Emergency Love

Emergency Love
Bab 42


__ADS_3

Aston Martin, mobil mewah yang dikendarai oleh Prada berhenti di sebuah kedai kopi kekinian. Greta berdecak kesal karena menyangka Prada tengah membohongi dirinya. Karena tadi suaminya itu mengatakan akan membawa Greta ke tempat rahasia.


"Aku udah kenyang," tolak Greta dengan enggan untuk keluar dari mobil. Dia menyangka jika Prada akan mengajaknya ngemil makanan manis karena Greta merengek ingin makan makanan manisa agar gula darahnya naik.


"Ayolah! staffku sedang menunggu kita. Kau bilang ingin tahu perkembangan kasus itu."


"Di sini? Yang benar saja?" Greta keluar dari mobil dan mengekori ke manapun perginya Pradabhasu sang suami.


Tidak ada yang berbeda dari kafe yang didatangi oleh Greta. Kafe yang menjual aneka minuman seduh dan dingin serta dilengkapi oleh hiburan live ini tak ubahnya sebagai sarana pelepas penat para remaja di tengah hiruk pikuk Ibukota.


Seseorang tersenyum menyambut keduanya, pria dengan rambut dikucir atas itu mendatangai Prada dan juga Greta.


Seperti sudah hafal betul dengan tempat ini, Prada berjalan terus dan terus hingga melewati deretan kursi. Langkah kaki pria itu belum juga terhenti hingga terdapat sebuah dinding pembatas di depannya.


"Jalan buntu!" ujar Greta memperingatkan Prada agar pria itu tidak terantuk oleh dinding tersebut.


"Tenang saja, Bu!" Rupanya pria berambut panjang yang diikat tadi masih berada dan terus berjalan di belakang Greta.


Tangan kanan Prada menarik sedikit sebuah lukisan danau dan awan. Hal biasa tersebut semakin membuat Greta ternganga hingga tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan Greta harus menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit karena takjub melihat lantai terbuka secara tiba-tiba hingga memperlihatkan sebuah tangga ke dalam tanah.


"Ayo!" Prada meraih tangan sang istri dan mengajaknya mengikuti langkah kaki jenjangnya ke ruang bawah tanah bangunan ini.


"Apa ini markas rahasia? Aku tidak menyangka jika di dunia ini ada hal seperti di film fiksi." Berulangkali Greta meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat adalah benar dan nyata adanya.


"Biasakan mulai sekarang!" sindir Prada, pria si pemilik tempat ini.


"Meski telat, perkenalkan saya Edo. Mantan anggota pasukan khusus yang dipekerjakan Pak Prada untuk mengelola tempat ini." Pria berambut panjang tadi memperkenalkan dirinya kepada Greta.

__ADS_1


Greta masih belum terbiasa dengan yang dia lihat ini, "Termasuk kedai kopi tadi?"


'Iya, saya merangkap sebagai pengelola kedai kopi dan juga barista."


Manik Greta menangkap sosok pria berbadan tegap yang baru diketahui staff Prada itu. Jika dilihat dari postur tubuhnya, tak salah jika Edo adalah mantan anggota pasukan khusus. "Tetapi, bartender juga?"


"Tenang saja, Edo cukup lihai menyeduh biji kopi. Dia memiliki sertifikat penggilingan kopi." puji Pradabhasu dengan candaannya karena melihat rona ketidakpercayaan dari Greta.


Mereka bertiga lalu sampai di sebuah bungker. Dalam sebuah tempat persembunyian ini, ada banyak gambar target dan juga skema yang tidak diketahui oleh Greta. Dan sama sekali, Greta tidak tertarik mengetahuinya.


Hingga dokter wanita itu melihat potret dirinya dalam balutan busana kelulusan dari universitas di luar negeri. Tentu saja Greta langsung bisa menemukannya dalam barisan foto kecil lainnya.


Langkah istri pengacara senior itu terhenti guna melihat potret dirinya. Namun, belum sempat Greta bertanya perihal ini pada Prada, terdengar langkah kaki bertautan dengan lantai.


Rupanya Wahyu lah seseorang yang baru datang itu, "Maaf aku telat!"


"Jangan mengada-ada, kita sudah sepakat, bukan?" Prada kembali mengingat perjanjian di antara keduanya.


Dahi Greta kembali mengerut dengan masuknya dia menjadi salah satu komplotan ini, "Lalu kenapa aku ada di sini?"


Prada tidak memedulikan sang istri, karena dia sibuk dengan laporan dari Edo yang telah berhasil membuka telepon genggam ayahnya. Prada berhasil menemukan bukti yang masih bisa diselamatkan oleh polisi yang dulu mengolah TKP.


"Karena Bu Greta adalah target partner Atasan saya." Jawaban dari Wahyu ini yang tak terduga ini sontak membuat Greta menelan salivanya dengan kasar.


"Target? Jadi selama ini? Bahkan dia juga mengawasi kehidupanku sejak dulu?"


Getir, ada getir yang tak bisa dilenyapkan oleh Greta. Hatinya terasa teriris hingga membuat dadanya sesak meski ruangan ini memiliki simpanan oksigen yang cukup.

__ADS_1


Tanpa menyadari perubahan di wajah sang istri, Prada terus membaca setiap log panggilan serta pesan dan juga aplikasi lain di ponsel milik sang ayah.


Dalam daftar panggilan terkini, atau beberapa menit sebelum jam kematian ayah Prada. Nama Rosaline berada di urutan pertama. Rosaline atau mantan istri ayah Prada adalah nama teratas disusul nama papa Greta pada urutan ke.dua.


Selain itu, dalam pesan yang sempat Prada baca, terdapat pesan dari Papa Greta. Namun, pesan tersebut tidak bisa dimengerti oleh Prada dan juga Edo. "Kamu tahu artinya ini, Yang?" Prada memperlihatkan pesan berupa kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan kesaksian kasus yang dulu ditangani oleh Ayah Prada selaku jaksa.


Meski hatinya masih bergejolak, tak membuat Greta menolak melihat pesan itu. Karena wanita itu tidak ingin membuat keadaan semakin kacau jika dia membahasnya di depan Wahyu dan juga Edo.


"Ini gaya bahasa Papaku, dia sering membuat kode berupa kata-kata yang sulit dimengerti orang lain. Aku akan mencoba memecahkan ini."


Lega jika Greta akan membantunya, dan tak menyadari hancurnya perasaan wanita itu membuat Prada kembali menyusun rencana untuk terus mengkaji ulang kasus yang dulunya dikerjakan oleh ayahnya.


Tanpa terasa, mereka telah menghabiskan banyak waktu di bungker ini. Hingga Prada berpesan agar Edo dan Wahyu menunggunya di sini karena dia akan mengantar Greta kembali ke rumah.


**


"Istirahatlah! kamu pasti lelah,"


"Apa semua ini hanya pura-pura? Kecelakaan mobil itu juga pura-pura?" Sempat tadi Greta melihat sebuah mobil dengan kerusakan ringan. Jika dilihat dari kondisinya, pantas saja Prada sempat mengalami kecelakaan mobil beberapa waktu yang lalu. Posisinya rusaknya mobil sama persis dengan posisi luka Prada yakni patah tulang di kakinya.


"Iya," sahutnya singkat tanpa menoleh ke arah Prada sama sekali.


"Jangan menungguku pulang! karena kemungkinan aku tidak pulang." pesan Prada sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya.


Kenapa harus menangis selama masih bisa tersenyum? Kenapa harus air mata yang keluar saat sedih mulai menyapa?


Karena hakikatnya hidup hanyalah permainan belaka. Banyak yang kalah jika tidak bisa mempertahankan logika

__ADS_1


...****************...


__ADS_2