
Greta terbangun dari tidurnya, kedua bola matanya mengitari sekeliling tempanya tidur. "Ini kamar Prada!" Dia baru saja tersadar jika semalam telah tidur di kamar pengacara itu.
Ingatannya terputar kembali bagaimana keadaan semalam bersama dengan Prada. Dia juga mulai menangkap kekhawatiran tentang kejadian semalam. Bahwasanya sikap usil sang suami sudah membuatnya kehabisan kata-kata.
Greta beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamar Prada. Karena matahari sudah meninggi, kiranya Prada pasti sudah berangkat bekerja.
Benar dugaan Greta, belum juga dia masuk ke dalam kamarnya. Wanita 30 tahun itu mendapatkan sapaan selamat pagi dari Mbok Siti yang mengabarkan jika atasannya telah berangkat lebih awal dan berpesan, "Bu Greta harus segera sarapan."
**
Tidak salah jika Mbok Siti mengatakan bahwa Prada sudah berangkat lebih awal. Karena jadwal harian pria itu begitu padat. Dia akan menyiapkan dua serangan pada hari ini.
Maka, "Bersiaplah kalian semua. Kita akan mulai berperang." ucapnya kepada staff advokat yang akan membantunya dalam menangani kasus yang menyeret orang tuanya.
"Siap, Pak! kita sudah bersiap dengan kemampuan kami. Bapak tenang saja. Untuk urusan hukum, kami akan bekerja semaksimal mungkin.--" sahut salah satu di antara mereka.
Melihat antusiasme dan dedikasi terhadap bos tempat mereka bekerja, tak ayal menggerakkan hati kecil Prada. Selama ini dia hanya menganggap para stafnya hanya sebagai alat pencetak uang, kini mereka saling berpegangan tangan dan berperang bersama melawan musuhnya.
Prada akan membagi staff terbaiknya menjadi dua tim. Tim 1 akan ikut bersama dengan Prada sendiri mendatangi kantor kejaksaan. Dan tim 2 yang dipimpin oleh Wahyu akan mendatangi salah satu perusahaan pasar modal.
Usai saling memberi selamat, mereka yang terbaik dari yang paling baik akan bertolak ke arah tujuan mereka seusai tugas yang harus diemban.
Prada sendiri di temani oleh stafnya menggunakan satu mobil dengan anggota body guard yang dipilihkan oleh Edo.
Rencananya, hari ini Prada akan menemui salah satu relasinya. Seorang yang sering melawannya di persidangan pada beberapa kasus.
__ADS_1
"Ada angin apa, hingga seorang pengacara mahal mendatangi kantorku?" Seorang pria berpakaian rapi menyambut kedatangan Prada di ruangannya usai di antarkan oleh salah satu jaksa junior di kantor kejaksaan tersebut.
Prada hanya memutar bola matanya mengamati kantor yang katanya tempat bekerja seorang jaksa senior di kejaksaan tersebut. Sembari melihat sekeliling kantor yang tidak cukup besar dari ruang juru bicaranya, Prada bersedekap dan berkata, "Aku datang memberikan kesepakatan denganmu, Fir."
Firman adalah salah satu lulusan ilmu hukum satu angkatan dengannya. Hanya saja, Firman lebih memilih bergabung dengan lembaga pemerintah sedangkan Prada? Usai lulus tes advokat atau ujian profesi advokat, Prada mengawali karier sebagai seorang pengacara muda. Hingga bisa mendorong kantor hukum dengan tangan dinginnya.
Sering berseteru pada kasus hingga membawa keduanya berduel di persidangan, membuat keduanya sering melempar cemoohan hingga umpatan.
Lawan Prada itu mendesah, "Apa yang akan kudapatkan?"
"Kau kira aku memiliki hak untuk menolak? Cih be debah, aku bisa mengubahmu menjadi pahlawan di negara ini." Prada melemparkan hasil penyelidikan yang akan dia gunakan untuk meringkus pembunuh ayahnya.
Bukti itu, akan dia serahkan sebagian kepada pihak kejaksaan yang nantinya bisa mereka gunakan untuk menangkap penjahat yang sesungguhnya.
"Prada kau benar-benar gila? Selama ini aku tahu kau adalah pengacara gila harta," Firman sedikit mundur ke belakang usai menilik lembar pertama yang sudah menyangkut salah satu dari tiga perusahaan farmasi terbesar di negara ini.
Apa yang dikatakan oleh Prada benar adanya, jika Firman mengambil kasus ini dan menanganinya sebagai jaksa yang bertanggungjawab, maka bisa dipastikan jika karier Firman akan meroket hingga ke bulan.
"Tapi dia adalah orang penting, dan dia juga ayah tirimu."
Tawa renyah Prada tak tertahan, pengacara itu bahkan tak segan menyaringakan suaranya di kantor Firman. "Kau lupa memiliki hutang yang harus kau bayar? Sudah kukatakan jika aku datang ke sini membawa kesepakatan yang tidak bisa kau tolak, Firman."
Firman menahan amarahnya, dia mengembuskan napas dengan kasar seraya mengepal tangannya karena Prada masih terus mengungkit ketidakmampuan pada suatu kasus dulu.
Jika bukan karena bantuan menyesatkan dari Prada, mungkin jaksa senior itu kini masih berada di dalam jeruji besi.
__ADS_1
"Kau tahu bukan? Dia orang seperti apa? Jangan sampai kelemahan ku dulu bisa diungkit lagi dan bisa menjebloskan aku ke dalam sel."
"Jangan khawatir hal itu, kau cukup fokus mengurus kasus ini dan usahakan pemerintah mengawal kasus ini secara langsung. Untuk urusan kasus suapmu, aku yang akan menangani jika dia mempermasalahkan."
Sempat Firman hampir merasakan dinginnya lantai penjara atas dugaan suap. Untung saja, kala itu klien Prada memberikan kesaksian untuk membenarkan alibi Firman yang tidak sepenuhnya benar itu, atas ancaman dari suami Greta itulah kini, Prada akan menggunakan Firman sebagai pionnya untuk melawan ayah tirinya.
Dan Firman, tidak bisa lagi berkata tidak. Karena seperti yang dikatakan oleh Pradabhasu, kesempatan ini tidak bisa ditolak oleh Firman. Dan jaksa itu mau tidak mau harus bermain bersama dengannya untuk mengungkap kasus bahan obat terlarang yang terkandung dalam obat pereda nyeri yang selama ini diproduksi secara masal oleh perusahaan suami Rosaline itu.
Satu serangan telah Prada tembakkan ke udara. Kini, pengacara tampan itu bisa tersenyum puas. Pada hari ini juga, Firman akan memproses penyelidikannya terhadap perusahaan tersebut. Jika memungkinkan, sore ini juga Firman dengan surat pengeledahan lengkap di tangannya akan bersilaturahmi ke perusahaan farmasi tersebut.
Jika Prada telah berhasil membungkam Firman, lalu bagaimana dengan Wahyu dengan tim duanya? Akankah Wahyu juga mengikuti bosnya dengan berhasil menjalankan langkah selanjutnya?
**
"Maaf, Bu kami ditugaskan oleh Bapak untuk mengawal Anda." ucap salah satu perwakilan dari beberapa biji bodyguard yang dipekerjakan oleh Pradabhasu untuk melindungi sang istrinya.
"Tapi, Pak. Saya bukan istri Presiden, loh."
"Bu Greta jangan khawatir, saya juga akan bersiaga." Edo pun muncul di tengah kerumunan pria berbaju hitam tersebut. Anehnya, Greta bahkan harus mengucek matanya berkali-kali karena penampilan Edo yang tidak seperti yang selama ini Greta lihat.
"Mana kacamata tebal itu?"
"Itu hanya dipakai ketika menyamar saja,"
"Laki gue kenapa, sih? Kumat edan kali, ya?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...