Emergency Love

Emergency Love
Dua Kata Tersimpan


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, komedy, fantasi, drama


Sebelumnya terima kasih sudah membaca karya saya sejauh ini, jangan lupa untuk like atau vote dan memberi tanggapan atau komentar jika ada pertanyaan dan sarannya atau pendapat kalian. Mohon dukungannya ya teman-teman. 😄😄


{Special Love Of Yamada Hiroishi}



Cuaca tampak begitu tak mendukung, suara gadis terdengar kaku nan dingin mencoba membangunkan perasaan seseorang yang memilih untuk diam dalam mencintai. Pria tinggi, pendiam dan lemah lembut hanya bertekuk lutut dibawah guyuran hujan sambil menutup kedua telinganya agar tidak mendengarkan suara gadis itu.


"HENTIKAN!"


gadis itu tak menyerah, dia berusaha menenangkannya dengan ucapannya.


"*Kau mencintainya bukan?"


"Berdiam seperti patung yang tiada gunanya sama saja pecundang."


"Cepat atau lambat cinta mu sia-sia*!" Sambil meninggalkan pria itu masih berdiam diri seperti orang bodoh.


Sungguh mengejutkan, kata-kata yang dikatakan gadis tadi membuat pria berwajah syok. Entah apa yang terjadi? Ucapan itu seperti menyambar sesuatu yaitu hati dan pikirannya. Sangat membuat dirinya menyesal dan menyadarinya setelah melewatkan sesuatu yang di tinggalkan olehnya.


Dia terisak tangis. "Bodoh! Bodoh!"


"Kak Hiroishi? Kak Hiroishi?" Miyuki dari tadi melihat Hiroishi duduk melamun didepan meja berkasnya itu memanggilnya.


Gadis itu menepuk pundak pria berambut hitam berwajah pendiam.


"Kau baik-baik saja?"


Hiroishi kaget dan tersadar. "Oh, Miyuki? Ada apa?"


Miyuki mengerutkan wajahnya lantas heran melihat Hiroishi tampak begitu aneh. Tapi perlahan-lahan wajah itu mengerti menatapnya.


"Apa sesuatu membuatmu teringat?"


Pertanyaan Miyuki membuat Hiroishi tak punya pilihan menjawabnya karena hanya gadis imut itu juga tau masalah pribadinya terutama perasaan yang masih tersimpan di masalalu.


"Ku rasa begitu."


"Aku mengerti, tapi kau tenang saja dia pasti kembali jadi..kau masih punya kesempatan bukan?"


"Jangan membuang kesempatan itu lagi, oke?"


"Baiklah, hmmm, aku bahkan tidak mampu mengalahkan mu soal ini."


Miyuki dengan wajah yang ramah itu meletakkan berkas kecil di meja pria itu. "Ini hasil medisnya, kalau begitu aku bekerja kembali."


Hiroishi membiarkannya pamit tanpa sepatah kata, dia menghela nafas panjang lalu memperhatikan berkas yang diberikan oleh Miyuki.


"Mendengarnya dia kembali rasanya cukup melegakan, tapi yang ku cemaskan adalah perasaan yang tersimpan ini cukup menakuti ku."


Wajahnya memalingkan ke arah jendela yang tenggelam oleh tetesan hujan hingga hal itu bernostaliga untuknya.


"Jadi teringat ya. . ."


••


Ini momen 3 tahun sebelum Hiroishi menjadi seorang dokter, saat itu dia memutuskan mengambil kursus dokter bagian operasi meski tujuannya adalah menjadi professor tak disangka jalannya harus berubah arah.


"ini hanyalah takdir menentukan jalan ku."


"Ini kisah hidupku yang kosong sama sekali, terasa gelap hanya suara menyakitkan itu menghantui ku."


Hari itu adalah hari pertamanya menjalani hidup yang begitu mengganggunya. Hal itu tak pernah berubah,


"*Dari lahir hingga berdiri di tanah ini, semua terasa sama. Membicarakan sesuatu dibelakangku, membuli ku, mengejekku dan mempermalukan ku. Orang-orang itu bagaikan gagak bermata merah sedang memata-matai ku. Tapi aku memilih diam dan membiarkan gagak itu mematai ku."


"Aku hanyalah pria lemah dan pendiam, tidak hanya itu hidupku selalu sendirian. Rasanya sepi ya*."


Setelah beberapa hari, meski Hiroishi pendiam tetapi dia dijuluki dokter yang begitu handal. Namun, akibat pendiamnya membuat orang-orang muak bersamanya. Tapi, dia masih bersikeras menyimpan ucapan itu dihatinya daripada melampiaskan tiada gunanya.


Lalu, suatu saat. .


Hiroishi ditinggal sendirian di kelasnya memilih sabar. Tangannya meraih tasnya ke punggungnya dan lagi dia berjalan sendirian di tengah keramaian universitas hingga seseorang tak sengaja mendorongnya jatuh.


"Aduh!"


Buku-buku milik orang itu jatuh memukul kepala Hiroishi.


"A-aduh!"


"M-maaf, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf!!"


Suara itu adalah suara gadis tampak terdengar lembut meski dia berusaha meminta maaf sebesar-besar pada Hiroishi.


"Ehr..yah, tidak apa- ap.."


Bibirnya berhenti mengucap, dan wajah itu begitu terpesona oleh kecantikan wajah gadis itu. Rambut pirang merah muda, berkulit putih mulus, tubuhnya tinggi 165cm dan memiliki ekspresi yang menyegarkan.


"Kau baik-baik saja?" Gadis tadi menjulurkan tangannya untuk membantu Hiroishi berdiri.


Diam-diam tanganya ikut meraihnya. "Uh, uhmm..yahh makasih."


"Sama-sama, syukurlah kau baik-baik saja. Ooya, namaku Shimizu Mayumi mahasiswi pindahan baru-baru ini dan namamu?"


Perkenalan itu adalah hal wajar dilakukan sesama manusia, tetapi ini pertama kalinya wajah Hiroishi memerah keringat berkenalan dengan gadis cantik.


"Aaa..n-namaku, Y-yamada Hi..hiroishi mahasiswa k-kedokteran."


"Begitu ya."


Entah kenapa, gadis dipanggil Mayumi itu tertawa melihatnya. Lantas membuat Hiroishi heran,


"Hahahaha, kau itu lucu ya. Apa ini pertama kalinya bagimu berkenalan dengan seseorang?"


Hiroishi berwajah gugup itu membenarkannya. Tangan Mayumi mengetuk dahinya. "Cara kenalanmu sangat berantakan, maukah aku mengajarimu bagaimana caranya?"


"Ehrr yah, t-tidak usah."


"Tenang saja, mulai sekarang kita adalah teman." Sambil menarik kedua tangan Hiroishi penuh semangat.


"Eh? Te..teman?"


"Benar."


"Ini pertama kali bagi ku, melihat gadis dengan senyum yang begitu hangat dan mendebarkan jantung ku. aku mengerti, diawal pertemuan itu aku sudah jatuh cinta dengannya."


••


Seiringnya waktu berjalan hingga setahun kemudian, Hiroishi tampak begitu akrab dengan Mayumi. Meski sosok Mayumi yang sudah membuat jantungnya berdebar itu tak pernah tau kekurangan Hiroishi maupun tentangnya. Mayumi selalu tersenyum menyegarkan seperti biasanya.


"*aku tidak peduli, jika dia belum mengetahui tentangku. Tapi, setidaknya aku ingin menyampaikan perasaan ini padanya."


"Aku..menyukainya. Itu saja*."


Musim gugur tiba menghujani bulan Mei yang kebetulan upacara kelulusan Universitas Tokyo. Hiroishi bersama Mayumi juga dinyatakan lulus dan digelari sebagai dokter sungguhan.


"Selamat ya, Hiroishi." Wajah ceria Mayumi selalu tampil manis sekali.


Seperti biasanya, itu memuaskan bagi Hiroishi. "Ehhrr yyaah, makasih Mayumi."


"Selamat juga, Mayumi."


Keduanya saling berjabat tangan penuh damai, wajah Hiroishi masih tampak memerah sementara Mayumi hanya tersenyum menatapnya.


"Kalau begitu, maukah aku traktirkan makan malam untuk kita berdua?"


"Kita..berdua?" Mayumi membenarkannya dengan melebarkan senyum manisnya.


"Malam itu, aku mencoba memberanikan diri untuk menyatakan perasaan ku. Tetapi. . ."


Dua orang itu menikmati makan malam disalah satu restoran mewah, bisa dibilang Mayumi adalah tipe gadis yang disukai pria. Tetapi betapa herannya, Mayumi hanya akrab dengan Hiroishi daripada pria lain.


"Anuu, sekali lagi makasih Mayumi."

__ADS_1


"Santai saja, aku juga senang bisa merayakannya bersamamu. Ngomong-ngomong setelah ini kau bekerja rumah sakit mana?"


"Uhmm, aku menerima pekerjaan di..rumah sakit Aizawa."


"Hehh? Benarkah? Apa ini kebetulan? Aku juga menerima pekerjaan disana."


"Huh? B-benarkah?"


Hiroishi juga bahkan tidak percaya, dia menerima pekerjaan di RS yang sama dengan Mayumi. Apa ini berjodoh?


"Tentu saja, kita ini adalah teman jadi tidak mungkin hari ini adalah perpisahan."


Wajah Hiroishi jadi kaku apalagi bibirnya terdiam membatu. Dia kecewa, padahal dia sudah menyiapkan ucapan yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada Mayumi. Tetapi, tak di sangka Mayumi hanya menganggapnya sebagai teman.


"Hiroishi? Ada apa denganmu?"


"Aahh, tidak apa-apa."


Dia memilih menundukkan wajahnya sambil menghabiskan makanannya.


"Uhmm, maaf Mayumi sepertinya aku harus pergi karena ada urusan."


"Hmm benarkah? Padahal aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Tapi, karena kau ada urusan. Aku baik-baik saja kok."


Wajah Hiroishi masih kecewa melihat ekspresi Mayumi tetap ceria seperti biasanya.


"sampai kapan wajah itu berhenti ceria, aku..aku sudah muak wajah itu, seolah membohongi ku."


"Kalau begitu, aku pulang dan jaga dirimu."


"Baik, sampai jumpa di rumah sakit minggu depan." Sambil melambaikan tangannya pada Hiroishi.


"Ku pikir malam itu adalah waktunya, tetapi hasilnya mendengar dia mengatakan hanya sebagai teman membuat hatiku tertutup kembali, apa sebaiknya aku menyimpan perasaan ini saja? Tapi menyakitkan. . ."


••


Hari pertama Hiroishi bekerja di RS Aizawa, dia memutuskan untuk memendamkan rasa cintanya pada Mayumi. Semenjak hari itu, dia perlahan-lahan mengamati Mayumi bekerja. Meski membuatnya senang melihat senyum manisnya tetapi rasa kecewa masih terukir dihatinya.


Belum beberapa hari, Mayumi tampak senang bersama pria berkemeja rapi, tampan dan gagah. Ini pertama kalinya Hiroishi melihat wajah merona itu terukir diwajah Mayumi.


"Dia menyukainya kah?"


Dia penasaran siapa pria yang bersama Mayumi, tapi kebetulan dia mendengar pembicaraan para suster tentang kedekatan Mayumi dan pria tampan itu.


"Kalian mengenalnya?"


"Tentu saja dokter, namanya Ryuzaki Nishimura. Aahh, kau tau kan nama itu sangat populer di jepang."


"Ryuzaki Nishimura?"


"Benar, ngomong-ngomong apa mereka cocok? Ku rasa begitu. Soalnya Mayumi sangat senang bersamanya."


"Setahu ku, Nishimura adalah salah satu 10 klan master dan lagi profesinya adalah anggota militer, tidak hanya itu pria itu memiliki keluarga yang unik."


Hiroishi memilih pergi meninggalkan pembicaraan itu. Akhir-akhir itu Mayumi berubah, wajah cerianya hanya untuk pria yang dia sukai yaitu Ryuzaki.


". . . Hari masih berlanjut hingga sebulan, gadis itu memperkenalkan ku dengan pria yang dia sukai. Rasanya sulit menunjukkan wajah ini apalagi hati ini sudah mau rapuh bertahan. Tapi aku tidak menyerah dengan perasaan ku . . ."


Perlahan-lahan Hiroishi juga akrab dengan Ryu. Mereka ngobrol berdua dibawah keheningan malam. Meski agak canggung, wajah keduanya tampak gugup memulainya.


"Anu, itu..aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ryu membuka bicara terlebih dahulu.


"Apa?"


"Kenapa kau tidak memberitahunya?"


"Apa maksudmu?"


"Soal kejadian itu, kau menolongnya bukan? Mengapa kau menjual namaku?"


"Kejadian itu yaa.."


Sehari sebelumnya, Mayumi diculik oleh mafia. Orang yang satu-satunya saksi kejadian itu adalah Hiroishi, tentunya dialah yang menyelamatkannya. Namun, kondisi Mayumi sedang pingsan. Begitu dia sadar, sosok Ryu sudah ada dipangkuannya.


"Ryu?"


"Mayumi? Syukurlah.."


"Iya, dia menyelamatkanmu." Jawab Hiroishi lantas membuat Ryu tidak enak hati.


"Benar-benar bodoh ya." Gumam Ryu.


"Bilang saja kau menyukainya."


"Siapa yang suka? Bukankah kau itu pacarnya?"


Ryu membenarkannya. "Memang benar aku pacarnya, tapi. . entah mengapa perasaan ini tidak begitu yakin menyukainya."


"Apa maksudmu? Kau tidak mencintainya, maukah ku beri pelajaran padamu,hah?!"


"Tidak sopan lu!"


"Aku pernah bertanya pada diriku sebelumnya, apa aku mencintai seseorang sebelum Mayumi?"


"Kau punya pacar sebelum Mayumi ya? Jangan bilang lu memang benar playboy ya."


"**** lu! Aku tidak tau, begitu sadar otakku ini terasa banyak yang hilang. Jadi aku tidak begitu ingat apa yang terjadi masa lalu ku."


"Ooh begitu. Tapi kau benar-benar mencintai Mayumi?"


Namun, Ryu tidak memberi tanggapan lagi. Hiroishi menepuk pundaknya.


"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan saat ini, tapi aku minta padamu untuk menjaganya."


"Jika terjadi sesuatu padanya, bersiaplah kepalamu menghilang."


"Uiiihh, seremm." Balas Ryu memasangkan wajah datarnya namun nada yang terdengar main-main.


Hiroishi sedikit kesal, untungnya amarah itu tak jadi meledak. Dia memilih meninggalkan Ryu sendirian mematung.


••


Dua tahun kemudian, hubungan Mayumi dan Ryu sedang pacaran. Bahkan saat Ryu mengalami luka dalam dan harus segera dioperasi, Mayumi menangis tersedu-sedu memohon pada Hiroishi untuk menyelamatkan Ryu.


"serahkan saja padaku."


sejak Mayumi bersama pria itu, berbagai macam emosi yang mengundang Mayumi terutama airmata itu. rasanya benar-benar pahit melihat teman menangis pertama kalinya hanya karena tidak mau kehilangan pacarnya.


"bener-bener bodoh ya."


Dia berhasil menyelamatkannya, tetapi suatu hal membuatnya bertanya yaitu apa yang sebenarnya Mayumi lakukan pada Ryu?


itu mengejutkan melihat tubuh Ryu sedikit ada bekas luka kecil seperti rantai aneh mengikat ditubuhnya. Hiroishi mencoba bertanya padanya, tetapi entah mengapa bibir itu sulit mengatakannya lantas membuat Mayumi bingung.


Hiroishi tak punya pilihan lain itu memilih ubah topik pembahasan yaitu meluangkan pekerjaan kosong sebagai perawat cadangan untuknya. Mayumi yang kebetulan mendapat kabar itu langsung memperkenalkan data seorang padanya.


"Bagaimana dengan adikku?" Sambil memberikan sekertas data milik seseorang.


"Adik? Kau punya adik ya?"


Mayumi membenarkannya. "Dia memiliki kemampuan khusus dan sesuai yang kau inginkan."


"Miyuki kah?" Gumamnya sambil memperhatikan data itu.


"Tapi, ketika kau melihatnya pasti itu mengejutkanmu.


"Apa maksudmu?"


"Dia tidak memiliki emosi."


Hiroishi tidak percaya apa yang dikatakan oleh Mayumi itu benar atau tidak. Lalu, tiba hari itu. Dimana Ryu melamar Mayumi sangatlah mengejutkannya. Dan tak hanya itu, dia bertemu dengan adik Mayumi yaitu Miyuki.


Tapi mengherankan, sosok Miyuki sangatlah tidak mirip dengan Mayumi dan terbukti dua gadis itu bukanlah saudara.


"Ooh, maaf..sebelumnya perkenalkan namaku Yamashita Miyuki, guardian Mayumi-sama."


Hiroishi tak sanggup berkutip mendengar gadis itu menyatakan dirinya hanyalah sebagai guardian Mayumi. Apalagi panggilan "Mayumi-sama"


"Ini pertama kalinya melihat gadis begitu unik, tapi dari wajahnya saja sudah menunjukkan sesuatu yang sudah menghilang dalam dirinya, tidak hanya itu dia menderita."

__ADS_1


Tak disangka gadis misterius itu membuatnya penasaran apa yang hilang dalam tubuhnya? Karena masih belum percaya dia kehilangan emosi.


"Apa tidak apa-apa kau hanya perawat cadangan untukku?"


"Tidak masalah, karena ini harapan seseorang yang ingin aku wujudkan."


"Harapan seseorang kah? Ooya, aku belum memperkenalkan diri namaku Yamada Hiroshi."


"Oh, senang berkenalan denganmu Hiroishi-sama."


"Ehhr, anu..yaahh itu, gak usah manggil Hiroishi-sama."


"Bagaimana kak Hiroishi? Melihatmu saja seperti kakak ku."


"Heh?" Hiroishi tak punya pilihan lain selain menerimanya. "Yaa..terserahlah."


"Anu, kau menyukai Mayumi-sama?"


"Tidak. Dia teman kuliah ku."


"Ooh, tapi wajahmu menunjukkan kalau kau menyukainya."


Perlahan-lahan Hiroishi mengerti dan percaya kalau gadis itu benar-benar kehilangan emosi. Tetapi, anehnya lagi dia mampu memahami apa yang dipikirkan orang lain. Hiroishi mengubah topik pembicaraan.


"Ooya, kau bukan adiknya Mayumi, bukan?"


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain, tapi bisakah kau menjaganya?"


"Kenapa?"


"Kau memiliki sifat pendiam dan mampu memendamkan sesuatu sendirian, itu artinya kau bukan pengkhianat tapi orang yang bisa diandalkan."


Sejak perkenalan itu, Miyuki menceritakan masa penderitaannya di keluarga Shimizu karena dia percaya Hiroishi adalah pria yang bisa diandalkan untuk menjaga tentang hidupnya. Miyuki tidak mampu menahan penderitaannya sendirian, dia ingin seseorang tau.


"Baiklah, sekarang aku mengerti."


"Tapi sesuai dugaan ku, kau benar-benar menyukai Mayumi-sama dan kau memendamkannya bukan? Kenapa?"


Hiroishi terkejut gadis itu mampu membaca isi pikiran dan hatinya. Akibat ketahuan, Hiroishi menyerah. Padahal dia berusaha menghindar bahas hal perasaannya.


"Baiklah, aku menyerah."


••


Dalam beberapa hari Hiroishi dan Miyuki tampak lumayan akrab dalam pekerjaan. Walaupun, Miyuki sering direndahkan oleh perawat lainnya. Tapi Miyuki tidak menunjukkan emosinya, Hiroishi jadi tidak tega melihatnya. Tetapi Miyuki tegas untuk tidak mengkhawatirkannya.


"Jangan mengkhawatirkan ku."


"Tapi sampai kapan kau seperti ini."


"Sampai orang yang ku cari membangunkan ku."


Hiroishi tidak mengerti, meski gadis itu kehilangan emosi tetapi emosi itu terasa ada hubungan dengan masalalu hingga membuat tubuh gadis itu tidak normal.


"Aku hanyalah gadis kutukan, sebanyak pukulan atau penderitaan ini melukai tubuhku tak mampu membunuhku. Tapi, jika aku menemukan orang itu maka semua rasa sakit ini akan terasa jauh lebih sakit dari biasanya."


"Lebih baik khawatirkan perasaanmu atau kau akan menyesalinya. Aku tidak yakin, apa kau masih punya kesempatan? Aku berharap itu kesempatan bukanlah yang terakhir."


Lalu suatu saat, Hiroishi sangat terkejut mendengar kabar Mayumi meninggal. Dia benar-benar marah dan menyesalinya hingga memukul wajah Ryu yang juga tak bisa berkutip lagi.


"Ini semua salahmu!"


"Aku muak!!!"


Itu membingungkan, kematian Mayumi yang mendatang secara tiba-tiba. Hiroishi tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis yang dicintainya. Rasanya hampir gila.


"AAAAAARRGGGHHHH!!" Teriak Hiroishi dibawah guyuran hujan. Dia benar-benar menyesali telah memendamkan perasaannya.


Dia menyerah dan putus asa. "Untuk apa aku memendamkannya? Untuk apa?!"


"Bodoh! Bodoh!" Dia kesal pada dirinya karena telah melewatkan kesempatan.


Ucapan Miyuki ikut mengenang dipikirannya.


"Lebih baik khawatirkan perasaanmu atau kau akan menyesalinya. Aku tidak yakin, apa kau masih punya kesempatan? Aku berharap itu kesempatan bukanlah yang terakhir."


Lalu seseorang muncul memeluknya. "Kau menyesalinya bukan?"


"Miyuki?"


"Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini."


"Tinggalkan aku!" Seru Hiroishi mendorong Miyuki menjauh darinya.


"Kenapa kau segitunya tau tentangku, seolah kau mengerti perasaan ku? Tapi kau hanyalah gadis yang sama sekali tidak punya emosi."


Gadis itu mendekatinya kembali. "Memang benar, aku kehilangan emosi tapi bukan berarti aku benar-benar tidak punya emosi, ini adalah kutukan untukku."


"Aku trauma setahun setelah membunuh ayahnya."


"Ayahnya?"


"Benar, ayah mayumi-sama. Sampai saat ini dia belum tau tapi dia memiliki dendam sangat kuat untuk menemukan pembunuhnya."


"Kenapa kau membunuhnya?!"


"Aku mewujudkan keinginan ibuku dan keluarga Yamashita sebagai gantinya emosi ini tenggelam sulit bangkit lagi."


"Setelah setahun itu, seseorang menenangkan ku, menyayangi ku dan mencintaiku. Orang itu. . ."


" _ _ _ _"


Hiroishi terdiam sejenak mendengar nama orang yang disebutkan oleh Miyuki.


"Aku terkejut Mayumi-sama pergi tapi aku masih merasakan dia masih. . ."


"HENTIKAN!" tegas Hiroishi agar Miyuki berhenti mengucapkannya. Miyuki berusaha,


"Kau mencintainya bukan?"


"Berdiam seperti patung yang tiada gunanya sama saja pecundang."


"Cepat atau lambat cinta mu sia-sia!"


Miyuki menyerah dan memilih meninggalkannya. Hiroishi menangis penuh rasa bersalah.


"Bodoh! Bodoh!"


Miyuki berjalan sendirian dibawah guyuran hujan deras itu membiarkan hujan itu membasahinya. Langkahnya terhenti menyadari orang itu kembali memeluknya dari belakang.


"Maaf, maafkan aku."


"Aku benar-benar minta maaf, Miyuki."


Miyuki berbalik menatap wajah Hiroishi. Lalu menyentuh kedua pipinya dan mengusap airmatanya.


"Tidak apa-apa, menangislah selagi kau bisa karena kau begitu lelah memendamkan perasaanmu selama ini bukan?"


"Dan percayalah padaku kak Hiroishi, Mayumi-sama masih ada dan aku juga masih merasakan keberadaannya."


"Miyuki.." Hiroshi memilih memeluknya.


"Aku akan mempercayaimu."


"Semenjak mengenal Miyuki, dia mengajarkan ku banyak hal hingga membuat ku berubah menjadi kuat dan kuat menghadapi perasaan yang terpendam ini."


"*Aku selalu berharap untuk mengungkapkan dua kata saat malam itu bersama Mayumi, tapi dua kata itu malah ku simpan hingga saat ini aku masih saja menyimpannya tak pernah membuangnya.."


"Padahal hanya dua kata...


...aku mencintaimu*."



Mengingat momen itu, bibir Hiroishi tersenyum tipis seolah lega setelah melewati hal itu.


"*Semenjak hari itu, aku perlahan-lahan belajar dalam hal senjata dan militer karena aku pernah bertekad untuk melindungi Miyuki, gadis yang sudah membangunkan ku dari sifat pendiamku."


"Terima kasih Miyuki, meski dua kata itu masih tersimpan aku janji akan mengatakannya sekali lagi*."

__ADS_1


{Bersambung. . . }


••


__ADS_2