
Tak hanya Liu Shan, tetapi semua orang sontak terkejut melihat kemampuan Hao Fenhua.
“Manipulasi elemen angin. Mustahil, darimana dia bisa mempelajari hal itu?!” teriak Sheng Tong.
Manipulasi elemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa teknik tersebut adalah teknik yang sulit dikuasai oleh para kultivator. Tak hanya karena syarat tingkatnya yang tinggi, tetapi kemampuan dari para kultivator harus sanggup menampung sejumlah energi Ki dari alam yang sangat deras.
Di daratan kultivator, ada 5 komponen elemen utama. Elemen tersebut adalah angin, api, air, tanah dan petir. Dari kelima elemen ini dapat terpecah menjadi berbagai macam bagian, sesuai dengan pengendalian sang kultivator.
Hao Fenhua yang menguasai teknik manipulasi elemen angin adalah sesuatu yang langka di mata semua orang di dalam arena. Karena saat ini, hanya ada 4 kultivator yang diketahui dapat menguasai teknik manipulasi elemen, salah satunya adalah Qing Yao.
“Hahaha, dia menyembunyikan teknik itu dari awal ya!” tawa tetua Khan.
Di lain sisi, Liu Shan dibuat kewalahan di dalam serangan angin itu. Layaknya seperti tebasan boomerang yang kunjung balik lagi dan lagi mengincarnya.
Bahu, lengan, kaki maupun wajah tergores oleh serangan itu.
Sret sret!
“Ugh!
Liu Shan yang pola serangan tersebut pun mulai mempelajarinya. Perlahan, dia menggerakan angin-angin tersebut untuk berada di satu jalur. Lalu,
“Teknik bela diri : Panas matahari terbit!”
Aliran energi Ki yang tersalurkan di dalam salah satu kakinya pun di ayun dan menghancurkan serangan angin tersebut.
Ketika Liu Shan mendarat, dia terkejut melihat Hao Fenhua sudah maju tepat di depan matanya.
“(Tidak akan sempat!)”
Buak!
“Uagh!”
Tubuhnya terhempas jauh ke belakang. Kakinya menahan tubuhnya tepat di ujung batas arena. Setelah menerima serangan itu, Liu Shan mengira bahwa Hao Fenhua akan melaju dengan satu serangan lagi. Begitu dia mengangkat pandangannya ke depan, Liu Shan tertegun begitu melihat Hao Fenhua berdiri jauh di depannya dengan tenang.
“Apa yang kau lakukan?” gumam Liu Shan.
“Memberikanmu sedikit rasa dari kenyataan,” sahut Hao Fenhua.
Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Senyuman hangat dengan candaan yang dia sering lontarkan pun menghilang seketika di atas arena. Tatapan mata menajam, dahi mengerut sembari memudarkan senyuman.
Wosh!
“Terkejut? Sama, aku juga. Tak kusangka aku harus seperti ini padamu.”
Liu Shan kebingungan menatapnya. Dia hanya bisa berdiam diri sembari mengernyitkan dahi.
“Fenhua, apa maksudmu daritadi?” gumam Liu Shan.
“Kau tahu apa maksudku,” sahut Hao Fenhua.
Dia mengangkat lengannya dan menunjuk ke depan.
“Aku tak peduli apa alasanmu, tetapi ketika kau berdiri di atas arena, kita adalah lawan. Kalau kau tak memiliki ambisi dan ragu untuk melangkah, untuk apa kau berdiri di sini?”
Wajahnya serasa ditampar begitu mendengar kata-kata tersebut. Kedua mata sontak terbuka lebar dengan tubuh tertegun diam penuh kehampaan.
__ADS_1
“Orang-orang di sini melangkah untuk menjadi lebih kuat dan mendaki gunung yang lebih tinggi. Namun, keberadaanmu yang ingin menang dengan kekuatan setengah-setengah hanya mencoreng harga diri mereka.”
Liu Shan menggertakan gigi. Dahi mengerut sembari tatapan mata menajam membalas keras.
“Tutup mulutmu. Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!”
“Oh, aku tidak tahu?” sahut Hao Fenhua.
Hembusan nafas yang panjang keluar dari mulutnya. Setelah tubuhnya rileks secara perlahan, otot di seluruh tubuhnya mengencang sembari mendorong tubuhnya maju.
Grak!
“Kalau begitu beritahu aku!”
Dak!
Kedua lengan mereka beradu dengan energi Ki yang melapisinya.
Dum dum!
“Apa yang aku tidak tahu?! Semua terlihat jelas dengan bagaimana semua ini berjalan!”
Dak dak dak!
Serangan beruntun yang mereka kerahkan satu sama lain itu terlihat tidak memiliki celah sama sekali. Penonton dibuat terdiam terpukau sembari menonton pertarungan tersebut.
Sedangkan di dalamnya, terdapat dua orang yang sedang menghantam satu sama lain dengan argumen dan tubuhnya.
Duak!
“Uckh!”
Namun, seiring waktu berjalan, dia menyadari sesuatu. Setiap serangan yang dia kerahkan terasa seperti sia-sia. Hao Fenhua dapat menghindari serangannya, bahkan melemparkan sebuah serangan balik.
Berawal dari satu kali, dua kali, tiga kali dan seterusnya.
Buak!
“Uaghh!” erang Liu Shan yang terhempas mundur sekali lagi.
Dirinya terengah-engah sembari mengusap keringat. Sedangkan Hao Fenhua masih berdiri tegap di depan.
“Aku tidak asal bicara.”
“Huh?”
Sahut Liu Shan sembari mengangkat pandangannya. Lalu, Hao Fenhua kembali melanjutkan ucapannya.
“Kau ingat saat pertama kali kita bertarung?”
Mereka yang berada di dalam ruang pelatihan bertukar serangan tak lama setelah bertemu. Namun, Liu Shan mengingat dengan jelas bagaimana dia bisa beradaptasi dengan pergerakan dan kemampuan Hao Fenhua. Terlebih lagi, dia sadar akan perbedaan kekuatan yang dia miliki dengannya.
“Kau tahu dengan jelas kalau kau saat ini sedang menahan diri. Saat ini, aku tidak memikirkan tentang diriku bisa menang atau tidak. Yang ada di dalam kepalaku hanyalah seberapa kesalnya aku padamu yang ingin menang dengan kemampuan setengah-setengah!”
Liu Shan tertegun diam di sana. Dia tak bisa berkata-kata apapun selain menyadari bahwa setiap kata-kata Hao Fenhua menusuk tepat di dalam dirinya.
Pertimbangan yang ada di kepalanya begitu banyak. Keberadaan sistem yang misterius itu telah membantu perkembangannya sangat signifikan di dalam dunia kultivator. Dia bisa meraih kekuatan dalam waktu 3x lebih singkat dibandingkan orang-orang yang telah berusaha keras seumur hidup mereka.
__ADS_1
Namun, menjadi terlalu kuat adalah sesuatu yang berat. Tanggung jawab serta keputusan yang dia ambil harus sangat hati-hati. Pertemuannya dengan salah satu dari 4 dewa mata angin, Xuan Wudan dari utara membuatnya menyadari hal itu..
“Aku ... tidak bisa. Kekuatan ini datang dengan sebuah bayaran. Dan aku … tidak tahu di mana batasnya,” lirih Liu Shan.
Itu adalah pertama kalinya Hao Fenhua mendengar Liu Shan berbicara dengan suara yang bergetar. Terselipkan sebuah perasaan takut di dalamnya, layaknya seorang anak yang tidak mengetahui gelapnya dunia.
“(Maaf, Fenhua. Walau aku tahu keputusanku saat ini sama saja merendahkan orang-orang yang telah berjuang keras untuk berdiri di atas arena, tetapi kekuatan ini jauh berada di atas kendaliku. Yang bisa kulakukan hanyalah untuk tetap menahan diri agar kekuatanku tidak melukai orang lain)”
Tetapi ….
“Jangan bercanda!”
Teriakannya menggema ke seluruh arena. Membuat raut wajah penonton yang sudah tertegun diam, kini menjadi lebih dan bingung di saat yang sama.
Namun, hal tersebut tidak menghentikan Hao Fenhua yang sedang di puncak emosi.
“Kau pikir aku akan bilang ‘iya’ dengan alasanmu itu?! Kalau kau ingin menjadi ingin lebih kuat, maka mendakilah lebih tinggi. Kendalikan kekuatanmu dan melangkah. Jangan menjadi pengecut yang berdiam diri terus untuk mencari aman!”
Hao Fenhua menepuk dadanya dan berteriak,
“Lawan aku dengan segenap kekuatanmu, Liu Shan!”
Kata-kata Hao Fenhua terdengar begitu keras. Seluruh penonton yang berada di dalam arena sontak berbisik kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Dan Liu Shan masih berdiri di sana dengan keraguan. Dia hanya bisa menunduk karena tak sanggup menatap Hao Fenhua setelah semua yang dia katakan. Kenyataan pahit yang dia usahakan untuk hindari, kini terbuka secara lebar di telinga.
”(Maaf. Maafkan aku, Fenhua. Maafkan aku, Lin’er. Siyue, kak Yao, semuanya)”
Hao Fenhua melihat Liu Shan mengendurkan penjagaannya, kedua lengan turun melemas sembari menghilangkan energi Ki di sekujur tubuhnya.
Gertakan gigi menjadi semakin kuat. Hao Fenhua menarik nafasnya dan berteriak sekali lagi.
“Bukankah itu kekuatanmu?!”
Tubuhnya sontak terhenti. Kedua matanya terbuka lebar dan mengangkat pandangan perlahan ke depan. Liu Shan terdiam tak bisa berkata-kata begitu mendengar ucapannya.
“(Tentu saja ayah merasa khawatir. Tetapi, melihat kau yang berusaha keras itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi ayah sebagai orang tua)”
“(Jika alasanmu berniat baik demi melindungi Liu Siyue dan Mingming, maka ayah tidak akan menghentikanmu. Namun, kau juga harus memahami bahwa tidak ada satupun dari kita yang tidak akan mengkhawatirkanmu. Jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik)”
Itulah yang ayahnya katakan saat Liu Shan menembus batas untuk meningkatkan kemampuan kultivasinya. Melewati batas untuk mencapai titik yang lebih tinggi memanglah sesuatu yang menakutkan. Tetapi, kebebasan yang didapat sangatlah melimpah.
Dan begitulah, Liu Shan menyadari semuanya.
Wosh!
Ting ting ting!
[ Peningkatan sistem : Kultivasi Otomatis telah diaktifkan ]
[ Level up! ]
[ Level up! ]
[ Level up! ]
[ Level up! ]
__ADS_1
[ Level up! ]