Emergency Love

Emergency Love
Api Yang Membara


__ADS_3


Hari gelap mulai mendatang akan jadi malam terpanjang menghadapi situasi yang tak tertentu, dan pasangan itu sedang dalam perjalanan dengan motor spot hitam tercanggih.


"Ada apa Miyuki?" Tanya Ryuzaki yang menyadari Miyuki tak pernah buka bicara selama pertemuan tadi.


Miyuki berwajah suram gemetar dan kedua tangannya memeluk erat punggung Ryu.


"Apa Yuri akan baik-baik saja? Aku..men..cemaskannya.."


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."


"Hei Miyuki?"


"Hm?"


"Kau pintar dalam hal senjata ya?" Tanya Ryu.


"aku hanya bisa dalam berpedang dan tanganku ini tidak pandai memegang pistol maupun menembaknya, tapi bukan hanya itu aku juga pintar bela diri loo." Santai Miyuki.


"Pantas saja tendanganmu saat itu mengerikan." Ryu jadi ngeri mengingat tendangan sadis itu.


"Benarkah? Uhmm..maafkan aku Ryu."


"Yahh tidak apa-apa, lagi pula itu salahku."


"Ryu?" Panggil Miyuki. "Hm?"


"Kenapa kau melarangku mengatakan bahwa aku istrimu?"


"Karena orang-orang tidak akan terima jika Yamashita adalah istriku, terutama keluargaku dan klan lainnya. Mulai sekarang rahasiakan saja." Jawab Ryu dengan tenang.


"Tapi, bagaimana dengan Kak Hiroishi?" Miyuki cemas karena sudah memberitahu hubungannya pada Hiroishi.


"Kak Hiroishi?" Ryu bertanya, mengapa Miyuki memanggil "kak Hiroishi" Dia merasa terganggu melihat Miyuki tampak akrab dengan Hiroishi.


"Ohh maaf, aku sudah menganggap dia seperti kakakku." Ujar Miyuki singkat dan jelas bahwa Hiroishi adalah pria yang baik dan sudah menganggap Hiroishi sebagai keluarga atau kakaknya dan tentunya Hiroishi tidak keberatan.


"Begitu, tenang saja aku sudah bilang padanya untuk tetap menjaga hubungan kita."


Ucapannya terasa lega dan mengerti apa yang dirasakan Miyuki saat ini.


"..Sebentar lagi kita akan sampai, pegangan yang erat ya." Sambung Ryu.


"Baik."


Sebelumnya, 30 menit yang lalu. . .


Ryu mengajak Miyuki dan Hiroishi datang ke suatu tempat.


"Dimana ini?" Tanya Miyuki.


"Seperti yang kau lihat, markas rahasia ku." Jawab Ryu.


"Lalu, apa mereka sudah datang?" Tanya Hiroishi.


Ryu membenarkannya. "Mereka sudah menunggu, ayo masuk."


"Mereka?" Miyuki tampak tidak mengerti melihat Ryu dan Hiroishi tampak akrab dan ditambah lagi orang-orangnya sudah menunggu.


Mereka masuk dan disambut protes oleh dua sosok familiar.


"TERLAMBAT!!!" Teriak mereka serentak dihadapan Ryuzaki dan Hiroishi, juga Miyuki.


Tentu saja, dua pria itu hanya tampak biasa namun tatapan mereka jadi menyeramkan. Sementara Miyuki tampak bingung.


"Eh? Siapa?"


"Kalian itu ya!.." Kesal dua pria itu menjitak kepala mereka masing-masing.


"Maaf-maaf, ku pikir kau sendiri kemari." Sahut Haru.


"Ahahahah benar..kami benar-benar minta maaf petugas spesial." Sambung Aori yang kemudian membungkukkan badannya dihadapan Ryu dan Hiroishi. Diam-diam tangannya menarik paksa tubuh Haru ikut membungkuk.


"Petugas spesial?" Gumam Miyuki jadi bertanya-tanya.


"Sekarang langsung ke intinya." Ucap Ryu mengubah topik pembicaraan.


Hiroishi menunjukkan lokasi peta Yokohama dan membuat rencana masuk ke bangunan industri lama. Namun, Haru dan Aori malah terpesona melihat wajah Miyuki terpancar oleh sinaran cahaya. WAAHH..


"Ngomong-ngomong dia siapa? Imut sekali." Tanya Aori pada Ryu.


"Dia milikku." Jawab Ryu santai itu lantas membuat dua muridnya jadi bertanya-tanya.


"Ehh?! Jangan bilang kau sudah menikah?!" Teriak Haru.


"Oi, jangan teriak-teriak." Tegur Hiroishi.


"Maaf..erhm, perkenalkan namaku..." Haru berniat memperkenalkan diri dengan gaya alaynya, namun Ryu sadar itu cepat-cepat memukul kepalanya. "Aduh!"


"Dia Yoshida Haru, teman ku yang akan membantumu." Sahut Ryu.


"Dan aku Sakurai Aori, sekretaris perusahaannya." Sambung Aori.


"Sakurai?" Miyuki merasa nama itu tak asing baginya,


"Nama ku Yamashita Miyuki, ist.." Belum sempat Miyuki menjawab, Ryu buka bicara.


"Dia pacarku, itu saja."


"APA?!"


Tetapi Haru dan Aori heboh mendengarnya lalu memprotes karena tidak memberitahunya. Hiroishi yang menyaksikannya jadi nyerah.


"Maaf Miyuki, sepertinya mereka jadi merepotkan ya.."


"Tidak apa-apa, aku juga tidak mengerti."


"Eh? Tidak mengerti? Santainya.." Bahkan Hiroshi ikut tidak mengerti jalan pikiran Miyuki.


"Hmm iya, tapi ini pertama kalinya aku melihat Ryu punya sisi yang berbeda, rasanya lucu sekali ya."


Mendengarnya saja, Hiroishi lega dan mengerti bahwa Miyuki mencoba mengerti tentang Ryu.


"Oi, kalian?" Panggil Hiroishi. "Apa?" Serentak mereka.


Hiroishi membuang nafas kesal itu menegurnya karena tak tahan melihat mereka ribut tak jelas.


"kalian itu ya, sampai kapan kalian meributkan lelucon tidak jelas, sekarang ayo fokus waktu kita tidak banyak."


"Baik, monster hitam."


"Jangan panggil aku monster hitam!" Tegur Hiroishi.


••


"Di mana ini?"


Sosok Yuri tampak tubuhnya terikat tali dan mata mulutnya ikut tertutup itu sulit bergerak maupun membebaskan dirinya.


"Ohh..kau sudah bangun ya." Sahut seorang wanita berbicara dihadapannya.


"Aku sedikit terkejut, kau sembuh dari penyakitmu tapi..sayang sekali,"


"..hari ini adalah hari terakhirmu." Tambahnya.


Yuri jadi ketakutan, "hari terakhirku?!"


"Tenang saja, waktumu bergantung pada suster kesayanganmu."


"Suster? Itu...Miyuki?" Yuri sedikit terkejut karena tau Miyuki juga akan datang menyelamatkannya. Tapi, kedatangannya malah membuat Yuri cemas orang-orang itu akan membunuh Miyuki.


"Jangan datang Miyuki."


Haru dan Hiroishi tiba terlebih dahulu itu memperhatikan situasi bangunan lama terlihat gelap, sepi dan tak ada siapa-siapa pun disana.


"Rasanya sepi sekali ya.." Ujar Haru, tapi tatapannya mulai menyadari sesuatu.


"Meski pun sepi, tapi mencurigakan ya." Tambahnya.


"Yah kau benar, kelelawar." Hiroishi juga ikut sadar bahwa mereka berada ditengah-tengah jebakan.


"Sudah ku duga, ayo alihkan mereka."


"Yosh!"


Begitu dua pria itu bergerak, puluhan panah datang menyerang ke arah mereka dan pastinya mereka berhasil menghindarinya.


"Sekarang!!" Perintah Hiroishi pada Haru untuk menembak orang-orang yang bersembunyi dibalik dinding.


"Serahkan padaku!" Haru tampak semangat menembak sasaran dengan senjata mitraliur favoritnya.


"Yoshaa! Betapa menyenangkan ya!"


"Hei, jangan berlebihan kelelawar!" Tegur Hiroishi menyorakinya.


Haru tidak peduli, dia bergaya cool menembak mereka.


"Jangan remehkan kelelawar tertamvan." Ujarnya memamerkan wajah tampannya alias pria yang dijuluki kelelawar tamvan.


"Ryu, sekarang!." Perintah Hiroishi dengan earphone miliknya yang terhubung di tim Ryu.


"Baik."


Ryu bersama Miyuki dan Aori masuk ke bangunan itu, lalu mencari keberadaan Yuri.

__ADS_1


"Tetap awasi disekitar kalian karena tempat ini hanyalah jebakan, jika itu terjadi maka kalian terjebak bukan?" Ryu memperingatinya.


"Dimengerti!" Serentak dua gadis itu.


Ryu merasa beberapa orang sedang mengawasinya, dia dengan cepat menarik dua gadis itu sembunyi bersamanya.


"Ada apa Ryu?" Tanya Miyuki.


"Mereka sedang mengawasi kita, itu artinya ketuanya sudah tau kita bergerak."


"Kalau begitu, waktu sedang berjalan dong.." Gumam Miyuki membuat dua orang itu terdiam kosong. HUH?


"Apa maksudmu?" Tanya Aori.


"Sebelumnya dia bilang padaku kalau..begitu kita bergerak maka waktu berjalan dan batasnya 60 menit." Tentunya jawaban itu lantas membuat mereka tak bisa berkata - kata, berapa detik kemudian. . .


"APA?"


Sebuah tembakan datang ke arah Miyuki dan Ryu, untungnya Aori sadar dan cepat mendorong mereka.


"Kenapa kau tidak bilang dari awal, sial?!" Ryu tampak kesal setelah tau waktu hanya terhitung 60 menit.


Saking kesalnya, dia mengeluarkan senjata taurus favoritnya lalu menembak orang-orang yang mengawasinya tadi.


"Aori, berapa sisa waktunya?!"


"58 menit." Jawab Aori.


"Huh? 58 menit? Baru saja dimulai ya?"


Miyuki dan Aori membenarkannya. Ryu tak bisa berkata-kata lagi tapi merasa malu sudah diperbodohi.


Orang-orang tadi datang menyerang mereka, Ryu bergerak cepat bagaikan petir menyambar membuat mereka tak bisa berdaya lagi. Miyuki ternganga menyaksikannya, sementara Aori menepuk tangannya sambil menikmatinya.


"Gerakannya..seperti sambaran petir." Ucap Miyuki tak percaya melihat gerakan Ryu begitu mengaggumkan.


"Benar, itulah alasan kenapa mereka memanggilnya, buas petir."


"Waowh..keren." Puji Miyuki.


"Oi kalian, berhenti menonton ku cepat bantu aku." Tegur Ryu pada mereka yang dari tadi menyaksikan gerakannya.


Namun, dua gadis itu malah mengabaikannya sambil melihat bintang-bintang di langit.


"Miyuki, liat bintangnya indah bukan?"


"Kau benar, terang lagi."


Dan lagi malah membuat Ryuzaki semakin kesal. "Dasar! Beraninya kalian mengabaikan ku ya!!"


"Ryuzaki kan hebat." Ucap Aori memberi dua jempol mengandalkannya.


Kemudian, Ryuzaki meminta Aori menemani Miyuki mencari Yuri, meski Miyuki khawatir Ryu akan terluka.


"Tenang saja tubuhku ini seperti baja, jadi akan baik-baik saja." Sahut Ryu menenangkannya.


"Heeeh, sejak kapan kau punya tubuh seperti baja? Bukankah tubuhmu sudah pernah tertembak dua peluru?" Tebak Aori.


"Tutup mulutmu!"


"Baik-baiklah, serahkan saja Miyuki padaku."


"Tapi kau berjanji bukan?" Tanya Miyuki masih belum yakin.


"Iya, aku janji akan menyusulmu." Ryu berusaha menenangkan Miyuki agar tidak mencemaskannya.


••


Hiroishi dan Haru merasa puas setelah menghabiskan kesenangannya menyerang orang-orang tadi. Namun, mereka bangkit lagi.


"Mereka manusia atau zombie sih?" Tebak Haru.


"Sepertinya tidak, mereka hanyalah boneka tiada habisnya." Jawab Hiroishi mengeluarkan senapannya.


"Hei? Sejak kapan kau punya senapan panjang itu?" Tanya Haru melihatnya.


"Hmm entahlah..barusan aku mencurinya." Santainya.


"Hahhh?! Jangan bilang kau mencuri dimobil ku ya?!"


Hiroishi mengetuk kepala si kelelawar dengan senapannya.


"Aduh! Sopanlah sedikit!"


"Tidak, kau harusnya sopan sedikit pada seniormu, idiot!"


Orang-orang tadi bangkit kembali datang mengelilingi mereka membuat Hiroisho dan Haru jadi serius dingin.


"Hei, monster hitam? Entah kenapa energi ku sudah terisi penuh rasanya mau meledak saja ya."


"Cih! Sebaiknya kau meledak saja di kamar mandi."


"Justru kaulah yang bodoh."


Dua pria itu bergerak kilat menembak orang-orang disekeliling mereka, entah mengapa Haru tampak menikmati serangannya.


"Wahh..sudah lama tidak menguras tenaga ya.."


Hiroishi langsung memukul kepalanya lagi, "seriuslah sedikit!" Dinginnya.


••


Dan Yuri masih terikat itu mendengar suara berkelahi di luar,


"Apa dia sudah datang?"


"Ya ampun..ribut sekali di luar, tapi itu tidak mudah bagi mereka menjatuhkan boneka-boneka ku." Sahut wanita duduk dihadapan Yuri.


Dia bangun dari tempat duduknya, "sepertinya aku hanya bisa mengandalkanmu, benar bukan Hitori?"


"Mereka?" Yuri jadi penasaran siapa yang bersama Miyuki datang ke tempat ini.


Pria bertubuh besar datang, "lakukan sesukamu." Ucap wanita tadi dan kemudian meninggalkan tempat itu.


Miyuki yang berlari itu berhenti sejenak, "ada apa Miyuki?" Tanya Aori.


Miyuki tidak menanggapinya melainkan hanya menatap jendela di sampingnya karena merasa sesuatu tak asing baginya.


"Tidak ada apa-apa, ayo.." Jawab Miyuki yang kemudian melanjutkan mencari Yuri.


"apa maksud semua ini...Matsumoto-sama?" Miyuki sadar bahwa wanita bertopeng itu adalah Matsumoto, dalang semuanya.


Dan Ryuzaki masih menyerang boneka- boneka itu yang tiada habisnya mulai merasa lelah.


"Sampai kapan boneka ini berakhir?!" Kesalnya.


"Ryuzaki, apa kau masih bersama mereka?" Tanya Hiroishi dari panggilan earphone milik Ryuzaki.


"Tidak, aku lagi beresin boneka-boneka ini."


"Jadi begitu, aku dan si kelelawar juga sama sepertimu."


"Benarkah? Apa ada cara menghentikannya?"


"Boneka-boneka itu dikendalikan, itu artinya hanya sistem pengendali yang bisa menghentikannya."


"Lalu, kau tau dimana benda itu?


"sepertinya sistem itu ada di lokasi keberadaan Yuri."


"Ooh..terima kasih." Singkat Ryu langsung mematikannya begitu saja.


"Kau itu ya! Tidak ada sopannya sama sekali!" Kesal Hiroishi.


"Aku tidak mau membuang waktu, monster hitam." balas Ryu datar.


••


"Yuri?!"


Miyuki dan Aori akhirnya menemukan Yuri. Keduanya cepat-cepat melepaskan tali meliputi tubuhnya.


"Yuri, kau baik-baik saja bukan?" Tanya Miyuki berwajah panik.


Yuri merasa lega itu memeluknya. "Bodoh! Mengapa kau datang?!"


"Aku tidak sendirian Yuri."


"Aku tau, tapi.."


"Aku tidak peduli, yang penting kau selamat."


Aori menerima panggilan dari Ryu, "ada apa Ryuzaki?"


"Apa kau dan Miyuki menemukan Yuri?"


Aori membenarkannya. "Baguslah, lalu apa kau melihat ada sesuatu ditempat itu?"


Dia melihat monitor menyala disamping Yuri. "Ada monitor di sini."


"Begitu, bisakah kau menghentikan sistem pengendalinya?"


"Sistem pengendali? Untuk apa?"


"Jangan banyak nanya, aku kesulitan ngadepin boneka gak jelas tiada hentinya. Cepat hentikan sistemnya!"

__ADS_1


"Ooh, dimengerti."


"Ada apa Aori?" Tanya Miyuki.


"Yahh mereka kesulitan menghadapi boneka-boneka tiada hentinya."


"Ooh..itu pasti sistem pengendalinya bukan?"tebak Miyuki


"Kau tau?"


Miyuki membenarkannya, "aku sudah menduganya." Gumamnya.


"Yoshh! Aku harus hentikan segera."


Begitu Aori berhasil menghentikan sistem kendalinya, Ryu dan dua pria lainnya lega.


"Harusnya ini dihentikan dari tadi." Keluh Ryu.


"Merepotkan ya.." Sambung Hiroishi.


"Kau baik-baik saja buas petir?" Tanya Haru disampingnya.


"Harusnya aku yang nanya seperti itu padamu, kemana lenganmu sebelah?" Balas Ryu melihat lengan kiri Haru menghilang.


"Sudah dimakan boneka-boneka itu." Jawab Haru berwajah santai seolah tidak merasa sakit.


"Itu salahnya sendiri." sambung Hiroishi.


"BODOH!!" Serentak dua pria itu memukul kepala Haru.


"Oi kalian berdua? Sampai kapan kalian terus memukulku?"


Namun, mereka mengabaikan Haru lalu meninggalkannya, "Oi! Tunggu!!!"


••


Tiba-tiba sebuah panah muncul menusuk punggung Aori, Argh!


"Aori?!"


"Berani sekali ya.." Ucap pria bertubuh besar muncul dari bayangan hitam dengan samurai katana ditangannya.


"Samurai itu.." Miyuki mengenal samurai katana itu, tak sangka benda itu milik ibunya.


"Kenapa? Kau mengenal samurai ini? Ya..tentu saja, samurai katana ini milik ibumu Yamashita Moyuka, bukan?"


"Miyuki? Dia siapa?" Tanya Yuri.


"Aku tidak tau siapa dia, tetap sembunyi dibelakang ku Yuri."


"Baik."


"Kau tidak mengenal ku kah?"


"..Fujii Hitori, itu namaku!" Sambungnya.


"Begitu, jadi...kau kakaknya Kato bukan?" Tebak Miyuki.


Hitori membenarkannya, dia menatap tajam nan dendam mengarahkan samurainya tepat didepan wajah Miyuki.


"Aku masih punya dendam terhadapmu, putri Yamashita Miyuki."


"Yamashita?" Yuri membeku.


"Apa karena Kato Shimizu?" Miyuki menatapnya dengan tatapan mengerikan.


"Bagaimana jika aku membenarkannya?"


Mendengarnya saja membuat Miyuki muak lalu menendang samurai itu.


Hitori tertawa jahat, "hahahahah! Kau tau, betapa bodohnya membiarkan dirinya mati ditangan anaknya sendiri."


"Itu karena dosanya sendiri." Sambung Miyuki.


"Aku tidak terima kau yang membunuhnya!!!" Teriak Hitori menyerangnya.


Dan tentunya, Miyuki mampu menangkisnya. "Apa matsumoto-sama memberitahumu?" Sambil memukulnya kembali.


Hitori membenarkannya sambil menangkis pukulan Miyuki kembali. Yuri tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang itu tapi pembicaraan mereka terdengar mengerikan dan menakutinya.


Keduanya masih bertarung, diam-diam Yuri berusaha membangunkan Aori yang pingsan.


"Ku mohon bangun, bantu Miyuki.." Bujuknya terdengar takut dan cemas Miyuki akan terluka.


Namun, Hitori menyadarinya itu tidak akan membiarkannya. Dia bergerak cepat mengambil samurai di sampingnya lalu melempar ke arah Yuri.


"Yuri?!" Teriak Miyuki. Dia berlari secepat mungkin untuk melindunginya.


Akan tetapi sebuah tangan familiar datang menangkis samurai itu hingga tangannya terluka darah.


"Ryuzaki?"



Itu sosok Ryu yang datang tepat waktu menangkisnya, namun tatapannya berubah api yang membara menatap Hitori.


"Aku mendengar semuanya, Fujii Hitori." Ucapnya.


Miyuki sedikit membulat karena Ryu mendengar pembicaraannya dengan Hitori. Itu artinya, Ryu sudah tau bahwa Miyuki adalah pembunuh alias si rubah penghancur!


"Sepertinya kau tidak sendirian bukan?" Tebak Hitori melihat 3 hewan liar berdiri disamping Miyuki.


"Kalian berdua beresin dia." Perintah Ryu bernada dingin nan tajam.


"Serahkan pada kami." Jawab Haru berwajah semangat.


Dua hewan liar itu mendekati Hitori dengan tatapan menyeramkan.


"Hei Hitori? Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya digigit serigala?" Tanya Haru.


"Sepertinya dia belum pernah merasakannya." Tebak Hiroishi bergabung dengan Haru.


"Heheheheh..." Mata mereka semakin mengerikan hingga membuat Hitori tampak ketakutan.


"Jangan..jangan mendekat!!"


"TIDAK!!"


Pada akhirnya, Hitori tidak berdaya lagi.


Miyuki sedikit ketakutan melihat tatapan Ryu mengerikan lalu menatapnya,


"Jadi itu dirimu yang sebenarnya, si rubah penghancur?" Tebaknya bernada dingin.


Miyuki tak bisa berkutip lagi, dia memutuskan mengarahkan pistolnya dihadapan Ryuzaki.


"Oi, apa yang kau lakukan?" Tegur Haru.


"Miyuki?" Panggil Hiroishi mencoba menenangkan Miyuki.


Pistol digenggaman Miyuki tampak gemetar dan airmatanya ikut berjatuhan, dia tidak tau apa yang harus dikatakan dihadapan Ryuzaki.


Suasana masih tegang itu, tiba-tiba terdengar dua suara peluru tepat mengenai perut Miyuki. BANG! BANG!


Miyuki syok karena sadar seseorang menembak dibelakangnya, "sejak kapan dia.." Sayangnya dia jatuh tak berkutip lagi.


"MIYUKI?!" Tentunya tiga pria itu juga terkejut.


"Ayah?" Yuri tampak membulat gemetar menyaksikannya bahwa orang yang menembak Miyuki adalah ayahnya sendiri.


"Dia pembunuh Yuri, kau ingat itu!!" Ucap Ayahnya pada Yuri.


Dia tertawa jahat dan senang karena bisa melenyapkan Miyuki, suasana hati tiga pria itu sedang mendidih. Namun, saking bahagianya ayah Yuri itu, Yuri bangkit mengambil senjata Miyuki lalu menembaknya.


"Yuri? Apa..yang kau lakukan?" Tentu saja ayahnya syok.


"Aku..ini ayahmu."


Yuri terlihat marah itu menembak ayahnya dengan bertubi-tubi peluru hingga ayahnya tak mampu bangun lagi. Yuri jatuh bertekuk lutut dan menangis.


"Hiks..hiks..jahat!"


"Kau bukan ayah ku lagi!!" Sambungnya.


{Bersambung. . .}


••


"**oi buas petir, mengapa wajahmu jelek sekali?" tanya Monster hitam duduk disamping buas petir tampak melamun.


buas petir membuang nafas kesal, "itu karena gak ada yang komentar ceritanya!"


"tenanglah, tenang..yang penting mereka sudah membacanya bukan?" sambung putri rubah datangnya darimana.


"Arigatou gozaimasu.." putri rubah dan monster hitam membungkukkan badannya. diam-diam tangan keduanya memaksa buas petir ikut membungkuk.


"jika tidak, maukah ku berikan tendangan kilat padamu buas petir." kata putri menatap mematikan seolah mengancam Buas petir.


"yay! aku menurutinya." jawab buas petir pasrah ketakutan meski terdengar datar. LOL.


"terima kasih sudah mampir membaca." ucap ketiganya.


"jangan lupa komentar ya." sambung Kelelawar berdiri dibelakang mereka.


ketiganya langsung memberi pukulan hebat padanya.

__ADS_1


"dimana kesalahan ku, woi?!" teriak kelelawar, LOL


END**


__ADS_2