
Kebahagiaan adalah rasa puas terhadap sebuah pencapaian. Semua orang menginginkan kebahagian, termasuk keluarga kecil Pradabhasu.
Karena dia akan mengupayakan semua yang ia punya demi terciptanya kebahagiaan di keluarga pengacara tampan tersebut.
Melihat Greta tersenyum puas usai menghabiskan rupiah demi mendapatkan barang yang dia incar saja bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan pengacara itu. Jerih payahnya siang dan malam ini terbayar dengan ulasan senyum di wajah cantik wanita itu.
Terlebih lagi jika Greta setuju untuk mengikuti idenya yakni makan malam di luar rumah tanpa harus susah-susah berkutat di dapur.
"Sayang, kamu pasti lelah setelah seharian bekerja, bukan?" pancing Prada agar wanita itu meluapkan rasa letih usai beraktivitas seharian ini. Dia sadar setelah pergantian kepemimpinan, tugas Greta kini semakin banyak.
"Enggak juga, kok. Kenapa?"
"Kita mampir makan di luar atau beli makanan aja, lah. Lagipula aku tak tega membiarkan kamu memasak malam ini." Sungguh pandai Prada dalam urusan bersilat lidah. Selain merayu, dia juga mampu memberikan opsi seefektif mungkin.
"Kamu ada benarnya, tapi aku ini istri kamu. Tugas seorang istri memang seperti itu."
Meskipun berkali-kali Prada membujuk rayu Greta. Namun, hati Greta tetap kokoh layaknya batu karang. Hingga pada akhirnya, Prada menyerah dan merelakan lidahnya mengecap masakan Greta.
**
"Bagaimana, Bojo? Enak?" tanya Greta dengan antusias tinggi usai Prada menyuapkan potongan kecil daging salmon ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Um ... enak, Honey. Enak sekali."
"Benarkah? Kalau gitu, abisin, dong!"
Bukan perkara mudah membujuk lidah serta perut Prada dalam menerima makanan yang dibuat oleh Greta. Dia akan menahan dengan ketetapan hati agar perang dunia tidak tercetus lagi di rumah pria itu.
......................
Menunggu bukan hal yang mudah, termasuk juga bagi Rosaline. Bohong saja jika hatinya baik-baik saja. Semenjak mendengarkan vonis jaksa yang menjeratnya dengan kurungan sepuluh tahun, tidur wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang nenek itu tidak nyenyak. Dia terus dibayangi kehidupan di dalam penjara dengan sepuluh tahun lamanya.
"Semoga saja hakim akan lebih berbelas kasih padaku," ucapnya pada sidang banding hari ini.
Pada pembacane vonis beberapa waktu yang lalu, Greta tak tampak menghadiri sidang ibu mertuanya. Namun, kali ini dia hadir sebagai sarana pemberi semangat agar ibu mertuanya lebih tabah menghadapi sidang banding pada hari ini.
Pengadilan Tinggi telah meninjau upaya banding ibu dari Prada tersebut. Sehingga pihak pengadilan menjatuhkan hukuman lebih rendah dari vonis pada persidangan sebelumnya.
Sikap Rosaline yang kooperatif serta tindakan melanggar hukum yang dilakukan olehnya, telah ditinjau kembali oleh pengadilan. Sehingga ibu mertua Greta itu dihukum lebih ringan yakni hanya lima tahun kurungan penjara saja.
Sebelum mengkaji sidang, terdakwa sempat diberi kesempatan untuk melakukan upaya kasasi jika masih keberatan dengan putusan banding.
"Saya menerimanya, Yang Mulia."
__ADS_1
Dengan bersedianya Rosaline terhadap putusan banding, maka hasil tersebut kini memiliki kekuatan hukum dan pihak kejaksaan akan langsung melakukan eksekusi kurungan penjara seperti yang telah diterima oleh terdakwa.
Sempat menawarkan upaya kasasi kepada ibunya, tetapi Rosaline menolak sang putra dengan alasan sudah mengikhlaskan hidupnya. "Ini adalah cara ibu menebus kesalahan ibu, Prada. Seperti yang dikatakan oleh istrimu. Ibu tidak ingin dicap sebagai ibu dan nenek yang tega terhadap keluarganya."
"Jika ibu perlu apa-apa, jangan ragu untuk mengatakan padaku." pinta pria yang menjadi kuasa hukum Rosaline.
Pria itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan di balik sikap profesionalnya. Dengan dukungan dari Greta lah, Prada bisa menerima ketika melihat ibunya di gelandang keluar dari persidangan hingga memasuki mobil tahanan.
"Lima tahun bukan waktu yang lama, Ibu akan baik-baik saja. Setelah ibu keluar nanti, dia akan melihat anak kita berlari menyambut neneknya."
Prada meraih jemari sang istri dan mengajaknya meninggalkan pengadilan usai melihat kepergian sang Ibu dengan pilu.
Sembari berjalan dengan beriringan, Prada mengelus perut Greta, "Dia akan bangga memiliki neneknya,"
"Tentu saja, apalagi Kakek buyutnya telah menyambut kelahiran anak ini dengan aset melimpah," goda Greta agar mencarikan suasana.
"Yang benar saja, aset papanya tak terhitung lagi. Pemberian Kakek buyutnya tidak sebanding dengan apa yang akan dia terima dari papanya."
Gelak tawa Greta mengiringi langkah keduanya, "Iya, iya ... papanya telah menjamin hingga tidak bisa dihitung lagi jumlahnya."
"Itulah gunanya memiliki suami kaya, lalu kenapa dulu kamu sempat menolak pria seperti aku, Honey?"
__ADS_1
"Hei pikirkan saja! jika ada seorang pasien sakit jiwa mengajakmu menikah apa kamu akan langsung menjawab iya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...