku sangat menyukainya."
__ADS_1
Haru sangat senang melihat wajah ceria itu kembali terukir diwajah Miki. "Syukurlah."
Tangan gadis itu mengambil salah satu bunga favoritnya. "Liliy kuning?" Tanya Haru.
"Benar, Lili kuning adalah bunga kesukaanku karena menandakan ceria meski warnanya sedikit lemah tapi membuatku menyukainya."
Miki begitu senang menjawabnya hingga mengungkapkan bunga favoritnya. Haru ikut mengambilnya lalu memasangkannya ke ujung telinganya hingga pipi gadis itu memerah lagi.
"Kau sangat cantik, Miki." Puji Haru.
"B-benarkah?"
Haru membenarkannya. "Karena aku mencintaimu."
"Huh? M-mencintai ku?"
"Aku tidak tau, apa yang terjadi ke depannya tapi selagi ada waktu aku akan menghabiskannya bersamamu hingga waktu itu habis."
Miki langsung memeluknya. "Aku..aku juga mencintaimu, Haru.
Haru tersenyum lega lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut. " Aku janji akan melindungimu dan..menikahimu."
"Ucapan itu adalah terakhir mendengar kata cinta untukku, tak sampai 86,400 detik. . Ucapan itu tidak terdengar lagi, aku muak."
••
Hari itu, 7 Juli. . .
Hutan nan damai itu diserang, rumput mungil menghitam dan pohon ikut termakan api. 4 orang itu dikelilingi oleh 40 ribu pasukan aliansi asia. Meski wajah mereka terukir marah telah merusak tempat itu. Dan kondisi Miki makin melemah dan rambut putihnya juga mulai menipis.
"Kak Yuki, apa yang terjadi padaku?" Tanya Miki.
"Maafkan aku Miki, tubuhmu adalah hasil modifikasi nuklir. Rencana ku ingin menyelamatkanmu tapi..semua terbuang sia-sia karena rambut itu sudah memakan waktu." Jawab Yuki.
"Apa maksudmu? Jadi dia akan berakhir disini, hah?!" Seru Haru tak terima jika harus kehilangan Miki.
"Aku mengerti, tapi tolong mengerti sedikit kelelawar. Miki adalah bagian tubuhnya, akibat kutukannya tubuh itu gagal sempurna malah jadi bom mengerikan." Ryu ikut menjelaskannya pada Haru.
Namun, tetap saja Haru tidak terima. "Sial!! Kenapa harus seperti ini!!" Kesalnya.
Miki juga tidak menerimanya, dia bahkan tak sanggup buka bicara melainkan diam mematung.
"Apa yang harus kita lakukan, Ryu?" Tanya Yuki.
"Yang perlu kita lakukan adalah keselamatan Miki, Yuki tolong beri mereka jalan."
"Aku akan menyerang di belakang." Perintah Ryu.
"Dimengerti."
Dua orang itu membuat jalan agar Haru dan Miki bersembunyi ke tempat yang aman. Sesuai rencana, jalan itu berhasil lalu tersisa Yuki dan Ryu ditengah musuh itu tampak sudah mempersiapkan tenaganya.
"Ayo lakukan bersama!"
"Baik."
Ryu dengan pedang raksasanya menebas banyak orang, meski pedang itu tampak biasa namun kekuatannya berkali puluhan lipat. Dan Yuki memiliki pedang terpanjang setinggi manusia mampu membelah musuh yang menghalanginya.
Mereka berjuang mati-matian memusnahkan musuh akan tetapi para aliansi itu makin menambah.
Ryu kelelahan, "sampai kapan orang-orang itu berakhir kah?"
Yuki berdiri disampingnya juga kelelahan, "aku tidak punya pilihan lain lagi."
Ryu tak paham apa yang digumamkan oleh gadis itu. Tetapi mata kuning beningnya mulai menyala,
"Maafkan aku Miki, ku rasa ini keputusan yang tepat untukmu."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Sebenarnya kekuatan mata inilah kelemahannya, akibat emosinya membuatku bertindak hingga dia makin melemah. Semua itu berawal dari kutukan ku, akan bahaya jika membuat eksperimen dari bahan tubuh ku."
Sekarang Ryu mengerti, "jangan lakukan itu, ada orang yang mengharapkan dia tetap hidup."
"Kau terlambat Ryu, aku mengerti dia mengharapkannya tapi kita tak bisa mengembalikannya atau memutar waktu untuk menghentikan semuanya."
Haru dan Miki bersembunyi dibawah pohon. Keduanya tak sanggup bicara setelah tau kejadian tak terduga itu ingin memisahkannya. Haru memeluknya,
"Bodoh! Bodoh!"
"Maafkan aku Haru, aku..aku tidak punya banyak waktu."
"Tidak, jangan pergi Miki, aku mohon."
Haru berusaha membujuk Miki tidak meninggalkannya. Namun, Miki hanya tersenyum dan mencoba menenangkannya. Tangan gadis itu menyentuh kedua pipinya.
"Terima kasih..terima kasih Haru, kau sudah mencintai ku dan selalu membuatku tersenyum, tidak hanya itu kau mewujudkan mimpiku melihat bunga itu."
"Aku..aku benar-benar berterima kasih padamu."
Miki bangkit dan menatap kobaran api yang membakar hutan. Dia memutuskan untuk meledakkan dirinya, meski itu sulit baginya tapi itu adalah takdirnya.
"Haru..selamat tinggal."
Gadis itu memukul belakang Haru hingga jatuh pingsan agar dia tidak mencegahnya pergi.
"Benar-benar bodoh ya."
Yuki sudah mempersiapkan diri melihat kedatangan Miki.
"Waktumu tersisa 120 detik, apa kau ingin menyampaikan sesuatu?"
Yuki mengerti hal itu berat bagi Miki, tapi kebetulan masih ada waktu tersisa. Dia meluangkan Miki buka bicara.
"Sebelum itu..terima kasih sudah menjagaku dan menemukan ku dengannya."
Yuki menyentuh ujung kepala gadis itu. "Sama-sama, tapi aku sangat lega melihatmu merasakan emosi itu seperti melihat diriku meski aku tidak bisa merasakannya lagi."
Miki mendekati Ryu, "tolong jaga Haru untukku."
"Baik."
"Hei kak Yuki, kau tidak mengatakan sebenarnya kalau dia.." ucap Miki mencoba meminta Yuki untuk mengatakan hal sebenarnya pada Ryu. namun Yuki menghindarinya.
"Tidak Miki, itu membuang waktu. Sekarang tersisa 30 detik, bersiaplah."
Miki menyerah. "Baik."
Ketiga orang itu melihat beberapa pesawat tempur AU 1-0-2 datang. Miki sudah tidak punya waktu itu berubah jadi anak panah, Yuki mengambilnya dan mempersiapkan menarik busurnya.
"Persiapan serangan nuklir, kau sudah siap?"
"Baik."
"Baiklah, hitungan mundur dimulai dari tiga..dua..
..satu!" Tangannya melepas anak panah itu ke tengah area permusuhan dan tempat itu, satu kota Hiroishima terhapus. BOMM!!
"Selamat tinggal kak Miyuki."
"Selamat tinggal juga, Miki." Gumam Yuki terdengar nada yang sedih.
••
Setelah ledakan para aliansi musuh itu lenyap tak ada satupun tersisa, berkat tubuh nuklir alias Miki mengorban dirinya untuk mengakhiri itu semuanya jadi aman, tim 1-0-2 menjemput dua pria yang merupakan anggotannya. Haru masih belum sadarkan diri dibawa masuk dan Ryu mencoba mengajak Yuki bergabung dengan militer. Yuki menolak,
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin berurusan denganmu hanya karena mengenalmu saja sudah mengancam hidup ku. Jadi, maaf aku menolaknya."
"Apa tidak apa-apa?"
"Benar, terima kasih sudah bersama kami sampai saat ini. Aku pernah bilang padamu, jika kau ingat namaku hari ini maka besok kau akan melupakannya."
"Jika aku melupakanmu, mau kah kau mengembalikan kalung ini untukku?" Ryu memberikan kalung liontin pada Yuki.
Yuki sedikit membulat, "kalung ini.."
"Begitu kau menemukan ku, tolong berikan kalung ini padaku."
"Baik."
"Kalung itu sangat berharga bagiku, meski aku tidak ingat siapa pemiliknya."
"Begitu ya, aku mengabulkan permintaanmu Ryu."
"Ooya, katakan padanya membunuh orang yang sudah melenyapkannya tak bisa membuat orang itu kembali, tapi berjanjilah orang itu selalu disisinya."
Maksud Yuki adalah meminta Ryu menyampaikan pesan Miki pada Haru agar tidak memarahi Yuki atau membunuhnya karena membunuh saja Miki tak bisa kembali. Jadi berjanjilah Miki selalu disisinya.
"Aku mengerti."
"Kalau begitu, selamat tinggal." Yuki pamitan dengan Ryu.
Wajah gadis itu bercucuran airmata sambil menggenggam erat kalung yang diberikan oleh Ryu.
"Suatu saat aku akan menemukan mu dan mengembalikan benda ini yang pernah jadi milikku, Ryuzaki Nishimura."
••
"Begitu sadar, suara gadis itu tak kembali lagi. Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku sangat bersyukur sudah mencintaimu selama ini. Kapan pun dia selalu di sisi ku bukan?"
Haru yang daritadi mengenang masalalu itu di datangu seseorang.
"Ternyata kau benar-benar datang ke sini ya."
"Suara itu. . ." Haru merasa nada itu sangat familiar, tangannya saja sudah siap memukul orang dibelakangnya. Karena tau suara itu adalah Yuki.
Dia masih kesal akibat Yuki tidak memberitahunya soal Miki yang sebenarnya. Begitu dia berbalik, tangannya berhenti mengepal dan wajahnya sulit berkata-kata.
"Eh?"
"Yo! Kelelawar tamvan?" Sapa orang itu melebarkan senyumannya.
Beberapa detik kemudian, "EHHHHH? ITUU KAU, MIYUKI?!"
"hmm kenapa? Nama lengkap ku memang Miyuki Yamashita, apa Miki tidak memberitahumu ya?"
"hahhhh??" Haru tak percaya gadis bernama Yuki itu adalah Miyuki. Gadis yang selama ini dicari ternyata sudah ada dihadapannya, bahkan sudah bertemu puluhan kali.
Miyuki hanya diam melebarkan senyumannya. "Kata Miki, aku selalu mencintaimu Haru."
Ucapan itu terdengar sama dengan Miki membuat Haru terharu dan senang. "Terima kasih."
Miyuki lega melihat Haru tidak marah karenanya, dia senang Haru sudah kembali. Tangan gadis itu melihat kalung yang masih digenggamannya.
"Ryu belum bisa mengingatku maupun kalung ini, aku ingin tau apa yang terjadi setelah berpisah dengannya dihari itu."
suara angin nan lembut itu meniup belaian rambutnya menatap langit sore terbuka nan indah hingga bibirnya terukir senyum damai.
"hari yang indah ya. . ."
{Bersambung . . . }
••
__ADS_1
Next ; Special Love Of Yamashita Ito - Takdir