
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, fantasi, komedi
Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.
••
Mayumi terkejut menatap kedua mata iblis itu membuat dirinya kehilangan kedua tangannya hingga meringis kesakitan.
AAAAGGGGHHHHHHH
"Heh...ada apa denganmu teriak-teriak sendiri?" Tanya
Miyuki dingin.
Kedua mata Mayumi terkejut lebar yang ternyata kedua tangannya kembali dan merasa tidak terjadi apa-apa.
"Huh? A-apa yang terjadi? Tangan ku kembali? Padahal tadi itu..."
Hiroishi juga terkejut menyaksikannya, "a-apa yang terjadi sebenarnya?" Gumamnya.
Kedua tampak terkejut dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi, padahal sebelumnya Mayumi menatap kedua mata Miyuki hingga kedua lengan Mayumi terpotong.
"Jangan kaget begitu, tadi itu hanyalah ilusi." Sahut Miyuki santainya berdiri dihadapan Mayumi.
"I-ilusi?" kaget keduanya.
"Tepat sekali, ilusi yang hampir setara dengan genjutsu dan sihir night-mare, tapi mata ini adalah demon-eyes." Jawab Miyuki.
Hal itu membuat Mayumi tak percaya, dia penasaran apa yang membuat Miyuki seperti ini.
"Miyuki?! Apa yang terjadi sebenarnya padamu?!" Tanya Mayumi.
"Santai saja bertanya dan tentunya aku akan menjawabnya dengan jujur nan lembut." Jawab Miyuki melebarkan senyum kebohongannya.
"Bohong! Jawab pertanyaan ku!" Seru Mayumi membuat Miyuki muak.
"Kau tidak sopan sekali ya." Dingin Miyuki, kemudian hanya sekali menjelitikkan ibu jarinya.
Kedua orang itu merasa tubuhnya terikat oleh organnya sendiri. AGHH
"t-tubuh ku?!" Serentak kaget mereka.
"Aku mengikat organ kalian dengan detak jantung ku loo, jadi sekali saja kalian berusaha melarikan diri maka tubuh kalian akan terpotong seperti aku memotong daging."
Miyuki mendekati keduanya, "maafkan aku..." Ucapnya.
"Aku bukanlah manusia lagi, aku adalah iblis yang dibenci oleh dunia ini, jadi...aku tidak akan membunuh kalian tapi tubuh ini sudah ambil alih hingga aku tidak punya pilihan lain." Tambahnya.
"Apa...?!"
"Berdiamlah kalian disini, aku akan ke pulau Miyaki dan mengakhiri perang bodoh ini." Balas Miyuki masih berhati dingin.
Dia berniat meninggalkan keduanya di situ, tapi...
"B-bagaimana pun i-itu kau adalah adikku." sahut Mayumi.
Miyuki berbalik menatap Mayumi,
"Hehhh...“adikku” katamu?" Sambil senyum sinis.
"Coba kau ingat lagi, setelah apa yang kau lakukan pada ku, lalu kau begitu mudah mengatakan aku ini adikmu." Tambahnya.
"Kalau bukan karena dirimu membunuh ku saat itu maka perang ini tidak terjadi."
"Tapi...kau begitu kejam ya, kau sudah menghancurkan senyuman ku."
Mayumi terdiam tampak menyesalinya. "M-maafkan aku."
"Kau terlambat, Miyuki yang dulu itu sebenarnya sudah mati ditanganmu sendiri." Bisik Miyuki di samping telinga Mayumi.
"Huh?"
Mayumi mencoba ingat ulang kejadian itu, saat dimana dia bertarung dengan Miyuki tepat diatas gedung RSA. Kemudian pertarungan itu berakhir dengan kematian Miyuki ditangan Mayumi, meski Miyuki sempat menusuk Mayumi dengan katana miliknya. Tapi Mayumi berhasil selamat dari kematiannya.
Miyuki tidak ingin membahasnya lagi, dengan dinginnya dia meninggalkan mereka.
"Aku pergi dulu."
"Tunggu?" Sahut Hiroishi menghentikan langkah Miyuki lagi.
Miyuki menghela nafas kesal, "ada apa?"
"Biarkan aku dan Mayumi ikut bersamamu." Jawab Hiroishi.
Miyuki tidak menanggapinya melainkan membebaskan mereka, itu artinya dia membiarkan mereka ikut bersamanya.
•••
Di Yokohama, pertempuran hebat antara tentara jepang bersama pasukan penyihir battalion menghadapi aliansi Elizabeth masih belum berakhir. Ryu bersama tiga pria dan satu wanita itu ikut bergabung membantu pasukan lainnya.
Saat itu mereka berdiri di samping runtuhan gedung menghadapi musuh alias Aliansi Elizabeth. Tak menyangka musuh mereka memiliki sihir kebangkitan hingga sulit melenyapkannya.
"Mereka tiada hentinya ya." Keluh Lina terhadap musuh tak mau berakhir.
"Pakai ini." Ucap Ryu melemparkan senapan pada Lina.
"Huh?" Lina kaget menerima senapan lumayan besar dengan tampilan rapi nan canggih membuatnya terkagum.
"B-bukankah i-ini..." Tebak Lina.
"Senapan pembekuan sihir tipe 76, bisa disebut triple cryztale." Jawab Ito memperkenalkan senapan yang digenggam oleh Lina.
Triple Cryztale, senapan pembekuan sihir memiliki kekuatan berlipat ganda yang mampu membekukan sendi otot, maupun organ-organ manusia, dan tak hanya itu saja senapan tersebut mampu membekukan sihir musuh. Pembekuan sihir hampir setara dengan sihir penghancur.
"Apa si monster hitam dan istri mu itu baik-baik saja?" Tanya Arata ubah topik pembahasan.
Ryu menjawab dengan wajah tenang nan damai,
"Aku tidak tau, tapi... Ku rasa semua baik-baik saja kok."
Diam-diam Arata mendekatkan diri disamping bahu Ryu, kemudian membisiknya,
"Heh? Benarkah? Kau tidak cemburu, kan?" Goda Arata ingin menakuti-nakuti Ryu.
Ryu saking damainya, kedua jari-jemarinya ikut menarik salah satu telinga Arata dengan sekuat-kuatnya.
"Adududududuhhhhhh...."
"Cemburu katamu? Kau mencoba memanasi ku ya, ubi jalar?" Tegur Ryu, lalu melepasnya.
Mendengar Ryu memanggil Arata dengan sebutan "ubi jalar" Pria itu memprotesnya dengan meninggikan nadanya hingga Lina terganggu.
"U-ubi jalar? D-darimana kau mendapatkan julukan aneh itu?!" Protes Arata.
"Dari wajahmu yang menjijikan, ubi jalar." Balas Ryu dingin itu sibuk memasang peluru pada kedua pistolnya.
Lina yang tak tahan mendengar ocehan kakaknya tidak masuk akal itu, dia menyerah dengan amarahnya.
"Berisik!" Teriak Lina memukul perut arata.
"Aduh, sakitt!" Tentu saja Arata mendapatkan rasa sakit keduanya lagi.
"Saat ini bukanlah waktunya bermain, *****." Tegur Lina memasangkan wajah kesalnya.
"Hah? Kau tidak sopan sekali pada kakakmu, bodoh." Protes Arata.
Semakin pria itu protes, maka dia mendapatkan hadiah pukulan mengerikan dari adiknya.
"Diamlah bodoh!" Seru Lina meminta Arata menurutinya.
"Ampunn!" Teriaknya pasrah.
Ryu dan Ito menyadari sesuatu yang akan datang menyerang ke arah tempat mereka.
"Awas!"
BAMNN, satu tempat itu meledak membulat.
__ADS_1
Untungnya, mereka berhasil menghindarnya, Lina kaget melihat Ito menggendongnya ke tempat yang aman.
"I-ito?"
"Maaf."
"Ah, tidak juga. T-terima kasih."
Keduanya tenggelam oleh rasa cinta mereka hingga tidak menyadari sesuatu berhasil mengikat tubuh mereka.
"Ap..?!"
Yaitu plants tongue yang mampu menyerap energi atau sihir pada orang yang terikat oleh benda itu.
"Itukah tongue plants, tanaman lidah yang mampu menyerap sihir?" Batin Ryu.
"Tapi, siapa yang melakukannya?" Tambahnya.
"Aaghh!" Ringis Lina merasakan kekuatannya diserap oleh benda yang melilit di tubuhnya.
"Lina?!" Teriak Arata khawatir.
"Sial! S-sejak kapan mereka melakukannya?!" Kesal Ito menahan kekuatannya diserap, kemudian melihat pemilik sihir itu datang.
"D-dia..."
Pemilik sihir Tongue Plants itu adalah Matsumoto yang saat ini penampilannya tampak berubah dratis yaitu setengah wajahnya adalah wajah iblis alias Youkai.
"Ara-ara...kita bertemu lagi Nishimura Ryuzaki." Ucap Matsumoto tersenyum licik menatap Ryuzaki.
Ryu mengerutkan kedua alisnya kesal bertemu dengan Matsumoto. Arata tak tahan lagi melihat Lina terlihat kesakitan hingga kemarahannya terlepas kendali.
"Kau ya benar-benar tiada hentinya!!" seru Arata.
Ryu yang tadinya tampak tenang itu, jadi sedikit tegang melihat kedua bola mata Arata menunjukkan kemarahan tak terbatas.
"Gawat..." Gumamnnya.
"O-oi Arata?! K-kendalikan d-dirimu!" Seru Ito berusaha mengingatkan Arata mengendalikan diri karena hanya Ito dan Lina mengetahui kekuatan tersembunyi Arata.
"Heh? Kenapa denganmu? Sepertinya ada yang menarik niih." Ucap Matsumoto juga tertarik pada Arata.
"Huh?" Arata akhirnya sadar pada matanya hingga jatuh bertekuk lutut berusaha mengendalikan amarahnya.
Sayangnya Matsumoto tersenyum jahat itu menemukan kelemahan Arata. "Hmm...begitu ya."
Dia berniat memperkuatkan sihirnya agar menyerap energi Lina dan Ito lebih sedalam-dalamnya,
"Kalau begitu, ap...?!"
"nullification di aktifkan."
Tapi, tongue plants berhasil dipunahkan oleh sihir pembatalan hingga Lina dan Ito terbebas. Tentu saja yang melakukannya adalah...
"Ryuzaki?!" Kaget Matsumoto.
Bibir Ryu tersenyum tipis nan sinis,
"complete." Ucapnya dengan tatapan menang pada Matsumoto.
"Jangan remehkan kekuatan dewa lo." Tambah Ryu.
•••
Miyuki bersama Mayumi dan Hiroishi sedang dalam penerbangan ke pulau Miyaki.
"Apa Ryu baik-baik saja?" Gumam Mayumi khawatir.
Hingga Miyuki mendengarnya, "Kenapa? Kau khawatir dengannya?" Godanya
"Bagaimana denganmu?" Tanya Mayumi di samping Miyuki.
Bukannya menjawab, Miyuki ubah pertanyaan dengan tersenyum sinis menatap Mayumi.
"Bagaimana jika aku melakukannya untukmu?"
"Kau bermaksud akan ke sana, begitu?" Tebak Mayumi.
"Benar."
"Aku akan kembali dan pastikan kalian sudah sampai loo." Jawab Miyuki berniat meninggalkan mereka.
"Aku mengandalkanmu, monster hitam." Tambahnya kemudian menghilang dari tempat duduknya.
Bahkan Hiroishi tak sempat menghentikannya,
"O-oi tung..."
"Sial!" Kesalnya.
Menyadari Hiroishi kesal pada Miyuki itu membuat Mayumi terlihat sedih bercampur khawatir.
"Maaf." Sahutnya singkat.
"Dasar bodoh! Kenapa harus sekarang?!" Seru Hiroishi merasa kesal pada tingkah Mayumi sebelumnya benar-benar jauh memalukan.
"Itu karena aku benar-benar menyesalinya." Tegas Mayumi menyesalinya.
"Aku tau itu, tapi kenapa harus sekarang?!"
"Kau tau, betapa bodohnya kelakuanmu saat itu. Apa hanya karena dendammu kau ingin menuntaskannya?!" Bentak Hiroishi.
Mayumi tak sanggup menanggapinya, Hiroishi menyerah.
"Dengar Mayumi, saat ini kita tidak bisa lari darinya tapi...kita bisa menjebaknya." Ucapnya terdengar prihatin pada Mayumi.
"Huh? Benarkah? Tapi kau yakin akan melakukannya? Bagaimana jika itu gagal?" Tanya Mayumi meragukan ucapan Hiroishi.
"Jangan mematahkan ku dengan wajah seperti itu." Tegur Hiroishi.
"Oh, maaf." Balas Mayumi.
Akhirnya pulau Miyaki mulai terlihat jelas,
"Kita sudah sampai loo."
"Baik."
•••
Miyuki diam-diam menyaksikan Ryu bersama lainnya menghadapi Matsumoto dari kejauhan.
"Sepertinya dia baik-baik saja." Gumam Miyuki tersenyum, tapi senyum itu berubah, menyadari serangan datang ke arahnya.
Dengan cepat, dia menangkap sebuah peluru mungil mengandung sihir peledak.
"Jangan jadi seperti pecundang, keluarlah." Tambahnya dingin, dia juga sadar seseorang sedang bersembunyi di suatu tempat.
Orang itu akhirnya keluar, tapi munculnya tepat di samping telinga Miyuki,
"Sepertinya nyalimu tajam sekali ya." Bisik nada familiar.
"Jauh lebih tajam dari pisaumu...." Sambung Miyuki santai, kemudian berbalik menatap orang itu.
"...Victor Rihito." Tambahnya.
Keduanya saling tersenyum licik penuh ide mengerikan, tanpa aba-aba lagi, Victor maju duluan menyerang Miyuki dengan pukulan taekwondo.
Saking santainya, Miyuki berhasil menghindarnya dan merasa pukulan Victor sangatlah mudah baginya.
"Bagaimana dengan ini?" Sahut Miyuki membalas serangannya, hanya sekali menjentikkan jarinya itu tubuh Victor merasa berat dan organnya terikat oleh rasa sakit.
"Aggghh...a-apa i-ni?"
Miyuki tersenyum menang, lalu menjatuhkan pria itu ke tanah hanya dengan membuang nafasnya. Victor tak bisa kendalikan tubuhnya yang tak bisa bergerak sama sekali hingga ia jatuh kesakitan ke tanah. AGGH!
melihat pria itu terbaring mulai tak berdaya, Miyuki muncul dihadapannya dengan tatapan mengerikan pada pria itu.
"Inikah yang disebut iblis Youkai?" Tebaknya.
"Tentu saja!" Tegas Rihito membenarkan dirinya seorang iblis Youkai.
Dia berusaha berdiri kembali, namun Miyuki yang tak ada ampunnya itu menginjak leher pria itu. Aghh!
__ADS_1
"Heh? Benarkah? Tapi, kenapa kau mudah sekali tumbang? Apa hanya itu kemampuanmu, Youkai?"
Rihito kesal menatap wajah Miyuki jauh lebih menjijikan lebih dari sebelumnya.
"Cih! Kenapa kau jauh lebih kuat dari ku? Bukankah kau itu sudah mati dan dihidupkan kembali dengan eidose?" Tanyanya.
Tentu Miyuki membenarkannya dengan tersenyum licik.
"Benar, aku sudah mati dan dihidupkan kembali. Tapi, bisakah aku menanyakan beberapa hal padamu, Rihito?"
"Sudah beberapa banyak kau mengirim orang-orang ke neraka itu?" Tambahnya.
"Orang-orang itu juga salah satu ibu ku, kan?" Tanya Miyuki memastikannya.
Bukannya menjawab, Rihito memilih menghilang dari Miyuki. Reaksi Miyuki tidak begitu kaget atau panik melainkan bibirnya melebarkan kebijakannya.
"Kau tidak perlu sembunyi dari ku loo." Gumamnya.
Dia tau bahwa Rihito sedang bersembunyi di suatu tempat.
"Sial! Apakah dia seperti itu karena kutukannya? Gara-gara kekuatannya aku jadi kesulitan mengendalikan kekuatan ku." Batin Rihito.
Mengingat kembali saat Miyuki menjentikkan jarinya membuat Rihito tak mampu bergerak.
"Apa-apaan dia? Hanya menjentikkan sekali, tubuh ku sulit bergerak. Dia benar-benar monster terkutuk."
Dia coba pikirkan cara bagaimana mengalahkan Miyuki, akan tetapi dia begitu tenggelam memikirkannya hingga tak sadar gadis itu menemukannya.
"Hei, kau belum menjawabnya Rihito." Bisiknya di samping Rihito.
"Huh?" Rihito kaget, sejak kapan gadis itu menemukannya.
Rihito tak punya pilihan lain menyerang Miyuki dengan semua sihir yang ia ciptakan. Sayang sekali, tak ada sedikit lecet pun melukai tubuh Miyuki.
"Sayang sekali..." Ucapnya tersenyum. Hanya sekali menjentikkan jarinya pria itu tak bisa bergerak lagi.
"Kau bermaksud menghindari ku ya?" Tanya Miyuki santai.
"Apa maumu?!" Seru Rihito tak kuat melihat Miyuki begitu mudahnya mengunci tubuhnya hingga tak bisa bergerak.
"Simpel kok, aku hanya ingin mendengar jawabanmu."
Belum sempat Rihito menjawabnya, tangan Miyuki sudah melekat dilehernya.
"Lambat sekali ya."
"Meskipun kau tidak menjawabnya, aku juga sudah mengetahuinya bahwa kematianmu hanya tinggal menghitung waktu."
Miyuki muak harus menunggu jawaban Rihito begitu lama hingga dia tak punya pilihan lain mengakhiri hidup pria itu agar Miyuki bisa mengakhiri perang secepatnya sebelum terlambat.
"Ap...?!"
Rihito juga terkejut dan panik, entah apa yang harus dia lakukan karena tubuhnya yang terkunci oleh Miyuki itu juga tak bisa bebas darinya.
"Inilah akibat kau telah menjadi iblis Youkai yang begitu bodoh, membunuh mereka sesukamu dan tertawa diatas penderitaan orang lain." Sahut Miyuki dingin nan sinis menatap Rihito.
"Kau membuat amarahku mendidih." Tambahnya sambil memperkuatkan kedua tangannya mencekik leher Rihito.
Hingga Rihito kehilangan waktu hidupnya.
"H-hentikan...aaaghh AAAGGGGGGHHH."
"Sayonara..." Balas Miyuki melebarkan senyum jahatnya pada Rihito.
Pria itu sudah tak berkutip lagi. Miyuki melepas kedua tangannya dan membiarkan tubuh pria itu jatuh tak berdaya ke tanah.
Kemudian, menghela nafas panjang,
"Maaf, aku harus mengakhirinya segera." Gumam Miyuki tampak merautkan kesedihannya.
•••
Lina dan Arata penuh rasa khawatir itu menunggu kesadaran Ito kembali.
"Ito, ku mohon sadarlah." Mohon Lina
Sebelumnya Ito dan Lina hilang kesadaran akibat energi sihirnya diserap oleh Tongue plants, Lina berhasil kembali dengan normal. Tetapi, Ito masih tidak menyadarkan diri.
"Apa yang harus kita lakukan, kak Arata?" Tanya Lina dipenuhi rasa khawatir terhadap Ito.
Arata bingung harus berbuat apa kecuali menenangkan adiknya.
"Eeehhhrr yaaahhh, lebih baik tenangkan dirimu karena Ito hanya pingsan kelelahan."
"Huh?"
"Tapi, dia baik-baik saja kan?" Tanya Lina masih tidak yakin perkataan kakaknya.
Dengan usaha sebaik-baiknya Arata menjawab dengan menyakinkannya.
"Yes, yes." sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian, keduanya menyaksikan pertarungan hebat di langit.
"Kapan perang ini berakhir?" Gumam Lina penuh harap agar perang itu segera berakhir.
Hasil pertarungan Ryu dan Matsumoto nyaris seimbang, yang ternyata Ryu lebih bijak mengendalikan sihirnya dibanding Matsumoto yang angkuhnya tak pernah henti.
"Aku tidak menyangka kalau hasilnya bakal seperti ini, sial!" Kesal Matsumoto.
"Kenapa? Apa kau terkejut, hm?" Tanya Ryu merasa senang memyadari ekspresi Matsumoto tampak kaku.
"Tidak juga, aku hanya sedikit kagum dengan kemampuanmu." Jawab Matsumoto santai.
Namun, Ryu masih belum puas karena mampu membaca ekspresi Matsumoto itu.
"Hoh, benarkah? Tapi wajahmu menunjukkan bahwa kau terkejut dan ketakutan."
Akibat ketahuan, Matsumoto hilang kesabaran.
"Jangan asal bicara, *******!" Serunya.
Dia berniat menyerang Ryu selagi pria itu hendak mengisi peluru ke pistolnya. Tapi, yang terjadi adalah. . .
Sebuah panah menancap tepat ke belakang Matsumoto. AAAGHH
Ryu bersama lainnya terkejut melihat panah familiar itu berhasil menusuk belakang Matsumoto.
"Panah itu...Hiroishi melakukannnya kah?" Batin Ryu menebaknya.
"Itu...silver horn?" Kaget Lina menyadari anak panah silver horn punya Hiroishi.
Matsumoto terkejut dengan benda itu.
"Benda apa ini? T-tubuh ku?!" Paniknya.
Akibat mengenai anak panah Silver horn, Matsumoto merasa tubuhnya kesakitan dan berat seolah menarik tubuhnya ke tanah.
Saat dia terjatuh, tubuhnya sulit bergerak kemudian melihat seseorang mengambang dilangit dari kejauhan. Orang itu tersenyum licik nan menang, lalu mengatakan...
"Game over, Youkai." Ucapnya.
Matsumoto jadi kesal dengan mengepalkan kedua tangannya menatapnya. "K-kau...?!"
"...red queen?!"
...
{Bersambung. . .}
happy Eid mubarak,
jika ada kesalahan pada tulisan di atas
mohon maaf sebesar-besarnya.
meski akhir-akhir ini telat update akibat koneksi data sedang bermasalah.
insya allah, saya usahakan update lebih tepat waktu.
jangan lupa tinggalkan jejakmu...
__ADS_1
Arigatou Gozaimasu🙌🙏😊😊