Emergency Love

Emergency Love
Situasi Tak Menentu


__ADS_3


Setelah Ryu mengakui Miyuki sebagai istri yang berarti baginya dihadapan Yuri, namun Miyuki masih depresi hal itu karena merasa Yuri masih berkecil hati padanya.


"Apa yang harus aku lakukan Ryu?" Tanya Miyuki yang masih berdiri disamping Ryu.


Keduanya masih berdiri menyaksikan matahari tenggelam ke barat.


"Sulit dimengerti, Miyuki.."


"Tapi..setidaknya kau mencobanya lagi bukan?"


Miyuki meragukannya, Ryu menyentuh pipinya dengan lembut.


"Aku masih penasaran siapa dirimu, dan pastinya kau tidak bisa mengungkapkan sebenarnya bukan? tapi..bisakah kau menunjukkannya padaku, Miyuki."


"Sebenarnya aku. . ."


Namun Ryu meminta Miyuki tidak mengatakannya sekarang, "tunjukkan siapa dirimu."


"Tapi..apa hal itu akan menjawab pertanyaanmu?" Tanya Miyuki tidak yakin.


"Karena..banyak hal yang pernah terjadi padaku." Sambungnya.


"Aku mengerti, tapi aku bisa menyimpulkannya." Dengan senang hati, dia tersenyum hangat pada istrinya.


"Dengarkan aku sekali lagi, tunjukkan padaku Miyuki." Tambahnya.


"Dimengerti."


••


Mulai hari itu, Yuri dan Miyuki tak pernah buka bicara, mereka bersikap seolah tidak kenal satu sama lain. Namun, meski itu terjadi.. Perasaan dua wanita itu masih saja terganggu, dan Yuri diam-diam memperhatikannya.


"Hei, lihat! Bukankah dia perawat tanpa lambang itu? Untuk apa dia bekerja ditempat ini, menyebalkan?!"


Yuri tak sengaja mendengar gosip perempuan-perempuan itu sedang membicarakan Miyuki. Dia melihat Miyuki sedang menunggu resep obat pasien. Tak disangka Miyuki tidak mempedulikan mereka yang membicarakannya.


"Ini sesuai resep obatnya, kan?"


Miyuki membenarkannya, "terima kasih.." Dia berniat meninggalkan tempat itu, namun gadis berpirang ungu itu menahannya.


"Oi, tunggu sebentar!"


"Ada apa, Sakura?" Tanya Miyuki.


"Heehh..datar sekali sikapmu, setelah itu bersihkan toilet wanita ya." Perintahnya.


"Tapi, aku harus mengganti cairan infus pasien ku."


"Yahh..serahkan padaku si cantik jenius, karena kau hanyalah suster yang tiada apa-apanya."


"heeeh..cantik jeniusnya darimana? yang ada kau menyulitkan pasienku bernafas."


"berisik lo! itu karena dia jantungan liat paras kecantikan ku!" tegur Sakura.


"oohh.." singkat Miyuki.


"siapa yang peduli." gumamnya.


dia menunduk dan menurutinya. Yuri yang menyaksikannya jadi tidak tega melihat mereka memperlakukan Miyuki dengan buruk.


Hari berikutnya dan berikutnya, Yuri terus menyaksikan penderitaan Miyuki. Teman suster itu alias Sakura bersama suster lainnya sering mengerjainya. Yuri tidak pernah melihat Miyuki menangis maupun mengeluh tentang hal itu.


"Kenapa dia tidak pernah melawannya? Aku tidak mengerti.."


"Apa yang kau perhatikan Yuri?" tanya Pria disampingnya itu ikut menyaksikannya.


Yuri terkejut hampir jantungan melihatnya."Heh? Sejak kapan kau disini dokter?!"


"Heee..santai aja kali." jawab Hiroishi.


"Aku melihat kau sedang memperhatikan sesuatu jadi aku ikut dehh.." Sambungnya. "Apa kau memperhatikan Miyuki ya?"


"Kau mengenalnya?"


Hiroishi membenarkannya, "dia adik dari temanku, dan aku sudah menganggapnya seperti adik kandung."


"Ooh, itu artinya kau tau tentangnya bukan?"


"Sedikit."


"Sedikit? Bukankah kau ini sering dekat dengannya? Anehh.."


"Iya benar, aku sangat dekat dengannya tapi bukan berarti aku tau jelas tentangnya, bukan?"


Miyuki yang lelah itu istirahat ditempat duduk dan memperhatikan kedua tangannya merasa sakit.


"haih..aku tidak menyangka harus menyikat seprei pasien sampai tanganku merah begini.."


dia mengeluh, "Sakura orangnya tegas ya.." sambungnya.


"Apa mereka memperlakukan buruk padamu lagi?" Tanya suara familiar itu.


"Ryu? Kau kemari?"


Itu Ryu, yang kemudian duduk disampingnya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Miyuki.


"Yahhh..aku sudah serahkan padanya." Ryu dengan santai itu menyerahkan tugas perusahaannya pada Yoshida.


"Dasar kau Ryuzaki!" Tentu saja, Yoshida kesal mendapatkan tugas lagi. "hehehe..maafkan aku Yoshida."


"Padanya?" Miyuki bahkan tidak mengerti,


"Lupakan saja, sini tanganmu." Ryu penuh perhatian mengolesi obat dikedua telapak tangan istrinya.


"Aku sudah terbiasa dengan hal ini, jadi aku baik-baik saja."


"Meski kau bilang baik-baik saja, tapi apa setidaknya kau menyerah berkata seperti itu dihadapan ku."


"Maaf Ryu, aku tidak ingin merepotkanmu."


"Jelas ini bukan hal merepotkan." tegur Ryu.


Dua orang tadi masih menyaksikan pasangan itu.


"Jadi iri dehh.." Gumam Yuri.


"Kau menyukainya ya?"


Mendengar pertanyaan itu, Yuri jadi heboh terkejut. "Heh?! Ma..maksudku aku jadi senang liatnya."


"tapi gak usah sekaget gitu kali, orang gila."


"apa katamu?!"


Hiroishi curiga, "yahh..jika kau menyukainya, itu sulit bagi mereka untukmu."


"Apa maksudmu?" tanya Yuri.


"Kau tidak mengerti ya, urusan pengantin lagi jatuh cinta?"


"Ohh? Mereka jatuh cinta?!" teriaknya membulat.


Hiroishi menjitak kepala Yuri, "perlahankan suaramu nanti ketahuan loo."


"Eheheheh..maaf."


"Kau tau, Miyuki kehilangan setengah emosi."


"Huh?"


"Setelah kehilangan ibunya yang satu-satunya dia cintai, dia mengalami trauma berat hingga suatu saat dia tak bisa lagi membangkitkan keceriaannya."


"..dan sekarang, aku senang emosinya diam-diam kembali, itu karena dia bergantung pada Ryuzaki, jika hal itu terulang lagi maka hidupnya tak bisa terkendali." Sambung Hiroishi.


"tak terkendali?"


Yuri yang dari tadi itu diam tanpa menanggapi ucapan Hiroishi karena merasa sesuatu yang menyedihkan tentang Miyuki.

__ADS_1


Dan malamnya, Miyuki menemani Yuri yang tertidur. Dia kemudian memperbaiki selimut Yuri berantakan dan menyelimutinya dengan lembut.


"tidur yang nyenyak, Yuri."


Setelah itu, Miyuki duduk disampingnya sambil merajut sesuatu. Yuri membuka kedua matanya karena sadar seseorang menenemaninya.


"Setiap malam kau menemani ku sambil merajut syal, selama ini kau selalu saja keras kepala padahal aku sudah bilang jangan pernah merawatku lagi." Batin Yuri kemudian menutup kedua matanya kembali.


Miyuki menghela nafas panjang dan bangkit dari tempat duduknya, lalu menyaksikan langit malam yang masih terhias kelip-kelipan kecil diatasnya.


"indah sekali ya.."


••


Ketika senja sudah datang, Yuri terbangun dan melihat sosok Miyuki tidak ada disampingnya hanya tertinggal syal hasil rajutan Miyuki dan surat kecil.


"Ini untukmu Yuri dan selamat, kau akhirnya bisa bebas dari rumah sakit."


"Jadi dia merajut syal ini untukku ya." Gumamnya, dia merasa senang. Diam-diam dia memakainya.


Ryuzaki juga diam-diam menyaksikannya, tentu saja itu membuat senang dan lega melihat Yuri tersenyum lagi. Ryu pergi menemui Miyuki yang tertidur lelah ditempat duduk.


"Kau sudah melakukan yang terbaik, Miyuki." Gumamnya.


Kemudian, dia membopong istrinya yang masih tertidur dan membawanya pulang.


"Ryu.." panggil Miyuki dalam tidurnya.


"hmm?"


"aku..aku menyukai.."


Ryu menghentikan langkahnya dan penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Miyuki.


"aku menyukai hihihihi.."


"dia ngigau ya?" herannya.


"apaan sihh..bikin penasaran aja." batinya.


Sementara Yuri menerima panggilan tak diketahuinya.


"Dengan siapa?"


"Yo..bagaimana kabarmu? Malaikat maut sedang menjemputmu." Jawab nada familiar itu terdengar dingin dan jahat membuat Yuri ketakutan.


••


"Miyuki! Ryu! Selamatkan aku!!" Teriak Yuri yang berada di tangan pengawal Matsumoto.


"Yuri?! Matsumoto-sama! Lepaskan Yuri!"


"Itu karena kau sudah berani melawan perintahku! Aku sudah memintamu untuk mengambil ahli pimpinan Nishimura dan buktinya kau mengkhianati ku!!"


"Ohohohohohhh!!"


"jujur saja, tertawamu mirip ratu kegelapan." ujar Miyuki.


"tidak, ini mirip ratu dewa!" protes Matsumoto.


"heh? darimana datangnya ratu dewa itu."


Dan sosok Mayumi muncul disamping ibunya, Matsumoto.


"Mayumi-sama? Tolong bantu aku lepaskan Yuri."


"Membantumu? Kau itu pembunuh ayahku, Miyuki!"


"Teganya kau membunuh ayah tercintaku seenaknya, dasar pembunuh!!"


Miyuki tak bisa berkata-kata melihat reaksi Mayumi sangat marah padanya, Yuri yang menangis meminta tolong dan Matsumoto sudah siap menancapkan pisau ke arah Yuri.


"Hentikann!!" Seru Miyuki terkejut, begitu sadar bahwa dia berada di kamarnya.


"Aku bermimpi buruk." Gumamnya. dia lega, itu hanya mimpi.


"Kau mimpi buruk? Suara mu menggangguku, nona." Tegur suara familiar disampingnya.


"Apa yang kau lakukan dikamarku?!" Dia terkejut melihat Ryu tidur disampingnya dengan tubuhnya setengah telanjang dada.


Ryu tampak kesakitan mendapat tendangan hebat dari Miyuki, dia bangkit. "Aduuhh..darimana kau belajar tendangan hebat itu!?"


"sejak kapan kau disini? kau melakukan sesuatu bukan?!" Miyuki tampak begitu panik.


"Oi oi, cobalah perhatikan sekelilingmu ini kamar ku." Sahut Ryu.


Miyuki memperhatikan disekelilingnya, "Heh? ini kamar mu ya? kenapa aku disini?"


"Aku ingin tidur seranjang dengan istrikulah, kenapa harus tidak?" Ryu menggodanya.


Miyuki berwajah memerah langsung menendangnya, lebih tepatnya mengenai burung pribadi Ryu.


"Aargghh..sakitnya!"


"Dasar mesum!" Seru Miyuki dan cepat-cepat kabur ke kamarnya kembali.


"Ya ampun, tendangan macam apa itu?! Rasanya mau melayang saja..." entah mengapa rasanya menyakitkan bagi Ryuzaki.


••


Di rumah sakit Aizawa, Miyuki masuk dan merapikan kamar pasienya alias Yuri yang baru saja meninggalkan tempat itu.


"Dia sudah pergi ya.." Dia sedih tak sempat bicara dengan Yuri, apalagi semenjak hari itu.


Tapi, dia lega dan senang setelah mendengar kabar dari Ryu bahwa Yuri senang menerima syal darinya.


"Syukurlah.." Setelah dia merapikan tempat itu, tak sengaja dia menginjak sesuatu disamping meja.


"Apa ini?" Tak disangka ada surat dan pulpen dibawah.


"Save me.., bangunan industri Yokohama."


"Bangunan industri Yokohama?"


Dan lagi dia menerima panggilan dari seseorang.


"Miyuki, tolong aku!"


"Yuri?!"


"*Kau ingin dia selamat, datang ke industri lama di Yokohama pukul 7 malam atau..nyawanya akan melayang."


"..dan ingat, begitu kau bergerak waktu berjalan hanya 60 menit*."


"Tunggu!" Sayangnya panggilan itu terputus, dia mencoba menghubunginya kembali. Namun, tak ada respon lagi.


"Suara panggilan itu seperti..."


"..Matsumoto-sama?"


Dan Ryu yang baru saja mengantar Miyuki itu ditemui oleh beberapa gadis yang jatuh pesona padanya.


"Aahh..bukankah itu Ryuzaki si tampan?"


"Kyaa..dia gagah sekali."


Ryu menghela nafas panjang, "astaga, mengapa aku begitu tampan ya."


Bahkan pikirannya ikut terbawa suasana melihat mata gadis-gadis itu bersinar binar bagaikan sedang menyapa idolanya.


"tapi jujur saja, aku bukan idola mereka bahkan tidak tertarik dengan wajah-wajah itu." gumamnya.


Ryu tidak mempedulikan mereka hingga pria familiar itu menyapanya.


"Banyak sekali penggemarmu."


Ryu tersenyum buaya, "biasa orang tampan lagi populer." Sambil menyinari wajahnya dihadapan gadis-gadis perawat itu. KYAAA


"sayangnya aku tidak tertarik." Sambungnya.


"Bisa bicara sebentar."

__ADS_1


"Tentu saja, Hiroishi."


Kedua pria itu sedang bicara penuh aura mengerikan bak buas petir lagi ngadapin monster hitam.


"Akhir-akhir ini Miyuki sedang memperhatikanmu bersama Yuri." Ucap Hiroishi membuka bicara,


"Iya, aku sudah tau lebih darimu, monster hitam."


"Dasar buas petir, sebaiknya kau senang aku bisa memaafkan mu tentang gadis pertamamu itu."


"Aku juga tidak minta kau memaafkan ku, lagipula semua itu masalalu jadi tak perlu diungkitkan lagi."


Hiroishi mengerti, "tapi terima kasih.."


"Untuk apa?"


"yahhh aku berterima kasih kau tidak membahasnya, itu artinya kau melupakannya bukan? Jadi jika dia hidup kembali, itu akan jadi kesempatan untukku memberi cintaku padanya."


"memangnya orang mati bisa hidup kembali ya.'


"tidak juga sih, siapa tau kebetulan muncul."


"itu bukan dia yang muncul tapi hantu kali.."


"hantu darimana?"


"Terserah dehh.." Ryu menyerah.


"Ngomong-ngomong kau membuatku mengganggu ya." ujar Hiroisho


"Apa lagi yang mengganggumu, monster hitam?" Ryu lelah harus mendengar omong kosong tak berguna oleh Hiroishi.


"Semenjak kau dekat dengan Yuri, Miyuki terganggu dan jatuh kelelahan."


"Apa hubungannya denganku?" tanya Ryu.


"Dasar buas petir tidak tau diri, dia sedang jatuh cinta padamulah,"


"Heh?"


"..itulah mengapa dia mampu membangunkan emosinya, semuanya karena dirimu dan dia sudah siap bergantung padamu." Sambung Hiroishi.


Dia begitu serius mengatakan hal sebenarnya, namun Ryu hanya bermata sayu mendengarkannya.


"Oooh, begitu." Singkatnya itu jelas membuat Hiroishi kesal menggertakkan giginya.


"Kau tidak sopan sekali ya, buas petir!"


"Ryuzaki? Kak Hiroishi?!" Miyuki datang memanggil keduanya.


Dia berwajah panik dan lega menemukan dua pria itu.


"Ada apa Miyuki?" Tanya Ryu.


"Aku butuh kalian berdua." Jawab Miyuki mendadak keintinya.


"Kami?" Heran Ryu


"Berdua?" Ikut Hiroishi.


"Ogah!" Serentak keduanya itu menolak sambil membuang pandangan satu sama lain.


"Hmph!"


"Ayolah, Ryu, Hiroishi..ini darurat."


"Apanya yang darurat? Pasienmu? Kau kan perawat, urus saja sendiri." Ucap Ryu.


Miyuki mendengus kesal karena tak punya waktu menjelaskan situasi sebenarnya.


"Yuri diculik!" Serunya.


"APA?!" Serentak dua pria itu tampak terkejut.


"seharusnya kau bilang dari tadi."


"bodoh!" sambung Ryu.


{Bersambung . . .}


••


Cerita kecilan ; "kue salju"


TADAAA, Miyuki si putri kecil sedang menyajikan kue spesial untuk 4 pangeran tertampannya.


"Apa ini, tuan putri? Tepung ya?" Tanya pangeran pertama, Ryuzaki si buas petir.


"Mirip wajahmu, kelelawar." Ucap pangeran ketiga, Haru si kelelawar tamvan.


"Tidak, ini mirip monster hitam." Sambung pangeran keempat, Ito si elang putih.


"Apanya mirip denganku? Kuenya warna putih bukan hitam, bodoh!" Sahut pangeran kedua, Hiroishi si monter hitam.


"Ini kue salju spesial untuk kalian."


"Kue?" Heran buas petir.


"Salju?" Ikut monster hitam.


"Spesial?" Juga kelelawar tamvan


"Untuk.." Dan elang putih


"Kami?" Serentak 4 pangeran itu.


Putri mengiyakannya, mendengar jawabannya mereka langsung kabur entah kemana.


"Kemana kalian pergi?!"


"Kami sedang punya kerjaan, tuan putri!" Jawab kelelawar tamvan.


"Lalu bagaimana dengan kuenya?" Tanya Miyuki.


"Itu untukmu saja, kami sudah kenyang!" Jawab monster hitam.


Miyuki heran, "mengapa mereka kabur padahal ini kue spesial dan sesuai musim dingin."


4 pangeran itu bersembunyi diatas pohon dan menyaksikan tuan putri masih kebingungan.


"Apa dia o-on?" Heran buas petir


"Kue salju spesial? Bukankah itu salju yang dibuat jadi kue buatan?" Tebak elang putih.


"Itu maksudku daritadi, elang putih."


"Makanya kita kabur." Sambung kelelawar.


"Masa makan salju, aneh." Gumam monster hitam.


Begitu Miyuki memotong kue saljunya dan terlihat isinya cokelat dan strawberry didalamnya, mereka terkejut.


"APA?!! ITU KUE BENERAN?!"


"BUKAN SALJU?!"


"Eh? Ada apa? Ini memang kue beneran namannya kue salju."


"Karena kalian tidak mau, ya sudah untukku saja." tambahnya.


"EHH?"


Putri dengan senang hati itu menghabiskannya dan 4 pangeran tak bisa berkata-kata setelah menolak kue tuan putri.


"Yang benar saja." Keluh buas petir.


END



Terima kasih sudah mampir membaca, 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2