Endless System

Endless System
Bab 18


__ADS_3

“Hah? Ayah justru sangat senang! Kau berusaha melewati batas dan meningkatkan kemampuanmu. Itu adalah bukti kerja keras dan dedikasimu belum berubah sejak dulu!” sahut ayahnya


Ayahnya itu menyahut sembari menarik Liu Shan ke dalam lengannya seolah sangat bangga.


“Aduh! A-ayah, jadi kau tidak marah padaku?” tanya Liu Shan sedikit gugup


Ayahnya itu melepaskannya dan mulai menepuk kedua pundaknya. Raut wajahnya yang sebelumnya terlihat penuh gurauan, perlahan berubah menjadi tenang dan serius.


“Tentu saja ayah merasa khawatir. Tetapi, melihat kau yang berusaha keras itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi ayah sebagai orang tua”


“Jika alasanmu berniat baik demi melindungi Liu Siyue dan Mingming, maka ayah tidak akan menghentikanmu. Namun, kau juga harus memahami bahwa tidak ada satupun dari kita yang tidak akan mengkhawatirkanmu. Jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik”


Mendengar penjelasan dari sang ayah membuat pikiran Liu Shan menjadi terbuka. Dia yang terus mengejar tingkat lebih tinggi tidak memikirkan sekitarnya, terutama keluarganya yang sangat mengkhawatirkan kondisinya.


Dia hanya berpikir untuk meningkatkan tingkat kultivasi, tidak mempertimbangkan resiko yang akan di terima oleh tubuhnya. Walaupun Liu Shan sudah siap terhadap konsekuensi itu, tetapi keluarga yang mengkhawatirkannya tidaklah siap.


Liu Shan memahami kesalahannya yang telah bersikap egois dan tidak memikirkan perasaan satupun anggota keluarganya.


Setelah memahami maksud dari ucapan ayahnya, Liu Shan mengangkat kepalanya dan menghadap ke Ibu, ayah, Liu Siyue dan juga Mingming. Dengan wajah yang serius, Liu Shan menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada mereka semua.


“Ayah, ibu, Liu Siyue, Mingming. Aku minta maaf”


Permintaan maaf itu sontak mengejutkan mereka semua. Hanya ayahnya saja yang berekspresi berbeda seolah sudah memahami dan mengira akan terjadi seperti itu. Dia hanya tersenyum tipis melihat putranya yang menyadari kesalahannya.


Sedangkan Ibu, Liu Siyue dan Mingming….


“Ka-kakak?!” sahut Liu Siyue


“Kenapa kakak minta maaf? Ibu, apa kakak salah sesuatu?” tanya Mingming


“Liu Shan, jangan meminta maaf. Kau memang sedang terluka, tidak ada yang perlu di minta maaf….” ucap ibu Liu Shan


Namun, Liu Shan masih bersikeras untuk membungkuk dan menjelaskan alasannya.


“Tidak, aku sudah sangat egois. Menggunakan segala alasan demi meningkatkan kemampuan, tetapi tidak berpikir sedikit pun tentang perasaan kalian. Maaf selalu membuat kalian khawatir. Aku berjanji tidak akan melakukan hal gegabah seperti ini lagi!”


Liu Shan berkata sungguh-sungguh dari dalam hatinya. Perasaan itu sampai ke dalam hati Ibu dan kedua adik perempuannya. Namun, perasaan sang ibu yang begitu lembut tidak tega melihat anaknya membungkuk minta maaf seperti itu.


Dia berusaha untuk meraih Liu Shan, tetapi terhenti ketika suaminya menepuk pundaknya.


Puk….

__ADS_1


Ibu Liu Shan menoleh ke arah suaminya. Dia melihat raut wajah dan tatapan mata penuh dengan makna seolah menyiratkan pesan di dalamnya.


‘Biarkan dia meminta maaf, agar beban itu hilang dari dalam hatinya’


Ibu Liu Shan memahami apa yang ingin di katakan oleh suaminya melalui pandangan itu. Dia mengganti arah pandangannya ke arah Liu Shan dan berusaha bersikap sedikit tegas.


“Baiklah, Liu Shan. Ibu harap kamu tidak mengulanginya lagi”


“Tidak akan bu. Aku berjanji!”


Sahutan dari Liu Shan itu membuat penegasan ulang terhadap janji yang dia buat.


“Sudahlah, jangan menunduk seperti itu terus. Kau istirahatlah yang cukup. Kita akan kembali keluar” ucap ibunya sembari mengelus kepala Liu Shan


Dan pada saat itu juga, ibu, ayah, Liu Siyue dan Mingming berbalik ke arah pintu keluar kamarnya.


“Semoga cepat sembuh kak!” sahut Mingming


Ketika semua orang telah keluar dari kamarnya, masih ada satu orang yang berdiri di antara pintu yang terbuka itu. Gadis itu adalah Liu Siyue. Dia terlihat terdiam dan ragu untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


Liu Shan yang melihat adik perempuan berdiri diam di sana pun merasa heran dan memanggilnya secara refleks.


“Liu Siyue, ada apa?”


Di terlihat seperti sedang mencari sesuatu di dalam tubuhnya yang masih masa pertumbuhan. Liu Shan yang melihat adiknya meraba ke dalam pakaiannya sendiri pun memalingkan pandangannya yang memerah malu.


“Li-Liu Siyue, apa yang kau lakukan?!”


Di saat Liu Shan berkata seperti itu, Liu Siyue sontak menyadari perbuatannya sendiri yang terlihat seperti orang mesum karena meraba ke dalam bajunya sendiri. Wajah Liu Siyue berubah merah merona layaknya tomat dan dia menutupi tubuhnya dengan kedua lengan.


“Ti-tidak tidak! Bukan seperti itu kak, aku tidak berpikiran begitu!”


“Lihat-lihat kalau kau ingin memeriksa pakaian dalammu. Walaupun aku kakak kandungmu, tetapi tetap ada batasa-!”


BUAKK!


Hantaman keras mendarat di kepala Liu Shan. LiJia melempar sebuah balok kayu kecil karena merasa malu terhadap ucapan kakaknya yang salah paham.


“Ackh!” erang Liu Shan


‘Su-sudah kubilang bukan seperti itu! Dasar kakak bodoh!” teriak Liu Siyue

__ADS_1


Keduanya saling memalingkan pandangan satu sama lain. Kesalahpahaman itu membuat suasana menjadi sedikit canggung di antara mereka berdua.


Tak lama kemudian, Liu Siyue yang selesai meraba ke dalam bajunya pun memanggil nama kakaknya lagi.


“Kakak, ini”


Panggilan dari adik perempuannya membuat Liu Shan menoleh perlahan ke arahnya karena masih sedikit ragu karena kejadian sebelumnya. Dan ketika Liu Shan memandang lurus ke arah Liu Siyue di tengah pintu yang terbuka, di sana dia melihat adiknya menyodorkan sebuah bola bundar seperti kelereng bersinar hijau terang di telapak tangannya.


Liu Shan  yang melihat bola itu pun terkejut dan dapat merasakan sebuah energi Ki melimpah di dalam bola tersebut. Kedua matanya melebar seolah tak percaya dan mulutnya sedikit terbuka seakan kata-katanya sulit untuk keluar.


“I-itu-!”


Sebelum kata-katanya keluar, Liu Siyue yang melihat kakaknya begitu terkejut pun melempar bola bundar tersebut ke arahnya.


Liu Shan secara refleks menangkapnya dan bola itu berpindah tangan dari Liu Siyue ke dirinya. Dia mengangkat pandangannya dengan tatapan penuh makna ke adik perempuannya itu.


“Liu Siyue … ini ….” gumam Liu Siyue


Liu Siyue yang merasa malu pun mulai memalingkan pandangannya dan bersifat sok keras terhadap kakaknya.


“Ja-jangan salah paham. Aku bukannya tidak ingin memberitahu ayah dan ibu, hanya saja kakak sedang pingsan. Jadi aku tidak ingin membuat ayah dan ibu kebingungan dengan adanya pil kultivasi yang kakak racik!”


Dari penjelasan adik yang berusaha menutupi rasa malunya, Liu Shan menangkap inti ceritanya. Bahwa dia tidak gagal dalam meracik pil kultvasi. Bola bundar bersinar hijau terang itu adalah pil kultivasi yang dia racik sebelumnya.


Liu Shan mengangkat kepala pandangannya dan tersenyum senang kepada adiknya.


“Liu Siyue, terima kasih ….”


Liu Siyue memalingkan pandangannya karena tak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah malu karena mendengar ucapan kakaknya.


“Su-sudahlah, aku ingin berlatih lagi!”


“Iya iya …”


Liu Shan menyahut sembari tak menghilangkan senyumannya. Dan ketika Liu Siyue ingin keluar dan menutup pintunya, gerakannya terhenti dan meninggalkan pesan kecil kepada Liu Shan.


“Semangat, kakak!”


Liu Siyue segera menutup pintu dan langkah kakinya terdengar bergerak begitu cepat seolah berlari sekuat tenaga karena malu.


Sedangkan Liu Shan yang mendengar pesan kecil itu membuat kedua matanya melebar. Mendapatkan dukungan dari adik perempuannya yang sulit jujur dengan perasaannya sendiri itu, membuatnya menjadi semakin semangat untuk berlatih dan mengalahkan Lian Ping di bulan depan nanti.

__ADS_1


“Baiklah, demi Liu Siyue. Aku tidak akan mengecewakannya.”


__ADS_2