Emergency Love

Emergency Love
Bab 41


__ADS_3

Memerlukan makanan manis yang bisa meningkatkan kadar gula darah, bukan hal yang mustahil bagi seorang pengacara kaya seperti Pradabhasu. Memindahkan gunung saja akan dilakukan jika Greta yang memintanya. "Ayo!" ajaknya kepada wanita yang kini terdiam tanpa kata.


"Peluk aku dulu!" pinta Greta dengan membuka kedua tangannya dan merentangkan dengan lebar.


"Peluk? Tidakkah aku salah dengar?" Prada tertegun dalam posisinya saat ini usai kedua Indra pendengarannya menangkap mantra ajaib yang bisa membuatnya melupakan seisi dunia.


Peluk adalah kata pertama yang diminta oleh Greta padanya. Bukan barang berharga ataupun sulit mendapatkannya. Hanya saja dia Greta?


"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar?" Kembali Pria itu memastikan kebenaran yang dia dengar dari gendang telinga yang sudah masuk hingga merecoki otak pintarnya. "Apa dia mencoba merayuku? Ini Pedekate?"


"Tidak, peluk aku, Prada!" ulang Greta meyakinkan sang suami yang masih membeku di hadapannya.


"Jika benar, aku juga tidak keberatan." Kesempatan ini tidak akan disia-siakannya begitu saja. Kapan lagi coba Greta kehilangan kesadaran seperti ini. Bukankah itu benar?


Untuk sesaat, tubuh keduanya saling bersentuhan tanpa jarak sedikitpun. Bahkan irama jantung masing-masing bisa terasa oleh mereka. Tubuh tinggi tegap itu langsung menenggelamkan Greta yang tak terlihat. Dengan badan yang kecil, cukup mudah bagi Pradabhasu untuk merengkuh wanita yang mulai bisa bermain-main dengannya kini.


"Kenapa rasanya berbeda? Dalam pelukan dia dan orang lain." batin Greta mulai bermonolog. Ada perasaan berbeda ketika dirinya menyodorkan tubuhnya untuk pria yang kini mendekapnya. Perasaan aman seperti ini tak pernah Greta rasakan sebelumnya.


Lebih dalam lagi, Greta membenamkan kepalanya dalam dekapan Prada. Hingga Alina yang melihat hal manis seperti ini serasa sesak karena tidak ada ruang lagi di dunia ini untuknya. Dia merasa jika dunia ini hanya milik senior serta suaminya saja.


Tiba-tiba, Greta menyebut nama suaminya, "Prada?"


"Hmmm ... "

__ADS_1


"Aku lapar, ayo pulang. Aku akan memasak untukmu sebagai rasa terimakasih atas hari ini."


"Memasak? Ini gawat!" Buru-buru Prada mulai mencari alasan yang tepat untuk menolak secara halus keinginan sang istri yang tidak pandai mengolah bahan masakan itu.


"Jangan habiskan tenagamu, kita makan malam di luar saja, ya?"Prada merenggangkan pelukannya kemudian menggandeng Greta dan mengarahkan ke pintu mobil agar wanita itu duduk di samping kursi mengemudinya.


"Benar juga, aku sudah kelaparan karena siang tadi tidak sempat makan siang." Bagaimana bisa Greta mengisi perutnya? Sejak tadi dia mengoperasi pasiennya.


Meski bukan berencana untuk makan malam yang romantis, setidaknya malam ini Prada akan terbebas dari beratnya hukuman untuk memakan masakan Greta. Setidaknya, uang pula lah yang hari ini menyelamatkan Prada dari jerat sang istri.


Mereka sepakat untuk mengkonsumsi restoran western pilihan Greta. Yah setidaknya, ini aman bagi Prada, bukan?


**


"Apa kamu tidak suka makanannya?" Greta menegur sang suami karena mendiamkan kudapan barat di hadapannya.


"Melihatmu makan saja sudah membuat aku kenyang, makanlah yang banyak!"


"Aneh," Reaksi Greta ketika Prada mulai memujinya yang memiliki naf su makan yang banyak.


Namun, waktu makan keduanya harus diganggu oleh sebuah panggilan yang terdengar dari ponsel Prada.


Tahu jika bunyi ini telah menganggu keadaan sang istri, segera Prada melihat si penelepon. Jika bukan dari orang suruhannya, mungkin Prada sudah menonaktifkan ponsel dan memaki si penelpon itu.

__ADS_1


"Sebenar, ya?" ijinnya kepada sang ratu sebelum mengangkat panggilan itu.


Greta menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya sekali saja. Mendapatkan lampu hijau, Prada mengangkat panggilan itu tanpa meninggalkan tempat duduknya untuk terus mengawasi Greta.


Wajah damai itu secara berangsur berubah menjadi lebih serius lagi. Bahkan kedua alis Prada bertaut dengan dahi yang berkenyit. "Benarkah? Aku masih makan dengan istriku."


Menegaskan posisinya saat ini, tetapi ada hal yang membuat Greta mengurungkan menyantap sepotong daging steak yang sudah dia potong. Begitu Prada menyebutkan dirinya sebagai istri, tubuh Greta seperti membatu hingga tidak bisa lagi mengontrol logikanya.


"Aku akan ke sana setelah makan malam," ucap Prada sebelum menutup panggilannya.


Sebenarnya Greta tidak berminat untuk kepo dengan urusan Prada. Tetapi, jika melihat raut wajah Prada yang dipenuhi keseriusan, mau tidak mau membuat Greta memberanikan dirinya. "Ada masalah apa?"


"Aku akan mengatakannya nanti, habiskan makananmu! dan ikut bersamaku."


"Aku? Ikut denganmu? Apa ada kaitannya dengan kasus itu?"


Prada tidak menjawabnya, hanya gerakan ekor matanya saja yang mewakili jawaban darinya. Dia tahu jika Greta pasti akan terseret meskipun wanita itu tidak bersedia. Dan oleh karena itu, sudah waktunya bagi Greta untuk mengetahui segalanya tentang kematian orangtuanya.


"Habiskan dulu makananmu juga!"


Keduanya menyelesaikan makan malam ini untuk segera bertolak ke tempat yang akan Prada tunjukkan kepada Greta. Di tempat itulah Prada menyusun semua strategi untuk mengusut secara tuntas kasus itu. Dan di tempat itulah, Prada bermalam jika hatinya terasa sepi.


Prada kembali mengendari mobilnya ke tempat yang biasanya dia kunjungi. Hanya saja perbedaannya, kali ini dia bersama dengan Greta. Wanita yang harus dia jaga selamanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2