Endless System

Endless System
Bab 94


__ADS_3

Hasil dari pertarungan itu mengejutkan semua orang. Bahkan Bai Ling sendiri sebagai pengawas acara, berbicara dengan kikuk mengumumkan hasil pertarungan tersebut.


“Pe … pertarungan pertama dari semi-final … telah selesai. Pemenangnya adalah Liu Shan.”


“Haaahhh??!!”


Teriakan yang sama datang dari hampir seluruh penonton. Seseorang yang dikatakan sebagai ‘licik’ dan ‘curang’ dalam turnamen akademi tersebut, telah mengalahkan salah satu murid kultivator berbakat, yaitu Tang Shin.


Mereka dibuat terbungkam kebingungan dalam melihat hasil pertarungan.


“Mustahil. Dia menang?!”


“Ini … benar terjadi?”


Di lain sisi, Liu Shan yang berdiri di tengah arena pun berbalik keluar dari sana. Meninggalkan para penonton dengan kedua mata dan mulut terbuka lebar seolah tak percaya.


Sedangkan Qing Yao membanting bahunya ke kursi sembari menghela nafas panjang.


“Haahh. Dia membuatku khawatir saja,” lirih Qing Yao.


“Kau bercanda? Aku bahkan sampai terkejut dengan kemampuannya. Walau Tang Shin terlihat seperti memojokkannya dari awal, tetapi semua itu telah di perhitungkan dengan teliti,” ujar Sheng Tong yang duduk di sampingnya.


“Petarung master bintang dua yang menang melawan petarung master bintang tiga. Ini adalah peristiwa pertama di dalam sejarah akademi Liliang,” gumam Qing Yao.


Para penonton masih tertinggal dengan reaksi tak percaya melihat pertarungan tersebut. Sama juga dengan Bai Ling yang menghampiri Tang Shin dan melihat muridnya tumbang tak sadarkan diri.


Namun, dibandingkan dirinya merasa kesal, Bai Ling justru menunjukan senyuman tipis di wajah.


“(Instingku benar. Kau benar-benar menarik, Liu Shan!)”


Alih-alih dari suasana arena, Liu Shan yang berjalan di tengah lorong pun menunduk lihat kedua telapak tangannya.


Pertarungan yang dia selesaikan tadi terbayang secara langsung di kepala. Notifikasi sistem yang memperlihatkan dia dapat meningkatkan kemampuan dari salah satu skillnya membuatnya tak habis pikir.


“(Sistem ini … meningkatkan seluruh kemampuanku dalam waktu yang sangat singkat. Aku tak tahu harus senang atau sedih. Tapi yang jelas, aku merasa gelisah)”


Bagi seseorang yang menanggung berkah sebesar itu, tentu saja akan senang sebagai reaksi awal. Namun, seiring berjalannya weaktu, Liu Shan menyadari bahwa kekuatan yang dia bawa saat ini sangatlah kuat dan cepat.


Dia mengingat kembali kejadian di hutan Shenmi, bagaimana salah satu dari penguasa mata angin, Xuan Wudan ingin mengambil kepalanya. Saat itu, Liu Shan berpikir bahwa dia di incar oleh Xuan Wudan karena telah mengotori hutan Shenmi dengan darah dari para musuh yang dia bunuh.


“(Apa hanya karena itu Xuan Wudan mengincar nyawaku?)”


Dia mempertanyakan hal tersebut sekali lagi.


Di kala berjalan sendirian dari kemenangan semi-final, Liu Shan tidak menunjukan senyum atau tawa sama sekali.


Langkah kaki hampa yang menuntunnya di dalam lorong tersebut pun terhenti ketika terdengar sebuah langkah kaki lain yang datang. Liu Shan berhenti sembari mengangkat pandangannya ke depan.


“Wajahmu tidak sesuai ekspektasi, Liu Shan.”


Gumam Hao Fenhua yang berdiri berjarak di depannya.


“Orang yang baru saja lolos ke dalam final tidak seharusnya memiliki wajah seperti itu.”

__ADS_1


Liu Shan bergantian menatap ke arah telapak tangannya dan berkata,


“Entahlah.”


Wajah penuh dengan senyuman dan gestur tubuh tak bisa diam dari Hao Fenhua pun menghilang sejenak. Dia yang melihat Liu Shan termenung diam seperti itu pun membuat satu atau dua hal mengganjal di kepala.


Namun, Hao Fenhua terus berjalan dan menepuk pundak Liu Shan sembari melewatinya.


“Aku tak bisa membaca pikiranmu, tapi dari raut wajahmu itu mengatakan kalau kau tidaklah puas dengan situasi saat ini. Kuharap kau akan melakukan sesuatu sebelum babak final datang,” ujar Hao Fenhua.


Dia berjalan menuju ke arah arena. Meninggalkan Liu Shan yang menunduk terdiam di dalam lorong yang hening.


* * * *


Alih-alih darinya, situasi dari para penonton masih berisik akan hasil pertarungan sebelumnya.


“Aku masih tak percaya, tuan Tang Shin bisa kalah oleh orang itu.”


“Sama, padahal tuan Tang Shin sudah terlihat memojokkannya dari awal. Tapi bisa di putar balik keadaannya dengan mudah.”


Sahut salah seorang penonton yang ketus memasuki obrolan tersebut. Dia berkata,


“Huh, curang tetaplah curang. Dia pasti menggunakan trik licik untuk mengalahkan tuan Tang Shin!”


Tiada hentinya orang-orang menuduh Liu Shan sebagai orang yang licik. Walau hal itu wajar di awal, tetapi untuk sampai ke detik ini pun menjadi semakin muak di dengarnya.


Dirinya yang duduk di tengah para penonton yang sedang memaki kemenangan Liu Shan pun membuat Liu Siyue tiidak bisa tinggal diam saja. Dia beranjak berdiri dan berkata,


“Masih saja kalian ini ya. He-!”


Sebelum teriakannya selesai, dari arah kursi yang lebih tinggi pun sudah ada yang berteriak jauh lebih keras darinya.


Semua mata tertuju kepada orang tersebut selagi memandang tajam.


“Huh, apa kau?!”


“Tutup mulutmu. Daritadi kau terus saja menghina orang lain. Urusanmu apa dengan pencapaian dan kemenangan orang lain? Kau hanya duduk di atas kursi penonton dan menikmati acaranya, tapi terus mengkritik orang baru dari akademi yang telah memenangkan semi-final. Memangnya kau tahu apa?!”


Liu Siyue membuka lebar kedua mata seolah tak percaya. Dia melihat seorang lelaki lain yang berdiri tegak membela kemenangan kakaknya sendiri di antara para penonton.


Tak berhenti di sana, tetapi beberapa orang lain juga ikut berdiri berbicara.


“Benar. Duduk dan diam saja di situ. Pertarungannya cukup jelas bagiku, dan tidak ada kecurangan. Kalau kau tidak terima, coba saja turun sendiri dan lawan Liu Shan!”


Sisi dari para penonton terlihat seperti terbagi menjadi cepat. Lelaki yang sebelumnya menuduk dan mencemooh Liu Shan pun terbungkam sembari berlari keluar dari sana.


Liu Siyue yang melihat hal tersebut hanya bisa duduk kembali sembari menghela nafas. Senyuman tipis diwajah sembari menyatukan kedua telapak tangannya di atas paha.


“Syukurlah. Tidak semua orang di sini memiliki mata yang jahat terhadap kakak.”


Di kala para penonton sedang ramai dengan diri mereka sendiri, Bai Ling sebagai pembawa acara pun kembali berjalan ke tengah arena.


“Baiklah semuanya, maaf telah membuat kalian semua menunggu!”

__ADS_1


“Mari kita masuk ke pertarungan kedua dari semi-final turnamen akademi Liliang!”


Waaa!


Perhatian seluruh penonton sontak berubah meriah dalam sekejap. Mengikuti arah tangan Bai Ling, mereka melihat lorong masuk arena dari sebelah kiri.


“Dari sisi kiri, kita mempunyai seorang gadis berbakat dari keluarga Xiao. Nona muda sekaligus cucu dari tetua Khan, sebagai kepala akademi Liliang. Entah pertunjukan apa yang dia berikan kepada seluruh penonton di atas arena, tetapi semuanya terlihat sangat antusias. Ini dia, Xiao Lin!”


Waaa!


“Nona Xiao Lin, aku mencintaimu!”


“Semangat terus nona Lin!”


“Cantik sekali!”


Baik laki-laki maupun perempuan, mereka terpukau dengan kehadiran Xiao Lin yang begitu elegan dengan lekukan tubuhnya, rambut hitam gemerlap seperti langit malam berpadu selaras dengan kulit seputih susu, disertai kedua mata ungu yang melambangkan ambisi dan tekad kuat dari seorang gadis muda.


Di lain sisi, Bai Ling mengarahkan bergantian perkenalan tersebut ke lorong di sebelah kanan.


“Dan dari sisi kanan, kita memiliki seorang petarung yang cukup menarik perhatian di dalam turnamen akademi Liliang. Pembawaan diri yang penuh dengan sifat riang dan senyuman, dia dikatakan sebagai ‘kultivator pelawak’ dari para penonton turnamen akademi Liliang. Ini dia, Hao Fenhua!”


Selagi namanya disebut, Hao Fenhua berjalan keluar sembari tersenyum lebar dan menyapa para penonton dengan lambaian tangan.


“Haha, hai hai semuanya. Ketemu lagi di semi-final ya. Aku yakin banyak sekali wanita-wanita cantik yang kangen dengan penampilan tampanku ini di atas arena bukan?”


Ujarnya sembari mengedipkan mata ke arah penonton wanita. Namun, reaksi yang didapatkan adalah para wanita itu membuang muka dan berkata,


“Terlalu pede adalah racun tahu!”


“Menang dulu, baru kembali ke kita.”


Hao Fenhua menyahut dengan antusias,


“Benar ya?! Kalau aku menang, gimana?”


Seorang gadis mengedipkan kembali matanya seolah sedang menggoda Hao Fenhua. Respon yang di dapatkan terlihat sangat positif dan membuatnya semangat dalam sekejap.


Namun, ketika dia berbalik Xiao Lin yang berdiri berjarak jauh di depannya memiliki raut wajah dan gestur berbeda.


“Hao Fenhua, kau tahu kan kalau kau sedang berada di atas arena?”


Hao Fenhua menjawab,


“Iya, aku tahu itu kok. Tapi tidak ada salahnya bukan, kalau aku mencari motivasi atau hal untuk meningkatkan semangatku?”


Ujarnya sembari tertawa kecil.


Meskipun Hao Fenhua dan Xiao Lin terbilang sebagai teman berkat Liu Shan, tetapi keduanya saat ini sedang berdiri di atas arena. Xiao Lin memasang kuda-kuda sembari mengumpulkan sejumlah energi Ki di sekitar tubuh.


Wuushh!


“Kelihatannya tidak ada ruang untuk bersantai ya, Xiao Lin,” gumam Hao Fenhua.

__ADS_1


* * * * * *


~Happy new year my readers, wish you all the best for this year. Semangat buat kalian yang menempuh tahun baru, bawalah hal-hal baik dari tahun lalu ke tahun selanjutnya, dan tinggalin hal-hal buruk di belakang~


__ADS_2