Endless System

Endless System
Bab 96


__ADS_3

Perubahan hawa yang dirasakan Xiao Lin membuat suasana pertarungan menjadi berat dalam sekejap. Setiap langkah yang ingin dia keluarkan seolah kembali lagi seperti pada awal mula pertarungan.


“(Berdiam diri tidak akan menyelesaikan pertarungannya!)”


Srak!


Bunyi gesekan kaki pertama tersebut menjadi lonceng mulai pergerakan pertama. Xiao Lin bergerak terlebih dahulu dengan serangan beruntun kombinasinya.


Wush wush!


Grak grak!


Pukulan, tendangan, manipulasi energi Ki yang merubah bentuk tanah tiada hentinya menyerang Hao Fenhua secara beruntun.


Dum dum dum!


Menghindar dan menghindar. Hao Fenhua tidak melakukan serangan balik sama sekali.


“Satu.”


“Dua.”


Di dalam ritmenya, Hao Fenhua terdengar seperti menghitung sesuatu sembari mendarat di setiap posisi tertentu.


“Tiga”


Dum!


“Empat, Lima.”


Perhatian seluruh penonton tertuju secara langsung pada mereka berdua.


“Dia ini tidak punya niat sama sekali untuk berusaha menyerang?” gumam Sheng Tong.


“Kurasa dia sudah merencanakan hal ini,” sahut Qing Yao.


“Maksudmu?” tanya Sheng Tong.


“Melihat dari situasinya, mereka berada di tingkat kultivasi. Dibandingkan melawannya secara langsung, Hao Fenhua mungkin berniat untuk menguras stamina dan energi Ki nona muda Lin. yang sama,” jelas Qing Yao.


“Karena dia tahu kalau dia berusaha untuk menyerang balik, dia hanya akan membuka celah untuk dirinya sendiri,” sambung Sheng Tong.


Qing Yao mengangguk pelan menjawab pernyataan Sheng Tong saat itu. Analisis dari situasi tersebut merupakan salah satu strategi pertarungan yang cukup berbeda dibandingkan pertarungan yang telah berjalan sepanjang turnamen.


Dari belakang, tetua Khan tersenyum tipis melihat bagaimana mereka berdua berdiskusi.


“(Kritis ya. Tapi, kurasa anak itu tidak merencanakan hal tersebut)”


Dum dum dum!


“Enam.”


“Tujuh, Delapan.”


Dum!


“Aku tidak akan terpancing semudah itu.”


Hao Fenhua membuka kedua matanya sedikit melebar selagi menghindari serangan-serangan tersebut.


“Maksudmu?” tanya Hao Fenhua.


“Kau berniat untuk menguras energi Ki ku dalam menggunakan teknik ini. Tapi, sebelum waktu itu tiba, aku akan mengalahkanmu lebih dulu!”


Grak grak grak!


Tiga perubahan bentuk tanah beragam datang dari arah yang berbeda. Hao Fenhua yang baru saja mendarat pun di hadapkan oleh serangan langsung dari tiga arah.


“Sembilan.”

__ADS_1


Dum dum dum!


Terkesiap, tegang, berdiri menunggu hasil untuk bersorak. Hantaman keras dari tanah-tanah tersebut saling bertabrakan satu sama lain di posisi Hao Fenhua berdiri.


Pertarungan telah selesai.


Itulah hal yang di pikirkan semua orang setelah melihat serangan tersebut.


Namun,


“(Huh?!)”


Xiao Lin merasakan sebuah energi Ki yang masih bergerak di sekitar arena. Dia sontak menoleh ke belakang dengan kedua mata melebar terbuka.


“Tidak mu-!”


Wush!


“Perlepasan Ki : 9 simpul!”


Jrat jrat jrat!


Energi Ki beresonansi secara langsung dengan kata-kata tersebut. Dari berbagai arah, terlihat bagaimana benang Ki mulai menegang dari berbagai arah. Menangkap dan menjerat Xiao Lin hingga di angkat tinggi ke udara.


“Ugh!”


Rahang para penonton dibuat seperti lepas sesaat. Mata kehilangan ototnya untuk menahan keduanya dari membuka jauh lebih lebar. Mereka melihat Hao Fenhua yang masih berdiri di dalam arena setelah menerima serangan dari Xiao Lin.


“Ka-kau … gimana caranya? Sejak kapan kau merencakan hal ini?” gerutu Xiao Lin.


Hao Fenhua berbalik dan berkata,


“Dari awal.”


Kedua mata Xiao Lin terbuka lebar sontak terkejut mendengarnya.


“Dari … awal?”


“Ketika kau melemparkan serangan beruntun itu, aku sudah menyiapkan diri untuk menyusun strategi. Aku tahu kalau dengan melawanmu secara langsung, kau memiliki keuntungan dengan bisa menggerakan benda di sekitar dengan aliran Ki. Karena itu, aku lebih memilih untuk menunggu celah.”


“Kau sama sekali tidak berniat untuk menunggu Ki ku terkuras habis. Melainkan kau menuntunku menari tepat di dalam telapak tanganmu,” lirih Xiao Lin.


“Yah, kalau kau ungkapkan begitu kesannya aku jahat sekali. Tapi, kurasa tidak ada jauh bedanya dengan artinya,” sahut Hao Fenhua.


Xiao Lin hanya bisa tersenyum tipis mengakui kekalahannya. Tubuhnya yang telah terjerat seperti itu memberikan hasil akhir bagi Bai Ling untuk memutuskan.


“Aku kalah telak,” gumam Xiao Lin.


“Pertarungan kedua babak semi-final telah berakhir. Pemenangnya adalah Hao Fenhua!” ujar Bai Ling.


Waaa!!


Sorakan para penonton datang dari dua cara yang berbeda. Beberapa dari mereka heboh terhadap kemenangannya, tetapi juga ada yang heboh kebingungan.


“Mustahil, dia mengalahkan nona muda Lin!”


“Orang cengengesan itu?!”


Sama bagaimana Sheng Tong dan Qing Yao yang melihat hasil pertarungan dari tepi.


“Wah, benar-benar tidak bisa ditebak,” gumam Sheng Tong sembari menghela nafas.


Qing Yao yang duduk di sampingnya pun menyandarkan bahu ke kursi sembari melipat kedua tangan di depan dada.


“Ku kira dia hanya orang yang mengandalkan fisik dan Ki untuk memenangkan pertarungan. Ternyata, dia punya rencana sendiri. Tak kusangka dia berniat untuk membuat nona muda Lin menari di atas telapak tangannya.”


“Hei, kau tahu tentangnya? Si Hao Fenhua itu.”


Tanya Sheng Tong sembari menoleh ke arah Qing Yao di samping.

__ADS_1


“Aku hanya tahu dia adalah salah satu anak dari panti asuhan akademi Liliang, selain itu aku tak tahu lagi,” jawab Qing Yao.


“Anak panti akademi? Aku yang bertugas di dalam sana pun jarang sekali melihatnya,” gumam Sheng Tong.


“Dia baru masuk ke dalam akademi 2 tahun yang lalu. Wajar kalau kalian tidak mengetahuinya.”


Suara tetua Khan dari belakang menarik perhatian mereka.


“Tetua Khan ternyata tahu tentangnya?!” sahut Qing Yao.


“Sedikit, sama sepertimu.”


Balasnya sembari tersenyum tipis dan memainkan janggut.


* * * * *


Di kala hampir semua orang di dalam akademi Liliang menuju ke dalam arena turnamen, beberapa dari mereka masih ada yang bertugas untuk menjaga keamanan.


Dua orang yang berjaga tepat di depan gerbang ruang naga terlihat sedang duduk santai dan menguap berulang kali.


“Hoaamm.”


“Hei, tutup mulutmu kalau sedang menguap.”


“Mau gimana lagi, aku bosan sekali. Kalau bosan pasti berujung lagi ke ngantuk.”


“Kau … tuan Sheng Tong memberikan tugas pada kita untuk menjaga ruang naga seperti ini sudah termasuk sebagai promosi. Bersyukurlah sedikit, banyak orang yang mau dapat posisi ini.”


“Aku tahu itu. Tapi, di sana dengan ada yang lebih menarik.”


Penjaga pertama di sana mengarahkan telunjuknya ke arah bangunan turnamen akademi Liliang sedang di selenggarakan. Suara sorakan meriah yang datang dari penonton pun terdengar hingga ke tempat mereka.


“Haish, turnamen ya turnamen. Lagipula kau mau apa di sana? Ujung2nya kita juga di suruh jaga keamanan di sekitar.”


“Itu lebih baik. Karena setidaknya aku punya sesuatu untuk di tonton dan tidak akan bosan.”


“Justru kau akan jadi terganggu dan tidak fokus pada pekerjaanmu!”


“Apa bedanya dengan sekarang?!”


Ketika kedua penjaga itu sedang saling membantah satu sama lain, tiba-tiba saja datang suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.


“Tuan-tuan, aku bisa membantu kalian untuk lebih terhibur di tengah pekerjaan kalian.”


Perhatian mereka berdua teralihkan selagi menoleh ke samping.


“Hm? Kau siapa?”


Tanya salah seorang penjaga. Di sana mereka melihat seseorang dengan tubuhnya tertutup dari atas kepala hingga ujung kaki menggunakan mantel hitam. Begitu kepalanya menonga, terlihat seorang laki-laki tersenyum tipis dengan mata hitam segelap langit malam. “Ka-kau-!”


Salah satu penjaga tersebut membuka lebar kedua mata. Nafasnya berubah terengah-engah seakan tahu bahwa lelaki yang ada di depan matanya bukanlah orang biasa. Temannya yang berada di samping pun terheran begitu melihat dia menghunuskan tombak ke arah laki-laki di depan.


“He-hei, apa yang kau lakukan?!”


“Jangan lengah, kau akan kehilangan kepala-!”


Zrat!


Bunyi tetesan berujung deras. Kedua lelaki itu menatap mematung dengan arah pandangan yang rendah sembari melihat tubuhnya masih berdiri di depan.


“(Apa yang … terjadi?)”


Bruk bruk!


Kedua tubuh itu terjatuh setelah kepala mereka terpisah. Lebih cepat dari kedipan mata, tak ada satupun dari mereka yang menyadari rasa sakit tersebut.


Lelaki tadi memegang kepala mereka berdua dalam genggamannya. Dirinya tersenyum tipis sembari berjalan mendekat ke gerbang ruang naga.


Wossh!

__ADS_1


Aliran Ki tersalurkan melalui kedua lengan. Memberikan sebuah api merah yang membakar habis kepala kedua penjaga tersebut, beserta tubuhnya yang terpisah di belakang. Tak ada sisa dan tak ada jejak yang tertinggal.


“Aku pulang, guru.”


__ADS_2