Emergency Love

Emergency Love
Penderitaan Masa Lalu


__ADS_3


Gadis berambut coklat nan berkulit putih lembut itu tampak lemah dan kehilangan sadar, tubuhnya dililiti rantai besi yang mengurung dirinya di kegepalan. Rasanya sunyi, sepi tanpa suara sedikitpun. Tetapi hanya rasa sakit yang meraung ke tubuhnya.


"Sakit..sekali.."


Kedua matanya terbuka lelah, "*tolong aku, siapa..pun disana?"


"Sakit..sakit sekali, seseorang tolong selamatkan aku..ku mo..hon*.."


Seorang wanita mirip dengannya muncul dihadapannya. Bibirnya tersenyum jahat,


"Harusnya kau tidak lahir di dunia ini, Miyuki." Katanya.


"*Ke..napa?"


"Hahahah..kau melupakan apa yang aku katakan padamu, kalau aku membenci anak terkutuk lahir di rahim ku*." Sambil menyentuh kedua pipi Miyuki yang masih berkondisi lemah.


"Apa..maksud..mu?"


"Ku rasa kau sudah melupakannya."


"Melupa..kannya? Siapa kau sebenarnya? Ke..napa kau ham..pir mirip de..ngan ku." Sayangnya Miyuki tertidur dan tak sempat mendengar jawaban wanita kembarannya.


"Moyuka, itu nama ku."


Dia memeluk Miyuki hingga rantai itu makin mengikat ke tubuh Miyuki.


"*Seharusnya kau akhiri saja penderitaan ini, kau tidak mampu menahannya.. Aku mohon Miyuki, hentikan..hentikan semua yang menghantuimu,"


"...kau pasti kesakitan bukan*?" Sedihnya


••


"Bagaimana kondisinya?!" Tanya Ryu masih panik dan khawatir kondisi Miyuki yang masih belum menyadarkan diri setelah tertembak oleh ayah Yuri.


"Kau tau kan, dia memiliki tubuh yang lemah? Itu artinya dia mendapatkan luka dalam yang begitu serius, maka tubuhnya sedang dalam kritis." Jawab Hiroishi yang tentunya mengatasi kondisi Miyuki.


Ryu merasa bersalah akibat dirinya, dia tak mampu melindungi Miyuki justru Ryu termakan emosinya sendiri karena tau Miyuki adalah pembunuh ayah Mayumi.


"Tapi Ryu..dia.."


"Ada apa Hiroishi?"


"Hmm..aku juga tidak mengerti, dia terus bilang “sakit sekali” semakin dia mengulanginya, maka kondisinya makin memburuk."


Ryu terdiam sejenak mengingat ucapan Miyuki yang kebetulan terlintas di pikirannya.


"Kapan pun itu..aku bisa menumpahkan rasa sakit itu bukan? Aku mengandalkanmu, Nishimura Ryuzaki."


"Ini salahku, aku..aku yang tidak bertanggung jawab padanya! Mengapa aku bodoh sekali!" Gerutunya.


Hiroishi mencoba menenangkannya, "ini bukan salahmu, itu terjadi begitu saja tapi..aku kecewa kau membuatnya ketakutan."


"Bukankah aku pernah bilang Miyuki jatuh cinta padamu, tidak menyangka dia gagal melakukannya.."


"Apa maksudmu?" Tanya Ryu.


Hiroisho duduk disampingnya. "Dia mencoba mengerti dirimu dan bergantung padamu, tapi..akibat kau menakutinya, ku rasa emosinya benar-benar terkunci kembali."


"Kenapa kau bisa tau sejauh itu tentangnya?"


"Itu karena Miyuki sangat waspada pada kepercayaan orang lain, dia takut akibat penderitaannya malah membuatnya semakin takut."


"..dan dia bahkan tidak berani menceritakan penderitaannya padamu maupun Ma.."


"Jangan ingatkan nama itu padaku!" Tegur Ryu terdengar marah.


"Aku mengerti, kau mau melupakannya bukan? Beruntunglah ada wanita lain yang mau mencintaimu, Ryuzaki." Tentunya Hiroishi sudah terbiasa menghadapi emosi Ryu.


Ryu berwajah murung, entah apa yang harus dia lakukan. Namun, kedua tangannya sedikit mengepal kesal seolah marah pada dirinya sendiri.


"Anu..apa Miyuki baik-baik saja?" Tanya suara familiar datang ditengah pembicaraan keduanya.


"Yuri?" Hiroishi merasa tidak enak hati bicara dengan Yuri, apalagi ada Ryuzaki masih syok.


"Dia..masih dalam kondisi kritis." Jawab Ryu terdengar sayu.


Yuri juga merasa bersalah, dia membungkukkan badannya dan meminta maaf pada Ryuzaki.


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, akibat diriku..dia..dia.."


Ryu dengan tenang bangkit lalu mengusap kepala Yuri.


"Jangan salahkan dirimu, kau tau..dia sangat ingin berteman denganmu makanya dia senekat ini untuk melindungimu."


"Benarkah?"


"Benar Yuri, apa kau mau berjanji pada kami bahwa kau akan berteman dengan Miyuki?" Ucap Hiroishi.


"Aku..janji, aku janji." Balas Yuri sambil berusaha tidak menangis.


Hiroishi menenangkannya. "Aku senang mendengarnya, sayangnya saat ini Miyuki belum bisa dijenguk. Jadi, tidak apa-apa bukan?"


"Iya, jika dia sudah sadar tolong kabari aku."


Hiroishi mengiyakannya.


Dan Ryuzaki menerima panggilan hebat dari ibunya.


"RYUZAKI! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA GUARDIANMU?!!" Teriak Miya diponsel Ryu hingga suaranya tembus keluar.


"Berisik!"protesnya.


"Guardian?" Heran Hiroishi dan Yuri yang kebetulan juga mendengarnya.


Ryu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan menyerahkan Hiroishi untuk menjaga Miyuki.


"Yosh, no problem." Jawab Hiroishi.


Di luar, Ryu menjawab panggilan ibunya kembali.


"Ryu? Apa yang terjadi?"


"Panjang ceritanya."


"Temui bibi dan ibu, sekarang!!" Teriak Miya langsung menutup panggilannya.


"sepertinya akan jadi masalah menghebohkan nih." Gumam Ryu tampak cemas gemetar akan jadi masalah akibat dirinya.


Sebuah tangan lembut memegang tangan Ryu disampingnya lalu mengatakan..


"Selama aku disisimu, maka semuanya akan baik-baik saja."


"Miyuki?" Ryu terkejut merasakan kehangatan seseorang disampingnya dan itu membuatnya tenang, meski tak terlihat olehnya tapi dia berharap Miyuki cepat kembali.


"Bukankah kau memintaku jangan akhiri hidupku karena cinta? Lalu..apa hanya dengan mengucapkannya kau meninggalkan ku begitu saja? Menurutmu itu adil?" Renungnya.


••


Di kediaman Nishimura, dua wanita bersaudara sedang berhadapan dengan Ryu. Akan tetapi suasananya sedang memanggil aura pertarungan dingin. Dan seperti biasa, Minami menyeduhkan teh untuk mereka lalu duduk disamping Miya.


"Kenapa kau begitu ceroboh, Ryuzaki?!" Seru Miya membentak anaknya.


"Melakukan seenaknya tanpa seizinku, jahat sekali." Sambungnya.


"Ibu tidak punya hak mencampuri urusan pribadiku dengannya." Jawab Ryu santai nan dingin.


"Lalu, bagaimana kondisinya?" Tanya Maya mengabaikan Miya masih kesal.


"Masih dalam kondisi kritis." Jawab Ryu bernada lesu.


"Kau menakutinya?" Tebak Maya.


"Sedikit, karena aku baru tau dia adalah.."


"Si rubah penghancur, bukan?" Sambung Miya terdengar tenang kembali.


Ryu sedikit kesal. "Jadi..kalian juga sudah mengetahuinya?"


"Kenapa?!" Tanya Ryu mulai terdengar marah karena tidak ada yang memberitahu tentang Miyuki sebenarnya.


"Karena Yamashita Miyuki adalalah anak kutukan rubah liar, apa kau pernah liat matanya? Mata yang mengerikan hampir membunuh orang-orang itu?" Tanya Maya.


"Iya."


Ryu tentu saja pernah melihatnya, bahkan pernah menyaksikan Miyuki menghancurkan pistol milik Lina dengan tangan kosongnya.


"Begitu terbentuknya klan Yamashita, Miyuki terlahir dengan kutukan yang ada dimatanya yaitu penderitaan akibat hal itu emosinya tertutup sangat tertutup karena trauma menyaksikan kematian keluargannya." Jawab Maya.


"Bukan hanya itu...matanya juga haus darah, kapan pun itu dia membunuh orang-orang yang melukai teman-temannya seperti dirimu, Ryuzaki." Sambung Miya yang kemudian menikmati tehnya.


Lalu meletakkan cangkir tehnya ke meja kembali, "klan Yamashita juga memiliki mata seperti itu tapi hanya mata buatan hasil penelitian ibunya, mereka mampu mengendalikan emosi di tubuh mereka. Berbeda dengan Miyuki karena matanya sungguh asli dan pastinya tubuhnya lemah menghadapinya, jadi..bisa saja dia memilih mati." Tambahnya.

__ADS_1


"Moyuka Elizabeth adalah nama aslinya alias mantan pimpinan pertama dari 10 klan master. Dia menggantikan marganya jadi Yamashita dan mulai membentuk klannya sendiri." Sahut Maya.


Kedua wanita itu merenung mengingat momen kebersamaan dengan Moyuka,


"Benar, dia menceritakan penderitaannya dimulai saat dia dikhianati oleh Victor Rihito yang membentuk klan master bersamanya." Tambah Miya.


"Victor Rihito?"


"Dia kakekmu, Ryu." Jawab Maya.


Ryu sedikit membulat mendengarnya. "Apa hubungannya dengan Moyuka? Kenapa bisa dia dikhianati? Dan mengapa Yamashita terbuang di klan cabang maupun klan master?"


Ryu bingung dan bertanya-tanya alasan dibalik klan cabang Yamashita.


"Moyuka termakan jebakan si licik itu." Ucap Maya.


"..begitu terbentuk klan Yamashita, lagi dia termakan jebakan kerjasama klan Fujii."


**


Kedua wanita itu menceritakan kisah persahabatannya dengan Moyuka Yamashita, di usia tujuh belasan. Dan mereka dipertemukan di hutan berkabut.


"Aduh!" Seorang wanita itu jatuh dan kakinya terluka akibat kabut menghalangi penglihatannya.


"Miya? Kau terluka?"


"Aku..baik-baik saja kak." Balas wanita itu adalah Miya bersama sang kakak alias Maya.


"Apa kita akan menemukan jalan keluarnya?" Tanya Miya.


"Aku tidak tau." Singkat Maya sambil membantunya berdiri.


Kemudian, keduanya mendengar suara wanita menangis. "Hiks..hiks.."


"Siapa yang nangis malam-malam begini? Kuntilanak ya?" Tebak Maya.


"Aaah..aku jadi takut kak."


"Tenang saja, kau masih bersama ku."


Mereka memgikuti arah suara tadi hingga menemukan wanita berambut pendek dan memiliki warna mata yang mirip dengan api keberanian.


"Anu..kau baik-baik saja bukan?" Tanya Maya berusaha memberanikan diri bertanya, meski pun sebelumnya dua saudara itu berdebat akibat takut.


Wanita tadi berhenti menangis dan menatap keduanya. "Syukurlah tuhan mendengar ku, apa kalian datang menolongku?"


"Eh?" Mereka langsung bingung menjawab pertanyaan itu.


"Ehrr..kami hanya jalan-jalan jadi tidak sengaja menemukanmu."


"Begitu ya, pasti suara tangisku membuat kalian takut bukan? Ooya namaku Yamashita Moyuka."


"Yamashi..ta?" Kedua saudara itu tampak gemetar mendengar nama "Yamashita"


"Sudah ku duga, kalian adalah Maya dan Miya anak Victor bukan? Maafkan aku, ayahmu pasti melarang kalian bertemu dengan Yamashita?"


Miya membenarkannya. Moyuka melihat Miya terluka, dia dengan tenang mengobatinya. "Biarkan aku mengobatimu, Miya."


"Anu..apa kau tau mengapa ayahku melarangku bertemu dengan Yamashita?" Tanya Maya duduk disamping adiknya.


"Tapi sebelum itu berjanjilah tidak mengatakan siapa-siapa kalau kalian sudah bertemu denganku, boleh kan?"


Keduanya mengiyakannya, Moyuka tersenyum lembut yang kemudian menjawab pertanyaan Maya.


"Nama asliku Moyuka Elizabeth mantan pimpinan 10 klan master, sebelumnya aku bersama ayahmu dan teman-teman ku memutuskan membentuk klan master."


"..begitu klan itu terbentuk, aku senang karena setelah 5 tahun perjuangan kami membentuknya, tapi Victor ayah kalian ingin membentuk klan cabang alias boneka klan master. Mereka menyetujuinya, tapi aku sebagai ketua tidak setuju karena hal itu kejam bukan?"


"Itu benar, aku juga bahkan tidak setuju jika klan cabang itu terbentuk. Lalu, apa rencana ayahku berhasil?" Tanya Maya.


Moyuka membenarkannya. "Dia membuat suara ku menghilang dan mengatakan bahwa aku berpenyakitan. Akibat hal itu, 10 klan master memintaku mengundurkan diri karena tidak ada gunanya jadi pemimpin penyakitan."


"Jadi kau mengundurkan diri?"


"Tidak, aku tidak menyerah. Tapi mereka ingin membunuh ku, makanya aku kabur ke tempat ini dan hasilnya victor memimpin dengan keputusannya membentuk beberapa klan cabang."


"...klan master tidak tau apa yang terjadi padaku, ku dengar victor mengatakan hal buruk padaku sampai mereka percaya. Apa itu benar?"


Miya membenarkannya, "lalu apa yang kau lakukan sekarang?"


"Aku ingin membubarkan klan cabang agar mereka tak bisa merasakan penderitaan. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya."


Dia merenung sejenak, "harusnya aku tidak mempercayainya, bukan?"


Di situlah mereka makin akrab hingga semakin membagi kebenaran.


**


Mengingat momen yang kebetulan terlintas itu membuat dua wanita itu merenung.


"Ryu..kau tau, Moyuka ingin membubarkan klan cabang terutama Miyuki, dia membencinya karena sudah lahir di dunia ini." Sahut Maya.


Ryu tak bisa berkutip lagi, dia masih belum mengerti dibalik penderitaan Yamashita, apalagi penderitaan Miyuki. Kemudian, ponselnya berdering di saku jasnya.


"Ada apa monster hitam? Kau mengganggu!"


"jangan banyak protes..kau tau, Miyuki menghilang."


"APA?!"


••


"Dimana ini? Kenapa lampunya terang sekali? Apa aku di rumah seseorang?" Ucap Miyuki yang kemudian mendengar suara tangisan seseorang.


"Hiks..hiks..kenapa? Kenapa kau harus lahir di dunia ini?" Sahut Moyuka terisak tangis melihat bayi disampingnya.


"Jangan berkata seperti itu, ketua. Lihat, dia gadis yang manis, bukan?" Ucap bibi Melida.


"Itu suara ibu dan bibi, apa. . . Ini ingatan masalalu ku yang terlupakan? Ku rasa itu benar.."


"Tapi..mengapa ibu menangis dan mengatakan aku harusnya tidak lahir di dunia ini?" Tambah Miyuki.


Moyuka bangkit dan mengambil pisau untuk menusuk bayinya alias Miyuki. Bibi melida menahannya, "apa yang kau lakukan? Dia anakmu, kau harusnya tidak seperti ini!"


"Apa bibi lihat tanda lahir di lehernya?! itu tanda kutukan rubah liar! Itu artinya dia..dia..akan menerima semua penderitaan Yamashita terutama ibunya sendiri, aku harus membunuhnya!!"


Bayi itu menangis keras karena terkejut, Melida berusaha menenangkan Moyuka.


"Tapi, dia akan ditakdirkan untuk mewujudkan harapanmu, ketua!" Tegas Melida.


Moyuka menjatuhkan pisau dari genggamannya lalu menangis kembali.


"Aku tau, aku tau.. Itu akan sulit mewujudkannya karena penderitaannya akan menakutinya."


"Kau harus mempercayakan semuanya pada anakmu."


Moyuka mengepalkan kedua tangannya, "aku membencimu, Miyuki!"


Kata-kata itu lantas membuat bayinya semakin menangis.


"Ibu membenci ku karena kutukan ku?"


"*Ibu sudah berbohong padaku."


"Miyuki! Miyuki! Sadarkan dirimu*!!" Suara tak asing baginya datang menyadarkannya.


"Miyuki!!"


Miyuki membuka kedua matanya dan heran melihat keberadaannya. Suasana terlihat gelap dan malam hanya sisa lampu menerangi jalan,


"Kenapa aku bisa ada di sini?" Sambil melihat sekelilingnya, dan terkejut karena sadar dirinya sedang berdiri di pinggir jembatan.


"Miyuki?!" Panggil seseorang berlari menghampirinya.


"Ryu?"


"Apa yang kau lakukan berdiam diri disitu?! Turunlah!!" Teriaknya.


Namun, kaki Miyuki tergelincir. "Huh?" Dan jatuh dari jembatan tertinggi itu. Ryu berlari dengan cepat berusaha tepat waktu menyelamatkannya.


Dan dia berhasil menangkap tangan Miyuki, "pegangan yang erat, Miyuki!"


Miyuki masih bingung, apa yang terjadi pada dirinya? Mengapa dia tiba-tiba berada di jembatan dan berniat mengakhiri hidupnya.


"Idiot! Padahal kau yang meminta padaku tidak melakukan hal ini lagi, mengapa kau yang melakukannya?!"


Miyuki tidak mengerti, apa yang dikatakan Ryuzaki.


"Anu...Ryu? apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?"


"Apa? Kau tidak tau apa yang terjadi, daritadi kau terus berjalan dan tidak mendengarkan ku!" Seru Ryu.


"Huh? Be..narkah?"

__ADS_1


Ryu menduga bahwa tubuh Miyuki sedang dikendalikan oleh penderitaannya.


"Lupakan saja, sekarang pegang tangan ku!"


Akhirnya, Ryu berhasil menyelamatkan Miyuki. "Syukurlah.." Tentunya, dia lega.


Saking leganya, dia memeluk Miyuki. "Maafkan aku Miyuki, maafkan aku."


"Lain kali aku akan bertanggung jawab." Tambahnya.


Miyuki jadi teringat saat terakhir dia mengarahkan pistolnya pada Ryuzaki, dia cepat-cepat menepisnya.


"Men..jauh dariku." Nada Miyuki terdengar ketakutan.


Ryu jadi sedikit terdiam karena sadar Miyuki sangat takut padanya. Akan tetapi tangannya mengambil sesuatu dan mengarahkan pistolnya tepat dihadapan Miyuki.


Tentu saja, Miyuki membulat.


"Sampai kapan kau terus menutupi semuanya? Sampai kapan kau terus menahan penderitaanmu? Dan..sampai kapan kau polos seperti ini? Kau itu lemah!" Ucap Ryu,


Miyuki jatuh bertekuk lutut, "aku...aku tidak yakin, apa orang itu bisa ku andalkan? Aku jadi teringat kalau...ibuku sebenarnya membenciku lahir di dunia ini, tapi.."


Dia terisak tangis, "hiks..hiks..tapi mengapa dia tidak membunuh ku saja jika aku membebani hidupnya? Dan sampai saat itu, dia masih berbohong padaku bahwa dia menyayangi ku. Kenapa..hiks..hiks kenapa?"


"Kenapa tidak mengatakannya saja kalau aku adalah anak terkutuk rubah liar yang harus menerima penderitaan Yamashita!"


"Jadi.." Sambil mendekatkan kepalanya dengan pistol milik Ryuzaki.


"..bunuh aku saja!" Sambil menatap Ryu.


Ryu tidak menanggapinya dan berjongkok, lalu tangannya sebelah menarik salah satu tangan Miyuki menyentuh pistolnya. Begitu Miyuki menyentunya, pistol itu hancur.


"Kenapa?" Tanya Miyuki terdengar kecewa plus sedih.


"Aku tidak bisa membunuh orang yang sudah menyelamatkan hidupku di tempat ini, tapi aku bisa saja membunuh orang yang sudah melukainya." Ujar Ryu.


"Aku mengerti, aku mengerti! SETIDAKNYA BIARKAN AKU MATI!!" Teriak Miyuki.


"Penderitaan ini menghantui ku, aku takut....aku takut..sangat takut."


"Hidup ini terasa tidak adil ya, apalagi..aku..aku sudah membunuh ayahku, ayah kesayangan Mayumi-sama. Apa dia akan memaafkan ku atau..membenci ku?"


"Ayahnya? Jadi..."


"Kau tidak tau kah? Biar ku katakan sekali lagi, aku membunuhnya karena ibu ku. Aku menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya tapi setelah tau ibu ku berbohong, aku ragu melakukan dendam ibu ku. Entah kenapa, tubuh terkendali oleh emosi ku yang akhirnya membunuh ayah ku sendiri, aku sangat takut dan takut karena sudah melakukannya.."


"Aku mencoba mengunci emosi ku kembali karena yang ada penderitaan yang akan menguasai tubuh ku." Isak tangis Miyuki.


"Wajahmu jadi jelek." Protes Ryu.


Tangannya menarik Miyuki ke pelukannya. "Begitu ya..sekarang berhentilah, berhenti menahan rasa sakit yang kau tutupi terutama emosimu.. Kau harus mengatakan jujur padaku, kalau tidak..aku akan marah padamu."


Miyuki hanya menangis dan menangis, "itu sudah berlalu, yang kau hadapi sekarang adalah...menghadapi masa depan dan tetap hidup bersama ku, selalu terus bersamaku, maupun di sisiku..lagi dan lagi." Sambung Ryu.


"Iya..iya, aku akan berhenti menutupi semuanya. Aku..aku janji, aku janji. Maafkan aku Ryu, maafkan aku.."


"Sekarang, kau bisa menangis sepuasnya bukan? Aku siap bertanggung jawab "


Tidak menanggapinya lagi, Miyuki menangis dan menumpahkan semua penderitaan yang dipendamkan. UUAAAAHHH!!! Ryu terus memeluknya dengan erat. Lalu mengusap rambut Miyuki, tanpa disadari Ryu ikut bercucuran airmata.


••


Dimensi lain, gadis yang masih terikat rantai di tubuhnya membuka matanya sekali lagi.


"*Sakit sekali.."


"Aku mendengar langkah seseorang..siapa di sana*?"


Dia melihat sosok pria gagah dan tinggi bak malaikat maut sedang menghampirinya.


"Siapa?"


Pria itu berdiri tepat dihadapannya, namun wajahnya terukir sedih menatap tubuh gadis itu masih terlilit rantai besi.



"Apa rasanya sakit sekali?"


Gadis itu merasa lemah semakin melemah. "Benar..rasanya sakit, to..long a..ku."


Pria itu melangkah mendekatinya lalu kedua tangannya menyentuh pipi gadis itu hingga rantai besi di tubuhnya lepas dan hancur.


"Maaf...aku terlambat." Sambil memeluk gadis itu dengan erat.


Namun, rantai itu muncul mengikat gadis itu kembali. Aagh!


"Sayang sekali, aku tidak mengizinkan seseorang membebaskannya." Sahut wanita yang mirip dengan gadis tadi.


"*Itu kau Moyuka? Berhenti mengurungnya.."


"Dia tidak pantas ada di dunia ini, kau lihat dia begitu lemah dan sangat lemah menghadapinya. Sudah ku duga, hal ini akan terjadi padanya*."


Bibir tersenyum sinis sambil mengangkat salah satu alisnya. “*kau Nishimura? Kenapa kau kemari?"


"Aku kemari karena janji ku."


"Hmm..begitu ya? Kalau begitu bagaimana kita buat kesepakatan yaitu kau dan dia harus menerima rasa sakit mematikan."


"Jangan membuat kesepakatan bodoh, lebih baik lepaskan anakmu dan serahkan padaku."


"Baiklah.." Turutnya sambil melepaskan gadis itu. "Meskipun aku membencinya tapi tolong...jaga dia baik-baik karena mulai sekarang dia tanggungjawabmu*." Dinginnya lalu menghilang.


Ryu mengusap kepala gadis itu, "*sekarang kau bebas karena aku akan bertanggung jawab semua penderitaanmu, Miyuki."


“kau tau namaku*?"


Ryu membenarkannya. “kalau begitu..teri..ma kasih."


••


Sementara Ito Yamashita menyaksikan bulan purnama yang tertutup awan berkabut, dia merasakan Miyuki menangis.


"Apa penderitaanmu menghantuimu lagi, Miyuki?"


"Apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?" Tanya Arata menghampirinya.


"Aku tidak bisa tidur." Singkat Ito.


"Kau memikirkan sesuatu ya?" Tebak Arata.


"Entahlah.."


"Tapi, sampai kapan kita harus bersembunyi di rumah sepi ini?" Protes Arata.


"Aku tidak tau karena...Matsumoto-sama sedang mengincari ku."


"Matsumoto-sama?" Ini pertama kali, Arata mendengar nama itu.


"Aku guardiannya. Aku kabur karena sadar bahwa seluruh tubuhku sudah dikendalikan olehnya. Jadi..aku tidak mau berada ditempatnya, rasanya gelap sekali." Jawab Ito dengan tenang.


"..dan, aku ingin menjelaskan padanya apa yang terjadi padaku sebelumnya." Tambahnya.


"Padanya?" Lagi Arata semakin membingung dan penasaran.


"Adik sepupu ku, Yamashita Miyuki."


"HEH? dia keluargamu? Berarti..kau Yamashita dong?"


Ito menjitak kepalanya, "idiot! Tolong perlahankan suaramu, nanti Lina bangun."


"Maaf, aku terkejut. Kau tau kan klan master membenci Yamashita?"


"Aku tau, itu semua ulah pimpinan klan master. Jadi..Moyuka-sama memintaku untuk membubarkan klan cabang yang dibuatkan pimpinan klan master tapi sebelum itu...aku harus bertemu dengannya."


"Jika kau bertemu dengannya, itu artinya aku bertemu dengan buas petir itu lagi ya?"


"Kenapa?" Tanya Ito.


"Yahh..aku pernah menembaknya. Akibat hal itu, aku terbuang."


"Itu karena kau bodoh!"


"Kau sama saja seperti yang lain!" Protes Arata.


"Kau salah, sebelum bertindak pikirkanlah apa yang harus kau lakukannya.. Makanya jangan melakukan hal bodoh, itu memalukan." Ejeknya.


"Kau mengejek ku ya?"


"Ku rasa begitu."


{Bersambung}


••

__ADS_1


terima kasih sudah mampir membaca 😊


__ADS_2