
"Prada, kepala kejaksaan tidak memberikan tanda tangannya pada surat perintah penggeledehan," jelas Firman kala jaksa senior itu keluar dari ruang kepala kejaksaan negeri.
Dengan embusan napas yang kasar, Firman mengepalkan tangannya. Sedang tangan satunya masih memegangi handphone yang masih terhubung dengan Prada.
Jika bukan karena iming-iming naik jabatan, mungkin Firman tidak akan mengambil kesempatan ini. Selain lawan yang nantinya akan dia hadapi adalah kelas kakap, Firman juga enggan jika harus terseret dalam arus dendam antara dua kubu tersebut.
Tetapi, dia tidak bisa menoleh ke belakang lagi, karena Prada telah memiliki kartu as-nya.
"Aku akan mengurusnya, siapkan saja anak buahmu untuk menggeledah kantor itu. Aku akan memberikan hasil lebih cepat." Paham dengan apa yang dialami oleh Firman, maka Prada harus mengerahkan segala kemampuan licik serta smart-nya.
Di tempat lain, Prada menarik garis senyum usai mendapatkan laporan atas keberhasilan tim 2 yang dipimpin oleh Wahyu. Tangan kanan Prada itu, melaporkan jika telah berhasil meyakinkan salah satu pesaing dari perusahaan farmasi tersebut untuk melaporkan kasus atas hak cipta dari suatu produk.
Dengan dukungan serta bantuan hukum dari firma hukum Prada lah, perusahaan itu bersedia menjadi salah satu rekanan tim Prada hingga menyeret ayah tiri serta ibu kandungnya ke jeruji besi.
"Bagus, Yu! aku akan mengurus sisanya."
Sebelum menghubungi kepala kejaksaan, terlebih dahulu Prada ingin mendapat asupan semangat. Setidaknya dengan mendengar suara wanita yang dia cintai, bisa membawa dampak positif baginya.
Tak perlu menunggu lama, Prada segera mendengar suara renyah sang istri dari seberang telepon.
"Apa kamu harus berlebihan seperti ini? Aku risih tahu nggak? Ke manapun banyak orang yang ngikutin. Bahkan mereka menungguku hingga di depan pintu operasi." keluh panjang lebar Greta karena sedikit tidak setuju dengan ide Prada memberinya beberapa pengawal.
"Sudah, protesnya? Sekarang apa ada yang mengganjal pikiranmu?" Meskipun begitu, nyatanya Prada tidak keberatan sama sekali jika Greta mengeluhkan idenya.
Karena di mata Prada, tidak ada hal lain yang lebih penting selain keselamatan sang istri. Sehingga untuk melindungi Greta, apapun akan Prada lakukan hingga bahkan harus mempertaruhkan nyawanya.
"Tidak, apa semuanya berjalan lancar? Apa kamu baik-baik saja." Bila didengar dengan seksama, dari suara dokter wanita itu, dia sangat menghawatirkan suaminya. Meski merasa hanya menjalani hubungan kerjasama, Greta tidak menampik jika dia merasa sangat mengkhawatirkan pria itu. Terlebih lagi, hal ini ada hubungannya dengan masa lalu pengacara senior itu.
"Jadi aku harus menjawab pertanyaan yang mana? Kau banyak bawel, sih."
__ADS_1
"Semuanya ... tidakkah kamu tahu bahwa aku memikirkanmu?"
Benar bukan? Seperti inilah hal kecil yang bisa menambah semangat pengacara itu. Hanya mendengar bawelnya sang istri saja, dia seperti memiliki energi tambahan.
"Setelah semua selesai, aku akan menjemputmu pulang, nanti."
**
Bahagia Greta sama halnya dengan kebahagiaan Prada, sehingga pria itu akan berusaha sekeras mungkin agar tidak menyakiti dan memberikan kehidupan yang menyenangkan untuk sang istri.
Usai melepaskan rindu dengan mendengar suara sang istri, Prada segera membereskan kekacauan di kantor kejaksaan.
Tak ingin mengotori tangannya, Prada bahkan hanya perlu menghubungi orang penting di kejaksaan itu dari sambungan telepon.
"Maaf, Pak Prada. Saya tidak bisa memberi kuasa." tuturnya menolak permintaan Prada.
"Sayang sekali, Anda bahkan tidak bisa membersihkan birokrasi tersebut. Padahal jika Anda mau, nama Anda akan diagung-agungkan oleh Pak Presiden. Dan tidak menutup kemungkinan jika elektabilitas Anda akan naik menjelang Pilpres."
"Kau akan membantuku naik, Nak?" Pria tua itu sedikit melunak. Dia terlena oleh bujuk rayu Pradabhasu.
Selain memiliki pengaruh di publik, Prada juga merupakan cucu dari majelis MA. Selain itu, jika menilik dari kekayaannya, siapapun akan dengan mudah meneteskan air liur jika mendapat dukungan dari pengusaha sekaligus pengacara senior itu.
"Aku bisa mempertimbangkan dukungan kakekku, tetapi aku bisa menjamin hal ini akan menaikan nama baik Anda sebagai pemimpin instansi hukum. Atau mungkin, wine dari perusahan itu lebih pekat dari wineku?" Kalimat terakhir itu sengaja Prada lebih-lebihkan. Pria itu menggunakan bahasa kiasan untuk menggambarkan suap sebagi wine yang pekat.
Hahaha .. "Kamu ini bisa saja, aku tidak suka anggur Itali. Aku suka apel Washington."
Benar dugaan Prada, jika kepala kejaksaan telah menerima hadiah berupa harta kekayaan yang dianalogikan sebagai apel Washington untuk menggantikan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.
"Kurasa RI 1 lebih cocok denganmu, Pak daripada menanam kebun apel."
__ADS_1
Deal, Prada bisa meyakinkan pria tua itu dengan iming-iming dukungan politik. Dan atas kerendahan hati Prada itulah, Beliau dengan senyum lebar di wajahnya mendatang ruangan Firman untuk membubuhkan tanda tangan di atas surat pengeledahan itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa Bapak berubah pikiran?" Firman masih belum percaya dengan perubah ini.
"Instansi kita butuh orang muda yang luar biasa seperti Anda." jawab Kepala Kejaksaan itu.
Firman pun hanya bisa nyengir kuda, setidaknya pria itu tidak akan menghambat langkahnya untuk bersilaturahim ke kantor perusahaan farmasi itu.
Atas izin yang sudah dikantongi, Firman serta beberapa anak buah pilihnya akan mengunjungi target untuk melakukan penggeledahan. Hal ini sebenarnya hanya sebuah formalitas saja. Dengan bukti kuat di tangan pihak mereka, sudah pasti bisa menyeret ayah tiri Prada ke ranah hukum
Hanya saja, pihak pengadilan tidak menyetujui adanya bukti yang diperoleh secara ilegal seperti yang dilakukan oleh Prada dan anak buahnya. Maka dari itu, pengeledahan ini hanya kamuflase untuk mencari bukti saja. Nyatanya mereka sudah menggenggam erat bukti itu.
**
"Sepertinya kau lelah?" Prada melihat Greta berjalan menghampiri mobilnya dengan wajah lesu.
"Semua ini karena suamiku berlebihan, bahkan ke kamar mandi saja aku harus izin. Mereka benar-tidaknya menggangu." Sembari mengeluhkan sikap tegas pengawalnya, Greta tak lupa menunjuk ke semua pengawal itu.
"Benarkah? Berarti suamimu sangat perhatian, loh!" Salah satu pengawal, membuka pintu untuk Greta kemudian menyusul membuka pintu untuk Prada.
Wajah Greta masih kusut seperti jemuran yang lupa diangkat. Hingga tanpa disadari olehnya, Prada telah membantunya memasang sabuk pengaman.
"Aku sudah memutuskan mau ke mana." Tiba-tiba Greta mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya mau ke mana? Maunya kapan?"
"Hm ... aku ingin ke Yunani, nanti usai memenangkan kasus ini atau lebih tepatnya sebelum kita berpisah."
...****************...
__ADS_1
Kau juga semakin jauh. Dan aku terus tertinggal. Akankah rindu ini bisa bersatu? Merajut asa untuk kita kembali bertemu? Mengukir masa depan yang kita citakan? Ataukah mungkin ini hanya menjadi sebuah kenangan menyakitkan?
Entahlah ... Aku tak tahu mengapa.