Emergency Love

Emergency Love
Bab 62


__ADS_3

"Apa yang kamu bicarakan, Honey? Kita ini pihak yang kontra." Tidak bermaksud menyakiti hati Greta. Tetapi jujur saja, Prada merasa jika permintaan nyleneh dari Greta itu mustahil dipenuhi olehnya.


Wanita itu kemudian menekuk wajahnya, seakan keberatan dengan penolakan dari Prada. Dia merasa jika Prada harus membantu ibunya. Selain memiliki hak untuk mendapatkan bantuan hukum, Rosaline adalah ibu kandung Prada. Dokter wanita itu hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Keluarga dari suaminya sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.


"Aku rasa itu tidak mungkin, kamu tahu sendiri, bukan? Dia wanita yang tidak memedulikan kebahagian orang lain dan hanya mengejar harta saja. Sudah sepantasnya kita menjebloskan ke penjara sebagai hukuman yang paling sesuai untuk pengkhianatan yang dilakukan olehnya."


"Bagaimanapun dia Ibu kita, aku tidak ingin anak ini nantinya tidak mengenal neneknya. Dia berhak melihat dan memiliki ingatan keluarga yang utuh, Suamiku." Greta bahkan harus meruntuhkan egonya dengan cara memelas dan juga merayu Prada dengan kata serta sikap manja.


"Tapi ... "


"Kumohon, semua ini demi anak kita." Dia menawarkan sekali lagi kesepakatan.


Kali ini Prada lah yang tidak bisa menolak dengan berkata tidak dari pengajuan kesepakatan dari Greta. Jika dulu dirinyalah yang berhasil membuat penawaran yang tidak bisa ditolak oleh Greta. Maka, sekarang berubah. Greta lah yang memegang kendali. Karena jika tidak, dia akan pergi dan membawa anak ini dari kehidupan Prada.


"Yang ... ini sulit, mati-matian loh aku pertahankan hubungan kita, jangan seperti ini! Ah ... " Pria itu begitu frustasi dibuatnya.


Di satu sisi, Prada berniat memberi pelajaran sepantas mungkin untuk ibunya. Dan di satu sisi dia tidak ingin kehilangan anak dan istrinya.


Greta mengelus lembut punggung Prada yang sejak keinginannya tak dikehendaki oleh Prada sudah memunggunginya, "Ayolah, selain suami dan calon ayah yang baik, kamu juga harus menjadi anak yang berbakti dong, Yang."


"Tapi, ada syaratnya!"


"Yaelah, kenapa semua pengacara banyak maunya. Kenapa otaknya selalu licik dan hanya ingin keuntungan saja?"


"Apa itu?"


Masuk .. Greta telah masuk dalam umpannya. Sehingga Prada bisa memanfaatkan ini dengan baik. Dia lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga sang istri. "Aku bosan di ranjang ataupun di kamar mandi, jadi mari kita coba di tempat lain. Di balkon kamar ini mungkin."

__ADS_1


Terlonjak, Greta menutup mulutnya hingga tidak bisa lagi berkata-kata. Hingga akhirnya dia berteriak karena kesal, "Kau gila, Prada!"


"Mau tidak? Kalau nggak aku akan batalin nih?"


"Kok gue jadi yang rugi, sih? Niat bantuin emaknya, malah apes deh. Padahal semua ini demi dia dan keluarganya juga."


**


"Bagaimana jika dia tidak bersedia? Greta, permintaanmu ini berlebihan, deh!"


Greta menatap ke arah samping di mana ada seorang pria yang hendak menghindari janjinya setelah apa yang diinginkan terpenuhi dengan baik semalam.


Kemudian dia mengayunkan pisau makan yang sebelumnya berada di depannya, "Coba aja kalau berani, itu mau ditebas abis, ha?" Pisau itu dia tunjukkan ke arah bagian bawah dari tempat duduk Prada.


Mengerikan sekali ancaman Greta memang, dia tak segan-segan menebas habis benda berharga itu. "Honey ini aset utama, jangan main-main!"


"Maka? Bantuin Ibu!"


Dan seperti kesepakatan semalam, Prada akan mengunjungi ibunya di yang telah ditahan oleh kejaksaan. Dengan didampingi oleh pengacara yang menjadi juru bicaranya, Wahyu. Prada pergi menemui ibunya.


"Ada apa? Apa kau datang ingin mengolok-oloknya Ibumu? Hebat sekali kau Prada, bisa menjebloskan Ibu kandungmu." Rosaline mencibir kedatangan sang putra hari ini.


Meskipun dia terlihat tak acuh, tetapi jauh di dalam hatinya dia merasa kesepian di tempat ini. Terlebih lagi, ketika Greta mengatakan seperti itu kemarin, dia terdiam dan terus memikirkan kata-kata menantunya.


Prada menarik kursi di depan sang Ibu dan duduk menghadap Rosaline. Hanya Wahyu lah yang terlihat santai di tempat ini.


Pengacara senior itu menaikkan sudut bibirnya sedikit, dia mencela jika ibunya memiliki pikiran yang buruk, "Pantas saja kau tega melakukan hal seperti itu, Kasenda jiwa iblismu tidak bisa hilang."

__ADS_1


"Prada, jaga ucapanmu. Aku ini ibumu!"


"Iya, kau ibuku. Ibu yang telah memisahkan anak dari ayahnya untuk selamanya. Ibu yang tega mencelakai istri anaknya. Dan ibu juga yang menyebabkan kakek anaknya masuk rumah sakit." Bukan hanya menyakitkan, tetapi ucapan Prada itu lebih jujur dari yang pernah Rosaline dengar.


Dia hanya terdiam hingga tidak bisa lagi menatap wajah anaknya. Kejahatannya sudah tak terhitung lagi. Bahkan jika dia bertobat, mungkin tobatnya tidak akan mengubah apapun.


Prada menarik napasnya, lalu dia mengambil awalan untuk mengatakan hal yang sesungguhnya,"Tetapi, tahukan Ibu? Orang-orang yang kau sakiti tidak pernah membencimu. Mereka ingin aku membantumu. Kakek tidak pernah melaporkan kejahatanmu. Apalagi Greta? Dia bahkan meminta aku menjadi kuasa hukummu."


Rosaline kemudian menekuk kepalanya dengan kedua tangan menyangga kepala wanita itu, Tidak mungkin, dia ... dia tidak mungkin melakukannya,"


Orang yang selama ini dia anggap telah mencuri perhatian Prada untuknya ternyata meminta anaknya untuk membantu kasus hukum yang tengah menjeratnya.


"Jika bukan karena dialah, mana mungkin aku bersedia menunduk padamu, Ibu. Seorang anak dari mantan pacar yang selama ini kau benci telah mengubah kehidupanku. Jadi tolong, berhenti dan akui semua yang Ibu perbuat agar vonis jaksa bisa dikurangi." Prada berharap jika Rosaline akan menyampaikan kebenaran di persidangan selanjutnya, agar hukumannya bisa diringankan. Mungkin dengan cara itulah Rosaline bisa diselamatkan.


"Apa Ibu masih bisa mendapatkan kata maaf dari kalian?"


"Lakukan saja seperti kata hati Ibu, karena aku yakin jauh di hati kecilmu, kau pasti mencintai keluargamu, Ibu."


Kembali Rosaline dibuat terdiam oleh anak-anaknya, "Semua yang kukatakan adalah kebenarannya." Pada saat diperiksa dahulu, Rosaline mengaku jika dirinya terlibat dalam kecelakaan mantan suaminya. Dan membela suami ke duanya.


"Sampaikan saja kebenarannya, aku yang akan mengurus bukti dan saksi yang bisa meringankan Ibu, karena aku sudah berjanji pada Greta."


Usai menyampaikan keinginannya, Prada berdiri dan undur diri dari hadapan Rosaline. "Tunggu, Nak!"


Prada menghentikan langkahnya. Namun, dia tidak membalik badan karena tidak sampai hati melihat ibunya terisak. "Maafkan Ibu, Ibu telah merenggut kebahagian kalian."


Bohong jika hati Prada tidak terenyuh, jiwanya tergoncang. Dia tak bisa lagi mengindari gejolak yang selama ini dia tahan. Bahkan hampir saja air matanya jatuh. Namun, rasa gengsi membuatnya kuat. Terlebih lagi di depan Wahyu yang notabene anak buahnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, siapkan saja dirimu untuk sidang selanjutnya."


...----------------...


__ADS_2