
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, fantasi, komedi
Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.
••
25 April, 2029
Klan cabang yang sebelumnya sebagai pelayan atau guardian itu resmi dibubarkan sesuai persetujuan oleh Master Of Clan's. Mulai tanggal itu masing-masing pimpinan klan master mengumpulkan beberapa anggota yang akan bergabung bagian militer, 1-0-1 batalion.
Sementara itu di awal pagi, Miyuki menyaksikan beberapa informasi klan master yang disiarkan berita.
"Sesuai keinginan dari sebagian diri ku telah tercapai yaitu membubarkan penderitaan klan cabang, saat ini aliansi Elizabeth sudah menguasai Chiba, itu artinya tokyo adalah target serangan berikutnya."
"Tapi..."
"Kita tidak tau, kapan mereka bergerak. Jika tentara jepang menyerang terlebih dahulu maka sama saja mereka menghancurkan rumah sendiri. Mereka butuh sebuah alasan dari sekutunya. Meski sebelumnya pernah damai, tapi damai itu tak sepenuhnya sempurna."
"Alasan aliansi Elizabeth yaitu karena diriku." Ucap Miyuki.
Wajahnya perlahan meraut kesedihan, karena sadar serangan aliansi Elizabeth itu hanya menginginkan Miyuki lenyap dari dunia ini.
"Tak ada siapa pun tau tentang ku kecuali Nishimura." Gumamnya.
Kemudian, dia menutup beritanya karena tak ingin melihatnya maupun mendengarnya lagi. Ryu baru saja keluar dari pintu kamarnya itu melihat Miyuki duduk merenung diri tampaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Miyuki?" Tanya Ryu menghampiri Miyuki, dan duduk disampingnya.
Miyuki menatap Ryu dengan wajah khawatir, dia penasaran apa yang membuat Miyuki mengganggu.
"Aku...sangat berterima kasih padamu karena telah mewujudkan permintaan dari sebagian keinginan diriku."
"T-tapi....aku tidak tenang."
Ryu jadi cemas itu menyentuh kedua pipi istrinya. "Ayo katakan, apa yang membuatmu tidak tenang?"
Miyuki sedikit menyembunyikan wajah gugupnya, namun Ryu menarik wajah itu menatapnya.
"Maaf, aku hanya khawatir jika mereka tau bahwa kedatangan Elizabeth itu karena diriku." Jawab Miyuki dengan nada sedihnya.
"Akan ku pastikan mereka tidak akan tau identitasmu, jika hal itu terjadi aku siap menjadi perisaimu." Balas Ryu.
"Jangan berlebihan Ryu, kau juga harus melindungi dirimu."
"Tidak perlu mencemaskan ku karena kekuatan ku sudah kembali dan ada banyak cara mengalahkan mereka."
"Jadi biarkan aku melindungimu karena aku sudah bersumpah dan berjanji padamu." Tambah Ryu menatapnya dengan wajah damai nan lembut.
Miyuki tersenyum dengan tenang, hal itu membuat Ryu lega melihat istrinya tampak tenang kembali.
"Ooh, aku hampir melupakannya." Ujar Ryu.
"Ada apa Ryu?" Tanya Miyuki.
Ryu dengan senang hati menjawabnya, "minggu depan akan ada rapat penelitian hasil sihir tipe penghancur di departemen Yokohama."
"Apa ada hubungannya dengan eidos yang dihasilkan?"
"Tidak juga, mereka meminta pendapatku."
"Lalu?"
Dengan tiba-tiba Ryu mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Miyuki, kemudian mengatakan dengan wajah polos nan menggoda
"Tentu saja, sebagai kekasihku yang manis dan cantik alias istri ku ikut bersama ku."
Mendengar suara Ryu menggodanya membuat pipi Miyuki memerah penuh.
"A-aku akan ikut bersamamu." Jawabnya singkat nan gugup itu bangkit dari tempat duduknya.
"Uhm...a-aku...m-mau ke toilet." Tambahnya masih memancarkan wajahnya memerah itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dengan alasan pergi ke toilet.
Ryu hanya terdiam sejenak, kemudian bibirnya tersenyum kecil seolah senang melihat tingkah Miyuki.
Sementara itu Miyuki sengaja mengurung diri di kamar mandi sedang membasuh air ke wajahnya dengan berkali-kala agar rasa gugupnya mereda.
"Aaahhh!!! Tidak tidak tidak... Dia sangat dekat, aku jadi bertambah gugup bertemu dengannya lagiii."
"Apa yang harus aku lakukan????"
••••
Di sisi lain, Tatsuro bersama Ito temui Hiroishi sedang jadual shif RS Aizawa.
"Ooh? Ada apa?" Tanya Hiroshi terlebih dahulu menemukan mereka di koridor lantai 3.
"Apa kami mengganggu?" Tanya Ito kembali.
"Tidak juga, tapi kalian hanya punya waktu 15 menit." Jawab Hiroishi, kemudian mengajak mereka membicarakan sesuatu di kantor agar tidak terganggu oleh aktivitas luar.
Tanpa membuang waktu, Tatsuro memberikan kotak kecil sepanjang 50cm pada Hiroishi.
"Apa ini?"
"Di buka dulu." Balas Tatsuro.
Begitu Hiroishi membuka isi benda itu yang ternyata ada dua anak panah silver horn.
"Aku yang buat loo." Sahut Ito.
"Namanya silver horn." Sambungnya.
"Oi, bukankah nama itu adalah..."
"Ryu memintanya." Ucap Tatsuro cepat menjawabnya.
Silver horn adalah nama pistol taurus milik Ryuzaki tipe penghancur 98. Dua anak panah silver horn tipe penghancur 95 memiliki elekronik dua kali lipat dengan sihir destroyer hingga dapat menghancurkan sekali target maupun satu area.
"Tapi, kenapa?" Tanya Hiroishi ingin tau alasan mengapa anak panah itu untuknya?
Ito dengan senang hati menjawabnya, "bukankah Miyuki sudah menganggapmu sebagai kakak? Aku sangat berterima kasih kau sudah menjaganya dengan baik."
Bibir Hiroishi tersenyum simpul itu membalasnya,
"Jika itu memang katamu, maka aku akan menerimanya dengan senang hati."
"Jangan lupa hadir pertemuan di departemen Yokohama." Ucap Tatsuro mengingatkan si monster hitam.
"Ngapain ke sana bro?" Tanya Hiroishi.
__ADS_1
"Akan ada acara besar di tempat itu, aku memintamu datang untuk mengawasinya." Jawab Tatsuro memancarkan aura santainya.
"Ooh, oke."
"Kalau begitu, kami berdua permisi dulu." Sahut Ito mohon pamit pada Hiroishi.
"Baik, terima kasih anak panahnya." Balas Hiroishi sambil membungkukkan badannya, tapi...
"Iya, sampai jumpa monster hitam."
Mendengar Ito memanggilnya “monster hitam” membuat wajah Hiroishi jadi jelek meski dia berusaha menunjukkan wajah bahagiannya nan palsu itu.
"Yahh, sampai jumpa jugaa." Balasnya.
"Kenapa aku dipanggil monster hitam? Wajahku tidaklah menakutkan seperti monster, dasar elang putih!" Batinnya protes.
Tatsuro dan Ito benar-benar meninggalkan RS Aizawa, namun tak disangka mereka melihat sosok Mayumi yang tampaknya bekerja kembali.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ito pada Tatsuro.
"Entahlah, yang ku harapkan adalah dia benar-benar berubah. Tidak seperti putri iblis." Jawab Tatsuro.
Kemudian mereka lanjut pergi dari tempat itu.
•••
Miyuki akhirnya tenang kembali setelah mengurung diri di kamar mandi selama 30 menit, tak disangka dia tidak menemukan Ryu di ruang tamu maupun kamar. Tapi, sepucuk surat tertinggal di kamarnya.
"Aku berangkat ke kantor, jangan kemana-mana dan jaga diri di rumah."
Raut wajah Miyuki tertulis sedih karena harus sendirian di rumah lagi. Ini bukanlah pertama kali baginya, tapi itu sudah berkali-kala diam di rumah. Kedua tangannya mengepal erat nan kesal,
"Aku tidak tahan lagii." Gumamnya.
Pada akhirnya Miyuki memutuskan keluar rumah, meski sudah diperingati agar tidak membuka pintu. Namun, baginya sudah muak berdiam diri di rumah seperti boneka.
"Tiba-tiba aku ingin keluar...." Gumamnya.
Di perusahaan LIVE, Ryu sedang rapat bersama para direktur perusahaan tertinggi tentang peningkatan senjata jepang tahun 2028 sebelumnya.
"Permisi." Ucap Aori datang di tengah rapat itu.
"Ada apa?" Tanya Ryu.
"Maaf sudah mengganggu, Ryu-sama. Seseorang ingin menemuimu."
"Siapa?"
"Kurang tau, tapi ku rasa dia mengenalmu."
"Baiklah, suruh dia tunggu di ruang VIP."
"Baik."
Akibat tamu datang, Ryu meminta mereka untuk membaca laporan hasil tingkatan senjata militer. Untuk sementara waktu, rapat itu tertunda selama 15 menit, kemudian menemui tamu yang sedang menunggu kedatangannya di ruang VIP.
"Maaf lama me..." Ryu terdiam sejenak membuka pintu itu melihat gadis familiar yang sudah lama menunggunya.
"Kau...?"
"Apa aku mengganggumu?" Tanya gadis familiar itu.
Dengan sopan, dia bangkit dari tempat duduknya. Kemudian memperkenalkan dirinya dihadapan Ryu.
"Maaf kau pasti terkejut, perkenalkan namaku Meri guardian Mayumi-sama."
"Apa yang membuatmu kemari menemui ku?" Tanya Ryu.
"Aku sudah mendengar dari Mayumi-sama kalau Miyuki masih hidup, kau tau... aku sangat lega mendengarnya."
"Kenapa?" Tanya Ryu.
"Karena aku tau Miyuki benar-benar tidak bersalah tepat saat dia membunuh ayahnya."
Ryu mengangkat salah satu alisnya, seolah dia curiga. Bagaimana Meri mengetahui masa lalu Miyuki.
"Aku sempat menyaksikannya, tapi aku merasa tidak nyaman membahas masa lalu Miyuki. Intinya aku minta kau menjaga Miyuki sebaik-baiknya karena dia gadis yang baik dan sangat tidak pantas diperlakukan seolah dia benar-benar patut menderita."
Tampaknya Ryu tidak begitu tertarik mendengar Meri membahas masa lalu Miyuki.
"Apa sudah selesai?"
Meri terdiam sejenak mendengar pertanyaan Ryu sedikit menyinggungnya.
"maaf, jika ucapan ku berlebihan. Tapi...."
Namun, Ryu tetap tegas. "Cukup, cukup sampai disini saja kau membahasnya karena aku tidak ingin nama itu terdengar ditelinga ku, mengerti?"
"Apa segitu kau membencinya?" Tanya Meri menatap lawan pada Ryu.
"Tidak, justru aku sudah memaafkannya. Jika dia benar-benar berubah itu artinya dia harus bisa membuat Miyuki memaafkannya." Jawab Ryu dingin menatapnya.
"Baiklah, akan segera ku sampaikan padanya."
•••
Lina bersama Arata tampaknya sedang perjalanan kediaman Saitou, akan tetapi mereka malah menangkap sosok Miyuki yang berwajah murung itu sedang berjalan sendirian di tepi jalan.
"Bukankah itu Miyuki?" Tanya Lina pada kakaknya.
"Ku rasa itu memang dia."
"Ayo berhenti."
Itu benar, sosok Miyuki yang sedang dilanda berbagai emosi hingga membuat dirinya frustasi, tidak tau harus kemana maupun berbuat apa lagi.
"Aku merasa...pusing." keluhnya.
"Miyuki?!" Panggil Lina bersama Arata dari jauhan.
Mendengar suara itu, langkah Miyuki terhenti sejenak. Kemudian berbalik melihat mereka yang memanggilnya.
"Ooh? L-lina, Arata..." Miyuki lega melihat Lina dan Arata datang.
Namun ujung-ujungnya, Miyuki jatuh pingsan tepat mereka mendekatinya.
"Miyuki? Miyuki? Miyuki?!" Seru keduanya menyambut Miyuki.
Mereka berusaha memanggilnya agar Miyuki sadar kembali. Tetapi Miyuki sudah tenggelam dari alam sadarnya.
"Miyuki? Miyuki? Miyuki?"
Terdengar suara tak asing itu disamping telinganya bergema hingga kedua matanya terbuka.
"Huh?" Wajahnya terukir tak mengerti melihat dirinya berada di sebuah kota yang hancur.
__ADS_1
"Ini dimana?" Gumamnya sambil berdiri dengan memperhatikan di sekelilingnya.
"Kau berada di pusat kota yang hancur." Sahut nada gadis itu berdiri di sampingnya.
"Kau?" Miyuki terkejut kecil mengenal gadis itu adalah sebagian dirinya.
Gadis itu tidak mempedulikan pertanyaan Miyuki, melainkan tetap lurus membahas topik lain.
"Apa kau tidak lihat orang-orang itu berperang seperti hewan liar sedang betarung?" Ucapnya dengan menunjukkan orang-orang bertarung di langit.
Dan salah satu di antara mereka, Miyuki menangkap seseorang tak asing baginya.
"B-bukankah itu...Ryu?" Gumamnya.
"Ini adalah masa depan yang akan terjadi." Sahut gadis itu lagi membuat Miyuki menatapnya, lalu bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi kau harus bisa melindungi dirimu. Lupakan orang-orang disekitarmu karena mereka akan musnah akibat dirimu." Jawab gadis itu.
Miyuki semakin tidak mengerti, "Apa yang sebenarnya yang kau bicarakan?"
Gadis itu menyerah dan memilih menatap ke depan. Dia tak ingin membahas lebih lama pada Miyuki karena dia datang ke mimpinya hanyalah membawa pesan atau peringatan.
"Masa depan adalah pembunuhan, maka dari itu kau harus membunuhnya." Sahutnya.
"Siapa?" Tanya Miyuki.
Dengan santai, bibir gadis itu terangkat sinis penuh jawaban. Kemudian menatap Miyuki,
"Ryuzaki."
Kedua mata Miyuki membulat lebar,
"Huh? Kau sedang bercanda, kan?"
Miyuki masih ingin dengar jawaban itu sekali lagi, malang sekali gadis itu menghilang begitu cepat hingga kesadarannya kembali.
"Huh? Mimpi?" Ucap Miyuki akhirnya siuman setelah tidak sadarkan diri selama sejam.
"Syukurlah, kau sudah siuman." Sahut Lina disamping Miyuki.
"Huh? l-lina, apa yang terjadi?" Tanya Miyuki masih setengah sadar melihat dirinya berada di mobil bersama Arata dan Lina.
Tentu saja, Lina menjawab. "Aku dan kakakku melihat kau berjalan sendirian lalu pingsan. Tapi, kau tidak apa-apa kan?"
Begitu mengingat semuanya, Miyuki merasa baikan.
"Uh? A-aku tidak apa-apa, aku hanya merasa kesepian."
Mendengar nada Miyuki diselimuti oleh kesedihan, Lina dan Arata penasaran apa yang membuat Miyuki seperti itu.
"Kesepian? Kemana Ryuzaki?" Tanya Arata.
"Dia sedang bekerja, ku rasa dia begitu sibuk sampai dia tidak bisa menemani ku bahkan dia meminta ku tetap diam di rumah." Jawab Miyuki.
"Kau tau, aku merasa bosan dan kesepian di rumah sendirian." Tambahnya.
Lina terkejut dan tak percaya,
"Kau serius? Dasar buas petir!"
Hingga perlahan-lahan Lina benar-benar kesal pada Ryu yang tidak memegang janjinya.
"Heh? Buas petir?" Miyuki heran mendengar Lina memanggil Ryu alias buas petir.
"Akan ku beri pelajaran padanya si buas petir ituuu!!!" Seru Lina.
•••
Malam itu akhirnya kembali, Ryu baru saja selesai bekerja dan pulang ke rumahnya. Begitu dia membuka pintu rumahnya, tak disangka dia menerima tamparan hebat dari Lina.
PLAKK!
"Kau benar-benar payah, buas petir!!" Seru Lina menatap penuh amarah terhadap Ryu.
Ryu masih biasa-biasa itu bertanya, "sedang apa kau di sini?"
"Tentu saja, aku kemari menemani Miyuki!" Jawab Lina meninggikan nada suaranya.
"Kau tau, siang tadi Miyuki keluar dan berjalan sendirian di luar entah kemana. Untungnya aku menemukannya!"
"Apa katamu? Lalu, dia baik-baik saja bukan?" Kaget Ryu.
"Saat ini dia tidak enak badan, dan kau membuat kesalahan besar!"
"Apa maksudmu?"
"Akhir-akhir ini kau terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaanmu dan lupa terhadap istrimu. Dia sudah muak berdiam diri seperti boneka tanpa dirimu."
"Bukankah kau yang merawatnya? Bukankah kau yang sudah menghidupkannya kembali? Kau melakukannya karena ingin membahagiakannya bukan? Tapi...kenapa? Kenapa kau malah seperti ini seolah kau sudah lari dari tanggung jawabmu." Ucap Lina benar-benar marah pada Ryu, karena dia telah lari dari tanggungjawabnya sendiri.
Ryu juga baru sadar, apa yang dia telah lakukan selama ini? Ternyata selama ini, memang benar dia begitu sibuk hal pekerjaannya hingga jarang bersama Miyuki. Malahan meminta Miyuki tetap di rumah.
Tanpa tanggapan dari Ryu, dia berlari masuk menemui Miyuki. Lina menghela nafas panjang sambil membiarkan Ryu masuk.
"Pria itu benar-benar merepotkan ya." Keluhnya.
Di kamar, Miyuki terbaring lelah dengan wajah yang pucat dan lemas hingga tak lama kemudian. Ryu masuk ke kamar itu, kemudian mendekati istrinya tertidur.
"Maafkan aku, Miyuki."
Mendengar suara itu membuat Miyuki sadar, lalu melihat Ryu duduk disamping tubuhnya.
"Ryu?"
"Maafkan aku, Miyuki." Ucap Ryu menatap istrinya dengan wajah yang sesal.
Tangan lembut Miyuki itu menyentuh salah satu pipi Ryuzaki, dan berkata bahwa itu adalah kesalahannya.
"Akibat aku terlalu egois, aku benar-benar sulit mengendalikannya dan rasanya aku ingin berada disampingmu. Tapi...kau begitu sibuk hingga waktu kita sangat kecil berbicara lebih lama." Ucap Miyuki.
"Padahal aku sudah berusaha memendamkannya, tapi aku gagal melakukannya. Maafkan aku Ryu." Tambahnya sedih.
Ryu ikut memegang tangan lembut istrinya yang sudah lama menempel di pipinya.
"Kau salah, ini benar-benar kesalahan ku. Aku sudah lari dari tanggungjawab ku dan tolong...maafkan aku, Miyuki."
Miyuki hanya tersenyum kecil menenangkan wajah Ryu dipenuhi oleh rasa bersalahnya.
"Baiklah...." Balas Miyuki.
Keduanya saling menatap kasih sayang satu sama lain hingga suasana hati Lina ikut mereda. Kemudian memutuskan pamit tanpa mengganggu mereka.
"jika mimpi itu adalah peringatan, maka apa yang harus aku lakukan saat ini? apa tangan suci ku ini harus ternodai darah kotor lagi?? aku sangat takut...jika kegelapan akan menyelimuti ku." batin Miyuki.
__ADS_1
•••
{BERSAMBUNG. . .}