
Setelah sehari melewatkan pernikahan itu, Ryu dan Miyuki masih tinggal di tempat yang berbeda. Meskipun keduanya adalah pasangan sah suami-istrinya, mereka tak bisa sedekat seperti pasangan lainnya masih ada keraguan diantaranya.
Dan malam masih terlihat di kediaman Shimizu, Miyuki tampak membereskan pakaiannya dan memasuki ke dalam kopernya karena besok dia bersama Ryu akan pergi liburan di Okinawa.
"Halo, anu...permisi, kak Hiroishi?" Sebelum itu, dia mengabarkan pada seseorang, karena akhir-akhir ini dia tidak bekerja di RS Aizawa.
"Kemana saja akhir-akhir ini? Apa mereka menyiksamu lagi?" Tentu saja, suara itu mau menjawab panggilan dari Miyuki.
"Banyak yang terjadi setelah Mayumi-sama pergi, maafkan aku, kak Hiroishi. . ."
"Aku mengerti, kau pasti menderita, bukan?"
"Sepertinya begitu, tapi..aku baik-baik saja." Suara Miyuki berusaha terdengar tegar.
"Aku tau jawabanmu terus seperti itu, tapi sampai kapan kau harus menahan beban itu."
"Aku tetap baik-baik saja, jadi tidak perlu khawatir tentang ku. Ooya..anu apa aku bisa minta cuti seminggu lagi?"
"Tentu saja, memangnya untuk apa cuti seminggu lagi?"
"Uhm..aku diajak pergi ke Okinawa."
"Begitu, baiklah. Jaga dirimu, jika kau sudah kembali kabari aku."
"Baik. Terima kasih banyak senior."
Panggilan itu berakhir, Miyuki yang masih berdiri disamping jendela kamarnya dan dipancari oleh sinar bulan. Salah satu tangannya mengepalkan ke dadanya dengan rasa cemas.
"Apa aku benar-benar bebas bersamanya?" Batinnya, perlahan-lahan wajah cemasnya itu tertuju pada bintang-bintang yang masih tertinggal di atasnya.
Kemudian, suara langkah terdengar itu datang dari belakangnya. Miyuki berbalik dan menatap takut,
"Selamat malam, guardian ku. . Waktunya hukuman spesial untukmu." Sapa dingin dari Matsumoto dengan membawa tali cambuk untuk memberikan kejutan spesial pada Miyuki.
Akibat Miyuki berani membantah perintahnya.
"..aku sangat takut, ibu."
••
Di bandara, kedua pasangan itu terlihat duduk menunggu waktu pemberangkatannya. Ryu bertanya-tanya melihat Miyuki tampak lelah dan terlihat bekas goresan di sekujur kedua lengannya.
"Apa yang terjadi?" Sebuah pertanyaan dari Ryu itu membuat Miyuki gemetar menjawabnya.
Dia memilih menundukkan wajahnya karena khawatir Ryu memarahinya. Namun, Ryu sedikit kesal tidak mendengar jawaban dari Miyuki.
Dia menarik dagu gadis disampingnya dengan kasar ke hadapan wajahnya,
"jawab pertanyaan ku!" Nadanya memaksa.
"Uhm..apa aku harus jujur?"
Ryu mendengus kesal, "apa perlu aku memberimu perhitungan?" Sambil melepaskannya.
"Maaf, sebenarnya mereka menghukum ku." Tutur Miyuki.
Ryu terdiam sejenak lalu mengingat suara kesakitan yang sempat didengarnya di Villa Mayumi, itu artinya suara itu adalah Miyuki.
"..tapi aku sudah terbiasa, jadi aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja katamu?"
Ryu menatap Miyuki lalu memegang salah satu tangannya.
"Meskipun kau sudah terbiasa, bukankah itu menyakitkan bagimu? Harusnya kau tidak perlu menahannya."
Entah mengapa, ucapan Ryu terdengar lembut dan perhatian itu membuat jantung Miyuki berdebar-debar.
"Hangat sekali." ini pertama kali Miyuki merasakan kehangatan dari sentuhan Ryu.
"Maafkan aku. . ." Hanya dua kata diucapkan Miyuki masih terdengar gemetar.
Perlahan-lahan Ryu menarik kepala Miyuki bersandar didadanya.
"Kau tidak bisa merasakan emosi itu pada orang lain. bukan? Maka dari itu kau bisa menumpahkan emosi itu padaku."
Dia juga bingung, mengapa dia bersikap lembut pada Miyuki? Padahal sebelumnya merencanakan untuk membuatnya lebih menderita. Tetapi sekarang, perasaan itu berubah seolah rasa benci menghilang dan cinta yang datang. Bukankah dia tidak ingin menumbuhkan cinta keduanya lagi?
"Aku tidak mengerti, mengapa aku begitu peduli padanya?"
Miyuki tidak menyangka Ryu akan memikirkan ucapan sebelumnya. Meski terdengar kejam dan dingin, tapi dia percaya Ryu adalah pria yang baik.
"Aku berharap dia orangnya."
••
Penerbangan sudah tiba di Okinawa, tempat khusus untuk menantikan liburan okinawa apalagi pasangan yang sedang berbulan madu di tempat itu, rasanya menyenangkan bukan?
Selama perjalanan, pasangan suami istri itu jarang sekali membuka bicara. Rasanya benar-benar canggung jika keduanya bersama, butuh 1000 detik memperbaiki tingkahnya. Tanpa disadari mereka sudah berada dihadapan Villa mewah yang hampir berdekatan dengan pantai Okinawa. Paling setidaknya jarak antara rumah ke pantai rata-rata 8km.
"Selamat datang Ryuzaki-sama dan...Miyuki-sama." Tutur Minami yang menyambuti mereka di depan pintu dengan senyuman hangat.
Miyuki sedikit bingung melihat penampilan Minami sangat rapi, apalagi cara bicaranya juga terdengar sopan.
"Dia Sakurai Minami, guardian ibu ku." Ujar Ryu memperkenalkan Manami pada Miyuki.
"Guardian?" Gumam Miyuki berwajah cengang mendengar Manami itu juga guardian sepertinya.
"Senang bertemu denganmu, Minami-chan." Sapanya.
"Senang bertemu denganmu, Miyuki-sama. Silahkan masuk." Balas Manami mengajak pasangan itu masuk.
Minami membawa barang-barang itu masuk dan membiarkan mereka menemui Miya dan bibinya.
"Kalian datang tepat waktu." Sahut wanita kembaran Miya alias Nishimura Maya sebagai kakak tertua dan mantan pimpinan Nishimura. Sikapnya juga hampir sama dengan Miya, wajah senyuman itu penuh cerdik.
"Duduklah." Kata Miya mempersilahkan mereka duduk di sofa.
Minami menyediakan teh untuk mereka.
"Yamashita Miyuki, itu namamu bukan?" Tanya Maya pada Miyuki.
Miyuki membenarkannya. Namun, Maya bernada dingin protes Mengapa Miyuki berbeda dengan Shimizu.
Miyuki dengan santai menjelaskan alasan mengapa dia berbeda dengan Shimizu yaitu, ibunya bermarga Yamashita dan ayahnya Shimizu. Jadi dia memilih marga ibunya karena keluarga Shimizu tidak mengizinkan anak luar nikah itu bermarga Shimizu. Menjijikan!
"Hmm..begitu ya, kau pasti belum mengenalku bukan?" Maya mencoba menebaknya, namun tidak mendengar jawaban dari Miyuki.
Maya sudah menduganya,
"Kejam sekali, dia tidak memberitahumu kah?" Nada Maya berkecil hati, tatapan sinisnya tertuju pada Ryu.
"Itu lebih baik untuk bibi." Tutur Ryu bernada dingin.
Bibir Maya tersenyum sinis itu menatap Miyuki masih terlihat diam mematung.
"Kau cukup memanggilku bibi Maya, mantan pimpinan Nishimura."
"yang jelas dia kakakku." Miya angkat bicara seolah menambah kalimat agar terdengar jelas.
Maya protes bahwa Miya mengganggunya karena ingin memberi kejutan pada Miyuki.
"Mengganggu saja!"
"Tidak tertarik." Seperti biasa Miya membalasnya dengan nada dinginnya.
Miyuki juga tidak mengerti tingkah dua saudari itu, tapi itu mengingatkannya tingkah Mayumi.
Maya jadi serius setelah meminum teh hangatnya.
"Katakan..apa yang direncanakan Shimizu?"
Miyuki mengepalkan kedua tangannya karena ragu menjawabkan pertanyaan itu. Maya mengerutkan alisnya tampak memikirkan sesuatu.
"Apa kau sudah tau hubungan Yamashita dan Nishimura?" Maya mengubah topik pembicaraan sejenak.
Namun, Miya dengan secepat kilat memberi jawaban singkat, "dia sudah tau." Hingga wajah Maya mendengus menahan amarahnya.
Dia dengan tenang protes Miya lagi, "apa hak mu?"
"Aku terlebih dahulu mengetahui tentangnya." Balas Miya.
Ryu terganggu melihat perang dingin oleh dua saudari itu.
"Oi, apa perlu ku pecahkan meja ini?" Tanya Ryu dengan suara tegas agar menghentikan keduanya.
"Aah! Jangan berani memecahkan meja favoritku!" Tegur Miya berwajah tidak rela meja kesayangannya dipecahkan oleh Ryu.
__ADS_1
"Lalu, sampai kapan perang dingin mu berakhir? Mengganggu saja!" Tutur Ryu.
"Kau tidak usah menegur ku seperti itu!" Miya kesal mendengar teguran oleh anaknya sendiri karena itu memalukan baginya.
Kedua wanita itu tampak normal kembali, Miyuki dengan tenang itu akhirnya menjawab pertanyaan dari Maya.
"Aku sudah mengetahuinya, tapi Shimizu sudah menjadi atasanku. Aku tidak bisa seenaknya menjawab pertanyaan bibi."
Maya sedikit kecewa, lalu matanya tertuju melihat kedua lengan Miyuki tampak tergores kemerahan.
"Meskipun Shimizu atasanmu, apa mereka memperlakukanmu dengan baik? Sepertinya tidak."
Miyuki sadar itu menutupi kedua lengannya dengan syalnya. Dia menatap Ryu sejenak untuk meyakinkan, apa perlu menjawabnya? Tentu, Ryu membalasnya dengan senyuman tipis meyakinkan keputusan Miyuki.
Tetapi, Miyuki cemas akan menerima konsenkuensinya. Ryu dengan tenang menganggukan kepalanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kemarilah Miyuki." Miya meminta Miyuki berdiri dihadapan dua saudari itu.
Miyuki menurutinya, "sekarang jawab pertanyaan ku, apa yang direncanakan Shimizu?" Maya mencoba bertanya sekali lagi.
Miyuki duduk jongkok di hadapan keduanya masih ragu menjawabnya.
"Mereka meminta ku untuk memata-matai...pim..pinan Nishimura.."
"Dan..meregut kedudukannya."
Mendengar jawaban Miyuki, kedua saudari itu berkecil hati. Maya marah dengan menampar wajah Miyuki, namun sebuah tangan datang menghentikan tamparan itu tidak mengenainya.
"Sebaiknya tamparan ini di buang saja, bibi." Sahut nada familiar itu.
"Ryuzaki?" Maya tercengang melihat Ryu menahan tangannya.
Mata Miyuki juga sedikit membulat getar melihat Ryu di sampingnya.
"Ryu, kenapa?"
Ryu dengan melepas tangan Maya itu menjawab pertanyaan singkat dari istrinya.
"Karena kau istri ku."
Jawaban itu lantas membuat empat wanita itu tidak bisa berkata-kata, ini pertama kali mendengar Ryu membela Miyuki.
Dia menarik Miyuki ke tempat duduknya kembali,
Minami menyaksikannya jadi tersenyum damai, karena lega ada satu orang mau melindungi Yamashita.
"Syukurlah." Gumamnya.
Miya tersenyum dingin. "Membelanya hanya karena dia istrimu?"
"Astaga, aku hampir melupakan dia ini istrimu ya."
"..tapi mengapa kau begitu mudah berubah?"
Miya jadi bertanya-tanya melihat sikap anaknya begitu berubah.
"Itu sudah jadi tugas suami pada istrinya." Ryu menjawabnya.
"Tugas suami kah?" Sahut Maya mengerutkan alisnya.
Perlahan-lahan bibirnya tersenyum cerdik,
"Miya-san, ini tidak sesuai rencana ya. Bisakah kau memberitahunya?"
Ryu sedikit curiga tentang apa yang sebenarnya di rencanakan Maya dan Miya, karena selama ini dia dipaksa menikah hanya karena ingin menyelamatkan Yamashita dari Shimizu. Tapi, apa hal itu yang direncanakan oleh keduanya?
"Kau sudah tau kan, alasan mengapa aku menikahkanmu padanya. Tapi bukan hanya itu alasan ku." Ujar Miya memberi jawaban sesuai perintah Maya.
"Apa itu?"
"Bukan sebagai istri tapi guardianmu."
Kedua mata Miyuki tampak kaku dan gemetar mendengar jawababan Miya.
"Huh, guardian?"
"Nishimura tidak pernah mengizinkan Yamashita menjadi bagian keluarga ku melainkan dia boneka khusus Nishimura."
"Boneka?" Kata-kata itu makin menodai Miyuki.
Setelah sekian lama dia ingin terbebas dari guardian dan kini hidupnya dipenjara lagi hanya sebagai "boneka".
Ryu juga tidak bisa memberi tanggapan maupun membantah ucapan ibunya maupun bibinya, saat ini kedua saudari itu masih punya hak perintah pada pimpinan Nishimura.
"*Aku menyadari. . .hidupku hanyalah sebatas jembatan panjang yang mampu dilintasi jutaan orang, tapi tidak menyangka aku meninggalkan sesuatu yaitu. . ."
". .Perasaan ku terhadap orang lain terutama*. . ."
Wajah Mayumi dengan tersenyum ria terbayang dipikiran Ryu.
". .dan tangisan itu."
Serta wajah Miyuki menangis tersedu-sedu ikut terbayang membuat Ryu kesal.
"Miyuki! . ."
••
Malam harinya. . .
"Bukan sebagai istri tapi guardianmu."
Kata-kata itu masih terpikirkan oleh Miyuki, membuat dirinya mau tidak mau harus menerima menjadi guardian Ryu bukan sebagai istrinya.
"Permisi, Ryu-sama." Miyuki masuk dan menemui Ryu di kamar.
Ryu terlihat melentangkan tubuhnya diatas kasurnya. Dia sadar Miyuki sudah berdiri didepan pintu,
"Ada apa?"
"Waktunya mandi, aku sudah menyiapkan air panasnya untukmu." Sambil meletakkan handuk di kasur Ryu.
Ryu bangun dari tempat tidurnya dan masih menyaksikan wajah Miyuki terlihat datar. Dia menghela nafas panjang.
"Kau tidak perlu melakukan tugas ini padaku." Mencoba menegur Miyuki.
"Tidak, ini sudah menjadi tugas guardianmu." Sayangnya, Miyuki menolak dengan sopan.
"Tugas guardian?" Ryu tampak berpikir sesuatu. Diam-diam bibirnya tersenyum cerdik seolah menemukan ide.
"Miyuki?"
"Ya."
"Tolong buka kemeja ku." Perintah Ryu.
"Eh?"
Apa? Dia mencoba memerintahkan Miyuki untuk membuka kemejanya? Yang benar saja, apa Miyuki meragukannya? Tampaknya, Miyuki sudah menelan ludah mendengar perintahnya.
"Di mengerti." Wajah Miyuki terlihat mulai memerah, perlahan-lahan mendekatkan diri pada pria berwajah santai itu.
Ryu masih membiarkan gadis itu melakukannya. Pada saat tangan Miyuki mulai membuka salah satu kancing baju Ryu,
"Jika kau tidak bisa melakukannya, kau bisa menolaknya bukan?"
Tangan Miyuki berdiam sejenak mendengar pertanyaan itu,
"Jika aku menolaknya maka aku akan menerima konsekuensinya, bukan?"
Ryu menarik tubuh gadis itu jatuh ke pelukannya,
"Kau benar-benar gadis misterius ya."
Miyuki masih gugup, apalagi posisinya saat ini sedang berada dipelukan Ryu hingga suara detak jantungnya juga terdengar oleh Miyuki.
"Cepat sekali.." Setelah mendengar detak jantung Ryu begitu cepat, dia juga merasakan hal yang sama.
"Anu..Ryu-sama?"
"Panggil Ryu saja." Pria itu semakin memperatkan pelukannya dengan Miyuki.
"Uh..baik, anu..apa kau bisa melepaskan ku?"
"Tidak." Ryu menolaknya.
"Huh, Ryu?" Miyuki tidak mengerti.
"Bukankah aku sudah bilang kau ini istri ku?"
__ADS_1
Akhirnya Miyuki membiarkan dirinya jatuh dipelukan suaminya karena sentuhannya begitu menghangatkan dirinya,
"Rasanya tenang sekali. . ." Batin Ryu.
••
Ryu akhirnya tertidur nyenyak setelah Miyuki menemaninya. Dia juga kembali ke kamarnya, Maya dan Miya tidak mengizinkan pasangan itu satu kamar karena Miyuki hanyalah guardian anaknya.
Di kamarnya, Miyuki menerima panggilan dari Matsumoto,
"Bagaimana?"
"Maaf, aku memberitahunya."
"Apa?! Mereka mengancammu kah, hah?"
"Tidak, mulai sekarang anda bukan atasan saya lagi."
"Apa maksudmu?"
"Nishimura sudah menjamin padaku bahwa mereka akan memperlakukan ku dengan baik, walaupun hanya bonekanya."
Matsumoto tertawa kecil. "Mencoba mengkhianatiku kah, Miyuki?"
"Tidak sama sekali."
"Begitu. . Tapi bagaimana janji sumpahmu pada kakakmu, apa kau melakukan seenaknya setelah dia pergi?"
Miyuki terdiam,"tidak mungkin kan, itu artinya aku masih atasan mu juga bukan?"
Bagaimana pun Miyuki menolak, "aku hanya melakukan apa saja dari Mayumi-sama, tidak denganmu."
"*Berani sekali, apa harus ku berikan pelajaran padamu atau. . .membunuhmu?"
"..aku juga bisa menghilangkan wajahmu dihadapan ku seperti kau menghilangkan suami ku*."
Mendengar ucapan itu, Miyuki menutup panggilannya karena tidak ingin ucapan tadi menghantuinya kembali.
Matsumoto kesal melempar ponselnya,
"Sial!.."
"Permisi, Matsumoto-sama." Seorang pria berkemeja rapi itu masuk ke ruangannya.
"Apa kau kemari ingin mengabariku tentangnya?" Tebak dari Matsumoto.
"Ya, seperti yang anda minta. Kami menemukan Mayumi-sama bekerja di RS China."
"Ooh, begitu. Dia mencoba kabur dari ku ya?"
Bibirnya tersenyum jahat, "apa perlu membuatnya kembali, Miyuki?"
"..ku rasa dia akan memarahinya, benar bukan Ito?"
Pria tadi adalah Ito Yamashita pengawal pribadi Matsumoto alias sepupu Miyuki.
••
Dan malam berikutnya, di Villa Nishimura, semua sedang keadaan tertidur. Namun, terdengar suara tumpukan buku jatuh hingga Ryu sadar terlebih dahulu.
"Ini sudah malam, masih saja berisik.." Gumamnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya nada familiar itu di depan kamar Ryu.
Ryu mendengarnya itu membuka pintunya dan melihat dua gadis familiar jatuh tabrakan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Tentu dua gadis itu kaget melihat Ryu berdiri disamping pintunya.
"Ryu?"
"Uh..anu, ma..maaf, aku tidak sengaja menabraknya karena aku membawa tumpukan buku." Minami mulai memucat menjelaskan situasinya menatap tatapan Ryu menyeramkan.
"Tidak apa-apa, tapi apa kau baik-baik saja lenganmu terluka lo." Miyuki melihat goresan luka kecil dilengan Minami.
"Ini luka kecil saja." Mencoba menutupi lukanya.
"sekecil apapun luka itu, bisa jadi luka itu mudah terinfeksi, bukan?."
"Anu..tidak usah, aku baik-baik saja." Namun, Minami tetap bersikeras menolaknya.
"Dia perawat, jadi tenang saja." Sahut Ryu memberitahunya, Miyuki seorang perawat.
"Aku tidak akan tenang melihat orang-orang sepertimu terluka." Ucap Miyuki dengan melebarkan senyumannya.
"Heh? Dia tersenyum?" Ini pertama kalinya Minami melihat Miyuki tersenyum karena setahunya, Yamashita sulit membangunkan emosinya.
Ryu sempat mendengar kata Miyuki itu mengingatkannya saat Miyuki menyelamatkannya di jembatan itu.
Miyuki membawa Minami masuk ke kamarnya dan melakukan perawatan pada lengannya, Ryu juga ikut menemani keduanya.
"Ini sudah malam, kau masih bekerja saja ya." Kata Miyuki sambil mengoleskan obat.
"Ya, setiap malam aku merapikan kamar perpustakaan. Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu."
"Tidak juga, harusnya aku yang minta maaf padamu. Aku melamun dan tidak memperhatikan kau juga di sana."
"Kau bisa melamun?"
"Tentu, kenapa?" Tanya Miyuki lalu membungkus perban kecil ke lengan Minami.
"Tidak, ini pertama kali aku melihatnya."
"Seseorang pernah mengajari ku“tetap tersenyum apapun keadaannya karena orang itu akan mudah berteman denganmu”bukankah itu aneh jika tanpa ekspresi sedikitpun?" Ucap Miyuki.
Minami tersenyum itu mengerti. "Kau benar juga ya."
"Selesai, setelah itu kau sebaiknya istirahat ya Minami." Saran Miyuki.
"Ya, terima kasih Miyuki-sama."
Miyuki membalasnya dengan melebarkan senyumannya lagi.
Minami membawa buku-buku tadi kembali ke kamar perpustakaan, Miyuki heran melihat Ryu masih di kamarnya.
"Kau tidak kembali?"
"Mencoba mengusir ku, kah?"
"Ahh..tidak-tidak." Jawab Miyuki mengibas-ngibaskan tangannya itu gugup melihat tatapan Ryu begitu menakutkan.
Ryu melihat beberapa buku terbuka diatas meja Miyuki.
"Kau belajar?"
Miyuki membenarkannya, "aku tidak bisa tidur jadi aku belajar sedikit tentang obat-obatan dan perawatan medis."
Ryu membuka salah satu lembaran buku itu dan bertanya alasan mengapa Miyuki ingin menjadi perawat.
"Agar aku bisa mengobati lukaku sendiri." Jawab Miyuki.
"..tidak hanya itu, ada banyak orang juga membutuhkan perawatan medis ku bukan?" Tambahnya.
"Kau benar, ku akui saja kau bukan guardianku maupun bukan boneka ku."
"..tapi kau istriku, Miyuki." Ujar Ryu terdengar damai itu lantas membuat istrinya kagum dan terharu.
"Ryu.." Miyuki masih berwajah kagum itu memeluknya dan menangis haru.
"Terima kasih...terima kasih, Ryu." Rintihnya
Dia sangat senang dan bahagia, ada satu orang yang mau menerimanya dan mengakui dirinya yaitu Ryuzaki, suaminya sendiri.
"Kapan pun itu..aku bisa menumpahkan rasa sakit itu bukan? Aku mengandalkanmu, Nishimura Ryuzaki."
"Iya.." Jawab Ryu mempereratkan pelukannya dengan lembut.
"Mulai sekarang. . .aku akan mengubah semua penderitaan yang kau rasakan selama ini jadi kebahagiaanmu, ini janji dalam hidupku Miyuki."
Dia berjanji dalam hidupnya akan mengubah hidup Miyuki kelak bahagia bersamanya.
Di samping kamarnya, Maya juga mendengarkan pembicaraan keduanya. Diam-diam bibirnya tersenyum lega,
"Baguslah, tapi..seberapa kuat hubungan itu menyatu dalam hidupmu, Ryuzaki-san." Gumamnya terdengar dingin.
••
{Bersambung. . .}
__ADS_1