Emergency Love

Emergency Love
Tipu Daya


__ADS_3


Ryu yang terbaring lemah diatas rumput pendek dihiasi oleh bunga-bunga mungil lalu suara angin ikut terdengar menghembus.


"Di. . mana aku?"


Suara lembut entah datangnya darimana itu memanggilnya.


"*Ryu.."


"Ryu.."


"Suara itu?. . Siapa?"


"Aku di sini*." Jawab gadis berpirang merah muda mengenakan gaun putih nan cahaya duduk disamping Ryu.


"*Kau mendengar ku, ketika waktu itu sudah tiba kau membunuhnya bukan?"


"Seorang gadis pembunuh ayah ku."


"Membunuh? Gadis pembunuh a. .yah. . mu*?" Tubuhnya masih terbaring lemah sedikit mengerti.


"*Benar, ada apa?"


"Tangan ku gemetar*." Ryu heran melihat tangannya pucat, bahkan hati dan pikirannya terasa beku hanya terisi kata-kata gadis itu.


"*Kau ketakutan ya? Tenanglah, aku selalu ada disisimu."


"Di sisi ku? Tapi, kenapa?"


"karena aku sedang mengikatmu bersamaku agar kau tidak takut, aku akan memberitahumu kapan saatnya."


"Jadi dengarkan aku, ku mohon. . Ryu."


"Ma. . yu. . mi*. ." Dengan kata terakhir, Ryu akhirnya sadar bahwa gadis disampingnya adalah sosok yang dicintai dan disayanginya.


"Kau baik-baik saja, aku akan melindungimu apapun itu."


Hingga matahari terbit, Ryu terbangun dari mimpinya dan merasa tubuhnya lemah.


"Hari itu semenjak dia menghilang, tubuh ku terasa lemah dan mimpi itu selalu menghantui ku. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Terdengar suara pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Miyuki yang membawa handuk dengan air hangat.


"Anu. . Kau sudah sadar ya, syukurlah." Miyuki tersenyum pahit sedikit gugup dan gemetar mendekati Ryu.


"Miyuki?" Ryu heran melihat ada goresan di pipi Miyuki, tidak hanya itu, lengan dan kakinya juga terbungkus perban.


"Apa yang terjadi?"


Miyuki menjatuhkan tubuhnya hingga barang bawaannya juga ikut terjatuh. Terdengar isak tangisan darinya,


"Hiks, hiks, hiks...aku. . aku hampir, hampir dibunuh. . olehmu." Jawab Miyuki terasa gemetar dan ketakutan.


Kedua mata Ryu membulat terkejut. "Huh?"


Miyuki perlahan-lahan mendekatinya, "ini sudah tiga hari, kau tidak sadar. Malam itu, aku. . berusaha payah menghentikanmu." Sambil menggenggam salah satu tangan Ryu.


"Kau, hampir dibunuh oleh ku?" Ryu tidak mengingat apa yang terjadi malam itu.


Miyuki menangis tersedu-sedu. "Bukankah kau pernah bilang kalau tanganmu itu tidak bisa membunuh orang yang sudah menyelamatkan hidupmu? Kau tau, betapa takutnya aku melihatmu."


Ryu mengusap airmata Miyuki, "maafkan aku, jujur saja aku. . tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya.."


"Huh? Kau tidak ingat?"


"Benar, kenapa?"


Miyuki hanya memeluk erat padanya tanpa menanggapinya lagi. Ryu benar-benar tidak mengerti.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


••


Tiga hari sebelumnya. . .


malam itu Miyuki tampak tertidur lelap di kasurnya. Suasana kamarnya terlihat gelap, diam-diam pintunya terbuka. Dan suara langkah seseorang mendekatinya, lalu mencekik leher Miyuki.


"Ngghh, arhh!" Miyuki sesak dan cepat-cepat membuka kedua matanya, dia terkejut!


"Ryu?!"


Sosok Ryu bertubuh pucat dengan mata berwarna merah darah dan tatapan membunuh tidak menyadari apa yang diperbuat olehnya. Kedua tangannya masih mencekik istrinya


"Gadis pembunuh, gadis pembunuh." Ucapnya berhaus darah membuat sang istri kesulitan benafas.


Miyuki bersusah payah melepaskan dirinya dengan menendangnya, "uhok! uhok!"


Dia tidak mengerti, "Ryu?! Apa yang terjadi padamu?"


Saking beraninya dia mendekati Ryu, namun malah mendapat lemparan hebat dari kekuatan aneh dari tubuh Ryu.


"Aaagh! Ryu? Sadarlah!"


"Aku harus membunuhnya, harus membunuhnya." Ryu bangkit berdiri lagi dan berjalan dengan tatapan mematikan ke arah Miyuki.


"Pembunuh ayah kekasih ku."


"Huh? Apa?" Tiba-tiba sesuatu membuatnya teringat.


"Ini. . Ini. . Mayumi-sama?!"


Miyuki memukul berkali lipat pada pria itu, namun reaksi Ryu tidak mempan sekali. Dengan menggerakkan salah satu tangannya, Miyuki langsung jatuh terbanting.


"Kekuatan apa ini? Seperti menarik tubuhku ke bawah."


Dia bangkit lagi dan berusaha menghentikan Ryu hingga tubuhnya luka babak belur. Ryu masih terlihat seperti biasa itu terus memanggil Miyuki "pembunuh ayah kekasih ku."


Miyuki tidak menyerah, dia berlari ke arahnya kemudian mendorong tubuh Ryu jatuh dan memeluknya sambil mencegah Ryu bangkit.


"Ini aku Ryu!" Dia meneriaki suaranya agar Ryu mau mendengarnya.


Ryu berusaha melepaskan dirinya, dan Miyuki tetap terus mencegahnya hingga Ryu menggigit lehernya. Lebih tepatnya, tanda lahirnya itu.


"Argggghhhh!" Teriak Miyuki kesakitan.


Tidak hanya Miyuki, Ryu juga kesakitan hingga berakhir pingsan. Tentunya, Miyuki bernafas terengah-engah menghadapinya.


"Ada apa denganmu, Ryu?"


Dia menangis ketakutan dan tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuh Ryuzaki.


"Dia kesakitan ya?" Ucap suara familiar disamping Miyuki.


"....! I-ibu?" Dia sedikit tercengang melihat bayangan sosok ibunya alias Moyuka berdiri disamping anaknya.


"Oh? Kau melihatku ya? Tentu saja, karena kau anakku bukan?"


"Sepertinya setelah wanita itu menghilang, Ryuzaki kesakitan."


Miyuki tidak mengerti. "Apa maksudmu?"


"Sebuah ikatan yang mengontrol tubuhnya untuk membunuhmu. Jika kau terbunuh ditangannya, maka kau akan mengalami hal yang sama dengan ku."


Miyuki menunduk wajah sedihnya. "Apa yang harus aku lakukan, ibu? Dia pasti kesakitan bukan?"


"Yang perlu kau lakukan hanyalah memutuskan ikatan Mayumi ditubuhnya."


"Ma-mayumi? Sudah ku duga, dia masih hidup bukan?"


Moyuka membenarkannya. "Dia memalsukan semuanya dan berdiam diri di China, benar-benar bodoh ya."


"Lalu, dengan cara apa yang bisa memutuskan ikatan itu?"


"Cinta." Jawab Moyuka singkat dan jelas bahwa hanya cinta yang bisa mengembalikan tubuh Ryuzaki.


Miyuki tampak gemetar karena cintanya pada Ryuzaki tak mampu membuat Ryu mencintainya.


"Aku mengerti Miyuki, apa setidaknya kau mencobanya?" Moyuka berwajah tenang dan lembut mencoba menyakinkan sang anak untuk melakukannya.


"Aku berhutang budi padanya karena telah mengembalikan tubuh anakku yang periang, tapi kutukanmu tidak bisa membuat tubuhmu normal."


"Tubuhku tidak normal?"


"Benar, kau tidak bisa memiliki keturunan. Jika itu terjadi, maka anakmu akan menerima penderitaan berkali lipat darimu. Itulah mengapa aku pernah membencimu karena sebagai ibu tidak tega melihat anaknya mendapatkan hal yang ditakuti jauh lebih menakutkan daripada ibunya sendiri."


"Aku sudah menduganya ini terjadi padaku."


"Lihat, tanda itu berubah."


Tanda lahir dileher Miyuki berubah warna merah dan bercorak rubah terbalik.


". . . . . . !"


"Jika dia menggigitmu lagi hingga tanda itu memar menghilang maka kekuatan mematikan akan menguasai hati, pikiran dan tubuhmu."


"Dan. . Kau bukan manusia lagi maupun istri Ryuzaki, hidupmu akan berakhir kekosongan."


Miyuki tak bisa berkutip lagi. "Sepertinya waktuku hampir habis. Padahal aku ingin bicara lebih lama denganmu, Miyuki."


"Tapi sebelum itu, aku ingin memberitahumu agar kau mengubah klan master."


"Mengubah klan master?"


"Hentikan perbuatan Victor Rihito, dia dalang semua ini terutama penderitaanmu, Ryuzaki, Mayumi dan Klan master."


"Victor Rihito?"


"Mereka sudah dipermainkan oleh tipu daya Victor, jadi aku minta kau membuktikan kebenarannya."


Ucapan Moyuka berakhir dan menghilang, "aku mengandalkanmu, Miyuki."


Miyuki masih terdiam dan tangannya sedikit mengepal. "Kenapa ibu tau semuanya? Tapi, tapi. . aku sangat takut melakukannya."


Dia menatap sedih pada Ryu yang masih pingsan. "Apa yang harus aku lakukan, Ryu?"


••


Setelah kejadian itu, Miyuki masih berwajah sedih menatap dirinya dihadapan cermin. Matanya menyaksikan bekas gigitan masih terlihat dilehernya.


"Ini sudah seminggu, gigitan ini masih membekas ya." Sambil menutupi bekas itu dengan perban kecil lalu membalut lehernya dengan syal miliknya.


"Miyuki?" Terdengar suara Ryu memanggilnya dari depan pintu kamarnya.


"Ya, aku datang."

__ADS_1


Ryu yang akhirnya sehat kembali itu menerima pesan dari ibunya.


"Apa kau masih hidup? Jika kau masih hidup datang ke rumah atau kau tidak bisa pulang dengan aman, jangan lupa ajak guardianmu."


"Aku masih hidup kali." Dia bermata setengah terbuka lantas menggerutui pesan ibunya.


Miyuki datang menghampiri Ryu yang masih menunggunya di ruang tamu.


"Ada apa Ryu?"


"Ada pesan, dia meminta kita ke rumahnya."


Miyuki sedikit khawatir akan ada masalah antara dia dan Ryu.


"Tenanglah, ini bukan hal serius kok."


Meskipun wajah Ryu sulit ditebak, tapi hatinya ikut tidak tenang melihat istrinya masih melukiskan wajah cemasnya.


"Ngomong-ngomong ada apa dengan lehermu? Ini bukan musim dingin kan?"


Ryu mengerutkan keningnya melihat Miyuki memakai syal kecil seolah menutupi sesuatu dilehernya.


"Apa ada sesuatu?"


Miyuki bingung menjawabnya dan mulai berpikir selama 10 detik. Dia cemas Ryu tau soal tanda dilehernya maka dari itu lebih baik memilih berbohong.


Hacchi!!


Ryu mendengarnya langsung termakan jebakan istrinya. "Ooh, kau masuk angin ya."


Miyuki menganggukkan kepalanya dengan benar. Namun suasana hatinya tidak nyaman sudah membohongi pada suami sendiri padahal dirinya sudah berjanji akan jujur apapun pada Ryu.


Pria itu menarik kedua tangan istrinya lalu mencium punggung tangannya. "Terima kasih sudah merawat ku."


Miyuki hanya bisa menunjukkan senyum pahitnya dihadapan suaminya. "Syukurlah, kau sudah baikkan."


"Kalau begitu kita berangkat."


"Baik."


••


Di kediaman Nishimura, Ryu bersama Miyuki tiba ditempat itu tepat waktu. Akan tetapi, beberapa pengawal Nishimura mengelilingi keduanya.


"Ada apa ini?"


"Tahan guardianya." Suara Miya muncuk memerintahkan para pengawalnya menahan Miyuki.


Miyuki berwajah sedih hanya membiarkan mereka menahannya. Ryu tidak terima, "tunggu!"


Wajahnya tertulis sebuah pertanyaan, ada apa ini? Miya berdiri tepat dihadapan keduanya dan berwajah tidak senang hati.


"Kau harus tau kebenarannya, Ryuzaki."


"Kebenaran? Apa maksudmu, ibu?"


Miya mengabaikan pertanyaan kedua kalinya karena merasa muak menjelaskan panjang lebar pada anaknya yang masih tidak mengerti.


"Bawa dia ke laboratorium." Memerintahkan para pengawalnya membawa Miyuki pergi dari tempat ini.


"Tidak, aku tidak mengizinkannya."


"Ryu? Aku, baik-baik saja. Lebih baik kau dengarkan apa yang ibumu katakan padamu."


Dia melebarkan senyum palsunya. "Berjanjilah kau tidak marah tapi. . Jangan mengkhianati ku, oke?"


Ryu masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan dari ucapan istrinya. Para pengawal itu membawa Miyuki pergi dan meninggalkan tempat itu.


"Kenapa?!"


"Tubuhmu sedang dalam bahaya." Suara familiar itu muncul dan berdiri disamping Miya.


Kedua mata Ryu terbuka melebar, "Victor Rihito?!"


Sementara Miyuki bersama dua pengawal Nishimura sedang dalam perjalanan. Wajahnya masih terlihat sedih,


"Maafkan aku Ryu, yang perlu ku harapkan kau bisa mempercayai ku daripada orang lain karena... Semua ini hanyalah rekayasa belaka, kau tidak terima itu kan?"


Tiba-tiba mobil itu berhenti membuat dua pengawal itu panik dan bingung. Miyuki hanya diam melamun dan mengabaikan situasinya.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tau, sepertinya seseorang menghalangi jalan."


"Siapa?"


Dua orang itu keluar tapi setelah satu menit, mereka tidak kembali. Miyuki ikut keluar menyaksikan mereka jatuh babak belur.


"Kau baik-baik saja?"


"Pergi dari sini, selamatkan dirimu nona."


Miyuki memeriksa kondisi mereka memburuk, namun mereka memintanya pergi dan tidak perlu mementingkan mereka karena yang terpenting keselamatan Miyuki.


"Baiklah."


"Jangan bergerak!" Seru nada familiar itu membuat Miyuki terdiam sejenak.


"Suara itu?" Perlahan-lahan dia berbalik dan menatap pistol bersama seseorang tepat dihadapan matanya.


"Eh?. .EEEEHHHHHH?? ITU MIYUKI?!"


"Apa yang kalian lakukan disini?"


"Menculikmu." Jawab Arata tampak santai meski Lina dan Ito menatap protes karena telah memberitahunya.


"Opps, keceplosan deh."


"Huh?"


••


Suasana masih terasa panas melihat Ryu menatap nan amarah pada kakeknya alias ketua klan master diseberang tempat duduknya, Victor Rihito. Dua wanita bersaudara juga tidak mau ketinggalan dalam pembicaraan antara kakek dan cucu, namun dua guardian mereka alias Aori dan Minami harus menunggu diluar hingga perbincangan itu selesai.


"Menikahi dengan gadis itu tanpa seizin ku, dasar tidak sopan sekali."


"Hei kakek tua, kau tidak berhak menentukan masa depanku maupun atas izinmu karena kau hanyalah seorang kakek tua yang duduk di rumah berturut hari, merepotkan."


Kata-kata Ryu terdengar mengejek, alangkahnya tidak baik melawan orang tua apalagi seorang kakek dan patutnya dia perlu menghormatinya tetapi sikap dinginnyalah membuat mereka muak.


"Sopan sedikit Ryu." Tentunya Miya tak tinggal diam menegurnya.


"Kau masih saja tidak sopan yah, kapan kau bisa sopan sedikit pada keluargamu?"


"Sampai aku menyaksikan kuburanmu."


Ryu makin melawan hingga kakek tua itu tak bisa berkutip lagi, dia memilih diam daripada berbicara omong kosong pada cucunya karena akan menghambat masalah saja. Nantinya pembicaraan mereka gak bakal berakhir.


"Kalian yah tidak ada akurnya, baiklah langsung ke intinya. Ryu, ku dengar dari dia kalau kau tidak sadar selama tiga hari dan demammu tidak turun benarkah itu?"


Maya memulai pembicaraan yang ingin dibahas dan mengabaikan kakek dan cucu itu tidak ada akurnya sama sekali. Dan jawaban Ryu membenarkannya.


"Ini bukan pertama kalinya kau merasakannya bukan?"


"Tentu saja."


"Biarkan aku melihat tubuhmu"


"Kakek mesum!"


"Diam mulutmu!"


Ryu menyerah dan memperlihatkan setengah tubuhnya pada mereka.


". . . . !"


"Ini...?"


Mata mereka terbuka lebar melihat bayangan rantai merah mengikat tubuh Ryuzaki. Tentunya mereka tidak mampu melepaskannya, sesuatu mengingatkan si kakek tua itu.


"Jadi begitu." Diam-diam bibirnya tersenyum buaya.


Ryu menyadarinya sambil memasang kemejanya kembali.


"si kakek tua itu ya, apa lagi dia rencanakan?"


"Ada apa ayah?" Miya mulai bertanya terlebih dahulu.


"Itu kutukan."


Lantas ketiga orang itu setengah percaya karena khawatir ini hanyalah rekayasa palsu.


"Biar ku bertanya, apa gadis bersama cucu ku itu putri Elizabeth?"


"Bagaimana ayah tau?"


"Aku bisa merasakan kehadirannya maupun keberadaannya, ku pikir ibunya terkutuk itu akan membunuhnya, dia tidak ada gunanya sama sekali ya."


"Lalu, apa maksudnya kutukan yang ditubuh keponakan ku? Kau ingin mempermainkan anakmu?"


Pertanyaan Maya ini benar-benar serius karena tingkat kewaspadaannya.


"Aku ini ayahmu, mana mungkin mempermainkan anak sendiri. Hei Ryuzaki, apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu? Kau membebaskan sesuatu ya?"


"Apa maksudmu? Aku hanya membebaskan penderitaannya itu saja."


"Kau benar-benar bodoh ya."


"Hm?"


"Penderitaan itu jelas sudah mengikat ke tubuhmu."


"Untuk apa dia mengikatnya ke tubuhku? Dia bukan orang yang kau maksudkan kakek tua."


"Jangan meremehkan kataku! Dia mengikatmu agar bisa mengontrol tubuhmu dan menggunakanmu sebagai senjata spesial."


Ryu terdiam sejenak dan berpikir kalau ada ucapan tidak beres dari si kakek tua itu.


"si kakek tua ini, apa dia mengatakan dengan benar kah? Mungkin sebagiannya ada benarnya sih tapi. . . Mengapa Miyuki terluka dan mengatakan kalau aku ingin membunuhnya?"


"Benarkah itu?" Maya yang tadinya sangat berwaspada jadi lengah. Dia bersama Miya juga merasa benar apa yang di katakan Rihito.


"Tentu saja, mulai sekarang tinggalkan dia jika tidak kutukan itu akan meregut nyawamu. Kau tidak menginginkan hal ini terjadi bukan?"


Ryu bangkit dari tempat duduknya, "jangan mengelabui ku, kakek tua."

__ADS_1


"Hmph! Tidak sopan ya, biar ku peringatkan gadis kutukan itu tidak akan pernah bisa memiliki keturunan."


"Apa?" Ryu terkejut dan dia duduk kembali. Rihito dengan senang hati itu meyakinkan Ryu agar segera meninggalkan istrinya.


"Atau begini saja, bunuh dia agar tubuhmu normal kembali karena bersamanya saja sudah membuatmu lemah tak berdaya dan perlahan-lahan kau akan menjadi debu yang sia-sia."


"Sayang sekali ya.."


Ryu menundukkan wajahnya sambil menyembunyikan rasa amarahnya.


"Apa aku harus mempercayainya? Miyuki, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika itu benar dan aku mengkhianatimu? Aku tidak tau mana yang benar-benar jujur padaku."


Miya menerima panggilan dari salah satu pengawalnya yang sebelumnya ditugaskan membawa Miyuki ke Bangunan Penelitian Laboratorium.


"Ada apa?"


"Halo, nyonya Miya-sama. Maafkan kami, sebelumnya diperjalanan kami tiga orang asing menghalangi jalan kami dan menculiknya."


"Apa katamu?!"


Nada syok Miya membuat ketiga orang itu penasaran apa yang terjadi dalam pembicaraan itu.


"Lalu, apa kalian menemukan lokasinya?"


"Kami sempat mengejarnya dan untungnya kami berhasil menemukan lokasinya."


"Bagus, kirim pengawal dan tangkap mereka. Pastikan kalian mengirimnya ke laboratorium untuk pemeriksaannya tapi sebelum itu siapkan rencana, mengerti?!"


"Mengerti!"


Panggilan itu akhirnya berakhir, "apa yang terjadi?" Maya duluan bertanya.


"Dia diculik dan mereka juga sudah menemukan lokasinya."


"Aku akan pergi ke sana."


"Tidak Ryu, tubuhmu bisa berpengaruh dan akan kerepotan menghentikanmu."


"Aku mengizinkanmu."


"Ayah?!"


"Sekalian kau membunuhnya, sebelum terlambat.""


Tatapan Ryu jadi ragu menmyakinkan ucapan si kakek tua itu tetapi tangannya mengepal erat hingga kata-kata yang pernah diucapakannya dihadapan istrinya masih terbayang di kepalanya.


"Aku tidak bisa membunuh orang yang sudah menyelamatkan hidupku di tempat ini, tapi aku bisa saja membunuh orang yang sudah melukainya."


••


Sebelumnya Miyuki memilih ikut dengan Ito bersama Lina dan Arata. Mereka menempatkan diri di tempat persembunyiannya seperti biasa.


"Apa yang terjadi padamu setelah menghilang dari Matsumoto-sama?"


"Seseorang memberitahuku, Matsumoto-sama salah satu anak Victor Rihito. Jadi aku kabur dan ikut bersamanya."


"Seseorang memberitahumu? Siapa?"


Suara langkah terdengar dari pintu ruang tamu dan menyapa Miyuki dan lainnya.


"Yo! Selamat siang, Miyuki."


Miyuki terdiam 3 detik, "Ayah?!"


"AYAH??"


Tak lain sosok pria gagah dan tampannya diwarisi anaknya, Tatsuro Nishimura.


"Uhm maksudku, ayah mertua ku."


"APA??"


Ito tak bisa berkata-kata setelah tau Tatsuro adalah ayah Ryuzaki dan mertuanya Miyuki. Tatsuro duduk santai itu melebarkan senyumannya dihadapan dua orang itu.


"Terserahlah, sekarang aku lega kita bisa bertemu denganmu lagi, Miyuki."


"Anu..kenapa Arata dan Lina bisa bersama dengan kalian?"


"Kau masih ingat saat mereka menyerangmu, aku minta mereka menghentikannya dan bergabung tetap tinggal di tempat ini."


"Ooh, begitu ya."


"Bagaimana kabarmu dengan pria itu?"


Tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Tatsuro membuat Miyuki gemetar menjawabnya, dia memilih menundukkan wajahnya.


"Apa sesuatu yang terjadi pada kalian?"


"Ryu. . Tidak, dia bukan Ryu yang ku kenal."


"Apa maksudmu, Miyuki?"


Dua pria itu tak mengerti apa yang diucapkan gadis ini. Diam-diam tangannya melepaskan syal dilehernya lalu memperlihatkan gigitan seorang masih membekas dilehernya.


". . . . !"


"Jangan bilang kalau dia. . .!"


Mereka menebaknya dengan benar kalau Ryu yang membuat Miyuki ketakutan.


"Sudah ku duga ini yang terjadi padanya."


"Ibu ku sempat bilang Mayumi-sama masih hidup."


"Benar Miyuki, aku bertemu dengannya di sana Matsumoto-sama memintanya pulang tetapi dia menolak."


"Tunggu? Kau bertemu dengan ibumu? Elizabeth Moyuka bukan?"


Lagi pertanyaan kedua kalinya dari Tatsuro membuat Ito dan Miyuki terdiam sejenak.


"Elizabeth? Nama ibu ku Yamashita Moyuka."


"Tidak, itu nama penyamaran saja. Tapi syukurlah, kau bisa bertemu dengannya. Apa yang dia sampaikan padamu?"


Tatsuro menyampingkan ekspresi Miyuki tidak mengerti, dia malah penasaran jawaban Miyuki. Dia sedikit bingung dan berpikir akan jawabannya.


"Aku harus mengubah klan master dan menghentikan kelicikan Victor Rihito."


"Lagi?"


"Mengembalikan tubuh Ryuzaki."


"Itu dia, kau yakin akan melakukannya? Kau tau kan, dia masih punya perasaan dengan Mayumi?"


"Ehrr, yahh aku akan berusaha, karena dia sepertinya menderita tapi itu cukup menakuti ku." Sambil menutupi lehernya dengan syalnya kembali.


"Aku mengerti Miyuki, jika tanda itu hilang kau bukan manusia lagi kan? Tetapi jika itu terjadi, maka penawarnya sudah terjawab."


"Ketika pasien emergensi, apa yang kau lakukan Miyuki?"


Kali ini Tatsuro bermain dalam sebuah pertanyaan yang menantang Miyuki. Ito hanya diam menyaksikan pembicaraan mereka begitu serius.


"Tentu saja menyelamatkannya."


"Menyelamatkan bukan hanya sekedar mengucapkannya tetapi tekad dan perasaan menyatu untuk menyelamatkannya."


"Terkadang takdir itu bisa berubah loo."


"Jawabannya tekad cinta kalian."


"Huh?" Miyuki tidak percaya tapi dalam 2 hingga 3 detik sebuah memori mengingatkannya yaitu tekad kehidupannya bersama Ryuzaki dimalam itu.


"*ini tekad kedua ku yaitu tanggungjawabku sebagai istrimu dan pekerjaan ku."


"bagaimanana denganmu Ryu?"


"Sebelumnya aku bertekad menjadi pria yang bertanggung jawab tapi.. buktinya aku begitu pengecut soal cinta."


"Saat itu aku benar-benar terselamatkan karenamu."


"Bisa dibilang begitu, Ryu."


"..tapi setelah itu kau punya tekad baru bukan?"


"Entahlah, aku tidak mengerti. Bisakah aku mencintai orang lain selain dia?"


"Jawaban itu ada diperasaanmu, Ryu."


"Kalau begitu, bagaimana saja aku bertekad untuk mencintaimu Miyuki*?"


Tangan Miyuki tampak gemetaran. "Kekuatan cinta? Aku meragukannya."


Tiba-tiba Ito terpikir sesuatu, "ngomong-ngomong dari awal ini pertama kalinya paman banyak bicara soal ibunya Miyuki. Memangnya kalian punya hubungan apa?"


Tatsuro tersenyam-senyum sendiri. "Banyak hal yang belum diketahui oleh kalian tapi sebelum semua hal itu terjadi, dia adalah. . . Kekasih ku."


Lantas dua orang itu teriak kaget. "BENARKAH?!"


"tapi, kenapa ayah dan ibu ku begitu tau hal ini?" Tanya Miyuki.


Tatsuro membuang hela nafasnya penuh lembut dan berarti bahwa,


"Karena itu takdir antara manusia, kutukan dan setengah kutukan maupun manusia. Dulu mereka sangat damai di dunia ini, tetapi ketika iblis itu datang menyamar seolah dialah tuhan yang maha tahu dan pengatur dunia, dia membubarkan mereka menjadi musuh akibat kelicikannya hingga terjadilah perang militer sampai saat ini."


"iblis? Apa dia masih ada?"


"Tentu, dia Victor Rihito. Kakek Ryuzaki."


"Mungkin sekarang Ryu sudah tenggelam dari kelicikannya tapi apa kau siap membangunkannya? Kau pasti bisa Miyuki memutuskan ikatan itu."


Ito diam-diam mengambil sesuatu lalu memberikan pada Miyuki.


"Apa ini?"melihat kotak kecil dan panjangnya setinggi 160cm


Tatsuro dengan senang hati menjawabnya, " Katana Yamashita adalah pedang yang diwariskan pada generasi Elizabeth selanjutnya yaitu Miyuki."


Miyuki menerimanya dengan sopan, "terima kasih ayah, kapan ada waktu bisakah kau menceritakan kisah perjuangan ibu ku, aku ingin mengetahui dirinya."


"Hm..lihat saja kalau ada waktu."


Tak terasa waktu seiringnya berjalan, mereka menyadari suatu hal yang tidak beres.


"Rumah ini sudah dikepung ya." Ucapan Tatsuro bernada dingin nan santai.


"Sepertinya ini baru dimulai ya."

__ADS_1



{Bersambung. . . }


__ADS_2