Emergency Love

Emergency Love
Bab 66


__ADS_3

Langkah kaki dokter wanita yang baru saja keluar dari IGD malam ini terlihat begitu berat. Lelah pada raganya tidak sebanding dengan lelahnya hati yang dia rasakan. Udara dingin yang menusuk hingga ke tulang terasa menyayat kehangatan.


Begitu pandangan matanya jatuh pada sosok pria tinggi yang berdiri di depan sebuah mobil berjenis SUV, tangisnya mulai pecah'.


Air mata yang sejak tadi mampu ditahan olehnya, kini lolos begitu saja. Di hadapan suaminya lah, Greta bisa menumpahkan semua keluh serta sisi rapuhnya.


Semakin dekat dengan Prada, Greta tak bisa lagi menyembunyikan laranya. Hanya di depan Prada lah dokter wanita itu bisa menyandarkan masalah hingga raganya.


"Tenanglah! semua akan baik-baik saja." Dan Prada sendiri yang sudah mengetahui masalah paman segera menjemput sang istri di tempat kerja. Dia tidak akan membiarkan Greta menanggung semua masalah seorang diri.


Wanita yang kini sudah berserah di pelukan Prada, hanya mampu menganggukkan kepalanya saja. "Aku tidak akan membiarkan paman dalam masalah. tidak akan pernah!" imbuhnya lagi.


"Aku tahu dia salah, but please save him. Save him!"


Tak ingin melihat Greta semakin larut dalam kesedihan, segera Prada membawa wanita itu pulang agar tidak mempengaruhi kehamilannya.


"Tentu, ayo pulang!"


Bahkan dalam perjalanan pulang, Greta sama sekali tidak mengatakan apapun. Suasana di dalam mobil yang dikemudikan oleh Wahyu itu begitu hening. Baik Prada maupun Greta sama-sama tenggelam dalam lamunan masing-masing. Hingga membuat Wahyu begitu kikuk di antara bos dan juga istri bosnya itu.


Greta juga belum bisa melepaskan gundahnya, wanita itu masih terisak dalam pelukan sang suami di bangku belakang mobil. Dia sama sekali tidak memedulikan penampilannya kini yang lebih mirip seperti korban dalam sebuah sinetron jaman sekarang.


"Honey, sudah, ya? Jangan bersedih lagi! aku akan melakukan sesuatu untuk paman. Ingatlah, ada anak kita!. Jangan sampai masalah ini mempengaruhi perkembangannya."


Greta semakin mengeratkan pelukannya, tidak hanya itu saja. Wanita itu juga makin menenggelamkan kepalanya di da da bidang sang suami.

__ADS_1


"Ayo cepat pulang! aku lelah sekali, Bojo." pinta Greta dengan lirih.


Hal tersebut, berimbas pada Wahyu. Kini pria itu akan diuji ketrampilan mengemudinya dalam keadaan lalu lintas padat agar segera sampai di kediaman bosnya.


Mengemudikan Maybach GLS-Class akan menjadi ujian Wahyu malam ini. Jika dia tidak lolos, maka sudah bisa dipastikan besok dia akan menerima hukuman dari atasannya. Sehingga Wahyu akan mengemudi dengan sepenuh hati serta tak lupa berhati-hati jika masih menginginkan posisi pengacara senior yang baru saja didapatkan olehnya beberapa lama ini.


"Jangan sampai bonus serta kenaikan gajiku hangus begitu saja!"


"Masih cukup jauh, cari aja hotel terdekat, Yu. Ibu perlu beristirahat." Untung saja bos Wahyu malam ini memberinya kelonggaran. Entah dihinggapi setan apa atau memiliki maksud terselubung, nyatanya Prada sangat membantu kelanjutan hidup Wahyu.


"Ba-baik, Pak!"


"Tapi aku pengen tidur di rumah, Bojo." Dari dalam pelukan Prada, Greta muncul dan kepalanya kini menengok ke arah depan.


Prada teringat pada malam itu, Greta mengeluh tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan alasan tidak bisa nyaman dalam suasana hotel. Bahkan sempat pria itu meminta pindah kamar dengan view pemandangan kota yang paling indah. Tidak masalah bagi Prada untuk membayar dua suite room jika bisa mengenyangkan hati Greta. Tetapi, nyatanya semua itu sama saja.


"Kayaknya anak kita tidak hobi menginap di hotel deh," imbuh Greta lagi.


"Nak, papamu ini orang kaya. Tidak masalah kau ingin tidur di hotel manapun. Tapi tolong biarkan papa bersenang-senang malam ini, ya?" Seakan anaknya bisa mendengarkan ucapannya, Prada merayu calon buah hatinya agar mengizinkan mama dan papanya menginap di hotel malam ini.


Selain merayu dengan kata-kata, tak lupa Prada juga mengelus lembut perut Greta yang masih rata agar calon anaknya bisa mengerti.


Namun, apa yang terjadi? Seolah tidak bisa menerima. Greta merasa mual yang tak tertahan. Hingga dia hendak muntah di mobil Prada.


Hanya saja, wanita itu tidak memuntahkan sesuatu. Dia hanya merasa mual saja dan menutup mulut dengan tangannya.

__ADS_1


"Sepertinya, dia menolak Anda, Pak! Mungkin kesepakatan Anda tidak menguntungkan dia." goda Wahyu yang menahan tawanya.


"Bicara apa kau ini? Mana mungkin dia bisa mengalahkan aku?"


"Diam kalian berdua! Pak Wahyu cepatlah! aku ingin segera pulang."


Nasib sial bagi Wahyu. Kelonggaran yang sempat ditawarkan oleh Prada harus hangus dan dia kembali diuji kemampuan mengemudinya.


"Baik, Bu Greta!"


**


"Kamu akan mengambil kasus Paman, kan?" Greta mendatangi sang suami yang masih berkutat di ruang kerjanya.


Pria itu menatap kehadiran istri cantiknya, seolah paham dengan maksud Greta, Prada mengulas senyum dan berkedip kilat.


"Sudah kukatakan, bukan? Istirahatlah! jaga kesehatanmu. Semua ini biarlah aku yang akan menangani." Pria itu mencoba menjelaskan kepada Greta jika semuanya akan baik-baik saja, sehingga Greta tidak perlu memikirkan hal tersebut karena bisa mempengaruhi perkembangan kehamilannya.


Tetap tidak berniat keluar dari ruang kerja Prada seperti yang diinginkan suaminya, Greta malah duduk tepat di seberang meja Prada, "Tapi, aku merindukan papanya anak ini."


Seperti tersengat oleh kalimat Greta yang kekuatannya melebihi aliran listrik, membuat Prada buru-buru mengurungkan pekerjaannya. "Honey, jangan godain, deh!"


"Terus aku godain siapa?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2