
"Kak Ryu!" Panggil gadis kecil berusia 17 tahun, sambil melambaikan tangannya melihat Ryu dan gadis di sampingnya ikut datang ke pantai Okinawa.
Suasana pantai Okinawa masih terlihat indah seperti biasanya dan ombaknya juga masih terdengar lembut. Dua pasangan itu sedang jalan-jalan di pantai dan tak disangka mereka disapa oleh gadis kecil.
Miyuki sedikit bingung melihat gadis tadi memanggil Ryu, sepertinya nada itu tampak akrab dengannya.
"Dia adik tertua Nishimura, Mika."
Ryu dengan santai itu mudah menjawab ekspresi Miyuki bertanya-tanya.
"Nishimura Mika?"
Gadis tadi dipanggil Mika menghampiri keduanya,
"kak Ryu, kau di sini juga ya."
". .dan ini siapa?" Mika sedikit penasaran gadis polos di samping Ryu, membuatnya kurang tertarik.
"Ahh..apa dia asistenmu?" Mika menebaknya tanpa berpikir langsung hingga Ryu dan Miyuki menatap bingung satu sama lain.
Tanpa ragu, tangan Ryu merangkul bahu Miyuki dan menarik ke pelukannya.
"nggak, dia istriku."
"Istri?" Mika mendengar jawaban itu tertawa kecil dan tidak percaya kalau gadis polos itu alias istrinya Ryu.
Miyuki merasa malu, dia dengan cepat itu menyingkirkan tangan Ryu yang menempel dibahunya lalu memperkenalkan diri pada Mika.
"Perkenalkan namaku Yamashita Miyuki, guardian Ryu, tuanku sudah menceritakan tentangmu padaku dan senang bertemu denganmu Nishimura Mika." Sambil membungkukkan badannya dengan hormat dan sopan.
"Hehhh? Yamashita kah?" Nada Mika itu terdengar dingin dan menatap tubuh Miyuki dari atas hingga ke bawah.
"Itu benar, kau sangat tidak cocok jadi istrinya kak Ryu." Sindirnya.
Miyuki tersinggung, dan mengangkat tubuhnya kembali.
"Ternyata kak Ryu sedang bercanda ya.."
"Itu sudah kebiasaanmu, bukan?" Ujar Mika benar-benar tidak percaya apa yang dikatakan Ryu tadi.
"Terserah dehh..."
Ryu pasrah mendengar ucapan gadis berambut hitam dan pendek. Karena klan Nishimura tidak akan menerima Yamashita menjadi bagian keluarga melainkan bonekanya. Itu artinya, pernikahan mereka benar-benar sah secara hukum tapi tidak didepan keluarga sendiri.
Kemudian, Mika menarik salah satu lengan Ryu dan mengajak untuk menemui ayahnya dan adiknya.
"Ooya, kebetulan kau disini, aku ingin mengajakmu menemui papaku dan adikku.. Ayo!"
Mika langsung menyeret Ryu pergi hingga Ryu tak sempat meminta Miyuki menunggunya.
"Tenang saja, dia cuma guardianmu dan tentu saja dia menunggumu, kan?" Mika dengan santai menenangkan Ryu.
"Tapi kau tidak sopan, Mika." Ryu kesal melihat tingkah Mika mengabaikan Miyuki.
"Bukankah itu tugas Yamashita dalam klan Nishimura? Kita tidak bisa menganggapnya ada.."
Kata Mika itu tak bisa membuat Ryu angkat bicara lagi melainkan pasrah. Karena membela Yamashita sama saja merusak nama baik Nishimura.
"Jaga dirimu Miyuki." Dia hanya bisa mengandalkan Miyuki agar tetap menjaga dirinya dan menunggunya kembali.
Miyuki yang juga sempat bingung melihat Mika mengajak Ryu pergi tanpa mengajaknya itu sedikit melukainya.
"Ryu.."
"..Aku sendirian, di keramaian ini kah?" Gumamnya sambil melihat orang-orang menikmati kebahagiaan di tempat itu.
"..Rasanya diasingkan." Tambahnya merasa sedih.
••
"Papa!" Teriak riang oleh Mika menghampiri sang ayah dan adiknya.
Begitu Mika datang di tenda, ayahnya menatap marah itu menarik salah satu telinga Mika.
"Darimana saja kau ini, hah?!"
"Aduh duh duh, sakit papa!"
Ayahnya melepasnya, Mika tampak kesal dan cerewet itu menggerutui ayahnya.
"Apa setidaknya aku bisa pergi semauku?!"
"Tapi sebelum pergi jangan menghilang." Tegur ayahnya.
"Maless ahh.." Mika cemberut.
"Dikit-dikit hilang melulu, meyebalkan!" Protes adiknya, Fuya.
"Berisik!" Mika kesal.
"Bodoh." Balas Fuya bernada dingin.
Melihat kedatangan Ryu daritadi menyaksikan pertengakaran mereka itu membuat ketiga orang itu cepat-cepat mengundang Ryu ke tempat duduk.
"Ryuzaki kau disini ya, mari duduk hehehehe.."
Ayahnya Mika jadi malu karena sadar Ryu sempat melihat kelakuan tidak sopan pada anaknya.
Ryu juga tidak nyaman menyaksikannya. "Maaf sudah mengganggumu, paman Neji." Sambil duduk dibangkunya.
Mika dan Fuya ikut duduk di samping ayahnya. Ketiganya tampak canggung memulai pembicaraannya.
Ryu santai memulai pembicaraan itu, "sebelumnya Mika mengajakku bertemu denganmu."
Mendengar ucapan Ryu, Mika menerima pukulan kecil dari ayahnya.
"Aduh! Kenapa papa memukul ku?!"
"Dasar, mengapa kau mengajaknya? Aku tidak memintamu untuk melakukannya kan?"
"Tapi ini mau ku, papa."
"Apa?!" Sambil menarik kuping Mika lagi.
Fuya merasa bosan menyaksikan ayah dan anak itu berulah lagi,
"Maaf, kakakku pasti mengganggumu ya."
"Sedikit." Jawab Ryu.
"Tapi itu benar, kami ingin bertemu denganmu."
"Kenapa?"
"Pimpinan Nishimura baru saja mengumumkan Yamashita ditemukan dan dijadikan bonekamu, apa itu benar?"
Ryu membenarkannya, dia juga sudah tau dari ibunya, Miya mengumumkan Yamashita ditemukan dan dijadikan bonekanya.
"Kami pikir, mereka akan menjadikanmu pimpinannya. Apa belum saatnya ya?" Sahut Neji.
"Intinya aku sudah resmi menikah."
"Begitu, demi meneruskan Nishimura, bukankah kau berencana menikah dengan Shimizu?"
"Maksud papa itu, kak Mayumi?" Tebak Mika dan ayahnya membenarkannya.
"Entahlah. ." Jawab Ryu singkat terdengar sulit menjawab pertanyaan mereka. Diam-diam tatapannya menunduk sejenak dan memikirkan Miyuki.
"Aku sudah mencintainya 2 tahun lebih, sudah sebesar cintaku padanya mengapa begitu mudah aku melupakannya, apa karena perasaan ku pada Miyuki?"
Ketiga orang itu menatap tidak mengerti apa yang dipikirkan Ryu.
••
Miyuki masih duduk sendirian di pasir pantai, dia bahkan tidak pernah meninggalkan tempat itu sampai Ryu kembali. Satu keluarga disampingnya sedang menikmati makan siangnya penuh ceria dan tawa, hal itu mengingatkan senyum kematian ibunya.
Bibirnya tersenyum tipis. "Walaupun aku sudah menuntaskan janjiku pada ibu, tapi aku tetap saja tidak tenang tanpamu ibu.. Rasanya pahit sekali."
Tiba-tiba anak laki-laki berusia 5 tahun sedang batuk keras dan lidahnya panas hingga membuat satu keluarga tadi jadi panik. Miyuki menyaksikannya turut membantu,
"Permisi aku seorang perawat, biarkan aku memeriksa kondisinya."
Mereka membiarkan Miyuki memeriksanya.
"Tolong selamatkan anakku." Tutur ibu dari anak tadi.
"Baik, serahkan saja padaku."
Miyuki memeriksa denyut nadi anak itu tampak lemah, lalu membaringkan dipangkuanya.
"Bisakah kau membuka mulutmu?"
Dia menuruti perintah Miyuki dan membuka mulutnya,
"Cobalah minum air putih sedikit, itu akan meringankan rasa sakit lidahmu."
Anak tadi meminum sedikit air, wajahnya mulai memucat putih. Miyuki dengan cepat menyelimuti dengan jasnya.
"Kelenjar lidahnya sedikit memerah, maaf..apa dia meminum sesuatu?" Miyuki bertanya pada mereka.
"Dia hanya meminum jeruk ini."
Miyuki mengambil minuman tadi dan mencium baunya, dia sedikit terkejut.
"Cepat panggilkan ambulan!" Tegasnya.
Anak tadi dilarikan ke puskesmas terdekat, Miyuki sempat memberitahukan bahwa anak itu mengalami demam alergi akibat minuman tadi pada dokter.
"Terima kasih, berkat bantuanmu demam alerginya masih bisa diatasi dengan mudah." Ucap dokter menemui Miyuki bersama keluarga anak tadi.
"Sama-sama, ini sudah kewajiban perawat memberikan pertolongan pertama pada pasiennya."
"Kau seorang perawat?"
Miyuki membenarkannya, "saya bekerja di RS Aizawa."
"Begitu, itu artinya kau mengenal dokter Hiroishi bukan?" Tebaknya.
"Ya."
"Syukurlah.."
Dokter pria itu mengabari kondisi anak tadi pada keluarganya bahwa kondisinya mulai stabil, hanya perlu diberikan beberapa obat untuk meredakan alerginya. Jika dalam keadaan darurat, cukup membawanya ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut.
Mereka berterima kasih dengan sepenuh hati pada Miyuki karena telah menyelamatkan anak mereka. Miyuki jadi tidak enak hati melihat mereka begitu baik padanya.
"Aa..anu, kalau begitu aku..pergi dulu. Lain kali, perhatikan minuman anak kalian."
Dia cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena cemas Ryu akan mencarinya.
"Dia pasti khawatir.." Gumamnya.
••
Miyuki akhirnya kembali ke pantai, namun masih tidak terlihat sosok Ryu kembali. Dia sedikit murung,
"Dia belum kembali ya. ."
Kemudian, sebuah pukulan tangan mengenai tepat belakangnya hingga dia jatuh pingsan.
"Ryu.." Jeritan kecil Miyuki terdengar ketakutan karena ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Dia berharap Ryu kembali dan segera menolongnya.
Setelah menghabiskan dua jam bersama sepupunya, Ryu pamit pada mereka.
__ADS_1
"Terima kasih sudah kemari." Ucap paman Neji pada Ryu.
"Itu berkat aku mengajaknya bukan?" Kata Mika itu membuat ayahnya sedikit kesal hingga menjitak kepalanya lagi.
"Aduh! Papa, kenapa harus aku?!" Gerutunya.
"Lain kali jangan lakukan tanpa perintahku, mengerti?!"
"Ya, ya.." Mika cemberut.
"Kau harus dengarkan ayahmu, itu akan merepotkan jika kau menghilang lagi." Ryu ikut menyarankannya.
Mika masih cemberut itu protes, "tidak perlu memperingatkan ku!"
Terdengar kasar, ayahnya menjitaknya lagi. Fuya dengan tenang itu juga senang bisa bertemu dengan Ryuzaki.
"Kapan-kapan ada waktu, ajaklah guardianmu kemari."
"Ya, kalau begitu aku pergi dulu."
Begitu Ryu kembali ke pantai, dia tidak menemukan Miyuki. Namun, penjepit rambut Miyuki tertinggal diatas pasir dan melihat banyak jejak kaki di sekitar benda itu.
Dia menggenggam erat benda tadi dengan penuh amarah.
"Miyuki!"
••
Hingga malam, Miyuki masih belum ditemukan. Ryu meminta bantuan salah satu teman angkatannya dengan menghubunginya lewat genggaman ponsel miliknya.
"Yoshida, apa kau bisa membantu ku?"
"Tentu saja, Yoshida sudah siap membantu petugas spesial." Suara pria terdengar semangat itu siap membantunya.
"Tolong kirimkan lokasi GPS ku."
"Baik, serahkan padaku."
Ryu sempat memberikan ponselnya pada Miyuki dan untungnya GPSnya masih aktif, itu akan mempermudahkan menemukan lokasi Miyuki.
"Dia pasti ketakutan, tunggu aku Miyuki!"
Di bangunan kosong, sepi dan gelap. Hanya terdengar suara orang sedang membicarakan pengeluaran senjata di Osaka hingga kebisingan itu membangunkan Miyuki.
"Gelap sekali.." Dia tidak bisa melihat apa-apa dan merasa matanya tertutup oleh kain.
Berniat melepaskan benda itu, tak disangka tangan dan kakinya ikut terikat tali.
"Di mana aku?" Saking panik dan ketakutan, dia mendengar pembicaraan orang-orang itu.
"Bagaimana pengeluarannya?" Tanya suara pria terdengar dingin.
"Hanya 60% pengeluaran senjata di Osaka, Mayor Arata." Jawab nada wanita bernada tegas.
"Mayor Arata?" Nama itu tak asing bagi Miyuki.
"60%? Apa mereka sudah merebut sisanya?"
"Setahuku pasukan bela diri sudah ambil alih."
"Begitu, aku harus cari cara bagaimana kita bisa bekerjasama dengan aliansi asia itu."
"..itu akan mempermudahkan ku menuntaskan dendamku sama mereka." Tambahnya.
"Mayor, apa yang kita lakukan dengan gadis itu?"
"Sepertinya percuma menangkapnya, tapi pria itu akan datang bukan? Bawa gadis itu pada lainnya, biarkan buaya darat menghabiskan tubuhnya."
"Dimengerti."
Pria itu tersenyum jahat, "tidak menyangka dia kembali setelah sebulan menghilang, Ryuzaki."
"Dia mengenalnya kah?"
Gadis tadi membawa Miyuki ke suatu ruangan, lalu membuka penutup matanya. Miyuki terkejut, meski gadis itu tidak menyadari ekspresinya.
"Lina?" Miyuki mengenalnya, namun gadis bernama Lina itu sama sekali tidak mengenalnya maupun mengingatnya.
"Habisi dia." Perintahnya pada tiga pria bertubuh besar untuk menghabisi Miyuki dan meninggalkan mereka di ruangan itu.
"Dimengerti."
Ruangan itu kembali sepi, hanya tiga buaya darat bersama Miyuki, dia tampak ketakutan,
"lepaskan aku!"
"Heeehh..ada apa dengan wajah itu? Imut sekali." Goda salah satunya mulai mendekatinya.
"Jangan menyentuhku!" tegur Miyuki pada mereka. Akan tetapi teguran itu diabaikan begitu saja.
Sosok pahlawan datang memecahkan cermin jendela disamping itu.
"Yo? Apa kau ketakutan.." Sahut nada familiar itu.
"..Miyuki?"
Miyuki sedikit tercengang bercanpur lega melihat pahlawan itu kembali.
"Ryu.."
Tiga detik kemudian...
Wajahnya berubah berapi-api, "CEPAT LEPASKAN AKUU, RYUUU!!!!" Teriak Miyuki lantas membuat Ryu bertunduk takut mendengar suara seramnya.
"Anjirr, seram bangett." Takutnya,😨
"Ryu bodoh!" Gerutu Miyuki.
"Hoi, hoi, berisik sekali.. Apa dengan berteriak, gadis ini lolos kah?" Tanya salah satu dari tiga buaya darat itu menantang Ryu.
Ryu berdiri kembali, "katamu tidak mungkin terjadi kah?" Sambil mengeluarkan pisau kecil di tangannya.
Dia berlari secepat kilat memotong lengan mereka dengan pisau kecilnya.
"Aaargh! Gerakan apa itu?!"
Satu-persatu jatuh lunglai, Ryu mengarahkan pistol favoritnya didepan mata kepala disalah satunya.
"Jangan pernah berani menyakiti Miyuki, atau hidup kalian tidak pernah kembali!" Ujar Ryu terdengar dingin dengan tatapannya terlihat mengerikan.
"Siapa..kau sebenarnya?"
"Jangan-jangan kau adalah..pangeran iblis itu."
Ryu tidak menanggapinya itu menembak ketiganya hingga tak berdaya lagi.
"Arata itu ya!" Gumamnya kesal, karena tau tiga pria itu adalah anggota Mayor Arata.
Ryu melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Miyuki,
"Kau baik-baik saja?"
Miyuki juga tidak menanggapinya, wajahnya masih kaku dengan mengepal erat kedua tangannya. Tangan lembut Ryu itu perlahan menyentuh pipi istrinya.
"Maafkan aku, kau pasti ketakutan bukan?"
Airmatanya berjatuhan, "Ryu..aku..aku.." Dia tak bisa berkata-kata lagi.
Ryu memeluknya, "maafkan aku, Miyuki." Dia merasa bersalah akibat meninggalkannya.
"Aku sangat takut.."
"Sekarang aku disini, jadi tidak perlu takut lagi." Sambil mengusapnya belaian rambut istrinya dengan lembut.
••
Selama perjalanan pulang, Miyuki bernada semangat menceritakan kejadian tadi pada suaminya.
"Apa anak itu baik-baik saja?" Tanya Ryu sambil mengenakan jasnya ditubuh Miyuki.
Miyuki membenarkannya. "Dia hanya mengalami demam alergi."
Ryu tersenyum tipis, "kau sudah melakukan yang terbaik."
Mendengar pujian itu, pipi Miyuki memerah lagi sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ngomong-ngomong teriakanmu tadi menyeramkan ya." Tambahnya makin membuat Miyuki malu.
"Ehhr..itu karena..aku ketakutan." Miyuki berpeluh keringat menjawabnya.
Ryu tertawa kecil dan kemudian menggenggam salah satu tangan Miyuki. "Tapi..syukurlah kau baik-baik saja."
"Aku bisa gila kau terluka." Tambahnya.
"Maaf, aku mengkhawatirkanmu Ryu."
"Tidak, ini salahku karena membiarkanmu sendiri. Lain kali, aku akan selalu di sisimu." Tutur Ryu sontak membuat Miyuki senang mendengarnya.
Ketika mereka kembali di Villa, Maya menyaksikan kedatangan mereka itu menatapnya penuh aura dingin.
"Apa yang terjadi?"
"Hanya masalah kecil." Jawaban singkat dari Ryu masih terdengar dingin, seolah tidak ingin bibinya ikut campur.
"Bisa bicara sebentar.." Tutur Maya yang duluan masuk ke ruang tengah.
"Kalau begitu aku bantu-bantu Minami didapur." Miyuki mencari alasan agar tidak mengganggu Ryu dan bibinya.
"Setelah itu kau istirahat." Pinta Ryu.
"Ya."
Kedua orang itu bicara empat mata di ruang tengah.
"Ada apa?"
"Besok ada pertemuan 10 klan master, sebagai calon pimpinan Nishimura, bisakah kau menemani ibumu tanpa guardianmu?"
Permintaan itu terdengar mengecewakan karena Maya meminta Ryu menemani Miya tanpa Miyuki. Padahal sebelum itu, Ryu sudah berjanji tidak akan membiarkannya sendiri lagi.
"Aku sedikit meragukannya."
"Kenapa? Apa karena kejadian tadi?" Maya mengangkat alisnya dengan mudah menebak pikiran Ryu.
Ryu juga tidak menyangka, Maya sudah mengetahui lebi awal kejadian tadi.
"Kejadian itu baru saja diviralkan, ditemukan tiga pria tewas akibat menculik istri kesayanganmu bukan?."
Ryu sedikit lega mendengar Maya memanggil Miyuki sebagai istrinya bukan guardian maupun bonekanya lagi.
"Jadi tenang saja, aku jamin dia bersama ku."
"Jika dia bersamamu, bibi tidak menyakitinya bukan?" Tanya Ryu khawatir, bibinya akan memperlakukam Miyuki dengan cara tidak baik.
"Ya enggaklah, Nishimura tidak seperti Shimizu yang hanya memperlakukannya dengan buruk. Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat." Jawab Maya diam-diam tersenyum dingin.
"Aku mengandalkanmu bibi."
Itu artinya, Ryu setuju akan ikut menemani ibunya.
••
Sehari lagi liburan itu berakhir, Maya mengajak Miyuki ke suatu tempat sesuai yang direncanakan dalam pembicaraan dengan Ryu semalam. Keduanya sedang dalam perjalanan taksi,
__ADS_1
"Apa akhir-akhir ini Ryu memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Maya memulai pembicaraanya pada Miyuki.
"Ya, dia sangat baik padaku."
"Baguslah, itu artinya kau tidak menderita lagi bukan?"
Miyuki membenarkannya. "Terima kasih sudah memperlakukan ku dengan baik, walaupun hanya..boneka Nishimura."
Maya diam-diam menatapnya, "kau benar-benar sangat mirip ya."
"Eh? Mirip dengan siapa, bibi?" Miyuki tidak mengerti ucapan Maya.
Maya mengalihkan pandangannya dan perlahan-lahan airmatanya mengalir,
"Apa kau tau hari ini hari apa?" Tanya Maya masih berusaha menghapus airmatanya.
"Hari ini ya?" Setelah memikirkannya, Miyuki menyadarinya.
"Hari ini adalah...hari kematian ibuku." Batinnya.
Ryu bersama ibunya, Miya dan Minami sedang menghadiri pertemuan 10 klan master yaitu ; Kobayashi, Takahashi, Juumonjii, Nakamura, Nishimura, Suzuki, Fujii, Yamamoto, Tanaka dan Saito.
Masing-masing klan mereka memiliki klan cabang untuk memperkuatkan nama klan mereka. Salah satunya, Yamashita yang awalnya berada dibawah kendali klan Fujii. Dengan menggunakan mereka itu dijadikan bonekanya, sedikit kesalahan saja, mereka menghukum penduduk Yamashita.
Nishimura mulai berteman baik dengan Yamashita, maka dari itu merebut Yamashita agar mereka tidak menderita tindakan Fujii. Namun, Yamashita dinyatakan hilang dan bubar. Diam-diam Fujii menyembunyikan Yamashita di klan Shimizu agar Nishimura tidak merebutnya lagi. Saat ini, Nishimura masih dalam pencarian keberadaan Yamashita.
"Senang bertemu denganmu, Fujii." Sapa Miya terdengar lembut tapi dingin pada pria pimpinan Fujii.
Dia duduk diseberangnya, tatapan keduanya masih disebut perang dingin setelah kejadian 13 tahun yang lalu.
10 klan master berkumpul dan membicarakan kesepakatan senjata tempur yang akan dikirim ke markas angkatan militer 1-0-2, namun sebagiannya tidak setuju.
"Kenapa?" Tegur pria bernama Lujinian sebagai kepala 10 klan master.
"Aku juga tidak setuju." Miya ikut angkat bicara. Lalu menatap sinis diseberangnya.
"..karena klan cabang masih bermusuhan satu sama lain, apa mereka akan setuju menyerahkan senjata tempur begitu saja? Apalagi masalah kepribadian mereka masih kacau." Tambahnya.
"Maksudmu Yamashita kah?" Tebak Kobayashi.
Miya membenarkannya. "Aku tidak tahan Fujii menyiksanya terutama klan cabangnya, Shimizu."
"Mencoba menjatuhkanku?" Fujii mengangkat alisnya menantang Miya.
Miya tersenyum ramah tapi sinis, "tidak, aku terkejut kau melakukan rencana bodohmu."
"..meminta Shimizu mengambil alih pimpinanku kah? Lucu sekali." Tambahnya.
"Dengarkan baik-baik, demi perdamaian biarkan pimpinan Nishimura mengambil alih klan cabang Yamashita. Setahuku mantan pimpinan Fujii sudah memperlakukan mereka sangat buruk, memalukan!" Tegas Lujinian membuat keputusannya membulat.
Miya tersenyum menang menatapnya, namun tatapan Fujii masih terlihat penuh amarah.
Ryu bersama Minami menunggu pertemuan itu selesai,
"Aku lega Yamashita ditangan Nishimura." Kata Minami duduk disamping Ryu.
"Itu benar, asal Nishimura memperlakukan mereka dengan baik." Ryu ikut setuju.
"Kemarin aku mendengar kabar penculikan Miyuki kemarin, apa itu benar?"
Ryu membenarkannya. "Pria brengsek itu kembali lagi."
Pria brengsek yang dimaksudkannya adalah Arata, alias mantan Mayor angkatan darat. Sebelumnya dia dipecat telah melakukan pembunuhan terhadap Ryu.
Minami juga paham yang dimaksudkannya, "aku cemas dia berulah lagi."
"Aku tau itu, tapi aku masih belum tau apa yang direncanakan otak liciknya itu." Meski terdengar dingin, tapi dia tidak bisa memaafkan tindakan Arata.
••
Maya dan Miyuki tiba disebuah tempat sepi, hanya suara angin meniup dedaunan hingga terdengar rileks.
"Tempat ini adalah..." Miyuki tampak kaku menyadari tempat itu adalah tempat pemakaman ibunya.
"Kenapa bibi?" Dia ingin tau alasan Maya membawanya ke tempat ini.
"Sebelum kematiannya, dia memintamu untuk melenyapkan ayahmu bukan?" Maya menebaknya,
"..aku mendengar pembicaraanmu dengannya."
Miyuki menatap pemakaman ibunya, "dan bibi menguburnya disini bukan?"
"Pasti ibu ku sangat berterima kasih padamu, aku lega sekali."
Maya tercengang melihat Miyuki melebarkan senyumannya dengan senang hati, namun airmatanya mulai membasahi pipinya.
"Ku pikir, mereka membuang ibu ku, aku sangat senang Nishimimura menguburi ibuku dengan baik, terima kasih bibi Maya."
Maya mengusap airmata Miyuki lalu memeluknya,
"Ibumu adalah pimpinan Yamashita, sebelumnya dia memintaku untuk mengeluarkannya dari penderitaan itu tapi.."
"..Dia terbunuh karena kesalahan ku." Nada Mya terdengar gemetar.
Miyuki dengan tenang itu menenangkannya, "semua itu bukan kesalahan bibi, ayahku sangat kejam memperlakukannya dengan kasar. Aku tidak bisa memaafkannya.."
"Begitu ya, mulai sekarang tinggallah bersama kami."
"Ya."
"Dan suatu saat Nishimura akan menerimamu sebagai keluarga kami."
"terima kasih banyak, tapi aku baik-baik saja apapun situasinya, bibi." Miyuki tersenyum kagum mendengar ucapan Maya.
Kini dua wanita itu sedang berdoa dihadapan pemakaman Yamashita Moyuka.
"Syukurlah, aku bisa bertemu denganmu lagi ibu.."
••
Malam mulai kembali di China, sosok gadis berpirang pink itu sedang bekerja di Rumah sakit terbesar Hongkong. Tanpa disengaja dia ditemukan oleh pria familiar itu.
"Dengan Mayumi-sama?" Sapa nada familiar itu pada wanita tadi, Mayumi.
Begitu melihatnya, Mayumi tampak terkejut. "Ito? Apa yang kau lakukan disini?"
"Matsumoto-sama meminta anda kembali." Jawab Ito.
Mendengar hal itu, Mayumi melarikan diri dan bersembunyi. Ito tidak tinggal diam, dia mengejarnya dan mencarinya.
Namun, Ito kehilangan jejak di lantai 6. Tapi dia masih merasakan keberadaan Mayumi di sekitar tempat itu.
"Ibumu memperingatkanmu agar segera kembali untuk memberitahu kebenaran ayahmu, jika tidak maka Miyuki akan menerima konsekuensinya." Ucap Ito.
Mayumi bersembunyi dibelakang rak obat-obatan, dan mendengar ucapan itu.
"Miyuki..dia pasti menderita karena diriku."
Mayumi tidak setuju kembali ke tempat itu, rasanya dia benar-benar terkurung dikeluarganya setelah kehilangan ayah kesayangannya. Namun, dia belum tau siapa pembunuh ayahnya.
Sedikit kesalahan dia perbuat maka Miyuki harus menanggungnya, dia sudah tidak tahan melihat penderitaan Miyuki maka dari itu dia memilih kabur dan membuat kematian palsu.
Tak disangka dalam sebulan ini, dia ditemukan oleh Shimizu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut, Ryu.."
"Mayumi-sama?" Kedua mata Miyuki terbuka lebar mengingat Mayumi hingga dia tidak bisa tidur lagi.
Dia keluar dari kamarnya dan melihat sosok Ryu menyendiri diluar. Perlahan-lahan langkahnya menghampirinya.
"Ryu, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Miyuki.
"Aku tidak bisa tidur, bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu Ryu."
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya Ryu.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi."
Kedua pasangan itu menyaksikan langit indah diatasnya.
"Indah sekali ya.."
Ryu diam-diam menatap Miyuki disampingnya,
"Miyuki?"
"Ya." Jawab Miyuki juga menatapnya.
"Apa tekadmu dalam hidupmu?" Tiba-tiba pertanyaan itu terpikirkan oleh Ryu dan Miyuki.
"Tekad dalam hidupku?"
"...sebelumnya aku pernah memiliki tekad yang kuat dalam hidupku yaitu keberanian, tapi.. Tekad itu sudah terhapus karena aku tidak bisa menahan penderitaanku." Jawab Miyuki.
"Lalu, sekarang kau bertekad lagi?"
Miyuki membenarkannya, "ini tekad kedua ku yaitu tanggungjawabku sebagai istrimu dan pekerjaan ku."
Ryu tersenyum senang mendengarnya, "bagaimana denganmu Ryu?" Kali ini giliran tekad dalam hidup Ryu.
"Sebelumnya aku bertekad menjadi pria yang bertanggung jawab tapi.. buktinya aku begitu pengecut soal cinta."
Ryu mengingat Miyuki menyelamatkan perlakuan bodohnya di jembatan itu.
"Saat itu aku benar-benar terselamatkan karenamu."
"Bisa dibilang begitu, Ryu."
"..tapi setelah itu kau punya tekad baru bukan?" Tebak Miyuki.
"Entahlah, aku tidak mengerti. Bisakah aku mencintai orang lain selain dia?"
"Jawaban itu ada diperasaanmu, Ryu."
"Kalau begitu, bagaimana saja aku bertekad untuk mencintaimu Miyuki?"
Miyuki membeku sejenak, "bukankah sebelumnya kau mengatakan aku hanyalah pihak ketiga dalam hidupmu dan..kau tidak bisa membangunkan cinta untuk orang lain karena..karena kau tidak ingin hal itu terulang lagi, bukan?"
Ryu kecewa mengingat keputusannya dulu pada Miyuki. Perlahan-lahan istrinya memegang salah satu tangan Ryu dengan lembut,
"Kau tidak perlu menyesalinya karena aku ingin mencintaimu juga, Ryu."
Mendengar kata-kata itu, Ryu tersenyum lega dan memeluknya.
"Makasih Miyuki."
Hujan meteor menghiasi langit dan dua pasangan itu ikut menyaksikannya penuh keharuan.
"Aku harap kita bisa menyaksikan bersama lagi." Ucap Miyuki.
"Dan berjanjilah selalu disisiku Miyuki."
"Ya."
Setelah liburan Okinawa berakhir, matahari datang menyaksikan momen lagi, dua pasangan itu tertidur lelah di pesawat sambil berpegangan tangan.
"Tekad dalam hidupku sudah kembali, tapi ini tekad kedua kalinya bahwa aku mencintainya dan dicintai olehnya."
••
__ADS_1
{Bersambung. . .}