Emergency Love

Emergency Love
Kekuatan Cinta


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, komedy, fantasi, drama


Novel ringan ini hanyalah sebuah karya buatan sendiri dan menceritakan seorang pria bernama Ryuzaki Nishimura memiliki kisah unik dalam hidupnya yaitu dunia cinta tak bisa kembali dengan seutuhnya. Maka dari itu,


"Jangan membunuh hidupmu hanya karena cinta!"


Kata itu takkan pernah hilang dilubuk hatinya.


Sebelumnya terima kasih sudah membaca karya saya sejauh ini, jangan lupa untuk like atau vote dan memberi tanggapan atau komentar jika ada pertanyaan dan sarannya atau pendapat kalian. Maaf jika ada pepatah-kata yang salah. Mohon dukungannya ya teman-teman. 😄😄



"Ryu. .zaki hentikan!"


Tanap basa-basi Ryu menggigit leher Miyuki lebih tepatnya di tanda kutukan itu. Tentunya, Miyuki teriak kesakitan.


"Aaaaaaggghhhhh!!!"


Tetapi herannya, Ryu tidak kesakitan sama sekali justru merasa tubuhnya semakin kuat. Dia sedikit tak berkutip melihat Miyuki tidak bernafas lagi hingga membuatnya marah. Entah perasaan apa yang sedang menyelimuti dirinya, dan sebatang panah datangnya darimana itu menancap ke belakang Ryu hingga matanya menyala.


Dia terjun ke hutan lalu menyerang orang yang sudah berani memanahnya. Untungnya orang itu berhasil menangkisnya.


"Apa yang terjadi padamu, Ryuzaki?"


"Kau seperti vampir."


Sosok Hiroishi dan Haru datang untuk membantu Miyuki, namun sepertinya mereka terlambat melihat kondisi Miyuki tidak sadar lagi.


"Miyuki?"


"Oi, monster hitam liat tanda itu dilehernya."


"Tanda itu? Jangan bilang. . "


Mereka tidak menyangka Ryu menggigit tanda itu hingga perubahan tanda itu semakin memudar.


"Akan berbahaya jika dia menggigitnya sekali lagi maka tubuh Miyuki bukan manusia lagi."


"Kau tau banyak hal ya."


"Itu karena aku sudah menganggapnya seperti adikku dan sepertinya kita harus merebut Miyuki kembali sebelum terlambat."


"Anu, kau tau mengapa buas petir jadi begini? Dia raja vampir mematikan ya."


"Dasar pengecut lu!"


Ryu masih menggendong Miyuki itu menyandarkan tubuhnya ke pohon. Tanpa sadar, Miyuki menggenggam erat tangannya. Ryu berusaha melepaskannya hingga kata-kata itu keluar dari bibir Miyuki.


"Aku. . . men. .cintaimu."


". . . . !"


Dua pria itu lelah menunggu Ryu masih berdiam diri di situ, mereka menendangnya bersamaan, akan tetapi Ryu menangkap kaki mereka dengan tatapan mengerikan.


"Kalian mengganggu ku." Sambil melempar mereka.


"Cih, kekuatan apa itu?!"


"Bagaimana dengan ini?" Hiroishi menarik busur panah raksasanya ke arah Ryu lalu melepas tali busurnya.


Benda tadi berhasil menusuk dada pria itu, akan tetapi tubuh pria itu baik-baik saja lalu menarik panah yang menancap ditubuhnya lalu menghancurkannya.


"Tidak mungkin!" Keduanya terkejut menyaksikannya.


Tiba-tiba Ryu muncul di belakang mereka sambil memukulnya, untungnya mereka berhasil menghindarinya dan pukulan tadi adalah ledakan.


"Keren.." Haru malahan memuji kekuatan itu. Hiroishi menjitak kepala pria itu. "Sekarang bukan waktunya memuji kekuatan mematikan ini."


"Kita harus membuat dia bangun dan sepertinya Miyuki. . "


"Tidak, saat ini jiwanya masuk dimensi lain."


"Benarkah? Itu artinya dia menjemput si buas petir itu?"


"Benar, sekarang ayo kita berurusan si buas petir itu maksudku si vampir."


Kedua pria itu mempersiapkan tenaganya untuk membangunkan Ryuzaki.


"Rubah cantik, kami mengandalkanmu."


••


Sementara jiwa Miyuki yang berada dimensi lain, terlihat suasana tampak begitu cerah hanya dihiasi rumput kecil dan bunga-bunga yang indah, tidak hanya itu suara angin ikut terdengar meniup belaian rambutnya.


"Dimana ini?"


Dia melihat disekelilingnya hingga menemukan sosok pria masih terbaring lemah dari kejauhan. Dia berlari mendekati pria tadi.


"Anu.. Kau baik-baik saja?"


"Siapa di sana?"


Miyuki tergesa-gesa itu memeriksa kondisi pria itu. "Tubuhmu panas, sudah berapa lama kau disini? Kau tidak ke rumah sakit? Oya, kebetulan aku suster."


Pria itu tertawa dan merasa lucu mendengar Miyuki ucapkan.


"Rumah sakit? Suster? Kau ini aneh ya."


"Heh? Aneh?"


Pria itu mengetuk dahinya. "Kau tiba-tiba muncul langsung menanyakan pertanyaan hal bodoh."


"Di sini tidak ada tempat yang kau katakan barusan, tempat ini tiada ujungnya aku muak berjalan jadi... Aku lemah seperti ini."


"Oooh, begitu."


"Siapa namamu?"


"Huh? Nama ku? Ehrr, namaku siapa?" Miyuki bahkan tidak percaya bahwa dirinya sudah melupakan namanya.


"Kau tidak ingat namamu ya, itu artinya kau tidak ingat apa-apa sebelumnya bukan?"


"Ku rasa begitu, tiba-tiba aku di sini dan menemukanmu."


"Begitu ya."


"Namamu?"


"Nama ku? Uhm, aku sedikit lupa tapi kalau diingat-ingat namaku, Ryu."


"Ryu? Namamu tidak familiar ya."


"Benarkah?"


Ryu menarik salah satu tangan Miyuki menyentuh dadanya hingga pipi Miyuki memerah.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa denyut jantungku masih terdengar?"


"Huh?"


"Bukankah kau suster? Itu artinya kau mampu dalam hal kesehatan bukan?"


"Ehrr yahh, tapi bukan seperti ini."


"Kalau begitu seperti ini gimana?" Sambil menarik kepala gadis itu bersandar ke dadanya.


"Huh?"


Pipi Miyuki makin memerah, dan tentunya dia mendengar detak jantung pria itu.


"Kau mendengarnya?"


"Ehrr, iya. Terdengar kencang sih tapi. ."


"Ssstt.." Sambil menutup bibir Miyuki dengan telunjuk jarinya lalu menarik wajah gadis itu menatapnya.


"Aku masih penasaran siapa dirimu, entah mengapa rasanya hangat sekali."


"Ohh, uhm. . anu..kau sendirian disini ya?"


"Sendiri? Entahlah. . ."


Miyuki melihat bunga-bunga indah itu tertiup angin rasanya lembut dan menyegarkan.


"Tempat ini indah bukan?" Tanya Ryu.


"Tapi menyakitkan."


Miyuki menatapnya seolah penasaran, apa yang dimaksudkan dengan tempat indah tapi menyakitkan.


"Aku ingin meninggalkan tempat ini."


"Kenapa?"


"Karena tempat ini hanyalah mengurung ku, aku lelah melihat tubuhku terbaring seperti ini."


"Kau tidak bisa bangun ya?"


Ryu membenarkannya, Miyuki merasa kasihan memperhatikannya dan dia memutuskan bahwa,


"Bagaimana aku saja membawamu pergi dari tempat ini?"


"Kau mau membawa ku pergi dari tempat ini? Bagaimana caranya? Tubuh ku terikat dengan tanah ini."


"Aku usahakan kau ikut denganku, bukankah kau ingin meninggalkan tempat ini?"

__ADS_1


"Tapi aku tidak mengizinkanmu untuk melakukannya." Suara gadis familiar itu datang mengganggu pembicaraan mereka.


Miyuki terdiam sejenak. "Kau. . siapa?"


Bukannya menjawab, gadis itu mendorong Miyuki menjauh dari Ryu. "Berani-beraninya masuk ke tempat ku!"


"Anu. . Maafkan aku, tapi aku tiba-tiba berada ditempat ini. Uh, anu. . Begini apa kau bisa membebaskanya? Dia menderita di tempat ini, bisakah kau membiarkan dia pergi?"


"Apa yang kau bicarakan? Mencoba membawa kekasih ku pergi, tentu saja aku tidak mengizinkan mu."


"Huh? Kekasih?"


"Nama ku Mayumi."


Mendengar nama itu rasanya darah Miyuki mengalir dengan amarah yang sudah lama tertanam.


"Kenapa?! Kenapa kau mengikatnya di tempat ini? Jika dia kekasihmu maka kau sepatutnya membiarkan dia memilih jalan bukan?"


"Itu karena kau tidak mengerti alasan ku, aku mencintainya tak ingin melepaskan, aku ingin dendamku tertuntas agar aku bisa bahagia dengannya di tempat ini."


Miyuki menatap Ryu tampak lemas hanya senyumannya yang mengharapkan Miyuki untuk segera membebaskannya.


"Kau salah, kau sama sekali tidak mencintainya tapi, tapi kau hanya menggunakan rasa cinta itu seolah memperalatkan tubuhnya untuk dendammu, kau jahat!"


Dia tidak punya pilihan lain dan memilih menyerang Mayumi dengan sekali pukulan, tepatnya itu mengenainya. Miyuki dengan berusaha menarik tubuh Ryu untuk bangkit lagi.


"Aku. . pasti b-bisa!!"


Mayumi bangkit lagi mencegah Miyuki untuk membebaskannya. Namun, Miyuki tidak menyerah.


"Jangan menghalangi ku!"


"Memang dia siapamu, hah?!" Teriak Mayumi terdengar marah.


"Dia adalah pria yang harus ku selamatkan."


Tubuh Miyuki bercahaya dan sadar bahwa dia akan segera menghilang di tempat ini. "Aku tidak punya waktu."


Dia sekuat tenaganya menarik tubuh Ryu hingga rantai tanah yang mengikat tubuhnya ikut terlepas. Keduanya berlari bersama,


"Ryu, jangan lupa tugasmu."


Langkah Ryu terhenti sejenak mengenang tugas yang pernah diberikan oleh Mayumi. Miyuki memukul kedua pipi pria itu,


"Lupakan tugas itu, saat ini kau bersama ku dan aku akan membawa mu pergi dari sini, mengerti?!"


Ryu menatap senang padanya lalu memeluk erat tubuh gadis itu. "Terima kasih."


"Huh? Ryu."


"Itu kau ya?" Ucap Ryu menyentuh kedua tangan Miyuki. Dia menyadari sesuatu pada gadis itu.


"Huh? Apa maksudmu?"


"Lupakan saja, yang penting kau datang menolong ku bukan?"


Miyuki membenarkannya. Tubuh keduanya bersinar dan bersiap untuk pergi,


"sekarang kau sudah bebas. . "


". . .Ryuzaki."


Akhirnya mereka menghilang dari tempat itu, Mayumi masih berwajah menyedihkan itu berjanji,


"Dalam seumur hidupku, aku tidak akan memaafkanmu!"


". . Miyuki."


••


Dan hingga saat itu, Hiroishi dan Haru tampak kehabisan tenaga menghadapi si vampir itu.


"Baterai ku abis."


"Aku juga."


"Apa yang harus kita lakukan? Apa sudah berakhir kah?"


Keduanya tidak kuat lagi melihat tubuh Ryuzaki masih terlihat utuh dan ingin menyerangnya lagi. Dia perlahan-lahan mendekati keduanya dengan tatapan mengerikan itu.


"Sial! Tubuh ku tak bisa bergerak lagi!" Hiroishi kesal tubuhnya yang lemah ini tak bisa bergerak lagi.


Seseorang muncul secepat kilat kuning itu tiba-tiba datang memeluk Ryu.


"Aku kembali, Ryu."


". . . ! Miyuki?"


Dua pria itu terkejut melihat sosok Miyuki yang akhirnya bangun kembali. Tetapi, tanda dilehernya menghilang. Itu artinya. . .


"Ryu, tolong hentikan.." Sambil menatapnya lalu menyentuh kedua pipi Ryu.


"Tenangkan dirimu, oke?"


"Aku mengerti, kau mencintainya tapi bagi ku melihatmu seperti ini, kau cukup menderita. Jangan sakiti aku, mereka dan dirimu karena,"


"Karena itu akan sia-sia Ryu. Ku mohon, hentikan."


"Semua baik-baik saja."



Ryu menatapnya, perlahan-lahan warna matanya berubah normal kembali. Kini wajahnya tampak bercucuran airmata melihat wajah Miyuki dinodai banyak darah dan tanda dilehernya juga tidak ada lagi.


Miyuki melebarkan senyum tipisnya dengan lembut. "Semua akan baik-baik saja, Ryu."


"Mi..yu..ki?"


"Maafkan aku."


"Tidak, ini bukan kesalahanmu ini hanyalah cobaan yang menantangmu. Tapi kau berhasil kembali Ryu."


Ryu jatuh bertekuk lutut, Miyuki dengan lembut menariknya jatuh ke pelukannya. Sebenarnya, Miyuki kecewa setelah tau perasaan Ryu yang ternyata sulit mencintainya. Meski pun sudah berusaha menunjukkannya maupun mengungkapkannua, itu hal mustahil bagi Ryu.


Miyuki memutuskan untuk menahan perasaanya karena itu lebih baik daripada menghambat perasaan Ryu.


"Begitu ya, kau masih mencintainya bukan? Tapi..itu menyakitkan bagimu, bukan?"


"Tenang saja, aku. . .aku masih ada untukmu.."


Suasana hutan itu tampak cerah oleh sinaran matahari, dua pria tadi lega melihat Ryu kembali tetapi bagaimana nasib Miyuki.


Ryu juga mempereratkan pelukannya, merasa bersalah telah melukai istrinya sendiri.


"Maaf. . ."


"Maaf. ."


"Maafkan. . Aku. . Miyuki."


Miyuki terdiam sejenak, tetapi setelah itu dia tersenyum lembut. "Hari yang indah ya..."


Dia membiarkan Ryu memeluk tubuhnya dengan erat. Diam-diam tangan Miyuki menggenggam pedang katana lalu menusuk tepat di dada Ryu.


"Akulah yang harus minta maaf, jadi. . . Maafkan aku."


Tubuh Ryu membeku dan tak percaya Miyuki melakukannya, tetapi bukan hanya dia, dua pria itu juga terkejut.


"Miyuki? Apa yang kau lakukan?!"


Ryu jatuh terbaring lemah dan menatap mata Miyuki bersinar kuning bening yang mengerikan.


"Kenapa?"


Miyuki tidak menjawabnya, dia memilih bangkit dari tempat duduknya. Ryu tidak punya pilihan lain untuk segera tertidur.


Miyuki mencabut pedang itu kembali,


"Hanya cara ini yang bisa melepaskan rantai busuk ditubuhmu, menjijikan."


Dia menghela nafas panjang lalu menatap kedua pria itu masih ketakutan.


"Tenang saja, aku tidak membunuhnya. Aku hanya melepas rantai itu dengan pedang ini."


Miyuki melebarkan senyumannya kembali, Hiroishi dan Haru tidak mengerti tetapi perlahan-lahan wajah mereka terlihat damai melihat tanda dileher Miyuki kembali.


"*jadi begitu ya."


"Kekuatan cinta kah?"


"Bener-bener bodoh ya*."


Mereka begitu lega, nyaris jantung mereka copot. "Syukurlah..."


••


Setelah kejadian itu, suasana tampak damai kembali. Ryu dirawat inap RSA dan kondisinya hanya mengalami luka dalam bagian dada dan perut, jujur saja kejadian itu masih membuatnya kesal karena melihat Miyuki yang tiba-tiba menusuknya.


Miyuki yang mengenakan seragam perawat itu duduk disamping suaminya, dia terkekeh kecil, "hehehe, aku tidak punya pilihan lain."


Ryu merasa bersalah melihat bekas gigitan masih terlihat di leher istrinya.


"Lagi-lagi aku melukaimu ya."


"Aku baik-baik saja kok."


"Kau bohong."


Miyuki menundukkan wajahnya seolah menyembunyikan wajah sedihnya.


"Anu, Ryu? Ku dengar kau bertemu dengan kakekmu, Rihito benarkah itu?"

__ADS_1


"Ya, ternyata kau mengenalnya ya."


"Tidak, ibu ku hanya memberitahuku. Jadi, apa dia mengatakan sesuatu padamu?"


Ryu sedikit khawatir melihat Miyuki berusaha menyembunyikan wajahnya. "Miyuki?"


"Dia bilang kalau aku harus menjauhimu atau meninggalkanmu dan tidak hanya itu, dia memintaku untuk menghilangkan mu karena. . ."


"Karena kutukan ku ya? Ternyata benar, kutukan ini tak bisa membuat tubuhku normal. Tubuhku hanyalah kutukan yang tak bisa memiliki keturunan, seolah ini pengganggu hidupmu jadi. . maafkan aku."


Ryu jadi tidak nyaman mendengar nada itu tampak begitu menyedihkan.


"Aku pernah bilang bahwa kau adalah orang ketiga dalam hidupku, itu bukan berarti kau pengganggu hidupku tapi sesuatu yang berharga bagi ku."


Miyuki terdiam sejenak lalu menatap Ryu. Matanya berlinang airmata, Ryu mengusapnya dengan lembut.


"Memang benar, saat aku bertemu denganmu melihat mu menangis lalu menamparku, jujur saja itu tidak sopan tapi kata-katamu itu membuatku terbangun, sampai saat ini kata itu tidak pernah hilang."


Ryu mengenang memori masa lalunya, saat pertama kali bertemu dengan Miyuki hingga dia sadar.


"Seolah kata-kata itu menyadarkan ku bahwa diriku tidak harus berakhir pecundang dan aku bersyukur, berkat dirimu aku bisa berdiri disampingmu dan melindungimu."


Wajah Miyuki terkagum, bibirnya tersenyum lembut.


"Lebih baik saling melindungi, Ryu." Sambil menggenggam erat salah satu tangan suaminya.


"Itu pertama kali bagimu kah? Ku rasa banyak hal yang sudah terlewatkan, tapi itu percuma jika aku mencoba mengatakannya."


Ryu tidak mengerti. "Apa yang kau maksudkan dengan banyak hal yang terlewatkan?"


"Yahh, lupakan saja. Yang penting, aku sudah bersamamu." Sambil melebarkan senyumnya membuat wajah Ryu memerah.


Dia cepat-cepat memalingkan wajahnya. "Ehrr yahh, begitulah."


Miyuki juga sadar itu wajahnya ikut memerah merona. "Uh?uhmm, maaf.."


"Tidak apa-apa, anu..itu..makasih."


"Huh?"


"Makasih sudah menyelamatkan ku."


Miyuki hanya menjawab dengan melebarkan senyum palsunya lagi.


"Meskipun itu sulit bagimu mencintai ku, tapi..hal itu menyakiti ku, Ryu."


Keduanya tampak senyum damai, tetapi dua orang familiar itu diam-diam menyaksikan mereka.


"kyaaaa!, romantis banget ya! bikin iri dehhh, aku mencintaimu, monster hitam."


"Cihh, lebay lu!" Sambil menahan wajah Haru yang mau menciumnya.


"Ayolah, ayolah monster hitam."


Hiroishi kesal itu memukulnya keluar, "berisik!"


"Kau mengganggu saja."


"Yo! Apa kami bisa bergabung?" Tanya Ito bersama Arata berada ditempat itu.


"Heh? Eh? Arata?"


"Kau..si-siapa?"


Arata dengan senang hati merangkul bahu Ito. "Dia pacar ku, Ito."


"Hehhh???!"


Lina muncul itu langsung melempar Arata,


"menghalang saja, dia pacarku tau!"


"Heh?" Ito terkejut melihat Lina merangkul lengannya hingga pipinya memerah.


"Kau ini ya!"


"Ehhr, yahh..maaf."


Lina terkekeh kecil, "cuman bercanda."


"Li..li-na, kau di sini?!" Teriak Haru.


"Eh? Aah, ka-kalian Hiroishi, Haru?"


Ketiga orang itu berniat menjenguk Ryu, namun Hiroishi dan Haru cepat-cepat menarik mereka keluar.


"Ssssstttt, liat tuuuh."


"Heh?"


Mereka bingung mengapa dua pria ini bertingkah aneh. Tetapi mereka ikut diam-diam melihatnya hingga pipi mereka memerah menyaksikan Ryu dan Miyuki tertawa bersama.


"Eh?"


Akibat mereka ketahuan oleh sepasang suami istri itu hingga suasana jadi agak canggung. Miyuki tak tahan lagi, cepat-cepat menutup pintunya.


"Ahh! Maafkan kami, Miyuki!"


Miyuki mendengus kesal, "dasar bodoh!"


"Merepotkan." Dan Ryu juga tidak nyaman dan memilih menutup selimut kembali.


Miyuki membuka pintunya kembali dan melihat orang-orang itu masih ada di depan pintu hingga membuatnya marah membara.


"Kalian itu ya.." sambil mempersiapkan kedua tangannya untuk memberi pelajaran pada mereka.


"Heh? Gawat."


Hingga akhirnya, para lelaki mesum itu mendapat benjolan besar dari Miyuki kecuali Lina karena sebelumnya. . .


"Yang mulia, tolong maafkan aku. Mereka inilah yang mengajakku."


Lina menunjukkan wajah memohonnya yang begitu lucu dan imut hingga Miyuki memaafkannya.


"Oi? Lina, kau mengkhianati kami ya!"


Namun Lina malah menjulurkan lidahnya. "Beeep"


Pada akhirnya mereka jadi seperti ini. "Semua ini salahmu, monster hitam."


"Aku?"


"Tidak, ini salahnya si kampret itu."


"Aku lagi? Ini salahnya si elang putih tuuhh."


"Elang putih? Siapa?"


Arata menunjuk orang yang dimaksudkan itu adalah Ito, disampingnya.


"Huh?" Ito heran melihat tiga pria itu menatap buaya padanya. "Kenapa?"


Mereka mengabaikan pertanyaan Ito. "Hmm..ku rasa itu benar."


"Huh? Apa yang kalian bicarakan?"


"Aahh, tidak ada apa-apa." Mereka dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ito menghela nafas panjang. "Kalau begitu.."


"..aku pulang." Tanpa basa-basi Ito pergi mengabaikan empat orang itu.


Hingga mereka tak bisa berkata-kata. "Eh?"


••


Di China, Victor bersama para pengawalnya menemukan sosok Mayumi sedang dinas RS. Dia tampak kaku berhadapan dengan pria itu.


"Ka-kek? Ada apa?"


"Mau sampai kapan kau menetap di sini?"


Mayumi menundukkan wajahnya. "Sampai semuanya sudah kelar."


Victor tersenyum dingin. "Kelar katamu? Hmm..sepertinya itu sia-sia."


"Apa maksudmu?"


"Pembunuh ayahmu itu sudah ditemukan."


Mayumi terdiam sejenak menahan amarahnya. "Dimana dia?"


"Dimana ya?.. Intinya pembunuh itu sudah menikah dengan kekasihmu."


Mayumi tak bisa berkutip mendengarnya. Dia benar-benar terkejut setelah meninggalkan tempat itu. Dia pikir, dengan kepergiaannya itu Ryu akan baik-baik saja. Ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Maka dari itu, dia memutuskan.


"Kalau begitu, aku ingin kembali."


"Jawaban itu yang ku tunggu." Victor senang hati siap membawa Mayumi kembali.


"*Siapa si pembunuh itu? Dia menikahi Ryu, itu artinya dia. . dia mengincari Ryu dan Ryu sedang dalam bahaya."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ryu, kau baik-baik saja bukan*?"



. . "Lama tidak bertemu, Mayumi." . .


{Bersambung. . . }


••

__ADS_1


__ADS_2