Emergency Love

Emergency Love
Bab 49


__ADS_3

"Kamu kenapa? Wajahmu memerah, apa kamu sakit?" Tersentak dengan pertanyaan sang istri barusan, membuat Prada tersadar bahwa semua kenikmatan yang dia peroleh semu belaka.


Semua itu hanya bayangan indah yang terdapat di benak Prada saja. Karena tak pernah sekalipun Greta berani berbuat demikian.


"Oh Gosh ... shi t!"umpatnya kesal dan memukul da danya sendiri.


"Hei apa ada masalah? Coba kuperiksa!" Segera Greta mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh dahi sang suami. Dia ingin memeriksakan apakah Prada baik-baik saja karena sejak tadi Greta melihat pria itu menunjukkan gejala yang aneh.


Prada mencoba menggalangi Greta agar sang istri tidak perlu memeriksa karena hal itu bisa mengungkap kelemahannya, "Tidak perlu, aku baik-baik saja."


Tetapi, Greta tidak diam begitu saja. Dia tahu jika suaminya itu mudah terserang flu, sehingga Greta tidak ingin hal seperti sebelumnya terulang kembali. Wanita itu mendekatkan dirinya hingga nyaris tak ada jarak lagi dengan Prada.


Hal tersebut semakin membuat Prada berdebar, hingga wajahnya yang susah payah dia tahan agar tidak terlihat berapi-api, kini musnah sudah.


Greta berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak memedulikan Prada yang terus menolaknya. Tangan Prada terus menghalangi Greta agar tidak mendekat lagi.


Karena usaha penolakan itu, membuat Greta tiba-tiba terjatuh dan mendarat tepat di atas tubuh sang suami yang tengah duduk.


Blush ... bukan hanya wajah Prada saja yang merona. Kedua pipi Greta juga bushing. Tanpa sadar dia mendarat tepat di atas bagian perut bawah sang suami dan merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah tubuhnya. Tentu saja sesuatu yang kerasa itu cukup paham diketahui oleh Greta.


Hingga Greta langsung menutup kedua telinganya dan mencoba bangkit dari tempat jatuhnya. Namun, kerasnya usaha Greta tidak lebih kerasa dari tekat Prada. Kepalang tanggung dan juga kini istrinya telah mendapati kelemahannya, membuat Prada yang telah tercebur kolam, kini tidak sungkan lagi.


Seolah menahan agar Greta tidak bisa menghindarinya lagi, pria itu mengunci badan sang istri hanya dengan satu gerakan saja.


Perlawanan yang tidak apple to apple ini menyisakan kekalahan dari pihak Greta. Tentu saja, tenaganya tidak sekuat Prada. Dan Greta pun tidak menyerah begitu saja. "Apa-apaan ini? Jangan keterlaluan begini!"

__ADS_1


"Ada apa? Tidakkah hal seperti ini lumrah dilakukan oleh suami istri?"


Greta terus memberontak, tubuhnya ditarik oleh sang suami hingga dia dijatuhkan ke atas tempat tidur. Nyalinya semakin ciut, dia bahkan tidak lagi bisa melawan dengan sisa tenaganya.


"Haruskah kamu melakukan hal seperti ini demi aset Kakek?"


"Tidak, aku akan melakukan ini karena aku suamimu.'


"Tidaaaaak ... " Greta berteriak hingga menutup kedua matanya sebelum pria itu sempat menyentuhnya.


Dan ... Duaaar ... Prada menggoda sang istri yang kini tak berkutik di bawah kungkungannya.


"Kamu gila!"


"Aku hanya bercanda, lagipula aku tidak akan melakukannya jika kau tidak bersedia." Prada melepaskan jeratannya. Meski dia mencoba sekuat tenaga agar tidak merusak sang istri tanpa kesediaan dari Greta.


Bukan hanya merasa kecewa saja. Namun, Greta juga cukup tahu diri.


"Oke, oke aku minta maaf. Maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi." Dia tersadar, Prada merasa bersalah kepada Greta karena sudah mempermainkan wanita itu.


Kembali menghalangi kepergian sang istri, Prada teringat sesuatu yang telah direncanakan olehnya siang tadi.


Dengan bantuan Aida yang memberinya list destinasi wisata, Prada sudah menyortir beberapa di antara tempat wisata tersebut.


"Jangan pergi dulu! ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu." Pria itu lalu mengambil laptop yang masih menyala di atas meja dan mulai mengakses akun surelnya.

__ADS_1


Dengan bangga, Prada meminta Greta untuk memilih satu terbaik di anata wisata yang telah dia pilih sebelumnya.


"Apa ini? Kamu memberiku hadiah atas kerjaku?"


Kembali tergoda untuk menggangu sang istri, Prada mendekatkan wajahnya ke telinga Greta seraya berbisik, "Ini cara ampuh agar kau mendapatkan sembilan puluh persen aset."


"Prada .... "


Pria itu tak kuasa menahan tawanya, "Aku hanya bercanda, pilihlah salah satu! Aku akan mengajakmu berlibur."


"Tidakkah sebaiknya kita berkonsentrasi pada pelaporan?"


Apa Greta lupa jika suaminya memiliki koneksi yang luas. Dan kantor hukum Prada bukan kantor hukum kaleng-kaleng. "Kenapa harus menunggu kasus selesai? Atau kau keberatan meninggalkan IGD?"


Pergi berlibur dan cuti memang bukan hal yang mendesak bagi Greta. Karena IGD masih membutuhkan tenaganya. "Aku harus membicarakan ini dengan Direktur," cicitnya. Meksi mulutnya berusaha menolak, tetapi tatapan mata Greta terus memeriksa beberapa tempat wisata terkenal baik dalam maupun di luar negeri.


"Dia tidak tahu jika ini merupakan salah satu rencana pamannya untuk mengeluarkan dari IGD."


Selain memiliki tujuan masing-masing, Prada maupun Direktur rumah sakit setuju jika Greta harus keluar dari IGD. Pamannya juga menggunakan kekuasaannya untuk melobi beberapa pemegang saham yang nantinya akan memberikan suara mereka untuk memilih Greta sebagai wakil Direktur.


Jika posisi itu diraih oleh istrinya, pada tidak perlu mengkhawatirkan waktu dan kesehatan Greta. Selain itu, Greta juga harus segera melahirkan setidaknya satu orang putra ataupun putri agar aset kakek tidak jatuh ke tangan orang lain.


Sembari menunggu Greta memilih tempat yang pas, Prada yang duduk di atas ranjang bersama sang istri, segera meminta Edo untuk memeriksa alamat yang dari pesan yang sudah dipecahkan oleh Greta tadi.


Kedua pria itu sibuk berbincang dan menyisakan Greta yang terus memilih destinasi wisata. Dalam pembicaraan dengan Edo, Prada yang sudah mengabaikan Greta tiba-tiba dikejutkan oleh sang istri yang secara tak disengaja meletakkan kepalanya di pundak Prada.

__ADS_1


Hal manis ini membuat Prada tersentak hingga menoleh ke arah wanita yang sudah terbuai hingga ke alam mimpi. "Tidurlah lebih awal! besok kita lanjutkan,"


...****************...


__ADS_2