Emergency Love

Emergency Love
Benang Merah


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, komedi, fantasi.


Novel ringan hanyalah sebuah karya buatan sendiri dan menceritakan seorang pria bernama Ryuzaki Nishimura memiliki kisah unik dalam hidupnya yaitu dunia cinta tak bisa kembali dengan seutuhnya. Maka dari itu,


"Jangan membunuh hidupmu hanya karena cinta!"


Kata itu takkan pernah hilang dilubuk hatinya.


Sebelumnya terima kasih sudah membaca karya saya sejauh ini, jangan lupa untuk like atau vote dan memberi tanggapan atau komentar jika ada pertanyaan dan sarannya atau pendapat kalian. Mohon dukungannya ya teman-teman. 😄😄


maaf, jika ada kesalahan yang mengganggu dan selamat membaca.



"Sudah di mulai ya."


Arata bersama Lina datang mengabarkan situasi diluar bahwa tempat ini sudah dikepung oleh pengawal klan Nishimura.


"Apa ini ulahnya?" Tatsuro bergumam pada dirinya karena sudah tau ini ulah Victor yang bergabung dengan Nishimura.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tatsuro-sama?"


Tatsuro mengabaikan pertanyaan dari Ito sejenak, dia sedang berpikir hanya butuh 3 detik. Dia menemukan rencana lain,


"Begitu ya."


Yang lainnya tidak mengerti, tapi mereka tetap menunggu jawaban Tatsuro.


"Lina bawa Miyuki tinggalkan tempat ini."


"Ayah? Tapi. ."


"Aku mengerti, sebaiknya kau menghindar perselisihan ini terutama Ryuzaki."


Miyuki tidak setuju itu membantah, "jika aku menghindar, apa semua akan selesai? Justru bertambah, aku tidak ingin perselisihan ini merusak hubungan ku dengan Ryu."


Tatsuro masih santai bangun dari tempat duduk, "tidak Miyuki, lakukan apa yang ku perintahkan."


"Lina, aku mengandalkanmu."


"Baik, lewat sini."


Miyuki menurutinya dengan menahan amarahnya. "Baiklah, tapi jika aku kehilangan batas waktu maka jangan menghalangi ku, ayah."


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada dirimu, intinya kau sedang dalam bahaya."


"Ryu mengincari tubuhmu."


Miyuki tidak menanggapinya, dia memilih pergi bersama Lina.


"Lina, kau sudah taukan apa yang harus dilakukan?" Tanya Arata.


"Aku tau, serahkan padaku kak."


"Yosh, jaga dirimu." Arata senang hati memberi satu jempol sambil mengedipkan satu matanya dengan menyemangati adiknya, Lina.


"Baik."


••


Situasi di luar masih dikepung oleh beberapa pengawal klan Nishimura.


"Permisi, kami tau nona Miyuki berada didalam. Jadi tolong serahkan dia pada kami."


Salah satu dari mereka meminta orang-orang di rumah itu menyerahkan Miyuki, namun tak ada respon maupun muncul mereka itu. Tetapi, tempat itu meledak. BOMMN!


"Tidak mungkin."


"Bukankah nona Miyuki didalam?"


"Sepertinya mereka tidak ingin ada selisih seperti ini, tapi apa setidaknya serahkan pada kami. "


Tatsuro bersama dua pria itu bersembunyi setelah meledakkan rumah itu.


"Hei, bukankah kita baru saja meledakkan rumah itu? Kan masih ada hutang kontrak belum lunas dibayarin."


"Hah?! Yang benar saja, bodohnya aku. Ampun dah, apa yang harus aku lakukan? Uang ku, uang ku ooh tidak!! Uangnya ikut hangus di dalam."


"Yang sabar bro."


Dua pria itu sedang meributkan hutang kontrak masih belum lunas terutama Ito bingung mencari cara melunasinya. Tatsuro merasa mereka itu mengganggu pikirannya. Dia menegurnya,


"Oi! Tenanglah sedikit. Aku tidak bisa konsentrasi memikirkannya."


"Anjirrr seremm deh..."


"Ntar aku lunasin kontraknya dan soal rumah serahkan padaku."


Mata mereka jadi berbinar bintang cahaya, "Tatsuro-sama, kau bagaikan malaikat ya."


"Tentu saja, tapi yang terpenting kita pastikan mereka menghentikan pengejaran Miyuki."


"Baik."


••


Sementara Lina dan Miyuki sedang dalam perjalanan ke Saitama. Suasana itu masih terasa hening, dan Miyuki sedang dalam mood tidak baik. Lina menyadarinya sedikit murung dan khawatir, dia berpikir cara menenangkannya. Salah satu cara menenangkannya adalah mengubah topik pembahasan, tapi dia bingung memulainya dan benar-benar gugup.


"Anu... Maaf, Miyuki."


Miyuki mengabaikannya. Lina jadi semakin bingung, "maafkan aku Miyuki."


"Saat itu, aku...melupakan mu."


"Kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Miyuki.


"Mereka menghapus ingatan ku tentangmu karena.."


"Karena Yamashita tidak disukai dan dibenci, benar bukan?" Miyuki langsung menyambung jawaban Lina, namun nada itu terdengar dingin. Lina membenarkannya,


"Aku tidak tau apa yang mereka lakukan pada Yamashita tapi aku ingin bilang kalau dunia yang mereka buat hanyalah ilusi, kau juga sudah tau bukan?"


Miyuki menebaknya dengan benar karena tau Lina dan Arata sudah mengetahuinya daro Tatsuro.


"Dan dia mengembalikan ingatan ku yang terhapus, aku benar lega mengingatmu kembali."


Diam-diam bibir Miyuki terukir senang. "Syukurlah."


Lina benar-benar lega mendengar nada itu terdengar singkat nan lembut, itu artinya Miyuki tidak marah lagi.


"Makasih.."


Ponsel Miyuki berdering, Miyuki tanpa memperhatikannya langsung menjawabnya.


"Miyuki? Kau baik-baik saja?"


Mendengar suara itu membuat Miyuki sedikit gemetar. "Ryu?...aku baik-baik saja."


"Apa kau bisa berhenti? Aku sedang mengejarmu dibelakang."


"Huh? Benarkah?" Miyuki berbalik dan melihat mobil Ryu sedang mengejarnya. Dia merasakan aura jahat sedang ke arahnya,dia khawatir aura jahat itu adalah Ryu.


"Ryu? Kau mengincari ku?"


"Pembunuh."


"Huh?" Miyuki terkejut langsung menutup ponselnya. "Lina, percepatkan mobilnya. Dia dibelakang..."


"Baik, apa yang terjadi?"


"Mayumi-sama sedang mengontrol tubuhnya untuk membunuh ku."


"Apa?! Bukankah..."


"Aku juga tidak mengerti, apa yang dia rencanakan. Firasatku memang benar kalau dia masih hidup."


"Kalau begitu, pegangan yang erat. Aku akan mempercepatkan mobilnya."


"Baik."


Lina mempercepatkan mengemudi mobil itu, dia tidak percaya Mayumi alias teman sekelasnya masih hidup. Miyuki jadi khawatir, hidupnya akan berakhir.


"Ryu? Sadarlah... Kau sedang dalam kendali Mayumi-sama, kenapa dia melakukan ini padamu Ryu?"


••


Miya juga mendapat kabar dari pengawalnya kalau mereka gagal menemukan Miyuki dan tempat itu tiba-tiba meledak seolah menghilang.


"Begitu, sekarang kalian kembali." Perintahnya..


"Baik."


Dan sebuah pesan datang di layar ponselnya,


"Aku sudah mengirim Miyuki ke Saitama."


Bibirnya tersenyum lega, "kerja bagus, Tatsuro. aku dan Maya akan menyusulnya."


"Sudah berhasil?" Tanya Maya di sebelahnya. Miya membenarkannya.


"Tapi, bagaimana dengan Ryuzaki? Jangan bilang dia benar-benar melakukannya bukan?"

__ADS_1


"Aku tidak tau, hei Miya apa kau tidak berpikir bagaimana bisa Ryu terikat dengan kutukan itu?"


"Padahal sebelumnya Miyuki pernah bilang kalau kutukan itu tidak bisa menular ke tubuh siapa pun."


Keduanya 100% curiga, "apa ini kebohongan?"


Miya bertanya pada Tatsuro dan tentunya mereka menerima jawaban.


"Tidak, Ryu seperti itu karena cintanya Mayumi. Jadi tubuhnya sedang dalam kendali untuk membunuh Miyuki karena pembunuh ayah kekasihnya "


"APA?!"


Aori datang tergesa-gesa memberitahu kabar buruk, "anu. .nyonya, gawat Ryu sedang dalam kendali dan saat ini dia mengejar Miyuki ke Saitama."


Mata mereka terbuka membulat, "Tatsuro? Kau mendengarnya, lakukan sesuatu!" Seru Miya.


"Baik, serahkan padaku."


Dua saudara itu bersama guardian masing-masing ikut menyusul. Wajah mereka tampak tidak tenang dan khawatir Ryu benar-benar membunuh Miyuki.


"Kalian tau kan, jika Miyuki terbunuh di tangan Ryu maka rencana victor berhasil bukan?"


Mereka membenarkan pertanyaan Maya. "Sebenarnya, untuk apa ayah merencanakan semua ini?!"


Miya ikut penasaran, apa yang direncanaka oleh ayahnya.


Victor Rihito yang masih duduk santai di kediamannya juga menyaksikan Ryuzaki sedang dalam kendali itu mengejar Miyuki di layar monitor miliknya. Rihito tertawa jahat,


"Kekuatan itu tidak sia-sia ya."


"Itu artinya rencana yang ku nantikan berhasil, benar bukan Matsumoto?"


"Tentu saja, ayah."


"Dan Mayumi tidak sadar kalau emosinya sedang mengendalikan tubuh pria itu."


"Kerja bagus."


"Lalu, dimana anak itu?"


"Di China."


"Begitu, beri aku alamatnya. Aku akan menjemputnya."


"Baik."


••


Lina masih menyetir mobilnya hilang kendali akibat salah satu ban itu pecah. "Cih! Sial!"


"Dia menembak bannya, ku rasa kita tidak punya pilihan lain."


Dia memilih menghentikan mobil itu lalu keluar menarik Miyuki bersembunyi. Tetapi,


"Aagghh!" Miyuki jatuh kesakitan akibat tanda di lehernya sedang meregut dirinya.


"Miyuki! Kau baik-baik saja?"


Lina terkejut melihat tanda dileher gadis itu. "Tidak mungkin."


"Pembunuh, pembunuh, pembunuh. . ." Suara Ryu terdengar mendekat dan semakin mendekat hingga berdiri tepat dihadapan dua gadis itu.


"Ryu?" Miyuki mengepal erat dengan menggenggam pedang ditangannya.


"Kenapa Mayumi membuatnya seperti ini? Kau menakutkan Ryu.."


Lina saking kesalnya langsung menembak pelurunya ke arah Ryu, namun Ryu dengan cepat menangkapnya.


"Lambat."


Lina tak menyerah, dia melindungi Miyuki dengan cara apapun itu.


"Aku tidak akan membiarkan kau membunuhnya, dia itu istrimu."


"Istri ku? Siapa?"


"Lina, itu sia-sia."


Lina tak percaya melihat mata merah Ryu tampak menyala dan bukan hanya itu, perkataannya juga diabaikan.


"Kalau begitu, aku harus menyerangnya!!" Teriak Lina mengayunkan salah satu kakinya. Dan Ryu menangkisnya dengan mudah. Lalu melemparnya.


"Nghh, Miyuki.. Maaf."


"Lina?!" Miyuki sedikit membulat melihat Lina tak sadarkan diri.


Ryu tanpa ragu itu menyelimuti salah satu tangannya ke leher Miyuki. Perlahan-lahan tangan itu mencekiknya.


"Nggh, Ryu.."


"Ryu..dia-dia berusaha membangunkan tubuhnya sendiri, tapi..tapi dia kesakitan dan kesulitan melakukannya."


Tangan Ryu masih mencekik leher istrinya. "Ryu..tidak, Mayumi-sama kau benar-benar membunuh ku. Jika itu keinginanmu tolong jangan sakiti tubuhnya. Ryu. . juga menderita karena dirimu."


"Tolong hentikan, ku mohon Ryu. . zaki."


Seseorang berpirang putih abu-abu munculnya bagaikan kilat hitam yang menyambar itu menendang Ryu hingga terlempar jauh.


"Sadarkan dirimu, bodoh!!"


Miyuki terselamatkan olehnya dan hampir nafasnya berhenti. Tapi dia lega, orang itu datang tepat waktu. Pria itu mendekatkan wajahnya yang tampak kesal.


"Mengapa kau diam saja, hah?! Membiarkan dirimu mati tangannya,berpikirlah sedikit!"


"Maafkan aku, Ito." Hanya sesingkat itu jawaban Miyuki.


Ito mendengus kesal lalu memeluk Miyuki karena sadar melihat wajah Miyuki saat ini sedang ketakutan.


"Aku mengkhawatirkanmu, jadi ku mohon selamatkan dirimu."


Miyuki menangis, "baik, baik..anu, Ito. . Kau tau, Ryu kesakitan."


"Apa maksudmu?"


"Dia berusaha untuk menghentikan tubuhnya tapi itu hal mustahil untuk melakukannya sendiri."


"Lalu?"


Miyuki menyentuh tanda itu dilehernya. "Hanya tanda ini yang bisa menghentikannya."


"Jangan bertindak bodoh, itu sama saja kau membunuh diri."


"Tapi, ini.."


"Aku mengerti Miyuki! Tapi. ."


"Jangan mengakhiri hidupmu hanya karena cinta."


Tubuh gadis itu membeku seolah sesuatu yang terlewatkan di pikirannya. "Ucapan itu?"


Benar, ucapan itu pernah terdengar ditelinganya. Yaitu saat menyelamatkan Ryu di jembatan, Miyuki menangis tersedu-sedu lalu menampar pipi Ryuzaki lalu mengatakan ucapan itu.


"Jangan mengakhiri hidupmu hanya karena cinta."


"Kau masih punya keinginan lain, bukan?"


"Jangan membuat semua itu sia-sia." Sahut Ito menyadarkan lamunan Miyuki.


Miyuki menundukkan wajahnya dan berdiri, "lalu, apa yang harus kau lakukan?"


"Yah mau tidak mau, aku harus menghentikannya sampai dia benar-benar terbangun." Ucap Tatsuro juga datang.


Arata dengan santainya memulai perang bicara pada Ito.


"Kau cepat sekali, elang putih."


"Siapa yang kau maksudkan elang putih, hah?"


"Yaaa, itu kau."


"Aku punya nama tau, jangan seenaknya memanggilku sembarangan kampret!"


Kedua pria bertengkar lagi hingga membuat Tatsuro muak dan memutuskan memukul mereka dengan sekali pukulan.


"Berisik!!"


"Aduhhh!!"


Tentunya, kepala mereka tampak benjol membulat besar. "Maaf, Tatsuro-sama."


"Sekarang liat, anak itu sudah bangun."


"Heh?"


Ryu bangkit lagi, Miyuki dengan cepat itu meninggalkan tempat itu segera. Dan Ryu ingin mengejarnya akan tetapi dua pria muda itu menghalanginya.


"Kalian bukan tandingan ku."


"Cih! Sombong sekali."


"Hadapi kami dulu sebelum kau pergi."


"Dan kami tidak akan membiarkanmu melakukannya!"


Mereka menyerang Ryu dengan senjata masing-masing, Arata dengan tombak tajam tak terkalahkan dan Ito dengan mata yang berbeda warna dan pistol kecil tapi memiliki peluru mematikan. Namun, senjata itu tidak mempan memusnahkan tubuh Ryuzaki.

__ADS_1


"Tubuhnya sangat kebal ya."


"Mau gimana lagi, kita harus menghentikannya dengan tangan kosong ini."


Ito melepaskan senjatanya dan mempersiapkan kedua tangannya untuk memukul sasaran dihadapannya.


"Serius lu?!"


Arata sedikit kesulitan karena tidak seberapa mahir dalam bela diri. Ito senang hati memanasinya,


"Itu artinya si kampret ini lemah ya."


"Diam mulutmu Elang putih!"


"Jangan panggil elang putih tau!"


Namun situasinya malah pertengkaran tidak jelas. Tatsuro menyerah, "dua anak itu ya."


Dia sibuk memeriksa kondisi Lina tampak memburuk, tapi dia lega melihat Lina sadar.


"Kau baik-baik saja?"


"Tatsuro-sama, apa yang terjadi? Dimana Miyuki?"


"Tenang saja, Miyuki sudah pergi bersembunyi dan dua anak yang merepotkan itu sedang mengurus sasarannya."


"Begitu."


Miyuki ketakutan terus berlari dan berlari entah kemana, meskipun wajahnya masih terukir sedih mengkhawatirkan Ryu. Tapi, dia berusaha untuk menguatkan dirinya.


"Apa yang harus aku lakukan?"


••


Dan malam itu, Ryu dinyatakan menghilang setelah mengalahkan dua pemuda itu bersama Tatsuro dan Lina. Miya bersama lainnya juga terlambat menyaksikannya.


"Sepertinya dia sudah pergi."


"Kalau begitu, mari tolong mereka."


"Baik."


Selagi mereka membantu itu ternyata baru sadar bahwa sosok Miyuki tidak ada disini.


"Kemana Miyuki?"


Miya menanyakannya pada Tatsuro tampak terbaring lemah.


"Entahlah, yang terpenting dia berusaha menyelamatkan dirinya."


"Itu artinya Ryu masih mencarinya?"


Tatsuro membenarkannya. "Aku tidak tau lagi, apa yang harus dilakukan sekarang? Tak ada cara lain menghentikannya kecuali.."


"Kecuali?"


"Kecuali Miyuki membiarkan Ryu menggigitnya."


"Menggigitnya? Apa maksudmu?"


Ito yang sadar itu mencoba menjawabnya.


"tanda kutukan itu, jika dia menggigitnya hingga tanda itu menghilang maka Miyuki bukan manusia lagi di dunia ini."


"Dia hanyalah tubuh yang hilang segalanya."


Maya kesal dengan mengepal erat tangannya, "awas saja jika aku menemukan Mayumi, perempuan sampah itu!"


"Tenangkan dirimu, bibi tua."


Maya makin bertambah kesal mendengar kata menyakitkan dari Ito. Dia menginjak-injak tubuh pria itu.


"Kau itu ya! Lebih baik kau mati sana!!"


Justru Ito tampak senang mendapatkannya, bibirnya tersenyum dingin itu menarik salah satu kakinya lalu menjatuhkannya ke pelukannya.


"Sepertinya aku menemukanmu."


"Dasar mesum!"


PLAKK!! Ito memilih sabar menerima tamparan hebat dari bibi tua itu. Tapi itu sedikit menggodanya hingga membuat dirinya menikmatinya.


Tatsuro dan Miya juga terdiam menyaksikannya hingga membuat penasaran hubungan keduanya. Aori dan Minami ikut berpikir,


"Anu. . Bukankah dia. ."


"Benar, nyonya Maya-sama pernah bertemu dengan anak muda itu. Dia sangat mesum dan suka menggoda Maya-sama, tidak hanya itu nama bibi juga dipermalukan saat itu. Makanya dia membenci bertemu si hidung belang itu."


Minami tersenyum kekeh, "kak Aori, kau tau tidak, jika dia semakin membencinya... Bukankah itu malah membuatnya jatuh cinta?"


"Tapi itu aneh, Minami. Mereka berbeda posisi dan umur."


"Cinta tak pandang usia maupun posisi, cinta itu hanyalah sebuah perasaan dan emosi yang mengguncang pikiran hingga berdebar-debar dan tak ingin melepaskannya."


"Aku tau itu, kita liat saja seperti apa pekembangan mereka."


"Lagipula, sudah saatnya Maya-sama tidak kesepian lagi."


Dua guardian itu mendukung kecocokan Maya dan Ito, meski berbeda umur maupun posisi tapi rasa cinta itu mampu mengalahkan dua kelemahan itu menjadi satu. Walaupun kebenarannya, Maya membencinya.


"Idiot!!"


••


Miyuki sedang berada di kerumunan orang Saitama, mereka menatap Miyuki penuh curiga melihat tangannya menggenggam pedang Katana. Dia sadar itu cepat-cepat bersembunyi. Dia tampak lelah terengah-engah,


"Apa aku sudah aman?"


Untungnya, ponselnya masih ikut bersamanya. Itu artinya akan jadi kesempatan mengabarkan orang-orang membantunya. Tetapi sebelum melakukannya, dia mencari kontak di hpnya.


"Ya ampun, aku tidak punya nomer hp mereka lagi."


"Tunggu?!"


Dia melihat dua kontak masih tersimpan di hpnya, itu mengharapkannya agar terbantu. Dan panggilan itu tersambung, "syukurlah. . ."


"Kak Hiroishi, Yoshida Haru, tolong selamatkan aku. . . Saat ini Ryu sedang dalam bermasalah."


"Baik!"


Saking buru-buru, seseorang menemukan tempat persembunyiannya. "Aku menemukanmu."


"Huh, Ryu?" Miyuki terkejut melihat tubuh Ryu melayang diatasnya lantas membuatnya takut.


Ryu perlahan-lahan mendekati gadis itu, seperti biasanya wajahnya masih terukir kesedihan.


"Tolong aku. ."


"Ryu?"


Pria itu memilih menggendong istrinya meski tubuhnya memaksanya untuk membunuh Miyuki.


"Ryu? Kau. . Baik-baik saja bukan?" Sambil memberanikan diri menyentuh kedua pipi Ryu.


"To..long hentikan. . aku."


Miyuki terisak tangis. "Aku takut Ryu. . Sangat takut menghentikan mu."


Kedua mata Ryu menyala lagi dan berniat menggigit leher gadis itu. Miyuki menahannya,


"Ku mohon jangan, kau akan kesepian tanpa ku Ryu."


"Apa kau benar-benar membunuh ku?"


Ryu sedikit terdiam, Miyuki berusaha melebarkan senyumnya.


"Kau tidak mungkin membunuhku."


"Karena kau berusaha mencintaiku, bukan?"


"Tenang saja, aku. . juga mencintaimu."


Tubuh Ryu terbang membuat Miyuki bertanya, kemana dia membawanya pergi? Namun Ryu tidak menjawabnya, hanya tubuh ini memberi jawaban.


"Begitu ya, kalau begitu. . bisakah aku tidur sebentar? rasanya mataku sangat lelah dan gelap."


Ryu mengabaikannya, Miyuki tak tahan itu pingsan kembali akibat kelelahan. Ryu menatap bulan masih bersinar terang, lalu menatap Miyuki tak sadarkan diri. Airmatanya ikut mengalir dan memeluknya.


"Siapa gadis ini? Dia. . Membuat tubuhku sulit bergerak membunuhnya."


"Dan. . Aku ini siapa? Mengapa tubuhku bernoda darah?"


Dia melihat tanda aneh dileher Miyuki membuatnya tertarik untuk menggigitnya lagi.


"Aku. . "



Mata Miyuki sedikit terbuka melihat Ryu ingin menggigitnya.


"Ryu. .zaki, hentikan."


{Bersambung}


••

__ADS_1


__ADS_2