
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, komedi, fantasi.
Sebelumnya berangkat aktivitas ke rumah sakit Aizawa, tampaknya Miyuki sedang bersemangat dan tak sabar memulai aktivitasnya. Tetapi begitu dia memohon pamit pada Ryuzaki.
"Aku per..." Ucapan itu terhenti ketika membuka pintu dan menyaksi kedatangan seseorang yang ingin mengetuk pintu.
"A-anu..s-siapa?"
Pria muda berkemeja rapi, ketinggiannya nyaris sama dengan Ryu. Wajahnya tampak datar menatap Miyuki diam mematung hingga suasana itu hanyalah keheningan. Tapi beberapa detik kemudian, Ryuzaki datang menyambut kedatangan pria familiar.
"Kau membuatnya terkejut, lujinian."
"Maafkan aku, nona muda." Sambil membungkukkan badannya dengan penuh hormat dihadapan Miyuki.
"Eh? N-nona muda?" Tentu saja, gadis berambut coklat sedikit memiringkan kepalanya tidak mengerti. Diam-diam tangan Ryu menepuk pundak istrinya agar sadar dengan sikapnya.
"Ahh..t-tidak apa-apa. A-anu, tolong angkat kepalamu." Ucap Miyuki memperlihatkan wajah pahitnya.
Lujinian menurutinya, Ryu mengajak pria itu masuk untuk membahas sesuatu. Mereka duduk tepat di ruang tengah dan...
"Miyuki? Bisakah kau tunda dulu?" Ryu tampaknya meminta gadis itu menunda berangkat ke tempat kerjanya. Karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
"Huh? Ada apa?" Wajah yang begitu polos tak mengerti itu memilih tetap menunda dan penuh rasa ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh dua pria itu kepadanya.
"Biar ku perkenalkan, dia Lujinian kepala klan master. Dia kemari ingin bicara denganmu." Ujar Ryu memperkenalkan Lujinian pada istrinya.
"Senang bertemu denganmu, nona Miyuki. Aku sudah mendengar banyak tentangmu darinya." Sapa Lujinian membungkuk badannya dengan sopan.
"Ooh..s-senang bertemu denganmu, Lujinian." Balas Miyuki juga membungkuk.
Setelah menyapa sesama, tak sampai satu detik suasana jatuh keheningan kembali. Membuat keduanya canggung memulai membicaraannya hingga Ryu juga ikut tak berkata-kata.
"Ah? Kok jadi canggung situasinya?"
"Ehrm!" Ryu mencoba menyerukan suara kecilnya agar mereka mulai bicara.
Mereka tersadar dengan suara itu membuatnya makin canggung.
"Ehhhhhh?? Kok makin parah sihhhh???"
Miyuki menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya dengan perlahan-lahan, kemudian menatap Lujinian dengan serius.
"Apa yang kau ingin bicara denganku, Lujinian?"
Mendengar gadis itu membuka bicara dengan serius membuat Lujinian ikut serius dan tampaknya Ryu lega menyaksikan suasana bangkit kembali.
"Aku menerima pesan dari kerajaan Elizabeth, mereka mengatakan kau adalah anak dari putri mereka. Maka dari itu, mereka mencoba membunuhmu berkali-kala karena kau adalah gadis dipenuhi kegelapan tidak dengan cahaya." Jawab Lujinian.
Miyuki merautkan wajah datarnya tanpa reaksi seperti terkejut maupun marah. Gadis itu hanya menjawab dengan singkat,
"Begitu ya.." Dan kemudian,
"Ibu ku berasal dari kerajaan itu kah? Tapi..kenapa mereka tidak menerimaku sebagai anggotoa elizabeth? padahal aku memiliki ibu dari tempat itu. Apa karena tubuhku diselimuti kegelapan kah? Ku rasa begitu.."
"Tapi.. Sebagai putri dari ibuku Moyuka, tidak akan membiarkan diriku lenyap terlebih dahulu karena ada satu hal yang perlu ku tuntaskan dan sebelum itu..." Sambil menatap kedua mata Lujinian.
"..aku perlu bantuanmu, Lujinian."
Lujinian sedikit mengerutkan wajahnya dengan rasa ingin tahu.
"Hal yang perlu kau tuntaskan? Apa ada hubungannya dengan bantuan ku?" Tebaknya.
Miyuki hanya melebarkan senyum kecilnya dihadapan Lujinian membuat pria itu penasaran.
••
Kembali ke RSA, miyuki senang hati menerima pasien yang akan segera diatasi olehnya. Tak disangka di tengah cerianya itu, dia malah berhadapan dengan seseorang.
"Huh?"
Gadis muda seumuran dengannya, rambutnya berpirang merah muda serta dia lebih tinggi dari Miyuki hanya berbeda 5cm.
"Mayumi-sama?"
Benar, gadis yang sedang berdiri dihadapannya adalah mantan majikannya alias Mayumi Shimizu. Suasana terasa sepi nan canggung, perlahan-lahan ia mengangkat salah satu tangannya dan kemudian. . .
"Lama tidak bertemu, Miyuki."
CLAKKK hanya deengan suara jelintikan berasal tangannya itu membawa dirinya bersama Miyuki ke tempat lain. Bisa disebut, teleport.
Keduanya berada di atas gedung RSA, Miyuki sedikit terkejut dan bertanya.
"Bagaimana dia bisa menggunakan sihir? apa dia salah satu penyihir tingkat strategis?" Pikirnya.
"Kenapa? Apa kau terkejut berpindah ke tempat ini?" Sahut Mayumi nan dingin.
"Tidak, tapi.. mengapa kau membawa ku kemari?" tanya Miyuki.
"Entahlah, aku hanya mencari seseorang."
"Seseorang?"
Mayumi tersenyum sinis kemudian melangkah dekat kehadapan Miyuki, lalu berbisik dengan nada yang penuh aura dendam.
"Seseorang yang telah membunuh ayahku." Jawabnya.
Kedua mata Miyuki terbuka lebar membulat, ia penuh khawatir jika mayumi tau bahwa dirinya adalah orang yang dia cari. Tetapi, dia berpikir apa Mayumi sudah tau semuanya atau..belum menemukannya?
Mayumi menatap kedua mata Miyuki yang dilanda kekhawatirannya. Bibir gadis itu tersenyum kecil nan dingin,
"Sepertinya kau sudah cukup berubah ya, tapi.. melihat wajahmu kaku memucat itu membuat ku curiga."
"..kau menyembunyikan sesuatu padaku?"
"Huh?"
"Atau..kau tau siapa pembunuh ayahku."
Mendengar nada Mayumi terus membisiknya curiga hingga tubuh Miyuki ikut gemetar dan bibirnya tak sanggup berkata jujur. Tanpa berpikir kedua tangannya langsung mendorong jauh darinya.
"Apa yang terjadi denganmu?! Kau tidak seperti Mayumi yang ku kenal, mayumi yang ku kenal itu adalah gadis baik dan lemah lembut tidak seperti dihadapan ku.."
"Yang berdiri dihadapan ku hanyalah putri iblis." Ucap Miyuki.
Bibir Mayumi terukir senyum menakutkan, Miyuki berusaha waspada pada tingkah Mayumi sangatlah berbeda.
"Hei, kau tau.. Ini adalah diriku yang sebenarnya, masa lalu hanyalah sandiwara karena tujuan ku hanya satu.."
"Mencari pembunuh ayahku."
Miyuki mengerutkan kedua alisnya, "kalau begitu, bagaimana dengan Ryuzaki? Pria yang sempat kau cintai."
Mendengar pertanyaan Miyuki tentang Ryuzaki alias sosok yang sangat dicintai oleh Mayumi, wajahnya tercengang kosong sejenak.
__ADS_1
"Apa hal itu juga sandiwara?" Sambungnya.
Miyuki menyerang dengan pertanyaan kedua, lantas membuat Mayumi tak berkutip.
••
Ryu bersama Lujinian sedang perjalanan ke pusat laboratorium klan master, karena sebelumnya Ryu mencari solusi untuk melepaskan segel yang mengunci kekuatan tubuhnya. Untungnya, berkat Lujinian yang kebetulan juga mengetahui salah satu solusi pelepasan segel di tubuh Ryu.
"Berapa lama akan sampai?" Tanya Ryu.
"Ku rasa 120 detik lagi."
Keduanya berdiri tepat dihadapan gedung kecil alias markas laboratorium rahasia.
"Markas ini pernah jadi milik Moyuka-sama." Sahut Lujinian tampaknya sedikit mengenang tentang tuannya alias Moyuka, ibunya Miyuki.
"Jadi keingat yah.."
Ryu juga sadar melihat wajah pria itu dilanda oleh kenangan.
"Sepertinya kau juga punya hubungan dengannya bukan?" Tebaknya.
"Bisa dibilang begitu, biar ku perkenalkan sekali lagi.. Chen Lujinian sebagai guardian Moyuka."
Tentu saja, Lujinian membenarkannya. Kemudiam memperkenalkan dirinya lebih asli lagi, Chen Lujinian. Pria berdarah cina campur jepang adalah pelayan Moyuka selama 8 tahun.
"Apa mereka juga tau tentangmu?" Tanya Ryu.
"Kau adalah orang yang kedua mengetahuinya."
"Siapa pertama?" Tanya Ryu lagi.
"Nishimura." Singkat Lujinian mulai mengeluh jawab pertanyaan Ryu melulu.
"Kenapa?" Mendengar pertanyaan Ryu makin membuat Lujinian mengeluh panjang, seolah lelah harus menjawab pertanyaan Ryu. Manalagi pertanyaan Ryu berhubungan dengan masa lalu, tidak dengan masa saat ini atau tentang penyegelan tubuhnya.
"Hubungan Moyuka-sama dan Nishimura lebih akrab dan saling mempercayai satu sama lain."
"Tapi..kenapa.." Akhirnya pertanyaan Ryu terhenti mendengar sahut Lujinian yang tampaknya lelah menjawabnya.
"Anu...sampai kapan kau terus bertanya, jika banyak hal yang ingin kau tanyakan lebih baik simpan daripada membuat dirimu bingung."
Ryu cemberut. "Kau itu ya.."
"Dasar!" Sambungnya.
"Ooh, mereka datang." Ujar Lujinian menantikan kedatangan orang-orang yang akan menemaninya.
"Yo! Buas petir, lama tidak bertemu yahh.." Sapa suara familiar tampak bahagia sambil berlari dengan melambaikan tangannya, hal itu membuat Ryu ingin pulang.
"Sebaiknya aku pergi dari sini."
Tak lain, Haru berjulukan si kelelawar tamvan bersama elang putih alias Ito dan ayahnya, Tatsuro. Dengan cepat melangkah, Haru cegah Ryu pergi.
"Mau kemana buas petir? Aku kangen loo.." Sambil memeluk disalah satu lengan Ryu, membuat pria itu bermuka masam menatap tingkah Haru begitu menjijikan.
"Ayo dong.. Setidaknya katakan bahwa kau juga merindukanku."
Wajah Ryu tampak mulai memanas, Ito memperingatkan Haru agar berhenti main dihadapan buas petir.
"Kau mengganggunya, kelelawar."
Sayangnya, si Kelelawar tamvan mengabaikannya.
"Oi, sepertinya kau sedang dalam bahaya Haru-kun." Sahut Lujinian membuat Haru sadar.
"Heh?"
"Oi, kelelawar.. Hari ini kau begitu semangat yahh."
"Heheheh..gawat nihh.."
Tanpa aba-aba lagi, kini Haru dilempar ke langit setelah mendapatkan tendangan dahsyat dari buas petir.
"MAAFKAN AKU!!!!!" teriaknya.
Ryu menghela nafas penuh lega menyingkir pengganggu itu, kemudian kembali ke topik pembahasan.
"Apa proses penyegelan butuh orang lebih dari satu?"
Tatsuro melebarkan senyumnya itu, membenarkannya. "Tentu saja."
"Karena menyegel seseorang butuh sihir tingkat strategis." sambungnya.
"Tingkat strategis?" Ryu pernah mendengar penyihir tingkat strategis, dan kemudian..
"Tunggu? Jangan bilang. . . Mayumi?"
Pria itu baru sadar bahwa orang yang menyegelnya adalah Mayumi, mantra penyegel itu hanya bisa dilakukan oleh pengguna kelas tingkat strategis. Itu artinya, Mayumi adalah salah satu dari kelas tingkat strategis.
"Anu..Ryu? Apa kelelawar itu baik-baik saja?" Tanya Ito.
"Hmmm... Ku rasa dia benar-benar menikmati mendarat ke laut."
Sesuai perkataan Ryu, Haru benar-benar mendarat ke laut, namun melihat kondisinya mulai menggigil. "Gghhhgghhhhhhhgghhggh..d-dingin."
Di tambah lagi, pria itu dikejar hiu. "Tidakkkk!!"
"Ryuzaki, tolong akuuuuuuuuuu!!!" Teriaknya. LOL
"Kemana dua saudara itu?" Dari tadi, Ryu tidak melihat sosok Lina dan Arata berdiri disamping Ito karena biasanya mereka selalu bersama kemana pun pergi.
"Mereka ke tempat istrimu." jawab Ito.
"Untuk apa mereka ke sana? Apa mereka hanya ingin mengganggunya?"
"Tidak, firasatku hanya mengatakan istrimu sedang dalam bahaya maka dari itu aku meminta mereka menemui secepatnya sebelum.."
"...She will die." Ujar Ito menatap Ryu dengan serius.
••
"Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Seru Mayumi langsung menyerang dengan tangan kosongnya pada Miyuki.
"Sudah ku duga, kau benar-benar putri iblis tingkat strategis." Ucap Miyuki dengan santainya menangkis pukulan Mayumi.
Bibir gadis itu tersenyum sinis, "benar, aku adalah putri iblis tingkat strategis yang sebelumnya pernah menyegel kekuatan Ryuzaki."
Miyuki memukul dengan sekali genggaman pada perut Mayumi, "kenapa?"
Dengan wajah Mayumi yang begitu tenang menangkisnya itu tertawa kecil. "Karena..kekuatan itu punya hubungan darah denganmu, bukan?"
"Kekuatan yang mampu menyempurnakan monster dalam dirimu."
Miyuki menggertakan giginya diselimuti rasa amarahnya. "keluarlah Katana Yamashita!" Teriaknya memanggil sesuatu.
Hingga sebuah samurai setinggi manusia datang ke tangannya membuat Mayumi penasaran pada kekuatan itu. Tanpa basa-basi, ia bergerak cepat menyerang titik lemah Miyuki yaitu kedua mata kuning beningnya.
Tak disangka Miyuki masih mampu menangkis serangan tangan Mayumi dengan samurainya.
__ADS_1
"Kau terjebak."
Mendengar Mayumi mengucapkan Miyuki terjebak membuatnya lengah. "Apa?"
Salah satu kaki Mayumi berhasil menendang bagian titik sendi lutut Miyuki hingga ia terdorong jatuh ke ujung gedung yang ketinggiannya 100m. Hal itu membuat dirinya nyaris jatuh.
"Sekarang jawab pertanyaan ku, siapa pembunuh ayahku? Kau mengetahuinya bukan, katakan padaku!" Seru Mayumi mengarahkan sebuah sihir cahaya diselimuti oleh petir ke hadapan wajah Miyuki menatapnya.
"Jika aku menjawabnya iya atau tidak, itu sama saja berujung kematian karena kau tidak akan mengampuni seorangpun yang tidak menjawab pertanyaanmu maupun menjawabnya, bagimu semua itu adalah musuh."
"Jangan sok tau, memangnya kau tau apa tentangku! Kau hanyalah guardian yang tidak berguna, seorang boneka tanpa mengerti sedikit pun itu adalah dirimu yang sebenarnya!" Ujar Mayumi meninggikan nadanya.
Menatap wajah Mayumi yang saat ini dilanda oleh kesedihan, Miyuki menyadari sesuatu dengan melebarkan senyumannya.
"Ternyata, kau juga punya penderitaan yang saat ini sedang memukulmu. Dengar, menyelesaikan penderitaan bukanlah untuk membunuh tapi untuk mengikhlaskan apa yang sudah dirasakan dalam penderitaanmu."
Mayumi muak mendengar tutur lembut dari Miyuki, "jangan mengajarkan ku seolah dirimu sudah mengerti tentang ku."
"Ucapanmu hanyalah mengganggu ku."
Miyuki tak mampu berdiri maupun menghindar dari serangan sihir Mayumi sedang mengarahnya karena salah satu sendi lututnya telah dipatahkan olehnya.
"Aku tidak bisa menyelamatkan diri ku sendiri.."
Sebelum mantra itu akan menusuknya, tangannya ikut melemparkan samurainya ke arah Mayumi selagi dia keadaan lengah, itu adalah kesempatan mengenai tubuhnya dengan katana milik Miyuki.
"Ku serahkan padamu, katana Yamashita."
Secara bersamaan, keduanya mengenai serangan masing-masing. Mayumi tak sadar bahwa samurai milik gadis itu juga menyerang dan tepat melukai perutnya hingga mulutnya mengeluarkan banyak darah.
"Aghh..s-sejak k-kapan..dia..agghh!" Selagi bertahan, dia menggunakan sisa kekuatan teleport hingga dia terlebih dahulu menghilang.
Sementara Miyuki ikut mengenai serangan mantra Mayumi tepat di jantungnya membuat tubuhnya tak bernyawa, saat ini tubuhnya jatuh terjun ke bawah.
Apa ada seseorang yang akan menyelamatkannya?
••
Lina bersama Arata baru saja datang ke RSA, keduanya panik mencari Miyuki hingga bertemu dengan Hiroishi.
"Ada apa dengan kalian?"
"Kebetulan sekali, kami menemukanmu monster hitam."
"Lagi-lagi kau menyebutku monster hitam, apa si kelelawar itu mengajarimu ya?" Hiroishi malah protes mendengar Arata memanggilnya monster hitam.
"Itu memang julukan yang cocok untukmu."
"Tapi.."
"Apa kau melihat Miyuki?" Tanya Lina langsung ke intinya.
"Aku tidak melihatnya, setahuku dia akan kemari tetapi tidak ada kabar kedatangannya hari ini."
Jawaban Hiroishi lantas membuat keduanya heran, salah satu tangan Arata menyentuh dahi pria itu, lalu mengatakan..
"Oi, apa kau sakit yahh? Miyuki tiba ditempat ini sesuai jam kerjanya, masa sih kau tidak melihatnya."
"Aku normal ubi jalar." Hiroishi masih bersikeras bahwa dia sama sekali tidak menemui Miyuki hari ini.
"Dia benar-benar tidak hadir hari ini." Sambungnya datar tapi jujur.
"Miyuki?!" Teriak Lina yang tiba-tiba membuat kedua pria itu ikut penasaran ada apa dengan Lina yang mendadak teriak nama Miyuki.
"Apa yang terjadi, Lina?" Tanya Arata.
"Lihat, i-itu..Miyuki." Jawab Lina masih membulat lebar menyaksikan sosok Miyuki kondisi tak berdaya terlintas di salah satu jendela setelah jatuh dari atas gedung RSA.
"HUH?"
Hiroishi dan Arata ikut melebarkan kedua matanya, tidak hanya mereka. Beberapa orang juga teriak terkejut menyaksikannya, apa ini pembunuhan atau bunuh diri?
Lina, Hiroishi dan Arata berlari ke lantai bawah secepatnya agar bisa menyelamatkan Miyuki. Dengan berlari secepat mungkin ternyata tak bisa merubah keadaan akibat tak kuat ke lantai bawah menggunakan tangga maupun pintu lift. Mereka bingung dan berpikir apa Miyuki akan jatuh bergeletak di dibawah dengan kondisi tak tertolong?
Bahkan Hiroishi tak sanggup membayangkannya, "apa yang harus kita lakukan?"
Ditambah lagi Arata ikut putus asa dan lelah berlari. "Aku terlambat datang tepat waktu."
Lina berlinang airmata masih menyaksikan Miyuki jatuh dari pintu jendela. "Maafkan aku Miyuki."
Mereka putus asa karena gagal menyelamatkan Miyuki, tetapi suara isak tangis Lina terhenti. "Huh?"
"Kak Arata? Hiroishi?" Dia mencoba memanggil kedua pria itu melihat sesuatu dari pintu jendela.
"Apa sesuatu sedang terjadi?" Tanya Hiroishi.
"Tidak, lihat itu.. B-bukankah itu..."
Wajah mereka terdiam tak berkutip melihat seseorang dengan tubuhnya yang bebas gravitasi itu menggendong Miyuki yang nyaris bergeletak dibawah. Itu sangat melegakan bagi ketiga orang tadi. Tetapi, menyadari sosok itu membuat mereka kaget.
"I-ITU BUAS PETIR??!"
Tak lain pria itu adalah Ryuzaki yang telah berhasil menyelamatkan Miyuki. Tetapi, wajahnya sedikit meraut sedih melihat wajah Miyuki memucat tak berdenyut lagi.
"MIYUKIII?!!!!" teriaknya hingga suara amarahnya ikut meraung ke langit dan awan putih pun datang menggelap.
Saking dirinya penuh amarah tak terkendali, dia terbang membawa Miyuki entah kemana. Yang penting dia ingin menghidupkannya kembali karena dirinya saat ini tak terima jika pengantin satu-satunya ditelan oleh bumi karena sebentar lagi, gadis itu resmi sebagai istrinya.
"HEEEEEEHHHHH? DIA TERBANG MENGHILANGG?!!!" teriak ketiga orang tadi sungguh terkejut tak sanggup berkutip sejenak menyaksikannya. Tetapi hal tadi membuat mereka khawatir.
"Apa Ryu baik-baik saja?" tanya Lina pada dua pria itu yang berusaha menghindar dari pertanyaan Lina. Karena keduanya tau merasakan kehilangan begitu menyakitkan daripada kemalingan uang.
"Aku sibuk." Jawab Hiroishi.
"Aku juga harus kembali laporkan hal ini." Ikut Arata.
"Penyebab penderitaan dalam diriku tak berujung bahagia adalah kutukan ku sendiri."
.
.
.
"Biarkan tubuh ku lenyap tenggelam, jangan membangunkan tubuh yang sudah tak bernyawa karena membuatnya kembali itu sama saja tak bisa melukis kenangan melainkan mimpi buruk."
.
.
"Ku mohon Ryu, berhenti memanggil ku."
{Bersambung. . .}
bagaimana chapter hari ini? apa ada kekurangan atau sesuatu yang membuatmu penasaran, ku tunggu saran atau pendapat kalian.
sebelumnya terima kasih sudah mampir, jangan lupa boomlike. siapa saja sedang memberi komentae dibawah, saya siap mampir ke karya anda!
__ADS_1
tetap saling mendukung😄😄😄😄