Emergency Love

Emergency Love
Bab 46


__ADS_3

Untuk sejenak, keduanya telah meletakkan ego masing-masing. Meski rasa gundah masih menyingsing, jauh di lubuk hati mereka tergugah dengan percikan kecil dari bara asmara.


Tampak cukup jelas, mereka berdua merasa canggung satu sama lain. Bahkan ketika sampai di parkiran basemen Greta tak menoleh sedikitpun ke arah sang suami. Begitu pun juga dengan Prada, hilang sudah semua image yang selama ini telah dia bangun. Hanya dengan beberapa menit saja, semua itu musnah. Bahkan sempat Greta menyebutnya dengan sebutan orang ca bul.


"Tunggu sebentar!" pinta pria itu sedikit menurunkan harga dirinya dengan mencoba memulai percakapan dengan sang istri.


"Aku tahu, aku tahu kamu dalam keadaaan kacau. Tenang saja, aku akan menganggap ini sebuah kecelakaan saja." Greta memangkas habis perasaan indah bak di awang-awang itu mengingat bahwa keduanya tidak mungkin untuk bersama.


"Bukan begitu, maksudku ... Aku," Prada meraih serta menggenggam jemari lentik dokter wanita itu sebelum masuk ke dalam rumah.


Greta menoleh, "Lalu apa?"


"Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa, maksudku aku hanya ingin kau menjauhi bahaya. " Prada kesulitan menjelaskan duduk permasalahannya dengan Greta. Pandai menolah kata dalam persidangan nyatanya harus ciut di depan wanita yang dia puja. Sungguh ironi memang.


Prada kemudian menambahkan, "Kau lupa jika ibuku adalah kunci kematian ayahku. Bahkan ibuku memiliki masa lalu yang cukup pelik dengan papamu. Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya."


Nuraninya sebagai seorang wanita sungguh kecewa dengan perkataan anak yang telah menyudutkan ibunya sendiri. "Baiklah!" Hanya itu kata yang lolos dari bibir tipis Greta.


Usai perdebatan kecil yang cukup menguras hati dan juga emosi, keduanya tak tampak berjumpa lagi. Sejak pagi tadi, Prada terlihat buru-buru keluar dari rumah. Itu terlihat dari sikapnya yang tampak serius. Bahkan untuk berpamitan dengan istrinya saja dia urungkan. "Waktuku padat, katakan padanya bahwa aku berangkat lebih awal." pesan Prada pada Mbok Siti yang sibuk menyiapkan kebutuhan pagi tuan serta nyonya rumah.


"Iya, nanti Mbok sampaikan ke Ibu, Pak."


Jika Prada sibuk dengan pekerjaannya, tak jauh berbeda dengan Greta. Karena profesinya sebagai dokter IGD tidak merenggut waktunya. Hanya saja, pagi ini waktu Greta sedikit lebih longgar dari biasa.


Mungkin masih pagi atau memang Tuhan tidak mengirim banyak pasien yang perlu ditangani. Sehingga, Greta serta para tenaga medis di IGD lainnya bisa bersantai meski hanya sejenak.

__ADS_1


Tak berselang lama, sepertinya keadaan benar-benar tidak akan membiarkan Greta untuk bersantai. Sebuah panggilan dari gedung pimpinan memanggilnya.


Sang Direktur rumah sakit ingin berjumpa dengan keponakan tersayangnya. Sedikit bosan bertemu dengan pamannya, tak ayal membuat Greta setengah hati memenuhi panggilan itu.


Cukup lama waktu yang diperlukan Greta hingga sampai di gedung pimpinan, hingga akhirnya dia masuk ke kantor Direktur.


"Masuklah,"


Greta masuk dan duduk manis di depan pamannya. Seolah sudah paham dengan apa yang akan diucapkan oleh pamannya, Greta seperti menutup kedua telinganya.


"Kamu sudah memikirkan pindah ke departemen jantung kembali, Ta?"


"Tidak, Paman. Greta sudah cocok dengan cara kerja IGD. Bukankah dulu paman yang bersikeras melemparkan Greta ke IGD?"


"Tapi, Nak ... kamu ini pengantin baru, sudah sepantasnya jangan banyak berada di rumah sakit ini."


"Jadi paman mengusir Greta?"


Nah kan? Serba salah, bukan. Memang susah jika sudah berurusan dengan pasutri satu ini. Si wanita kekeuh dengan pendiriannya, sedangkan si pria terus saja meneror pamannya dan mengancam akan menarik semua dananya.


"Bagaimana jika kamu menjadi wakil direktur, Pak Agus akan segera pensiun. Kamu saja yang menggantikan."


Salah, bagaimana bisa paman Greta melakukan hal seperti itu? "Boleh saja, jika Greta lolos seleksi menjadi wakil direktur."


Memang benar, jam terbang serta kepemimpinan adalah modal utama untuk menjabat sebagai pemimpin rumah sakit. Selain mendapatkan dukungan dari dokter lain pada saat penyeleksian nantinya, Greta juga harus mendapatkan nilai tinggi pada uji kompetensi.

__ADS_1


"Semua itu, bisa diatur."


"Nggak ah, Greta gak tertarik lagi kalau gitu. Ada nepotisme, sih,"


Kembali gagal menendang Greta dari IGD, membuat Direktur semakin ngeri dengan ancaman Prada. "Semua cara sudah kulakukan untuk merayunya agar mundur dari IGD, tapi gagal." ucapnya usai sang keponakan keluar dari ruang kerjanya.


"Sebenarnya ada satu ide, dia bisa mengajukan cuti jika ... " Kedua mata Paman Greta berbinar jika ide ini akan berhasil.


Segera dia mencoba menghubungi keponakan satunya untuk mendiskusikan dana investasi. Karena dia memiliki ide brilian.


"Nanti malam kakek ingin mengajak kita makan malam." ucap Prada pada sambungan telepon Greta usai wanita itu menemui Direktur rumah sakit.


"Baiklah, aku bebas setelah jam kerja."


**


Tidak ingin sang pujaan hati menunggu terlalu lama, membuat Prada memilh untuk bertahan menunggu keluar dari IGD. Lebih baik bersabar daripada harus kembali berkelahi dengan sang istri, membuat Prada tak keberatan berdiri di depan mobil guna menunggu Greta.


"Kakek merindukanmu," ucap Prada begitu Greta berhenti dengan jarak tidak kurang dari setengah meter darinya.


"Iya, aku sudah lama tidak bertemu dengan kakek. Aku juga merindukan kakek."


"Hanya kakek? Bagaimana dengan aku? Tidakkah kau merindukan aku?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2