Emergency Love

Emergency Love
Bab 39


__ADS_3

Merasa ada yang telah merengkuhnya, Greta berusaha untuk membuka kedua manik indahnya. Meski terasa sedikit berat, namun kelopak mata itu pun akhirnya terbuka. Dan, alangkah terkejutnya Greta hingga kedua pupil matanya membulat sempurna mana kala melihat sosok Prada yang kini tengah mendekapnya dalam pelukan yang dalam.


Kedua mata Greta menyapu ke sekeliling usai memastikan dirinya tidak kehilangan sesuatu apapun, "Apa yang terjadi? Bukankah ini kamarku?"


Tak ingin terus berada bersama pria itu, segera saja Greta memindahkan lengan kokoh yang melingkar di atas perutnya itu dengan ekstra hati-,hati agar tidak membangunkan Prada. Karena jika sampai suami Greta itu membuka mata, entah perang apa yang akan terjadi pada selanjutnya.


Usai berhasil memindahkan tangan yang banyak ditumbuhi rambut itu, Greta mulai menggeser badannya agar bisa terbebas dari rengkuhan sang suami.


"Bisa-bisa kami tidur bersama! apa dia sengaja ingin mengerjai aku?"


Tak ingin berlama-lama dan menyebabkan berbagi kesalahpahaman, membuat Greta berniat pergi ke kamar mandi di kamarnya untuk bersiap ke tempat kerja lebih awal dari biasanya. Semua itu karena dia tidak mau terlibat dalam masalah dengan Prada meskipun dia tahu tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


Prada sendiri baru saja terbangun dan tersadar jika dia telah tidur di kamar Greta sejak tengah malam tadi. Pria itu menepuk jidatnya karena baru menjadi hal bodoh yang telah dia lakukan. "Bagaimana aku akan menjelaskan padanya? Jika aku mengatakan tidak tega meninggalkannya, dia pasti akan mencurigaiku karena telah berbuat lebih jauh."


Sehingga Prada pun memilih untuk meninggalkan kamar Greta tanpa menunggu persetujuan dari sang istri terlebih dahulu.


**


pagi ini keduanya diliputi perasaan canggung satu sama lain, baik Prada maupun Greta tidak ada yang berniat membahas kejadian semalam karena telah meno dai harkat martabat mereka. Bagaimana bisa jika Greta merasa bahwa Prada adalah pria mesum yang memanfaatkan kesempatan.


Sedangkan Greta juga tidak mau jika sampai Pradabhasu menganggap dirinya wanita gampangan yang mudah tidur dengan sembarang pria.


"Aku akan berangkat terlebih dahulu,"


"Iya," sahut Prada singkat.


Kali ini, Prada tidak berniat mengantar Greta karena merasa menyesal telah masuk dan bermalam di kamar sang istri.


**

__ADS_1


Dalam perasaan menahan jengah yang luar biasa, Greta meninggalkan rumah untuk bekerja lebih awal. Selain menghindari Prada, Greta juga ingin mengetahui perkembangan pasiennya.


Begitu menginjakkan kaki di IGD, dokter jantung dan pembuluh darah itu langsung disambut dengan kabar buruk. "Gawat, dok! pasien ibu hamil itu kini kritis, otot dan pembuluh darah buatan itu tidak mampu menyetabilkan jantungnya."


Kabar buruk tak membuat Greta patah arang, dia juga sudah menyiapkan rencana selanjutnya jika sewaktu-waktu operasinya tidak berjalan lancar. Pada kasus langka seperti ini, otak dan tenaga dokter memang diuji. Mereka adalah wakil Tuhan pada garis terdepan untuk membawa perubahan ataupun mengantarkan nyawa seseorang.


"Terus awasi pasien, aku akan menyiapkan prosedur cangkok jantung." Kemungkinan buruk ini sudah pasti akan terjadi pada siapapun, maka dari itu Greta harus siap sedia jika hasil tidak optimal.


Cangkok jantung adalah tindakan bedah invasif yang dilakukan untuk menggantikan jantung yang sakit dengan jantung donor yang sehat untuk memperpanjang hidup pasien. Untunglah, Greta sudah jauh mempersiapkan prosedur ini jika metode bypass tidak berhasil.


Sebelumnya, ibu hamil itu yakni penerima cangkok jantung diminta menjalani penilaian dan evaluasi menyeluruh, untuk menentukan apakah mereka sehat secara fisik dan mental untuk menjalani cangkok bedah Faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan akan dipertimbangkan secara serius untuk menimbang baik dan buruknya tindakan ini.


Sedangkan kandidat pendonor yang cocok untuk ibu hamil sudah didapatkan. Pendonor tersebut telah berwasiat sebelum meninggal bahwa dia akan menyumbangkan semua organnya untuk membantu menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan organ miliknya. Selain memberikan kepada penerima, pendonor itu juga tidak keberatan jika organnya digunakan untuk penelitian yang bisa memajukan dunia medis. Selain kesamaan golongan darah serta ukuran jantung, antibodi penerima juga harus diperhatikan.


Tim dokter telah berkesimpulan final, mereka telah sepakat untuk menyetujui opsi terakhir dari dokter Greta, yakni melakukan prosedur cangkok jantung bagi pasien ibu hamil dengan gagal jantung tersebut.


Kesepakatan final itu telah melalui proses panjang dan disetujui oleh direktur. Sehingga, kini pihak rumah sakit Universitas Ganesha menghubungi rumah sakit tempat pendonor dirawat.


"Monitor, posisi jantung?" Direktur yang juga terlibat dalam tim dokter terus memantau perjalan jantung transplantasi itu.


"Lima belas menit lagi landing, Pak. Tapi ...." jawab salah satu tim dengan terbata.


"Tapi apa?" tegur Greta mulai panik. Hingga tak sadar jumlah detak jantungnya bertambah. Prada yang merasa terjadi perubahan pada sang istri terus saja mengamati smartwatch miliknya.


"Lalu lintas dari dan ke airport padat merayap, dok!"


"Bagaimana dengan ambulans kita?"


"Tidak bisa diprediksi, takutnya terjebak macet. Meski ada sirine, tanpa ada pengawalan pasti sulit."

__ADS_1


Greta terus memutar otaknya untuk bekerja lebih giat lagi. Tanpa sadar, terlintas saja dalam benaknya seorang yang bisa dia andalkan dalam hal seperti ini. Siapa lagi jika bukan Prada sang suami.


Tak perlu membuang waktu terlalu lama, segera saja Greta menghubungi pengacara terampil itu untuk meminta bantuan.


Dokter yang terus berjuang itu permisi ke belakang untuk menelepon sang suami. Dan, tak sampai nada tut berikutnya, Prada yang diliputi kekhawatiran langsung mengangkat panggilan Greta.


"Hallo, kamu di mana?"


"Kenapa? Aku di depan kantor. Timku akan ke pengadilan untuk sidang lanjutan."


"Apakah itu sidang yang penting? Maksudku aku perlu bantuanmu suamiku." Nada lembut dan terkesan dalam keadaan terdesak itu terdengar menggemaskan di telinga Pradabhasu. Agak lain memang pengacara satu ini.


"Tentu saja penting, karena aku dibayar mahal pada perjam-nya." Sengaja Prada menaikkan harga dirinya di depan Greta agar wanita itu bersedia berlutut untuk bantuannya.


"Um ... ini menyangkut hidup dan mati. Aku perlu bantuanmu untuk mengambil jantung yang akan mendarat lima belas menit lagi. Kumohon pergilah secepat yang kamu bisa dan bawa jantung itu ke sini secepat mungkin." Greta sudah meletakkan harga dirinya di depan sang suami.


"Apa imbalan yang akan aku dapatkan?" Pria itu masih terus saja bernegosiasi dengan sang istri.


"Jangan bercanda, Prada!"


"Baiklah, lupakan saja kalau begitu." ejek Prada.


"Then? Apa, dong?"


"Bujuklah aku dengan kata manis dan rayu aku agar mau membantumu!"


Permintaan konyol macam apa ini? Prada seolah tengah mencari jalan pintas untuk merebut hati sang istri setelah pagi tadi Greta sudah menghindarinya.


"Baiklah ... Sayang, please bantulah aku. Aku mohon padamu. Ini demi rasa kemanusiaan. Aku janji akan menuruti semua yang kamu mau. Ya Sayang?"

__ADS_1


...****************...


Mampus 'kan Prada, bisa ditebak kini seperti apa wajah pengacara tampan itu? Merona? Berbunga-bunga? Atau canggung? Kalian tebak sendiri.


__ADS_2