Emergency Love

Emergency Love
Hati Yang Pudar


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, fantasi, komedi


Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.



••


"Kalian???"


Fujii tampak terkejut melihat orang-orang yang mengurung dirinya di ruang itu adalah Rihito, Matsumoto dan Mayumi.


Saat ini mereka berdiri dihadapan Fujii yang tubuhnya diselimuti tali dan sihir untuk mencegahnya kabur.


"Maaf ya, aku malah memperlakukan mu seperti ini." Sahut Matsumoto dengan senyum liciknya.


"Apa maksudmu dengan memperlakukan ku seperti ini?" Tanya Fujii.


"Ara-ara...aku hanya ingin menjadikan mu sandera saja karena pria di samping ku ini telah menggagalkan rencana ku." Jawab Matsumoto malah sindir Rihito di sampingnya.


"Sebaiknya jangan menyindir ku seolah kau sudah menang dari ku." Tegur Rihito.


Matsumoto tersenyum cerdas membalasnya, "memang faktanya aku kalah darimu dan aku tidak pernah meminta mu untuk menang dari ku."


"Cih! Terserah." Rihito lebih cepat menyerah daripada berdebat dengan anaknya hanya masalah tidak masuk akal.


Mayumi sempat diam sejenak melihat dua orang itu berdebat, tanpa aba-aba lagi, dia memilih dirinya bertanya pada Fujii duluan.


"Jika tidak ingin hidupmu bersama klanmu terancam sebaiknya serahkan senjata kalian pada kami." kata Mayumi.


"Apa ini sebagian rencana kalian?" Tanya Fujii.


Matsumoto membenarkannya. "Karena hanya ini satu-satunya cara memeras mu."


Dengan cepat Fujii menjawab, "Aku menolak!"


Ketiga orang itu tampak berkecil hati hingga Rihito tak kuat menahan rasa kesalnya itu mengarahkan pistolnya tepat di kepala Fujii.


"Lebih kau menurut daripada hari ini kau akan berakhir."


"Kenapa?" tanya Fujii,


"Kenapa kalian sok berkuasa? Terutama kau, Rihito-sama. Bukankah kau adalah ketua klan master? Itu artinya kau harus menjaga sikapmu terhadap ku maupun tanggungjawab mu!."


"Dan Matsumoto, kau bersama putrimu hanyalah anggota klan cabang yang tak bisa berbuat apa-apa terhadap klan master apalagi mengambil alih klan ku." tambah Fujii.


"Memang benar aku dan putri ku tidak bisa berbuat apa-apalagi menentangmu, tapi kau tau...."


"Aku adalah anaknya, benar kan ayah?" jawab Matsumoto.


"Ayah?" Fujii sedikit kaget tak berkutip sejenak.


Rihito berwajah santai itu membenarkannya. Fujii menggertakkan giginya, "siapa sebenarnya kalian?!!" Serunya.


"Youkai." Singkat jawaban dari Matsumoto.


"Kecuali aku hanyalah penyihir tingkat strategis." Sambung Mayumi.


"Tidak mungkin, kalian berdua adalah pelakunya yang telah mencuri batu Youkai itu, kan?" Balas Fujii tak percaya.


Matsumoto bersikeras membenarkannya, "Tepat sekali."


"Apa juga kematian Moyuka-sama karena dirimu?" Tanya Fujii sekali lagi untuk memastikan kebenarannya.


Rihito dan Matsumoto mengiyakannya.


Hal itu sulit dipercaya oleh Fujii, dia kesal telah percaya tipu daya Matsumoto maupun Rihito.


"Sial."


Tak lama kemudian, sebuah panah terbang masuk ke ruangan itu dari jendela kecil. Mereka sempat dibuat kaget melihat panah itu membawa sesuatu.


"Gawat! Ini peledak kabut." Batin Mayumi.


Sesuatu meledak dari panah tadi hingga satu ruangan jadi berkabut dan sulit melihatnya dengan kasat mata. Rihito dengan cepat menghilangkan kabut itu hanya sekali mengayunkan salah satu tanganya. Kabut itu berhasil menghilang tetapi semua kaget melihat Fujii menghilang dari tempat duduknya.


Mayumi tersenyum cerdik, "sepertinya tikus itu telah diselamatkan oleh mereka."


Dia sadar bahwa seseorang telah memperhatikan situasi itu dari tadi, dan melihat panah itu rasanya benda yang tak asing baginya.


"Siapa?" Tanya Matsumoto.


"Masaki dan Hiroishi." Jawab Mayumi.


"Kalau begitu..." Rihito mencoba memerintahkan pada Mayumi untuk mengejar orang yang membawa Fujii kabur.


Tanpa berpikir panjang, Mayumi dengan senang hati menerima perintah dari kakeknya.


"Serahkan saja padaku." Jawab Mayumi yang kemudian menghilang dengan teleportnya.


"Aku mengandalkanmu." Gumam Matsumoto.


•••


Haru, Ito, Arata, Lina dan Yuri mohon pamit pada Nishimura karena sudah melayani mereka dengan baik.


"Terima kasih." Ucap mereka serentak membungkukkan badan dengan sopan pada Maya dan dua guardian di sampingnya.


"Kami juga berterima kasih sudah datang menjenguk Miyuki-sama." balas Minami juga membungkukkan badannya.


Miyuki ikut hadir, "jangan lupa kemari lagi."


"Eh? Ahhh, yaaa." Jawab Arata dengan wajah ceria yang begitu pahit.


"Kalo aku tidak keberatan kokk." Ikut Haru hingga dia mendapatkan pukulan hebat dari Yuri. BUKKH!


"Aghh, sakit tauuuu"


"Sebaiknya kau diam saja Kelelawarr." Ucap Yuri.


"Ahahahhahaha...maaf-maaf."


Miyuki sedikit terkekeh melihat mereka saling bercanda satu sama lain, "Aku merasa senang mengenal teman-teman Ryuzaki, begitu dia datang aku akan menceritakam hal itu padanya."


"Ahhhh jangan-jangan!" Serentak semuanya pada Miyuki kecuali Minami dan Aori, Maya.


"Eh? Kenapa?" Tanya Miyuki tidak mengerti.


"Ahahahahh begini, sebaiknya kau jangan menceritakannya karena kami ingin memberi kejutan padanya." Jawab Lina dengan senyum pahitnya.


Miyuki jadi curiga, "Hm?" membuat mereka khawatir.


Ito dengan cepat mengubah topik pembahasan agar bisa kabur. "Aaahhh ya sudah, kami pergi dulu."


"Sampai jumpa Miyuki." Ucap Lina dan Yuri serentak pergi.


"Sampai jumpa lagi, cantik dan Yuri." Balas Miyuki dengan senyum ceria nan ramahnya.


Mereka akhirnya pamit dengan raut wajah yang begitu pahit. Miyuki cukup senang dengan hal itu, saking senangnya.


"Huhfff...rasanya," Tiba-tiba Miyuki merasa tubuhnya sesak dan lemah hingga dirinya jatuh pingsan.


Maya dengan cepat menyambut Miyuki, Aori dan Minami khawatir dengan kondisinya.


"Tenang saja, dia hanya kelelahan saja."


"Syukurlah...." Kedua guardian itu tampaknya lega mendengarnya.


"Bawa dia ke kamar." Perintah Maya pada mereka.


Tak lama kemudian, Ryu dan Miya tampaknya sudah kembali setelah pertemuan klan master di Yokohama.


Maya yang masih berdiri didepan pintu itu menyambut mereka, "selamat kembali."


"Apa semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Maya langsung minta hasil dari pertemuan tadi.


Miya sedikit mengerut keningnnya dengan protes, "apa kau tidak bisa biarkan kami istirahat?!"


"Aku tidak meminta jawaban darimu, tapi di sebelahmu." Jawab Maya dingin menatap Miya.


Miya kesal itu masuk duluan meninggalkan dua orang itu bicara.

__ADS_1


"Pembubaran klan cabang berhasil, sesuai perintah Lujinian-sama mereka akan mempersiapkan anggotanya untuk bekerjasama dengan Batalion." Jawab Ryu santai tanpa menunggu pertanyaan ulang dari bibinya.


"Itu artinya kau akan kembali ke markas militer." Tebak Maya mengalihkan pandangannya menatap bunga-bunga mekar di depan halaman villanya.


"Sepertinya begitu."


"Hm...begitu ya, bagaimana dengan Miyuki?" Tanya Maya ingin tau jawaban Ryu, jika Ryu bergabung dengan militer, apa Miyuki akan baik-baik saja tanpanya?


"Aliansi Elizabeth benar-benar mengincari Miyuki, dan aku akan memikirkan cara untuk melindunginya dari perang nanti." Jawab Ryu masih tampak santai, tidak begitu terlalu memikirkannya karena dia sudah mempersiapkan perlindungan terhadap istrinya.


"Baiklah, jika itu yang ingin kau lakukan asal kau tidak melakukan kesalahan lagi." Maya menyerah tak ingin membahas lebih panjang lagi.


"Baik."


"Miyuki tidak bisa berbuat apa-apa lagi terutama kekuatannya sudah diambil olehmu. Jadi, tolong perlakukan dia dengan baik." Pinta bibinya.


"Aku tau itu." Ryu berpikir itu tanggapan terakhir oleh bibinya maka dia melangkah masuk duluan. Hingga. . . .


"Satu lagi, peresmian Nishimura." Ujar Maya menghentikan langkah Ryu.


Tanpa berbalik, Ryu menjawab dengan dinginnya.


"Ku rasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya, jika semua sudah kelar akan tiba saatnya dilakukan peresmian Nishimura."


Kemudian dia meninggalkan Maya sendirian. Maya menghela nafas nyerah, "hufffhhh...dasar." Gumamnya.


•••


Masaki dan Hiroishi berhasil menyelamatkan Fujii dari sarang lebah Shimizu. Berkat mereka, Fujii nyaris saja diancam oleh iblis-iblis yang ingin mengambil alih klannya dan senjatanya.


"Kalian..., sejak kapan?" Tanya Fujii.


"Masaki memberitahu ku." Jawab Hiroishi membawa Fujii ke tempat persembunyian disalah satu bangunan.


"Tolong maafkan keluarga ku, Fujii-sama." Sahut Masaki membungkukkan badannya pada Fujii.


"Lupakan itu, saat ini keluargamu bukanlah..."


Masaki memotong bicara dengan bersikeras mohon maaf padanya. "Aku sudah tau, maka dari itu tolong maafkan aku dan keluarga ku."


Fujii menghela nafas panjang dan mengerti, "jadi begitu...baiklah."


"Tapi, untunglah kalian sudah datang menyelamatkan ku, terima kasih Hiroishi dan Masaki." Tambah Fujii.


Hiroishi merasakan seseorang sedang mengejarnya kemari, "sepertinya dia benar-benar mengejar kita."


"Apa itu kakak ku?" Tanya Masaki.


Hiroishi hanya menanggapinya dengan senyum yang berarti kalau itu benar, saat ini Mayumi sedang mencari mereka. Kemudian, dia berhenti disalah satu bangunan memperhatikan di sekelilingnya.


"Dimana mereka?" Gumam Mayumi


Tak lama kemudian, sosok Hiroishi muncul dihadapannya.


"Yo? Kita bertemu lagi, putri iblis." Sapa Hiroishi.


"Yamada Hiroishi." Mayumi sedikit mengerutkan wajah kesalnya pada pria itu.


"Kenapa?" Tanya Mayumi.


Hiroishi dengan santai menjawab, "kenapa ya? Hmmm...begini, biar ku jelaskan alasan mengapa aku melakukannya adalah...."


"Kebenaran."


"Kebenaran?" Heran Mayumi, kemudian tatapannya berubah malas mendengar bicara kosong tiada gunanya.


"Apa kau sedang bermain-main dengan ku?!" Serunya sambil mengeluarkan cahaya merah muda dari salah satu tangannya.


"Tidak juga, ini sudah fakta bahwa aku benar-benar melakukan kebenaran. Berbeda denganmu," Hiroishi tetap santai tidak begitu ragu maupun ketakutan menatap Mayumi.


"Berisik! Beri jawaban yang serius padaku!" Mayumi saking kesal itu, mengubah cahaya ditangannya menjadi sebuah pedang sihir.


Hiroishi mengeluh sejenak, "Hufhhh...baiklah, kau ini yaaa. Mau sampai kapan kau akan menjadi penyihir strategis, semenjak kau kembali dengan seperti ini jujur saja kau tidak cantik sama sekali."


Mendengar ucapan Hiroshi sedikit menyakiti hingga Mayumi ikut terganggu, dengan kecepatan yang sangat luar biasa itu Mayumi menyerang Hiroishi hanya sekali tebas,


"Kau ini ya! Mau dihajar dulu baru serius!!"


Namun, tak di sangka Hiroishi menangkisnya dengan mudah menyentuh pedang Mayumi.


"Cihh!"


"Oh? Bukankah pedang ini...." Hiroishi baru sadar bahwa pedang yang ada ditangan Mayumi adalah Katana Yamashita punya Miyuki.


Mayumi sadar itu langsung menendang salah satu kaki Hiroshi. Tentunya pria itu berhasil menghindar dengan melompat jauh dari Mayumi.


"Katakan dimana Fujii-sama?"


"Sudah ku duga kau akan mencarinya, tapi...maaf ya aku tidak bisa mengizinkanmu lewat sebelum kau harus berhadapan dengan ku." Jawab Hiroishi.


•••


Ryu dan Miyuki sedang dalam perjalanan ke Villanya. Sebelumnya, Ryu numpang sehari ke Villa Nishimura agar menjaga Miyuki dan setelah itu Ryu akan menjemput istrinya pulang.


"Kita mau kemana?" Tanya Miyuki.


"Pulang."


"Eh? Pulang? Bukankah tadi itu rumahmu?"


"Itu rumah ibu ku."


"Hmmm, begitu yaa."


"Apa kau merasa jauh lebih baik?" Tanya Ryu, sebelumnya Miyuki sempat pingsan dan membuat Ryu khawatir.


Miyuki dengan wajah yang berseri-seri itu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.


"Syukurlah."


Kemudian, Miyuki menatap sesuatu di salah satu atas gedung. "Anu, Ryu?"


"Hm?"


"Orang-orang itu sedang bertarung di atas."


"Orang-orang? Siapa?"


Ryu menghentikan mobilnya sejenak, kemudian melihat apa yang dilihat istrinya. Ternyata mereka melihat sosok Hiroishi dan Mayumi sedang bertarung di atas gedung.


"Ahhh, bukankah itu...."


"Kau mengenalnya?" Tanya Miyuki menatapnya.


"Tentu saja, pria itu teman ku monster hitam dan sekalian dia kakakmu."


"Kakak?"


"Benar, dan satunya lagi nenek sihir."


Miyuki terdiam sejenak mendengar Ryu memperkenalkan gadis berpirang merah muda sebagai nenek sihir, 😑😑😑


"Heh? Nenek sihir? Masa sihhh, gadis cantik sepertinya dibilang nenek sihir."


Ryu santai itu menjawabnya, "Iya, karena hanya kau seorang tercantik dimataku maupun di dunia ini " Pujinya membuat pipi Miyuki kemerahan.


Ryu sadar dengan ekspresi istrinya yang tersipu malu, "ayo kita hentikan mereka." Ajaknya.


"Heh? Gimana caranya?"


Ryu tersenyum itu menjulurkan telapak tangannya pada Miyuki. Miyuki tidak mengerti itu menatapnya.


"Tenang saja, pegang tangan ku."


"Ooh, baik."


Begitu Miyuki memegang tangan Ryu, kedua pasangan itu menghilang dari mobil.


•••


Hasil serangan Hiroishi dan Mayumi adalah seri, tetapi keduanya tidak menyerah untuk menyerang sekali lagi.


"Kau tau, sebelumnya aku pernah mengagumimu berturut-turut tahun." Ujar Hiroishi mengeluarkan busur panahnya.


Bibir Mayumu tersenyum cerdik, "Aku sudah bosan membahas masa lalu, jadi jangan coba mengulang masalalu hanya karena kau mencintai ku bukan?"

__ADS_1


Hiroishi membulat sejenak, kemudian wajahnya merautkan renungannya mengingat dirinya jatuh cinta pada Mayumi.


"Sayang sekali, aku sama sekali tidak mempedulikan perasaan itu. Yang ku inginkan hanya kembali padanya." Tambah Mayumi.


"Padanya? Maksudmu Ryuzaki." Tebak Hiroishi.


"Menurutmu?" Balas Mayumi dengan senyum sinisnya.


Diam-diam Hiroishi tersenyum cerdas, "Biar ku beritahu bahwa kau hanyalah kedua."


Mayumi sempat panik dan bertanya, "Kedua? Apa maksudmu? Siapa pertama?"


"Tentu saja Miyuki." Jawab Hiroishi.


Mendengar nama “Miyuki” rasanya membuat Mayumi panas, hingga tak punya pilihan lain untuk maju menyerang dengan kecepatan kilat.


Begitu dengan Hiroishi tak mau kalah menyerang. Tepat ditengah pertarungan, seseorang muncul di tengah itu menangkis serangan masing-masing dengan kedua tangannya.


"Cukup sampai di sini saja." Ucap nada familiar itu.


"Ryuzaki?" Mayumi terkejut melihat sosok Ryu yang tiba-tiba muncul.


Ryu membuang nafas panjang, "kalian ini yaa, seperti pasangan kekasih sedang bertengkar. Lebih baik kalian nikah saja sana!"


HEH? lantas keduanya bingung dan panik hingga wajahnya kemerahan. LOL


"Apa yang kau bicarakan?!"


"Diamlah." Tegur Ryu lantas Mayumi terdiam sejenak.


"Kau bahkan tidak bisa merubah dirimu, bukankah sudah ku bilang agar periksa dirimu dihadapan cermin." Tambah Ryu menatap tajam padanya.


"Tapi...aku," Mayumi mencoba nyatakan perasaannya, tetapi Ryu sudah muak mendengarnya.


"Aku muak,"


"Aku muak dari kebohonganmu, tiba-tiba pergi meninggalkan ku hingga kau membuat ku gila! Tapi untungnya wanita itu menyadarkan ku agar aku sepatutnya tidak menjadi orang bodoh karena dirimu." Kata Ryu.


"Wanita? Itu Miyuki bukan?" Tebak Mayumi sedikit mengerutkan kedua keningnya.


Perlahan-lahan dia menundukkan wajahnya penuh rasa sakit mendengarnya, dia ingin tau alasannya. "Kenapa?"


"Kenapa kau lebih kenal Miyuki daripada aku?! Bukankah kau mencintaiku? Dan aku perempuan satu-satunya untukmu, bukan?"


"Kau salah," Sahut nada familiar muncul di belakang Mayumi membuat matanya membulat melihat sosok Miyuki yang ternyata masih hidup.


"Miyuki? Kau masih hidup, tidak mungkin...bukankah kau...."


Bukannya nenjawab, Miyuki ubah topik ucapannya,


"Aku sudah mencintainya lebih darimu." Singkatnya dingin menatap tajam pada Mayumi.


Mayumi marah sambil mengeluarkan cahaya dari tangannya hingga berniat menyerang Miyuki dan orang yang menangkis serangannya adalah Ryuzaki.


"Jangan pernah mencoba melukainya lagi atau kau akan ku tenggelamkan dari dunia ini." Kata Ryu memancarkan tatapan mengerikan pada Mayumi.


Begitu melihat kedua mata pria itu, Mayumi jatuh tumbang gemetar hingga wajahnya tampak syok berat.


"Hentikan Ryu." Sahut Miyuki menarik salah satu tangan Ryu agar menghentikan amarahnya pada Mayumi.


"Sebaiknya kau harus tau dari ibumu, karena dialah salah satu membuat dirimu kehilangan ayahmu maupun ibuku." Ucap Miyuki dingin.


"Ayo pergi." Tambahnya.


"Baik." Jawab Ryu.


Tanpa tanggapan dari Mayumi, mereka akhirnya pergi meninggalkan Mayumi masih keadaan syok.


•••


Miyuki bersama lainnya kembali ke mobil. Wajahnya sedikit mengerut kesedihan mengingat ucapannya pada Mayumi.


"Kenapa?...kenapa aku begitu marah?! Apa karena sebagian tubuhku berhasil mengambil alih."


"Syukurlah, kami terselamatkan oleh kalian." Sahut Hiroishi.


"Aku benar-benar berterima kasih pada kalian." Sahut Fujii.


"Lain kali jangan nekat donggg." Tegur Ryu pada Hiroishi.


"berisik luuu!"


"Maaf ya, semua ini salah ku." Sahut Masaki.


Miyuki menatap ketiga pria itu dibelakangnya. "Ahhh, apa ini monster hitam, yang kau maksud Ryu?"


Mendengar pertanyaan Miyuki membuat mereka heran. HEH?


"Monster hitam?" Heran Fujii dan Masaki.


Hiroishi tampaknya kesal pada Ryu, tangannya saja sudah tidak tahan menjitaknya.


"Hei buas petir, apa yang sudah kau ajarkan pada istrimu hah?!" Tanya Hiroishi menahan amarahnya.


"Aku hanya mengajarkan memperkenalkan diri dengan sopan." Jawab Ryu santai.


"Bohong lu buas petir."


"Tapi, aku senang Miyuki baik-baik saja." Sahut Masaki lega menatap Miyuki masih hidup.


"Sebelumnya tolong maafkan sikap kakakku padamu." Tambahnya.


"Hm? Kakak, rambut pirang merah muda itu ya?" Tebak Miyuki.


Masaki dengan senang hati membenarkannya.


"Dia benar-benar cocok dipanggilkan nenek sihir, Ryu."


"Benar, kan?"


Masaki jadi marah dan ingin menginjak-injak Ryuzaki karena telah mengajarkan hal yang tidak pantas pada Miyuki. Untungnya, kedua tangan Hiroishi sangat kuat menahan tubuh mungil Masaki.


"Dasar Ryu, bangsattttt!!" Seru Masaki.


"Oi, tenangkan dirimu Masaki." kata Hiroishi menahan tubuh Masaki.


Ryu sedikit terkekeh, tapi setelah itu raut wajahnya menghilang menatap Miyuki yang ternyata dilanda renung kesedihan. Selagi ketiga orang itu bicara, diam-diam Ryu menggenggam salah satu tangan Miyuki.


"Ryu?"


"Aku mengerti yang kau rasakan saat ini, tapi semuanya akan baik-baik saja."


"Kau benar-benar mengerti padaku, makasih."


Sepasang kekasih itu tersenyum satu sama lain, kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


•••


Mayumi belum meninggalkan dari tempatnya, dia menangis dan menangis hingga datanglah guardian yang akan menemaninya.


"Mayumi-sama?"


Melihat Meri kembali, Mayumi langsung memeluknya. Kemudian menumpahkan rasa sedihnya.


"Dia benar-benar melupakan ku." Sahut Mayumi.


Meri sadar, orang yang dimaksudkan oleh Mayumi adalah Ryu. Tangan Meri mengusap belaian rambutnya.


"Begitu ya...."


"Kau harus merelakannya, Mayumi-sama."


"Tapi, Merii...."


"Tidak Mayumi-sama, jika kau seperti ini maka ucapan Ryu benar bahwa kau harus mengintropeksi diri sebelum bertindak dihadapan cermin."


Mayumi tak kuat lagi menanggapinya, di hanya menangis.


Hiksss...hiksss....


{Bersambung . . . }


Maaf jika upnya sering sseminggu sekali, manalagi jarang feedback bagi yang merasa lagi promo di kolom komentar.


jangan bosan-bosan mampir bawa boomlike, vote dan ratenya sekalian komentarnyaaaa😍😍😍😍

__ADS_1


Arigatou gozaimasu 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2