
Greta bergerak gesit dengan menuruni anak tangga di rumah Prada. Langkah kakinya membawa wanita itu sesegera mungkin untuk bertolak keluar dari rumah mewah berlantai tiga tersebut.
"Bu, nggak sarapan dulu?" tegur salah satu staff rumah tangga padanya.
Tidak hanya staff tersebut saja, Mbok Siti juga tergopoh-gopoh mendatangi Greta usai menerima titah dari sang tuan besar bahwa dirinya harus menjaga Greta dan melayani nyonya rumah tersebut.
"Aduh! aku kesiangan." Benar yang dikatakan oleh wanita itu, karena sejak pagi tadi, Mbok Siti tak mendapatkan sahutan ketika membangunkan Greta di depan kamarnya.
Selain tak sempat sarapan, wanita itu juga belum sempat melepaskan bandana di kepalanya. Greta selalu menggunakan benda imut dengan hiasan berupa kelinci kecil untuk merapikan anak rambutnya ketika berdandan agar tidak berantakan ke wajah cantiknya.
"Bu, Bu Greta lupa melepaskan itu!" Tunjuk staff tersebut ke arah mahkota sang nyonya rumah.
"Ah iya, aku lupa mencopotnya."
__ADS_1
Keriuhan Greta pagi ini, tidak luput dari pengawasan Prada. Mendapati laporan jika sang istri belum juga keluar dari kamar, membuat pengacara itu terus memantau keadaan di rumah. Dia mengkhawatirkan keadaan Greta. Namun, dia tidak menyadari kekeliruannya terhadap Greta.
Dalam sebuah rapat, Prada sedikit mengangkat sudut bibirnya melihat kelakuan riuh sang istri. Bahkan ketika Mbok Siti meminumkan segelas susu karena Greta terus saja menolak sarapan pagi ini, membuat Prada tidak kuasa menahan gelak tawa.
Atas ulah pengacara senior tersebut, rapat pembahasan kasus gugatan harus terjeda meski hanya sebentar saja. "Bapak baik-baik saja?" tanya salah seorang notulen rapat.
"Iya, lanjutkan saja!"
Pemilik kantor hukum itu terus saja mengawasi Greta melalui sambungan kamera pengawas yang terhubung dengan gadget pribadi yang berada di genggamannya.
Mbok Siti menyerah dengan kelakuan istri bosnya ini, dia hanya bisa menarik napas panjang dan berkata, "Ya sudah, Bu!"
Pada kenyataannya, Greta tidak menyadari jika semua gerak-geriknya telah diketahui oleh suaminya. Namun kali ini, Prada sama sekali tidak marah ataupun membentak Greta ataupun Mbok Siti. Kali ini, Prada malah tersenyum atas ulah kekanak-kanakan Greta yang kebakaran jenggot karena kesiangan.
__ADS_1
**
Usai memimpin rapat, Prada kembali ke ruangannya. Kali ini dia memiliki misi selain menyortir barang bukti, pria dewasa itu juga memilah beberapa destinasi wisata. Bahkan hal tersebut mengejutkan Aida ketika pegawai bagian humas itu mendapat tugas untuk merangkum semua objek wisata terkenal di berbagai negara.
Alangkah senang hati Aida jika dia memilih tempat wisata ini untuk liburan pribadinya, "Coba ada liburan gratis dari kantor. Lumayan kan bisa healing gratis,." Wanita muda itu terus menyecroll beberapa destinasi wisata.
"Setelah ini, kirimkan ke surelku, Da. Aku yang akan memilihnya. Jangan kaya kemarin, pilihanmu tidak tepat." Prada teringat ketika Aida membelikan bunga dan juga perhiasan. Nyatanya Greta alergi bunga dan juga kurang suka memakai perhiasan.
Oleh karena itu, untuk kali ini Prada sendiri yang akan memilih tempat wisata untuk berlibur bersama sang istri. "Ini akan menjadi kejutan untuknya."
"Idih tumben so sweet, nih orang. Udah lupa kali profesinya sebagai pengacara berdarah dingin."
"Baik, Pak. Akan saya kirim dengan segera ke surel Bapak."
__ADS_1
...****************...