Endless System

Endless System
Bab 46


__ADS_3

Suara itu membuat Qing Yao dan Liu Shan sontak menoleh ke depan. Mereka melihat ada seorang laki-laki yang turun dari atas tangga dengan melompat dan mendarat pelan seperti melayang sebelumnya.


Pakaian yang mewah dan sangat berkelas, berbeda dengan pakaian seorang kultivator biasa yang hanya memakai sebatas kain. Pakaian yang di kenakan oleh laki-laki itu memancarkan sebuah aura Ki yang cukup kuat hingga membuat perhatian Liu Shan terpandang ke arahnya.


Laki-laki itu adalah Sheng Tong. Dia datang dengan memasang wajah arogan dan ketidakramahan berdiri di depan mereka berdua. Dahi yang mengerut dan tatapan mata tajam mengarah kepada mereka berdua, terutama pada Liu Shan sebagai seorang murid di akademi.


“Sheng Tong, ternyata ada kau disini” ucap Qing Yao sembari berusaha mempertahankan senyumannya


“Tentu saja ada aku di sini. Ini adalah ruang naga, tempat sakral yang menyimpan ratusan gulungan dan catatan kultivasi sejak 1000 tahun yang lalu. Bagaimana denganmu sendiri? Datang dengan membawa seorang pendatang baru dan menjelaskan suatu hal yang seharusnya tidak di bicarakan?!”


Sheng Tong berbicara dengan nada yang tidak menyenangkan. Bahkan Liu Shan sendiri yang melirik ke arah Qing Yao pun langsung tahu kalau senyumannya itu hanyalah senyuman palsu untuk terlihat ramah di depannya.


Namun, Qing Yao berusaha tetap mempertahankannya dan memperkenalkan Liu Shan pada Sheng Tong.


“Ah, Ini adalah murid yang aku rekrut di kota Feng, namanya Liu Shan”


“Senang bertemu denganmu, senior Sheng Tong.”


Liu Shan langsung memberikan salam hormat kepada Sheng Tong. Namun, Sheng Tong menghiraukannya dan bahkan tak melepaskan wajah arogan itu.


Walau merasa sedikit kesal, tetapi Liu Shan berusaha untuk tetap tenang karena dia tidak ingin mempermalukan Qing Yao.


Di sisi lain, Sheng Tong sendiri tiba-tiba membuka mulutnya.


“Qing Yao, untuk apa kau membawanya ke sini? Apa kau tidak tahu bahwa tempat ini sakral dan hanya untuk orang-orang terpilih saja?!” tanya Sheng Tong.


“Sheng Tong, aku mengerti hal itu lebih dari apapun. Dan tentu saja, aku tidak sembarangan membawa orang masuk ke sini,” sahut Qing Yao dengan tatapan yang mulai serius


“Lalu bagaimana dengan bocah ini? Kau membawanya masuk dengan mudah hanya karena dia murid yang kau pilih. Apa buktinya kalau dia tidak akan berakhir sama dengan Ming Xiao?!”


Sring…!!


Sebuah tatapan dingin dan juga hawa sedingin es mulai tersebar ke seluruh ruangan tersebut. Liu Shan dan Sheng Tong yang berdiri tepat di samping Qing Yao sontak terkejut dan membuka lebar kedua mata mereka.


Sedangkan Qing Yao sendiri terlihat menghunuskan jari telunjuknya yang membentuk aura Ki seperti es yang begitu tajam mengarah langsung ke leher Sheng Tong.


Keringat dingin dan tentu saja perasaan takut melintas di dalam kepala Sheng Tong. Bahkan Liu Shan sendiri sempat terkejut melihat Qing Yao yang tiba-tiba mengeluarkan hawa dingin penuh ancaman.  Tatapannya yang tajam nan dingin seperti ratu es itu terus memandang ke arah Sheng Tong dengan sebuah ancaman yang tersirat di dalamnya.


“Jangan kau samakan Liu Shan dengan Ming Xiao!”


Liu Shan tak pernah melihat Qing Yao, orang yang dia selalu lihat penuh senyuman dan aura wanita dewasa yang dapat di andalkan bisa membuat ekspresi menyeramkan. Tatapan dingin dan juga ancaman kuat itu membuat suasana menjadi tegang seolah menekan udara hingga kesulitan bernafas.


Tetapi, hal yang cukup menarik perhatiannya adalah seseorang bernama Ming Xiao yang di sebut oleh mereka berdua.


Siapa dia? Dan ada apa dengannya?

__ADS_1


Pertanyaan yang sama muncul di dalam kepala Liu Shan hingga di rincikan lebih dalam seperti haus akan informasi. Apa yang pernah di lakukan Ming Xiao dan kenapa mereka berdua sampai berselisih? Bahkan Qing Yao sendiri menunjukan sebuah ekspresi yang Liu Shan sangka tidak bisa dia lihat dari seseorang sepertinya.


Sedangkan Sheng Tong sendiri pun hanya bisa terdiam dan tak bergerak satu inci pun setelah di ancam olehnya. Qing Yao pun menarik dan menurunkan jarinya ketika sudah melihat Sheng Tong yang menunjukan respon diamnya.


Qing Yao menghela nafas panjang seolah penuh dengan keresahan di dalamnya. Dia menatap sayu ke arah Liu Shan karena merasa bersalah.


“Maaf. Aku jadi buat suasananya suram seperti ini ….” lirih Qing Yao


Hening dan tanpa respon datang dari siapapun. Sheng Li sendiri masih tertegun diam dan meraba lehernya seolah sedang memeriksa apa ada luka goresan dari Qing Yao.


Namun, di kala mereka hening diam di sana, tiba-tiba saja gerbang ruang naga itu terbuka begitu keras.


Brak…!


Mereka bertiga menoleh ke arah yang sama dan melihat adanya seorang laki-laki berlari menghampiri mereka. Dia menunduk dan memberi hormat, suaranya dan wajahnya terlihat panik tak karuan sembari memberikan kabar.


“Salam pada senior Sheng Tong dan nona Qing Yao!” ucap laki-laki itu.


“Salam. Ada apa?” tanya Sheng Tong


“Senior, ini gawat!” ucap laki-laki itu.


“Tenangkan dirimu. Bicara dengan perlahan!” sahut Sheng Tong.


Kalimat terakhir yang di katakan oleh laki-laki tersebut membuat Sheng Tong dan Qing Yao membuka kedua matanya lebar-lebar.


“Apa katamu?!” sahut Sheng Tong yang terkejut


Liu Shan sendiri yang melihat reaksinya begitu terkejut pun menjadi kebingungan. Penyakit dan hal apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat mereka berdua tertegun seperti itu?


“Penyakit? Apa maksudnya?” tanya Liu Shan.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Bawa aku ke sana!” ucap Sheng Tong.


“Lewat sini, senior!” sahut laki-laki itu.


Sheng Tong pun berlari mengikuti laki-laki itu dari belakang. Sedangkan Qing Yao yang ingin menyusul sontak menoleh ke belakang menatap ke arah Liu Shan.


“Liu Shan, kita juga kesana!”


“Eh, aku juga?!”


Liu Shan langsung mengikuti Qing Yao dari belakang untuk menyusul Sheng Tong dan juga laki-laki pembawa pesan itu.


Kaki yang melangkah secepat dan sekuat tenaga itu tak di buat menurunkan kecepatannya. Hingga dalam waktu singkat, mereka berhasil sampai ke sebuah kediaman yang begitu megah. Tanpa berlama-lama berdiri di depan pintu depan, mereka sontak masuk dan menelusuri lorong yang begitu besar.

__ADS_1


Mengikuti dan mengikuti, hanya itu yang bisa di lakukan mereka. Dan ketika sedang berlari di lorong rumah itu, mereka mendengar suara jeritan penuh penderitaan.


“AAAHHH!!!”


Mereka yang mendengar jeritan itu membuka lebar kedua matanya. Liu Shan sendiri pun menoleh ke segala arah berusaha mencari tahu jeritan apa itu.


“Apa itu barusan?!” gumam Liu Shan.


“Gawat! Penyakit nona muda semakin parah!” gerutu Sheng Tong.


“Sebenarnya penyakit apa yang kalian maksud sejak tadi?!” tanya Liu Shan.


“Bocah, tutup mulutmu dan lari secepat yang kau bisa! Nyawa seseorang berada di tengah ajal, aku tidak ingin membuang waktu dengan menjawab pertanyaanmu!”


Walaupun terdengar kasar, tetap Liu Shan hanya bisa terdiam saja. Karena dari ucapan Sheng Tong, dia merasa bahwa hal ini sangatlah serius dan bahkan berhubungan dengan mati dan hidup seseorang.


Dan ketika mereka sampai di sebuah ruangan yang terbuka lebar, Sheng Tong, Liu Shan dan Qing Yao melihat adanya tetua Khan yang berdiri di samping ranjang dengan raut wajah pucat penuh kekhawatiran.


Seorang gadis yang terbaring di atas ranjang memegang tangan seorang wanita paruh baya yang begitu cantik, yang terlihat seperti ibunya.


“AACCKKH!!!” erang gadis itu.


“Xiao Lin, bertahanlah!” sahut ibu gadis itu.


Gadis itu adalah Xiao Lin. Cucu, sekaligus nona muda dari keluarga Xiao yang menjalankan akademi Liliang. Namun, kondisi dari Xiao Lin tidaklah terlihat baik sama sekali pada saat itu.


Tubuhnya di penuhi dengan bercak hitam seperti asap yang membakar luar dan dalam tubuhnya. Erangan yang tak kunjung berhenti dan bahkan air mata yang menetes menahan seluruh rasa sakit yang menyebar di sekujur tubuhnya.


“Tetua Khan!” teriak Sheng Tong.


Tetua Khan sontak menoleh ke belakang dan melihat ke arah Sheng Tong.


“Sheng Tong!” sahut tetua Khan.


“Bagaimana keadaan nona?!” tanya Sheng Tong yang berlari masuk ke dalam ruangan tersebut bersama Qing Yao.


Sheng Tong, tolonglah putriku! Dia terus menjerit kesakitan sejak tadi, penyakitnya ini benar-benar menyiksanya!” ucap ibu Xiao Lin


“Aku akan berusaha semampuku!” ucap Sheng Tong.


Sheng Tong langsung berdiri di samping Xiao Lin dan menempatkan kedua lengannya di depannya. Mata yang terpejam tenang mulai mengaliarkan energi Ki tepat di telapak tangannya.


Dan ketika matanya terbuka kuat, Sheng Tong sontak mengalirkan seluruh energi Ki ke dalam tubuh Xiao Lin.


“ACKKHH!!!” erang Xiao Lin.

__ADS_1


__ADS_2