
Pertarungan kedua pun telah selesai. Tang Shin telah maju ke babak semi-final, sedangkan Liu Siyue pun harus gugur di babak ketiga. Terlepas dari bagaimana hasil pertarungan, turnamen terus berlanjut ke pertarungan ketiga.
Sedangkan Liu Siyue, kembali ke dalam ruang istirahat yang sama. Namun kali ini, situasinya berbeda. Liu Siyue menunduk diam sembari meringkukkan kedua lutut di depan wajah. Dia merenung diam sembari mata terlihat sayu seolah tak memiliki semangat.
Ingatan dimana dirinya di kelabui oleh Tang Shin. Pergerakan yang jauh lebih cepat dan refleks lebih tajam. Semua hal itu berputar di dalam kepalanya seperti sebuah rekaman video.
Sampai di suatu saat, sebuah ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok!
Liu Siyue mengangkat dagunya. Kedua mata terbuka lebar sembari menoleh ke samping. Di sana dia melihat sang kakak, Liu Shan berdiri menyandar di pintu sembari menatapnya.
“Yo,” panggil Liu Shan.
“Ka … kakak,” gumam Liu Siyue.
“Aku melihatnya,” ucap Liu Shan.
Dua kata yang keluar dari mulutnya membuat Liu Siyue tersadar dan langsung memalingkan wajah. Namun, Liu Shan tetap berjalan mendekati adiknya. Berdiri tepat di sampingnya yang sedang duduk di atas ranjang.
“Kau baik-baik saja?” tanya Liu Shan.
“Baik apanya? Aku baru saja kalah. Padahal aku sudah omong besar akan bertemu kakak di semi-final,” gerutu Liu Siyue.
“Itu bukan salahmu. Tang Shin memang jauh lebih kuat saja,” sahut Liu Shan.
“Ah begitu ya. Jadi aku lemah, itu maksud kakak kan?!” bentak Liu Siyue.
Liu Shan sontak terkejut mendengar kata-kata adiknya. Kedua matanya melebar sembari alisnya terangkat seolah sedang heran.
“Kau ini kenapa? Kau kan melawannya, seharusnya kau lah yang paling tahu kalau tingkat kultivasinya ada di atasmu.”
Kedua mata Liu Siyue berubah melebar sembari menoleh cepat.
“Hah, tingkat kultivasinya … ada di atasku?” gumam Liu Siyue.
Liu Shan mengangguk pelan terhadapnya. Hal ini membuat Liu Siyue terdiam kebingungan sembari menatap arah tak beraturan di sekitar ruangan tersebut.
“Kakak, maksudnya gimana? Bukankah dia ada di tingkat kultivasi yang sama denganku?” lirih Liu Siyue.
“Seharusnya iya. Tapi, sama dengan pertarunganmu dengan Xu Xiao sebelumnya, dia melakukan kultivasi di tengah pertarungan,” ujar Liu Shan.
Tak terhenti dikejutkan olehnya. Liu Siyue hanya bisa terdiam sembari mengingat kembali apa yang terjadi di dalam arena.
__ADS_1
“Tepat saat kau mengeluarkan serangan terakhirmu, dia telah selesai berkultivasi. Aku tahu dari jauh terhadap perubahan Ki yang dia punya. Banyak orang yang tidak menyadarinya, dan kurasa dari reaksimu, kau juga tidak menyadarinya,” jelas Liu Shan.
“Lalu, sekarang dia ada di tingkat apa?” tanya Liu Siyue.
“Petarung master bintang empat,” jawab Liu Shan.
Dua bintang di atas Liu Siyue. Dia paham mengapa tiba-tiba pertarungan tersebut berubah berat sebelah dalam waktu singkat. Bahkan tidak sampai lima detik sampai Liu Siyue dibuat terjatuh ke lantai arena.
“Pantas saja aku kalah. Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan bisa mendaki puncak kekuatan. Aku bukanlah orang berbakat, aku hanya orang keras kepala yang tidak tahu kapan untuk menyerah pada mimpi omong kosong ini.”
Liu Shan melihat raut wajah adiknya yang menunduk diam sejak tadi. Tangannya meraih ke atas kepala adiknya yang sedang murung di sana. Lalu, dia mengusapnya dengan lembut.
“Syukurlah, adikku ini masih keras kepala terhadap mimpinya,” ujar Liu Shan.
“Huh?” sahut Liu Siyue dengan mata melebar.
“Kalau kau tahu dirimu tidak berbakat, dan berusaha untuk menutupi hal itu dengan kerja keras. Itu tidak bodoh, Siyue. Ratusan, bahkan ribuan orang tidak memiliki bakat, tapi mereka memilih untuk menerima nasib itu dan menyerah pada mimpinya. Dan aku harap hal itu tidak akan pernah terjadi padamu,” jelas Liu Shan.
Dia mengelus kepala adiknya yang terdiam mendengar kata-katanya di sana. Lalu, dia yang berjalan ke arah pintu keluar tersebut pun terhenti sejenak.
“Ohiya, cepatlah kembali ke bangku penonton. Aku akan memperlihatkan sesuatu yang menarik di semi-final nanti,” ujar Liu Shan sembari tersenyum tipis.
Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Selagi dia berjalan di dalam lorong arena, dia mendengar Bai Ling yang sedang mengumumkan hasil pertarungan turnamen.
“Pertarungan keempat telah selesai. Pemenangnya adalah Xiao Lin!”
Setelah pertarungan keempat selesai, sorakan meriah yang sebelumnya itu tidak bertahan lama. Karena setelah semuanya akan selesai, pertarungan di babak ketiga ini seharusnya dilanjutkan dengan pertarungan antara Liu Shan dengan Tao Xihan.
Bai Ling yang berada di tengah arena pun berdiri sembari menoleh ke kiri dan kanan berulang kali.. Sampai tak lama kemudian, ada seorang lelaki datang menghampirinya.
“Nona Bai Ling.”
“Bagaimana?”
Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan ringan. Responnya saat itu hanya bisa membuatnya menghela nafas panjang.
“Baiklah, aku akan ambil alih dari sini. Terima kasih.”
Tak lama kemudian, lelaki tersebut pun kembali. Sedangkan Bai Ling langsung menghadap kepada para penonton di seluruh arena.
“Semuanya, mohon perhatiannya sebentar ya. Seperti yang sudah aku bicarakan sebelumnya, pertarungan pertama dari babak ketiga, Liu Shan melawan Tao Xihan telah di undur hingga pertarungan keempat. Dan seharusnya, saat ini adalah momen di mulainya pertarungan ulang tersebut.”
“Tapi sayangnya, pertarungan tersebut harus kita ambil keputusan secara sepihak. Dengan melanjutkan Liu Shan ke dalam semi-final.”
__ADS_1
Dari arah penonton, banyak dari mereka yang bersorak dengan membalas menyahuti ucapannya.
“Hah?! Kok begitu?!”
“Apa ini?!”
“Aku mengerti bila kalian semua akan merasa tidak adil, tetapi dari pihak akademi telah berusaha untuk mencari kejelasan tentang Tao Xihan. Dan nyatanya, dia telah dengan sukarela mengundurkan diri dari turnamen ini.”
Raut wajah dari para penonton tentu terlihat tidak senang dengan keputusan tersebut. Namun, hal itu sudah terjadi dan tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Untuk mengalihkan suasana tersebut, Bai Ling pun langsung mengganti arah topik dan suasana di sana.
“Baiklah, kita sudah menyelesaikan semua pertarungan di babak ketiga. Setelah hari yang panjang, kita bisa melihat para peserta murid berbakat yang tersisa di dalam kolom turnamen. Berikut adalah para peserta yang akan melaju ke dalam babak semi-final.”
Selagi Bai Ling mengatakan hal itu, sebuah energi Ki yang memperlihatkan braket turnamen seperti sebuah layar besar pun berubah secara signifikan.
Braket turnamen yang besar itu menyisakan empat orang. Pertarungan pertama akan dibawakan oleh Liu Shan melawan Tang Shin, sedangkan pertarungan kedua akan berlanjut apda Hao Fenhua melawan Xiao Lin.
“Sebelum kita memulai babak semi-final, kita akan memasuki jam istirahat seperti biasa. Sampai jumpa lagi semuanya!” ujar Bai Ling.
* * * *
Seperti kata Bai Ling, waktu istirahat itu di pakai dengan baik oleh Liu Shan untuk menenangkan dirinya. Dia berjalan di tengah akademi Liliang untuk menyegarkan dirinya sendiri.
“Fiuh, masih saja ramai ya di luar sini.”
Di kala dia sedang berjalan dengan damai, tak sengaja ada dua orang yang berjalan berdampingan dan menabrak bahunya.
Bruk!
“Ah, maaf!” ujar lelaki tersebut.
“Tidak apa,” sahut Liu Shan.
Begitu dia ingin berjalan lagi, lelaki tersebut mengernyitkan matanya.
“Hei, tunggu.”
Panggilan itu membuat langkah kaki Liu Shan terhenti dan berbalik ke belakang.
“Apa?” tanya Liu Shan.
“Kau … wajahmu itu, kau Liu Shan kan?” ujar lelaki tersebut.
__ADS_1
Liu Shan terdiam menatap lelaki itu. Sampai tak lama, raut wajah lelaki tersebut berubah mengerut padanya.
“Ah, ternyata benar. Kau anak baru yang curang di dalam turnamen ya!” gerutu lelaki tersebut.