
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, fantasi, komedi
Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.
β’β’
Haru bersama Hiroishi sedang mengevakuasi orang-orang itu ke ruang yang aman. Tapi, hal itu mustahil mengamankan mereka begitu banyak.
"Apa ada jalur internalnya?" Tanya Hiroishi pada Haru.
"Bentar, aku akan memeriksanya." Jawab Haru sambil memeriksa lokasi denah bangunan dari ponselnya.
"Tempat ini akan segera hancur." Gumam Hiroishi khawatir melihat orang-orang yang ikut jadi korban hanya karena aliansi Elizabeth menyerang Miyuki.
"Aku menemukannya." Sahut Haru.
"Benarkah?"
"Ada jalur dibawah tanah, ku rasa akan aman membawa mereka keluar dari sana."
"Syukurlah, ngomong-ngomong apa buas petir itu benar-benar menemukan Miyuki?" Tanya Hiroishi sempat khawatir pada Miyuki.
Dan Haru terlihat tenang itu meyakinkan bahwa Ryu akan menemukan Miyuki.
"Ku rasa dia menemukannya kok."
Bukannya malah tenang, melainkan Hiroishi jadi heran pada sikap Haru yang mendadak setenang air.
"Tumben kau setenang ini, apa kau habis mimpi semalaman?"
Haru tertawa kecil dengan wajah memerah, seolah merasa malu harus berkata jujur.
"Ahahahhaha, itu karena seseorang sudah meyakinkan ku."
Mendengarnya saja, Hiroishi jadi curiga. Apa si kelewar tamvan itu sedang mabuk cinta dengan seseorang.
"Hmm?"
Diam-diam Haru mendekatkan wajahnya ke samping Hiroishi. Lalu, membisiknya dengan nada lembut.
"Rahasia loo."
Hiroishi terdiam sejenak, ππππ
tak lama kemudian, tangannya memukul perut kelelawar itu. BRUKKππ
"Argh!"
Wajah Haru jadi ketakutan berat menatap wajah Hiroishi tampak mengerikan.
"Oi-oi, apa kau sedang bercanda menyembunyikan sesuatu dari ku, hah?"
"Gawat! Dia berubah monster lagi, aku harus kabur."
Haru berniat melarikan dirinya, sayangnya itu terlambat karena Hiroishi sudah menarik kemejanya.
"Mau kemana, kelelawar?" Tanya Hiroishi.
"Ampun...ampun..."
Tak sampai lima detik kemudian . . . .
"Ara-ara...ternyata kau sedang mabuk cinta ya, kenapa kau tidak bilang dari awal kelewar tamvan."
"Ehhhh?"
"Apa kau bisa memberitahu apa yang kau sembunyikan dari ku? Aku ini seniormu looo."
"Ahahahha..i-iya, a-aku a-kan mem-beritahunya n-nanti."
"Akan ku pegang ya."
"B-baiklah."
"Apa yang kalian lakukan di situ?" Tanya nada familiar itu langsung membuat Haru lega.
"Buas petir, selamatkan aku..." Ucap Haru.
"Huh?"
Hiroishi cepat-cepat melepaskan Haru sebelum Ryu menyadarinya. Tapi,
"Lanjutkan, monster hitam." Jawab Ryu yang ternyata sudah menyadarinya dari awal.
Tentu saja Haru terkejut, "Heeeeeeeeehhhhhhhhh???"
Ryu dan Miyuki tampaknya kembali, rasanya agak melegakan melihat mereka baik-baik saja.
"Syukurlah kalian sudah kembali, kita harus lewati jalur internalnya." Ajak Hiroishi.
"Tunggu sebentar." Ucap Ryu.
"Ada apa?" Tanya Hiroishi.
"Sepertinya aku harus membawa Miyuki ke pulau Miyaki." Jawab Ryu.
"Heh? Bukankah itu terlalu jauh dari sini?" Tanya Haru.
"Itu dia, pertama-tama kita harus menghubungi markas battalion agar bisa membantu kita, yang kedua Miyuki juga harus segera diamankan atau orang-orang disini akan tahu kejadian sebenarnya." Jawab Ryu.
"Dan yang ketiga?" Sambung Hiroishi.
"Kita akan berperang." Ujar Ryu membuat Haru paham dan tenang.
"Hoohhh..."
Tapi setelah itu,
"Heh? K-kita berperang? Itu artinya aku ikutt???" Kaget Haru.
Mata Ryu jadi terlihat sayu menatap Haru itu jadi merepotkan.
"Tentu saja, kau salah satu pasukan tentara khusus. Jadi aku butuh kekuatan militer." Perintahnya membuat kedua pria itu serius kembali.
"Dimengerti!" serentak mereka.
"Bagaimana dengan yang lain di luar?" tanya Ryu.
"Tentu saja mereka mengawasi di luar."
"Sampaikan pada mereka kalau situasi saat ini sedang berada di zona merah. Jadi berusahalah berkumpul di ruang rapat, aku akan menghubungi pasukan yang lainnya untuk mengatasi mereka."
"Baiklah."
Melihat ketiga pria itu sibuk, Miyuki jadi tidak tenang.
Seolah dirinya benar-benar penyebab perang itu.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang???"
β’β’β’
Mayumi bersama Meri juga keluar dari gedung itu, meski harus berhadapan beberapa musuh bersenjata. Menurut Mayumi, targetnya terlalu mudah untuk di kalahkan.
Hanya sekali mereka menatap mata Mayumi, senjata mereka dihancurkan sekelip mata.
"T-tidak mungkin! Senjatanya?!"
__ADS_1
"Kalian harus tau siapa lawan kalian sebenarnya..." Sahut Mayumi tersenyum menang.
"Sial! Bagaimana dengan ini?!"
Salah satu dari mereka mengeluarkan cahaya sihir dari tangan masing-masing.
"Sihir?" Gumam Mayumi mengerutkan kedua keningnya bertanya.
"Ku pikir Elizabeth hanya bersenjata militer, tapi ini lebih dari dugaan ku." Batinnya.
Dia sempat kesulitan membatalkan sihir mereka karena hanya cara itu dapat mengalahkannya. Tapi itu mustahil, Mayumi tidak dapat membatalkan sihir kecuali Ryuzaki melakukannya.
Mayumi menghela nafas panjang, "yahhh, mau gimana lagi...aku tidak punya pilihan lain."
Tangannya mengeluarkan sebilah pedang setinggi manusia yaitu Katana Yamashita. Sebelumnya Miyuki sempat meninggalkan pedang itu di perut Mayumi hingga Mayumi berhasil kembali dan menguasai pedang itu.
"O-oi, b-bukankah itu Katana Yamashita salah satu pedang Elizabeth?"
"Jangan bilang i-itu benar."
"O-oi pirang aneh! Darimana kau mendapatkan pedang itu?!"
"Hmm? Pirang aneh? Tidak sopan sekali." Dingin Mayumi yang kemudian mengayunkan pedangnya diterangi oleh kekuatannya.
"Sebelum itu biarkan aku membereskan kalian." Tambahnya tersenyum jahat.
"Serang dia dengan kekuatan kita!" Seru salah satu dari mereka.
Sayangnya Mayumi duluan yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka,
"Jangan remehkan penyihir strategis seperti ku."
"A-ap...!"
kemudian...
SWASSSHHHH
ujung-ujungnya mereka berakhir dengan kepala terpotong. Mayumi sedikit terlihat kaku melihat apa yang dia lakukan.
"Jujur saja, aku begitu muak dengan perang ini."
Meri juga menyaksikannya itu mengerti apa yang dipikirkan oleh Mayumi.
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan sebenarnya?" Tanya Meri.
"Aku akan menemui dia...." Jawab Mayumi.
"...karena aku ingin menyelesaikan masalah itu dengannya." Tambahnya.
"Apa itu artinya kau menyerah?"
"Bukan..." Sambil menatap langit.
"Ada satu hal yang membuat ku sadar bahwa apapun yang dihadapi olehnya senyum itu tak pernah pudar."
Meri tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mayumi. Tapi bagi Meri, itu hal yang patut dilegakan karena Mayumi saat ini mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan baik.
"Begitu ya..." Ucap Meri yang kemudian, Bibirnya terukir damai nan lega mendengar jawaban Mayumi.
β’β’β’
Ryu bersama lainnya melewati jalur internal terowongan bawah tanah agar bisa keluar dari tempat itu. Miyuki berjalan sejajar dengan Hiroishi tepat bagian depan, meski dia tidak banyak bicara tapi pikirannya masih kemana-mana.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Hiroishi mengetuk kecil lamunan Miyuki.
"Oh? A-aku baik-baik saja." Jawab Miyuki terdengar sedikit gagap.
"Aku mengerti, tapi ku sarankan kau tidak menutupi diri hanya karena masalah kecil." Saran Hiroishi.
Miyuki tersenyum kecil dengan wajah yang palsu.
"Maaf, sebelumnya aku tidak mengerti, dalam diri ku ini terus menghantui ku." Ucap Miyuki pelan-pelan membuka diri.
"B-benar, setiap tidur aku bermimpi diriku, setiap sendiri ucapan terus mengingatkan ku."
"Memangnya apa yang yang dia katakan dalan dirimu?"
"Diriku meminta ku membunuh seseorang yang sudah bersusah payah menghidupkan ku."
"Jangan bilang..." Hiroishi menebak kalau orang yang dimaksud oleh Miyuki adalah Ryuzaki.
Miyuki tidak terlalu terkejut maupun khawatir, dia hanya perlu bantuan.
"Apa kau memiliki panah itu?"
"Tapi..." Tentu saja jawaban Hiroishi menolak, namun Miyuki tetap bersikeras memaksanya.
"Jika aku membunuhnya maka aku akan ikut bersamanya, tidak hanya itu perang ini juga berakhir." Ujar Miyuki.
"Miyuki?"
"Ya?"
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan selama ini?" Tanya Hiroishi memastikan apa yang sebenarnya Miyuki ingin lakukan.
"Bukankah aku pernah bilang di saat kau putus asa pada gadis yang kau cintai, bahwa aku mencari Ryuzaki." Tebak Miyuki mengangkat salah satu alisnya menatap Hiroishi.
Itu benar, saat dimalam itu hujan deras membasahi dua orang itu. Hiroishi jatuh terpuruk akibat perasaan cintanya begitu dalam terhadap Mayumi. Dan saat itulah Miyuki sempat mengatakan dia harus memenuhi janjinya pada seseorang.
"*Orang itu...Ryuzaki."
"Jika perang itu terjadi karena diriku maka aku akan meledakkan diri ku bersamanya, itu janji ku*."
Hiroishi juga mengingatnya, dia menghentikan langkahnya sejenak membiarkan kerumunan orang melewatinya. Miyuki ikut berhenti dengan menundukan wajahnya.
"Apa itu artinya kau akan melenyapkan sihir maupun dunia ini?" Tanya Hiroishi sekali lagi.
"Bisa dibilang begitu." Jawab Miyuki singkat dan jelas.
Tapi, Hiroishi tidak percaya Miyuki akan melakukannya sendirian.
"Oi, bagaimana kau bisa melakukannya sendiri?"
"Setengah diriku berhasil merenggut eidose, dan artinya tubuh ku sudah diambil alih oleh..."
"Kegelapan." Tambah Miyuki.
"Kau bercanda, bukan?"
"Tidak, kau lihat tanda ini." Sambil menunjukkan tanda kutukannya di lehernya sudah tidak ada lagi.
"Saat eidose menciptakan diriku, saat itulah aku bukan manusia yang kalian inginkan."
"T-tidak mungkin."
"Maaf...aku akan mengakhiri dunia ini."
"Tapi, kenapa?"
"Karena aku muak dengan penderitaan yang mengutuk diri ku. Meskipun pria itu berhasil nenyelamatkan ku, tapi aslinya dia gagal akibat rusak."
"Inilah yang ku maksudkan bahwa cinta ku hanyalah kondisi darurat yang hasilnya gagal." Tambah Miyuki.
Hiroishi terdiam tak berkutip, Miyuki dengan sikap dinginnya itu meninggalkannya.
"Aku akan ke pulau itu, bilang padanya siapkan helikopter untukku." Tambahnya.
Hiroishi mengepal erat kedua tangannya, dia berniat akan menyampaikan hal ini pada Ryuzaki.
"Satu lagi.." Sahut Miyuki menyadarinya.
"Jika kau menceritakannya, maka kau akan ikut mati bersama ku. Tidak peduli seberapa jauh kau menyelamatkan diri karena tekad ku sudah bulat akan membawamu bersama ku." Ancamnya.
__ADS_1
"Kau...?" Kesal Hiroishi.
Dan Miyuki merasa jenuh akan sikap itu,
"Jangan berwajah seperti itu, sebaiknya jaga bicaramu mengerti?" Tegurnya, kemudian meninggalkan Hiroishi masih terlihat kecewa.
"Cihh! Andai saja, Ryu tidak melakukannya. Tapi, yang perlu ku lakukan adalah menghentikannya." Batin Hiroishi.
β’β’β’
Orang-orang yang berada di gedung itu berhasil diamankan oleh pasukan tentara jepang. Untungnya, Ryu berhasil meminta bantuan dengan waktu yang tepat.
Sesuai perintahnya, teman-temannya berkumpul di ruang rapat darurat. Lebih tepatnya markas asosiasi sihir bawah tanah.
"Pasukan battalion akan segera tiba, jadi sebaiknya serahkan sebagiannya pada tentara jepang."
Bedanya antara pasukan battalion dan tentara jepang adalah gelar, pasukan battalion hampir mirip dengan tentara jepangnya. Hanya saja, mereka anggota dari 10 klan terbesar antar jepang. Sementara tentara jepang hanya tentara pemerintah jepang. Kedua belah pihak tetap melakukan kerjasama di saat keadaan darurat.
"Tapi, Hiroishi belum kembali." Sahut Lina, tidak melihat kehadiran Hiroishi.
"Aku memintanya untuk menemani Miyuki ke tempat yang aman." Jawab Ryu.
Tapi, setelah itu dia mendapat laporan dari Hiroishi.
"Ada apa?"
"Miyuki sudah aman, jadi tolong siapkan helikopternya."
"Baik, aku akan meminta pasukan lainnya menyediakan helikopter untuknya."
"Ooya, satu lagi...dia akan pergi sendirian ke pulau itu."
"Hm?"
"Katanya akan lebih baik agar tidak melibatkan dirimu maupun lainnya."
"Bukankah itu terlalu bahaya pergi sendirian tanpa pengawasan?"
"Aku tau, tapi..."
"Aku akan menemuinya."
"Buas petir?"
"Jangan lupa jaga dirimu karena aku tidak begitu yakin apa kau dan dia berakhir bersama atau salah satu dari kalian."
"Apa mak..." Belum selesai Ryu bertanya, panggilan itu mendadak terputus.
"Ada yang tidak beres." Batin Ryu merasa aneh dengan panggilannya mendadak terputus, apa terjadi sesuatu.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Haru.
"Entahlah..."
"Lalu, bagaimana dengan monster hitam? Dia akan kembali bukan?" Tanya Arata.
"Sepertinya dia akan menemani Miyuki." Jawab Ryu.
Dia merasa khawatir sesuatu terjadi pada Miyuki dan Hiroishi.
"Ku harap ini tidak seperti dugaan ku."
"Mereka sudah datang." Ujar Ito melihat sebuah tanda dari ponselnya bahwa pasukan Battalion sudah tiba dengan puluhan pesawat tempur.
Akibat panggilan Ryu dan Hiroishi terputus karena ulah Miyuki. Hiroishi ketahuan olehnya,
"Kau mencoba memberi aba-aba padanya." Tegur Miyuki mengambil ponsel Hiroishi dari tangannya.
Miyuki menghela nafas kesal, kemudian menatap Hiroishi dengan tatapan mengerikan.
"Sepertinya posisimu akan ku ambil alih." Ucapnya.
"Apa yang kau ingin lakukan?" Seru Hiroishi.
"Tenang saja, kau tinggal ikut bersama ke pulau itu."
"Tapi..."
"Berisik monster hitam!" Tegur Miyuki lantas membuat pria itu terdiam menurutinya.
Miyuki menarik Hiroishi ikut teleportasi bersamanya. Keduanya pun berada di tengah lapangan helikopter.
"Sejak kapan kau bisa mengendalikannya?" Tanya Hiroishi heran, bagaimana bisa Miyuki mampu berpindah cepat dan mengendalikan sihir?
"Aku adalah wanita terkutuk oleh penderitaan ku, tentu saja aku mampu mengendalikan sihir, bahkan jauh lebih kuat dari Ryu maupun dirimu." Balas Miyuki.
"Ap...?!"
Langkah Miyuki terdiam menatap seseorang datang dari kejauhan.
"Sepertinya kita kedatangan tamu." Ujarnya terdengar dingin itu tersenyum sinis.
Begitu orang itu datang, Miyuki menyambutnya dengan menyembunyikan wajah iblisnya.
"Ooohh, Mayumi kah?"
Ternyata itu Mayumi yang tampaknya sudah mempersiapkan tekadnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Miyuki.
Namun, Miyuki berpura-pura tidak ingin berurusan dengan wanita itu.
"Aku tidak punya waktu."
Begitu mudahnya Mayumi terjebak oleh wajah iblis itu.
"Tunggu? Aku kemari ingin menyelesaikan masalah kemarin denganmu." Ucap Mayumi.
Miyuki senang hati mendengarnya, kemudian meneruskan bermuka dua dihadapannya.
"Ehhh? B-bukankah itu sudah kelar? lagi pula aku tidak ingin memperpanjangkannya."
Mayumi sama sekali tidak menyadari sikap Miyuki begitu aneh.
"Heh? B-benarkah?"
"Jangan percaya padanya!" Sahut Hiroishi memperingati pada Mayumi.
"Huh? Hiroishi, ada apa?" Tanya Mayumi benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Hiroishi.
Hiroishi tetap bersikeras menjawabnya dengan perkataan yang sama.
"Aku bilang jangan percaya padanya!" Serunya.
Dia tak bisa berbuat apa-apa menyelamatkan Mayumi karena sekali saja Hiroishi maju maka tubuhnya akan hilang mendebu.
Sayangnya Mayumi terlambat sadar, hanya sekali menatap kedua mata Miyuki menyala kuning sebening cahaya matahari itu. Kedua tangan Mayumi terpotong,
"Huh?"
"Lambat sekali, putri ibliss." Bisik Miyuki terdengar mengerikan disamping telinga Mayumi.
"Ap...?!" Tentu saja, Mayumi terkejut dan teriak kesakitan.
AAAAAAAAAGGGGGGGGGHHHHHHHHH
β’β’β’
{Bersambung. . .}
maaf maaf maaf maaf sebesar-besarnya telat updatenya akibat koneksi data sedang bermasalah, insya allah diusahakan di up tepat waktu.ππππ
jadi mohon mampir ya jangan lupa tinggalin jejak di kolom komentar, di tungguuu pendapatnyaπππ
terima kasih πππ
__ADS_1