Emergency Love

Emergency Love
Cahaya Eidos


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, fantasi, komedi


Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.



"R-ryu...z-zaki?"


"Mayumi?"


Mayumi benar-benar terkejut bertemu dengan Ryu yang kebetulan lewat, hingga pipinya ikut memerah entah apa perasaannya saat ini melihat sosok pria yang sudah lama tak bertemu selama 7 bulan.


Tidak hanya itu bibirnya gemetar dan kaku mengucapkan sesuatu pada Ryu. Namun, saat ini Ryu tidak punya mood untuk mengekspresika rasa senangnya atau terkejut melainkan wajah itu hanya terukir dingin nan biasa, seolah dirinya bertemu dengan orang baru.


"Kebetulan sekali ya." Ucap Ryu membuka percakapannya terlebih dahulu.


"Hehehe...benar, k-kebetulan sekali." Balas Mayumi dengan wajah pahitnya nan gugup itu.


"Lama tidak bertemu yahh." Tambahnya mencoba untuk menyapa Ryu dengan sopan.


Ryu tidak menanggapinya maupun menunjukkan ekspresinya pada Mayumi karena Ryu benar-benar gerah berhadapan dengan gadis itu.


"Ooya, k-ku dengar k-kau sudah menikah kan? K-kenapa kau tidak menunggu ku a-atau tanya p-padaku? I-itu pasti sulit untuk melupakan ku, b-bukan?"


Mendengar ucapan Mayumi, Ryu sudah tidak tahan menatap gadis bermuka dua dan sayangnya pria itu memilih tidak meresponnya.


Meri disamping Mayumi itu tampak curiga pada sikap Ryu begitu cuek hingga membuat Mayumi jadi kesulitan membenarkan sikapnya.


"Siapa pria ini? Kenapa dia diam saja dan tidak menjawab pertanyaan mayumi-sama?"


"Mayumi?" Akhirnya Ryu memanggil namanya membuat Mayumi tak sabar mendengar respon Ryu melihatnya kembali.


"Ya?"


"Melihatmu sudah kembali, rasanya menjijikan." Jawab Ryu.


"Huh?"


Mayumi tidak tau menunjukkan ekspresi apalagi, rasanya benar-benar ternodai oleh ucapan Ryu, mengatakan dirinya hanyalah menjijikan. Kedua mata gadis itu membulat lebar tak sanggup untuk menanggapinya.


Bahkan Meri juga terkejut mendengarnya dan ini pertama kalinya dia melihat wajah sedih Mayumi yang ternodai oleh Ryu.


Dengan ucapan Ryu yang singkat nan menyakitkan memilih masuk ke mobilnya kembali tanpa mengucap pepatah kata pamit lagi pada Mayumi.


Mayumi tidak terima mendengar ucapan itu sudah menodainya, "kenapa?!" Serunya.


Dengan melantang nada tinggi Mayumi membuat langkah Ryu berhenti tepat disamping mobilnya, dia membalikan badannya lalu menatap Mayumi bersama Meri.


"Apa kau punya cermin di rumah? Jika kau memilikinya, perhatikan baik-baik dirimu karena saat ini banyak darah menyelimutimu." Sindir Ryu.


"Apa?"


"Kau terlalu berlebihan hingga malah mempermainkan ku, aku terlalu bodoh mengejarmu saat itu akibat perasaan bodoh ini dan bagaimana pun itu kelembutan hatimu tidak setulus dengan Miyuki."


Kedua tangan Ryu mengepal erat mengingat saat Miyuki tak berdaya jatuh dari bangunan lantas membuatnya ingin marah pada Mayumi. Akibat gadis itu lah sudah meregut nyawa kekasih satu-satunya.


"Tenangkan dirimu Ryu..." Tiba-tiba suara lembut nan familiar itu terlintas dipikiran Ryu. Membuat kedua matanya terbuka lebar hingga rasa amarah mereda kembali.


Tanpa kata pepatah lagi, baik Mayumi maupun Ryu bubar. Pertemuan singkat tadi rasanya menyakitkan hingga Mayumi tak kuat menahan rasa sakit pada hatinya itu jatuh bertekuk lutut.


"Mayumi-sama?" Meri mencoba untuk menenangkannya, tetapi wajah Mayumi tampaknya dibanjiri oleh airmata.


"Hikss...kenapa, Ryu?"


"Kenapa kau mengatakan seperti itu padaku? Padahal kau cinta mati padaku, hikss...."


"Hikss...salahku apa, Ryu?"


Meri yang mendengarnya tak tega menatapnya. Dia memilih untuk memeluk gadis itu karena hanya pelukan satu-satunya yang bisa menenangkan orang karena pelukan itu hangat.


"Yang sabar Mayumi-sama, semua yang dikatakan pria tadi memang benar bahwa saat ini kau menjijikan, seharusnya kau berpikir menuntaskan dendammu dengan cara baik bukan cara yang kotor." Batin Meri.


Dia hanya diam menenangkan Mayumi, perlahan-lahan Meri sadar bahwa pria tadi adalah suami Miyuki, dia ingin mengatakan sesuatu padanya. Tetapi dia harus menepatkan waktu agar tidak ketahuan oleh Mayumi maupun klan cabang Shimizu.


"Lain kali aku akan menemukannya."


•••


RS Aizawa, baru saja Hiroishi selesai menjalani beberapa operasi.


"Kerja bagus semuanya." Ucapnya pada para perawat yang membantunya.


"Dokter juga melakukan tugas dengan baik hari ini."


"Ngomong-ngomong kemana perawat cadanganmu? Ku dengar sebulan lalu, dia menjatuhkan tubuhnya dari bangunan, bukan?" Tanya Sakura alias mantan rival Miyuki.


Hiroishi hanya menepuk pundak Sakura dengan lembut dan mencoba tersenyum padanya.


"Yahh begitulah."


Sakura merautkan wajah sedihnya karena merasa bersalah pada Miyuki. Hiroishi dengan lembut itu menenangkannya.


"Jangan khawatir, semua itu tidak terlambat kok hanya saja..kau akan terkejut ketika dia melupakannya."


"Huh? Apa maksudmu dokter?"


"Entahlah, nanti juga kau akan mengerti. Bekerjalah, aku ada urusan penting di luar."


"Ohh...b-baik."


Sakura tidak mengerti apa yang dimaksudkan Hiroishi, dan pria berjulukan monster hitam itu berusaha menghindar dari pertanyaan Sakura karena tak ingin melibatkannya dalam masalah Miyuki. Siapapun berhubungan Miyuki akan menerima konsekuensinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya suara familiar itu telah mendengar pembicaraan Hiroishi dengan Sakura.


"Kau tidak sopan menguping, Yuri."


Yuri malah cemberut hingga Hiroishi memujinya. "Ahhh kau imut Yuri."

__ADS_1


Mendengar pujian menjijikan itu lantas tangan Yuri siap-siap memukul tepat wajah Hiroishi.


"Kau itu ya!!...."


Namun, Hiroishi yang santai itu menangkap tangan Yuri dengan mudah.


"Lepaskan! Tanganku sakit tauuuu!"


"Mari bicara baik-baik, Yuri." Ujar Hiroishi berwajah tenang nan santai itu sambil mengajak Yuri bicara di tempat lain.


Hiroishi menceritakan keadaan Miyuki sebenarnya, bahwa itu benar Miyuki meninggal dunia. Tetapi Ryu tidak terima, dia memilih menghidupkan kembali dengan perawatan Eidos alias Eidose Mahou yaitu penggabungan antara dua gen yang bisa menghasilkan buah ovarium hingga terlahirlah sebagai modifikasi atau buatan, tidak hanya itu Eidos juga salah satu perawatan terlarang.


"Tapi...!" Yuri tidak setuju jika Ryu melakukan hal melewati batas.


"Aku tau itu." Jawab Hiroishi.


Dia bersikeras bahwa apapun yang menghalangi Ryuzaki, pria berjulukan buas petir akan melakukan cara apapun menghidupkan Miyuki.


"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Yuri tentang hasil yang dilakukan oleh Ryuzaki.


"Hampir 100% selesai, jika itu berhasil maka dia bukan Miyuki tetapi Miyuki yang telah lahir."


"Tidak mungkin."


Yuri bahkan tidak percaya jika proses Eidos itu berhasil maka Miyuki telah kembali tetapi tidak dengan memori lama melainkan telah lahir ke dunia ini.


•••


Kota Chiba, sebuah helikopter telah mendarat disalah satu bangunan kecil hingga dua sosok terlihat keluar dari pintu helikopter yaitu Mayumi bersama Meri.


"Hampir satu kota ini hancur, Mayumi-sama."


"Kau benar, Meri."


"Berikan teropongnya padaku." Sahut Mayumi meminta teropongnya pada Meri.


"Baik, silahkan." Dengan sopan, Meri memberikannya.


Dengan menggunakan teropong kecil, Mayumi melihat beberapa orang menderita bahkan puluhan orang sudah menjadi mayit dan dia menangkap sesuatu.


Salah satu orang asing mengenakan seragam militer kerajaan dengan memegang senjata tajam tipe 98, tidak hanya itu Mayumi juga melihat lambang di seragam orang itu.


"Ternyata orang-orang yang menyerang tempat ini adalah pasukan aliansi Amerika, kerajaan Elizabeth." Ucap Mayumi pada Meri.


"Tidak mungkin, tapi untuk apa mereka menyerang tempat ini. Bukankah militer jepang dan amerika sudah sepakat untuk damai?"


"Tidak Meri, pasukan amerika bukanlah dari militer biasa tapi dari kerajaan Elizabeth."


"Ku rasa mereka mencari sesuatu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mayumi-sama?"


"Menggagalkan rencana mereka." Sambil mengeluarkan senjata besarnya tipe sihir penghancur no 62, mode destroyer.


Mayumi mengarah senjatanya disalah satu target, kemudian mempersiapkan diri membidiknya dengan benar.


"Target telah ditentukan, mode destroyer diaktifkan,"


"Tiga, dua, satu, tembak!!"


Mayumi dan Meri terkejut, peluru tadi bukannya meledak tepat di sasaran melainkan hancur debu di tengah jalan.


"Apa yang terjadi?" Mayumi heran,


"Seseorang membatalkan serangan, tapi siapa yang melakukannya?!"


Diam-diam Meri meneropong sesuatu di atas bahwa seseorang pria mengambang dilangit dengan menggunakan sarung tangan God of Design, tidak hanya itu tangan satunya memegang senjata taurus.


"B-bukankah orang itu...adalah pria tadi?"


"Ada apa Meri?" Tanya Mayumi.


"Apa kau melihat sesuatu?"


Mendengar pertanyaan Mayumi mulai curiga lantas membuat Meri terkejut dan berkeringat darah ingin menjawabnya,


"Aahh tidak juga, aku hanya memeriksa peluru tadi. Ternyata benda itu benar-benar dihancurkan, aku jadi penasaran siapa yang melakukannya."


Meri memilih menyembunyikan apa yang barusan dia lihat, begitu dia memeriksanya lagi pria itu sudah menghilang.


"Cepat sekali, tapi aku yakin orang itu adalah pria yang melukai Mayumi-sama." Batinnya.


"Sepertinya seseorang sedang mengawasi kita, apa sebaiknya kita pergi dari sini sebelum konsekuensinya datang." Ucap Mayumi.


"Baik."


Mayumi dan Meri pergi dari tempat itu, mereka menduga bahwa akan ada perang diantara Elizabeth. Meskipun mereka kurang tau maksud kedatangan pasukan aliansi Elizabeth ke tempat itu.


Dan orang yang mengawasi Mayumi dan Meri adalah Ryuzaki, dia sengaja membatalkan serangan Mayumi agar tidak membuat kekacauan karena jika hal itu terjadi maka hari ini akan terjadi yang namanya perang.


"Aliansi Elizabeth? Apa karena ingin mencari Miyuki?"


•••


Lujinian kembali kediamannya, tak disangka begitu kembali seseorang menyambut kedatangannya dengan membidik pistolnya tepat dibelakang Lujinian.


"Ara...ara, kau tidak sopan, Rihito-sama." Bahkan pria itu sadar kehadiran Rihito dibelakangnya.


"Darimana saja?" Tanya Rihito.


"Harusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu padamu, Rihito-sama. Karena akhir-akhir ini kau menghilang tanpa mengirim kabar maupun laporan padaku." Jawab Lujinian menyebarkan wajah damai nan lembutnya.


Kemudian berbalik menatap Rihito, sambil menangkis pistol milik kakek tua itu.


"Sebagai kepala klan master juga punya hak menjatuhkanmu, jadi jangan seenaknya kau mengulangi perbuatan mu tadi, bisa saja aku menggantikan gelarmu menjadi bawahan ku." Ucap Lujinian mencoba beri ancaman pada Rihito.


"Kau kejam, Lujinian." Balas Rihito tersenyum tipis penuh aura mencurigakan.


Dua pria itu dilanda oleh perang dingin hingga suasana itu jadi dipenuhi aura gelap mengelilingi mereka.


"Apa kau menghilang hanya karena membawa gadis penyihir strategis itu pulang ke tempat ini?" Tebak Lujinian memulai buka bicara terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku menjawabnya dengan benar?"


"Aku akan bertanya alasan mengapa kau membawanya kembali."


Rihito menghela nafas panjang, "saat ini klan master sangat membutuhkan kekuatan."


Lujinian mengerutkan kedua keningnya, "apa maksudmu?" Tanyanya tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Rihito.


"Kau tidak tau, saat kerajaan Elizabeth sangat marah padamu dan atasanmu karena telah membentuk klan master, tidak hanya itu.. Atasanmu itu sudah menyebarkan berbagai tekhnik sihir di tempat ini."


"Atasan ku tidak ada hubungannya dengan kerajaannya, tapi bukankah sudah jelas kau menjatuhkan atasanku?!" Seru nada dingin Lujinian hingga membuat tubuh Rihito tak bisa bergerak oleh mantra sihir Lujinian.


"Apa? S-sejak kapan....?!"


Lujinian membidikkan pistolnya tepat diubun-ubun kepala Rihito.


"Semenjak kau digelar sebagai ketua klan master, saat itu dan dimulai detik itu aku memata-mataimu."


Diam-diam Rihito tersenyum sinis kemudian menebaknya, "Sudah ku duga, kau akan memata-mataiku."


"Tentu saja, perbuatan licikmu itulah yang sudah menciptakan kegelapan antara klan cabang hingga mereka menderita."


"Siapa sebenarnya kau?!"


"Aku memeriksa datamu dan hasilnya kau bukanlah manusia yang berasal dari tempat ini."


Rihito tertawa besar, "hahahhahahaha! Memang benar asalku bukan dari dunia ini, tetapi aku hanyalah iblis yang menyamar untuk memusnahkan tempat ini."


"Lalu, dimana Rihito-sama yang asli?" Tanya Lujinian.


"Yang asli itu sudah ada ditubuhku."


"Apa?!"


Rihito dengan mudahnya itu menghancurkan sihir Lujinian yang sempat mengikat sendi tubuhnya.


"Jujur saja, sihir ini sangat lemah untukku."


Kemudian, pria itu menghilang tanpa jejak sedikitpun. Lujinian jatuh bertekuk lutut karena masih tak percaya bahwa Rihito adalah benar-benar seorang iblis.


"Tapi...untungnya aku merekamnya, aku harus memberitahunya sebelum klan master dikuasai oleh mantra tipu daya iblis itu." Gumamnya tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


•••


Lina bersama Arata menemui Ito dan Tatsuro di pusat Laboratorium.


"Apa hasilnya bekerja?" Tanya Lina pada kedua pria itu tentang hasil Eidos yang dilakukan oleh Ryu.


"Hanya tersisa 10% perawatan itu berhasil." Jawab Tatsuro.


"Ooh, kemana Lujinian-sama?" Tanya Arata melihat sosok Lujinian tidak ada disekitar tempat itu.


"Pulang ke rumahnya, ubi jalar." Jawab Ito santai.


"Aku bukan ubi jalar, aku juga punya nama tau!" Arata protes mendengar si elang putih memanggilnya “ubi jalar” lagi.


Lina ikut menanggapinya, "Yahhh, mau gimana lagi... Hiroishi sudah menjulukimu sebagai ubi jalar karena bentukmu mirip dan itu cocok untukmu kak Arata."


"Lina! Kau ikut jugaa!"


"Tentu saja."


"Oi kalian, apa buas petir itu sudah kembali?" Teriak Haru pada mereka.


"Belum." Jawab serentak keempat orang itu pada Haru.


"Ada apa kelelawar?" Tanya Tatsuro menghampirinya.


"Anu...tiba-tiba saja es eidosnya berwarna ungu dan...sepertinya tubuhnya membeku." Jawab Haru.


"Apa yang terjadi?" Tanya suara familiar itu akhirnya datang alias Ryuzaki.


"Syukurlah kau datang buas petir, coba liatt warna eidosnya berubah."


Ryu memeriksa data diagnosis Miyuki, tak disangka hasilnya sudah mencapai batas hingga dengan cepat, Ryu menghancurkan es Eidos yang membekukan tubuh istrinya dengan sekali pukulan.


"A-anu, apa yang terjadi? Mengapa kau menghancurkannya?" Tanya Lina.


Ryuzaki tidak menanggapinya, melainkan membawa tubuh Miyuki ke ruang isolasi untuk menghangatkan tubuhnya.


Lina khawatir itu mencoba bertanya sekali lagi pada Ryuzaki, namun Ito mencegahnya.


"Tidak Lina, saat ini kita tidak bisa mengganggunya."


"Itu benar, sekali saja kau mengganggunya maka kau akan terdiam selamanya."


Mendengar ucapan Tatsuro membuat Lina menelan ludah.


"Apa terjadi sesuatu perawatan Eidosnya?" Tanya Haru.


"Tidak juga, tubuhnya sudah mencapai maksimum. Jadi dia hanya tinggal menghangatkan tubuhnya." Jawab Ito.


"Bukankah itu terlalu cepat?" Tanya Arata sempat heran pada data diagnosis Miyuki terlalu cepat mencapai maksimum.


"Aku tidak tau karena dia melakukannya sendirian dan tidak ingin melibatkan seorangpun."


"Apa maksudmu, Tatsuro-sama?" Arata masih butuh jawaban dari Tatsuro yang diucapkannya tadi.


"Kau tau, melakukan perawatan Eidos itu sebenarnya menyerap sedikit demi sedikit kekuatan pemiliknya."


"Jadi...selama ini Ryu," Lina tampak terkejut bahwa selama Ryu melakukan perawatan Eidos ternyata menyerap kekuatannya. Tapi, apa Ryu baik-baik saja?


"Benar, tapi aku masih tidak percaya dia mampu bertahan melakukannya." Ucap Ito.


Mereka hanya diam berdiri melihat Ryu tampaknya berusaha keras menghangatkan tubuh Miyuki agar denyut nadinya normal kembali.


Hingga perlahan-lahan jari-jemari Miyuki bergerak, kemudian menyebut nama seseorang.


"R-ryu...."


"Miyuki?"

__ADS_1



{Bersambung. . .}


__ADS_2