Emergency Love

Emergency Love
Bab 35


__ADS_3

Ketegangan itu semakin bergeser dengan kembalinya handphone yang sempat disita oleh Prada. Dengan janji akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh sang pria, Greta berhasil mendapatkan kembali ponselnya. Namun, justru hal tersebut semakin membuat suasana menjadi canggung.


Akhirnya, kecanggungan itu berhasil pudar dengan adanya suara dering yang berasal dari ponsel Greta. Rupanya dugaan Greta salah, nama pemanggil itu bukanlah teman baiknya, melainkan salah satu rekan di IGD, Alina.


Dokter muda itu menghubungi seniornya untuk menanyakan sebuah tindakan yang seharusnya dia lakukan. Namun, Alin masih meragukan kemampuannya.


"Lakukan yang terbaik, untuk menyelamatkan nyawa orang, dok!" nasihat Greta untuk menyemangati juniornya di tempat kerja.


Tanpa sengaja, Prada yang masih berada di dekat Greta melihat kotak perhiasan yang dia berikan kepada sang istri. Namun, ada hal yang menyelimuti benaknya, hingga Prada mendesak Greta usai memastikan jika barang itu belum tersentuh oleh tangan sang istri sama sekali.


"Kenapa kau belum juga memakai pemberian dariku?"


Greta menoleh dan segera menutup ponselnya agar suara Prada tidak masuk pada panggilan Alina. Namun sial, Alina terlanjur mendengar percakapan antara suami istri tersebut.


"Kamu sih, nggak bilang-bilang!" sanggah Greta membenarkan tindakannya karena dia tidak bisa memaksa barang orang tanpa ada persetujuan dari si. pemilik.


Merasa telah mengganggu waktu pengantin baru, buru-buru Alina berpamitan dan segera mengakhiri panggilan yang menyita waktu libur seniornya itu, "Maaf, dok. Aku tidak tahu jika dokter Greta sedang bersama suami dokter."


Greta teringat akan hal yang tadinya akan diungkapkan oleh Prada tentang orangtuanya. "Bukankah tadi kamu bilang menemukan petunjuk, apa itu?"


Merasa ada kesempatan besar yang tidak terjadi dua kali, Prada memanfaatkan kesempatan ini dengan berusaha menarik perhatian Greta. "Aku akan memberitahumu, tapi ada syaratnya. Kita makan malam dulu." Rupanya kini pengacara itu menggunakan keahliannya untuk mencapai kesepakatan yang akan menguntungkan dirinya.


Karena tak ingin melewatkan petunjuk baru, Greta pun akhirnya memenuhi persyaratan Prada. Lagipula, syarat itu tidak sulit baginya. "Hanya makan malam biasa bukan? Tidak melakukan hal yang aneh-aneh, kok."


**


Usai makan malam bersama, Prada mengajak sang istri menaiki tangga menuju lantai tiga. Dia akan membawa Greta ke ruang kerjanya di sebelah kamar pribadi miliknya.


Karena informasi ini cukup rahasia, Pradabhasu tidak mau jika sampai tersebar meski sedikitpun.


"Cepat katakan! aku sangat penasaran," dengan kata-kata sedikit memohon kepada sang suami, Greta pun tidak lupa membunuhi dengan memelas secukupnya.


Sedang Prada? Pria itu menahan gelaknya karena melihat wajah memelas Greta istrinya, sedikit usil, Prada sengaja menggandeng tangan Greta hingga masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengarahkan agar Greta duduk dengan santai sebelum menerima berita mengejutkan ini.


"Rileks, Baby!" anjur Prada sebelum membuka notebook yang akan dia tunjukkan melalui softcopy dari file yang dia bawa.


Wajah Greta semakin tidak menentu, gelagat ingin tahunya lebih besar daripada menunggu nilai IPK keluar. "Astaga kamu bikin aku Aritmia,"

__ADS_1


Meski tidak paham dengan istilah Greta, Prada yakin jika Aritmia yang dikatakan oleh sang istri berhubungan dengan sebuah penyakit tentunya.


Secara perlahan, Prada membuka file yang berisi data serta beberapa bukti foto dan tidak ketinggalan, rekaman suara dari narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya.


Sedikit demi sedikit, manik Greta menyapu halaman demi halaman pada layar. Keterkejutan kini tak lagi bersarang di wajahnya. Benar, bukan sebuah keterkejutan, melainkan ketidakpercayaan dari apa yang telah dia lihat saat ini.


"Benarkah ini?" tuntut Greta dengan ketidakpercayaan. Dia ingin Prada berkata bahwa ini hanya sebuah kesalahan. Greta ingin Prada jujur sejujur jujurnya.


Suami Greta itu berjalan dan berhenti tepat di belakang tempat duduk sang istri yang tengah menghadap notebooknya. Kedua tangan Prada berpegangan, tangan kirinya berpegangan dengan kursi Greta, sedangkan tangan kanannya berada di meja kerja.


"Benar, papa dan Ibu memiliki masa lalu ini. Mereka adalah pasangan kekasih ketika mengenyam pendidikan dokternya."


"Aku tidak menyangka akan hal ini, pantas saja aku menemukan foto Ibu di Jurnal papaku." ujar Greta, lalu sesaat Greta menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak menyangka akan hal ini.


"Penyelidikan ini belum usai, misteri kematian ayahku belum terpecahkan. Namun ... "


"Namun, apa?" Dengan kepo tingkat tinggi, Greta tidak bisa lagi menahan diri untuk terus terlibat dalam kasus ini.


Tetapi, sebelum Prada melanjutkan ucapannya, secara tiba-tiba Greta menoleh ke arahnya hingga menyebabkan wajah sepasang suami istri itu berdekatan.


"Namun, semua ini pasti ada kaitannya. Aku akan kembali ke kantor polisi dan menemui detektif yang menangani kecelakaan orangtua kita. Kuharap masih ada sedikit petunjuk."


"Tapi, bagaimana jika Ibu terlibat?" Sebenarnya, Greta tidak tega menanyakan hal mendalam seperti ini pada Prada, karena bisa menyakiti hati suaminya.


Untung saja, Pradabhasu bukanlah orang yang mudah tersinggung. Sebagai seorang advokat, dirinya sudah memiliki batas kesabaran. Meskipun kesabarannya hanya sebatas tissue belaka.


"Aku tahu maksudmu, aku akan menerima apapun. Karena itu adalah risikoku membuka kasus ini."


Meskipun begitu, Greta menyesal sudah membahas masalah ini dengan Prada. Dia juga merasa bersalah sudah menuduh Ibunya.


"Jangan pesimis seperti itu, semua orang memiliki asas praduga tak bersalah, bukan? Kita belum bisa mengetahui faktanya,"


Telinga Pradabhasu terbuka lebar mendengar sang istri menyebut istilah hukum di depannya, Prada tidak menyangka jika Greta mengetahui seluk beluk ilmu hukum.


"Lucu sekali, sejak kapan kau tahu asas praduga tak bersalah segala?"


Air wajah Greta mulai beriak, wanita itu melongos menghindari wajah Prada, "Aku harus terbiasa, karena suamiku pengacara."

__ADS_1


"Wanita ini sejak tadi mengatakan suamiku, suamiku, apa dia sudah menerima aku sebagai suaminya?"


"Jika kamu tidak keberatan, aku bisa belajar dengan Wahyu."


"Kok Wahyu, sih?"


"Kamu kan sibuk, aku bisa belajar untuk melawanmu pada sidang perceraian nanti."


Baru saja hati Pradabhasu berbunga-bunga, tetapi kini kebahagiaan pengacara senior itu harus dihempas begitu saja ketika sang istri membahas perceraian.


"Tidak ada perceraian, tidak ada pergi dari sini!"


Keduanya kembali berdebat, Greta merasa apa yang dilakukan tidak melanggar kontrak kerjasama. Tetapi, Prada terus emosi dan memarahinya.


"Jangan bahas itu lagi, mari kita fokus pada kasus ini!" akhirnya Prada pula lah yang mengalah agar Greta tidak meninggalkan dirinya.


Dan Greta membenarkan, tak lupa dia juga mengingatkan Prada dengan rencananya, "Aku harus masuk ke dalam circle Ibu, aku butuh bantuanmu."


"Apa itu?"


"Katakan apa saja yang disukai dan tidak disukai Ibumu, agar aku bisa mendekati dia."


Sebenarnya, tidak perlu mencari apa yang disukai oleh ibunya, karena Prada yakin jika ibunya juga menyukai Greta. Feeling Prada itu sangat kuat karena ibunya sangat puas pada pernikahannya dulu.


Prada mulai menyebutkan apa yang disukai oleh ibunya, tetapi ada sedikit ide untuk menggoda Greta. "Hanya itu saja? Kau tidak mau tahu apa yang aku suka dan tidak suka?"


Padahal Prada sudah menyiapkan jawabannya, tetapi Greta menyela, "Tidak,"


"Kenapa? Kau takut jika aku menjawab tidak menyukaimu?'


"Tidak perlu, karena aku tahu jawabannya." kata-kata yang terlontar dari mulut manis sang istri ini, membuat Prada semakin bahagia. Karena dia tidak Menyangka jika selama ini Greta sudah tahu apa yang disuka dan tidak disukai olehnya.


"Aku menyukaimu. dan tidak menyukai orang mendekatimu." Pradabhasu.


"Kamu menyukai kemenangan', dan tidak menyukai kekalahan." Greta Haruni.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2