
Kedua matanya melebar sembari tertegun diam menatap tetua Khan. Sama halnya dengan Liu Shan. Dia langsung mengernyitkan dahi dan bertanya,
“Tunggu, kutukan iblis Lin’er dari Ming Xiao?”
Tetua Khan mengangguk pelan menjawan pertanyaan Liu Shan. Sedangkan Xiao Lin hanya bisa terdiam sembari menunduk mengepal erat kedua tangannya di atas paha.
“Saat aku ingin menghentikan Ming Xiao, ternyata dia sudah menanamkan kutukan iblis di dalam dirimu. Dia sengaja melakukannya untuk membuatku lengah agar dia dapat melarikan diri sebelum sempat aku segel,” jelas tetua Khan.
Asal muasal dari kutukan iblis yang berada di dalam tubuh Xiao Lin pun terungkap. Nyatanya, keberadaan Ming Xiao yang memberontak di akademi Liliang menjadi penyebab utama kenapa Xiao Lin terbelenggu selama ini.
Dia menoleh sedikit ke arah punggungnya. Xiao Lin menggeser pakaiannya buka dan melihat sedikit bercak hitam yang masih menempel.
Tiba-tiba saja, tetua Khan membungkukkan kepalanya di hadapan mereka bertiga.
“Maafkan aku.”
Xiao Lin yang melihat kakeknya seperti itu sontak terkejut.
“Kakek, apa yang kakek lakukan?! Jangan seperti itu!”
“Maaf, cucuku. Aku menyimpan rahasia ini darimu begitu lama. Dan juga telah gagal sebagai kakek untuk menjaga keselamatanmu,” ucap tetua Khan.
“Kakek, hentikan. Aku tidak apa kok!” sahut Xiao Lin yang berusaha membujuknya.
Tetua Khan yang keras kepala hanya bisa terdiam membungkuk di hadapan cucunya. Tak terlepas juga bagi Qing Yao yang merasa bertanggung jawab karena tidak sanggup mendidik muridnya dengan baik. Dia hanya bisa menunduk memalingkan pandangan sembari terdiam duduk di sana.
Sedangkan Liu Shan,
“Tetua Khan, serahkan Xiao Lin padaku.”
Satu kalimat yang dia keluarkan menarik perhatian mereka bertiga secara bersamaan. Kedua mata melebar seolah tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Nak, apa yang barusan kau katakan?” tanya tetua Khan.
__ADS_1
“Aku akan menjaga Xiao Lin. Dari mulai kutukan iblisnya sampai di masa depan,” ujar Liu Shan.
Kata-kata Liu Shan membuat wajah Xiao Lin sontak memerah seperti balon merah yang bersiap untuk meledak. Dia tak bisa berkata-kata selain kedua matanya yang bergerak tak tahu harus melihat ke mana.
Namun, Liu Shan mengatakan hal itu bukan semata-mata untuk membuat tetua Khan atau Xiao Lin merasa lebih baik. Sama halnya dengan tetua Khan yang tahu dengan kemampuan Liu Shan.
Setelah apa yang dia lakukan dengan teknik akurpuntur untuk menahan kutukan iblis di tubuh Xiao Lin, dan juga pertarungan hebat yang dia berikan di turnamen akademi Liliang sebelumnya. Senyuman tipis di wajahnya saat itu menunjukan bahwa dia percaya sepenuhnya pada Liu Shan.
“Terima kasih, nak,” ucap tetua Khan.
“Iya, aku akan mencari cara untuk membebaskan Xiao Lin dari kutukan iblis. Dan membuatnya memiliki hidup yang bebas,” ujar Liu Shan sembari melirik ke arah Xiao Lin.
Tidak ada niat lain di dalamnya. Liu Shan hanya mengungkapkan niat tulusnya untuk membantu Xiao Lin. Namun, ucapan dan perbuatan yang dia berikan selama membuat Xiao Lin terpana berulang kali. Sampai kali ini pun hanya bisa bersembunyi dibalik tetua Khan dengan wajah memerah seperti tomat.
Di lain sisi, tiba-tiba saja Qing Yao datang dengan sebuah batuk.
“Ehem ehem! Baiklah, kita kembali ke topik utamanya.”
Raut wajahnya meninggalkan sedikit perasaan tidak senang. Namun, dengan cepat Qing Yao menutupi hal itu dengan membicarakan hal lain.
“Aku harap aku bisa bilang iya, tapi tidak,” jawab tetua Khan.
“Tapi, dia tidak keluar melalui gulungan iblis yang dia curi dari ruang naga. Berarti, dia sudah ada di dunia ini lebih dulu,” sahut Liu Shan.
Keberadaan Daolao adalah sebuah misteri. Ratusan tahun lalu, manusia, dewa dan hewan mistis bergabung untuk memusnahkan para iblis dari daratan kultivator. Para kultivator manusia paling berbakat mengorbankan diri mereka untuk menyegel iblis terkuat bersama dengan iblis-iblis lainnya.
Dan keberadaan Daolao membuat semua mereka mempertanyakan semua hal itu.
“Daolao. Karena dia ada di sini, berarti dia termasuk pada kumpulan iblis yang tak sanggup di habisi ratusan tahun lalu,” ujar Qing Yao.
Xiao Lin dan tetua Khan mengangguk secara bersamaan mendengar ucapannya.
“Iya. Tapi, kekuatan dari para iblis sangat mengerikan. Daolao, iblis itu sendiri bahkan berada dalam tingkat petarung raja bintang empat. Ming Xiao sendiri terlihat ketakutan saat dia menyuruhnya untuk mundur,” gumam Xiao Lin.
__ADS_1
“Yang menjadi pacuan utama kita adalah untuk menghentikan mereka. Karena keberadaan mereka di dunia ini sekarang adalah sebuah ancaman besar. Lambat laun, mereka pasti akan membawa malapetaka. Entah membuka gulungan iblis dari ruang naga, atau bahkan membangkit iblis terkuat sekali lagi,” sambung tetua Khan.
* * * *
Setelah berdiskusi panjang lebar dengan mereka, Liu Shan juga masih tak menemukan petunjuk lebih lanjut tentang Daolao dan Ming Xiao dari klan iblis. Liu Shan yang sedang di antar keluar oleh Xiao Lin di lorong rumahnya pun berjalan berdampingan.
Di kala Liu Shan sedang menunduk diam dan melayang bebas dalam pikirannya, Xiao Lin yang berada di sampingnya tidak berhenti terlihat gelisah. Jari demi jari dia mainkan sembari mata melirik ke kiri dan kanan. Wajahnya masih tersisa memerah ketika mengingat kata-kata Liu Shan.
“Shan.”
Liu Shan menoleh sembari menaikkan kedua alis.
“Yang kau bilang tadi … kau bersungguh-sungguh?”
“Iya.”
Jawaban singkat namun membuat semuanya menjadi jelas. Xiao Lin tak bisa menahan senyumannya, oleh karena itu dia hanya bisa memalingkan wajah. Selagi dia berusaha untuk menarik nafas tenang, langkah kaki Liu Shan tiba-tiba terhenti.
“Ah, iya. Lin’er.”
Dia yang memanggil Xiao Lin pun membuatnya terhenti sejenak. Xiao Lin yang menoleh sontak terkejut melihat tangan Liu Shan yang mendekat ke wajahnya.
“Eh, Shan. Tu-tunggu-!”
Tangannya yang besar itu memegang pundaknya sejenak. Xiao Lin yang melihatnya hanya bisa berdiam mematung karena tak tahu harus apa. Wajahnya yang memerah itu berusaha dia tahan agar tidak tersenyum jelas.
Di lain sisi, Jun mengernyitkan dahinya. Dia merasakan sebuah pergerakan Ki mengerikan dari bahu Xiao Lin. Tak lama kemudian, dia melepaskan tangannya dan mulai menoleh ke kiri dan kanan.
“Lin’er, apa ada ruangan kosong di sini?” tanya Liu Shan.
“Ada kok. Kenapa tiba-tiba?” sahut Xiao Lin.
“Baguslah, kalau begitu tunjukan ruangannya. Aku ingin berdua denganmu sebentar.”
__ADS_1
Xiao Lin terdiam dengan kedua mata melebar. Wajahnya berubah merah seperti tomat dengan cepat sembari memegang kedua pipi.
“EH?!”