
Liu Shan dan Xiao Lin sontak terkejut mendengar ucapannya. Xiao Lin sampai melompat dari kursi sembari menoleh ke belakang.
“Uwa!!”
“Kak Yao?!” sahut Liu Shan.
Qing Yao berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Senyuman sinis yang mengeluarkan hawa membunuh tertuju jelas pada Liu Shan seorang.
“(Wah, mengerikan sekali. Auranya saja bisa membuatku tercekik. Aku berbuat salah apa kali ini?!)”
“Liu Shan.”
Panggilan dari Qing Yao membuat Liu Shan tegak seperti seorang tentara yang berdiri di panggil komandan.
“I-iya, nona!” sahut Liu Shan.
“Aku ingat saat pergi ke kota Feng, aku melihat seorang pemuda ambisius yang mengejar mimpi untuk menjadi kultivator hebat,” ujar Qing Yao.
“Hahaha, benarkah?” balas Liu Shan dengan tawa canggung.
Dia berjalan mendekati Liu Shan. Mencubit telinganya sekuat tenaga dengan memancarkan aura sedingin es.
“Aahh, kak Yao!” rintih Liu Shan.
“Kelihatannya pemuda itu sudah lupa tujuannya sendiri dan jadi menggoda gadis akademi. Terutama menggoda cucu dari keluarga Xiao,” sindir Qing Yao.
“Salah paham. Ini salah paham, kak Yao!” teriak Liu Shan.
Melihat hal seperti itu pun membuat Xiao Lin tidak bisa berdiam diri saja.
“Nona Yao, tolong lepaskan Shan. Ini hanya salah paham!” ujar Xiao Lin.
Begitu Xiao Lin mengatakannya, Qing Yao sontak melepaskan cubitannya. Liu Shan memegang telinganya memerah kesakitan pun mengusapnya berulang kali. Di satu sisi, Qing Yao menarik pandangannya pada Xiao Lin.
Senyuman dingin seolah tersulut api dan es di dalamnya.
“’Shan’?” tanya Qing Yao sembari memiringkan kepalanya.
“I-iya,” balas Xiao Lin dengan gugup menelan air ludahnya.
Qing Yao sontak menarik pandangannya kembali pada Liu Shan.
“Shan ya. Sejak kapan kalian berdua sedekat ini?” tanya Qing Yao.
“Eh?”
Liu Shan membalas tatapan dan pertanyaan Qing Yao dengan wajah polos nan bodoh. Dia melirik kiri dan kanan seolah berusaha untuk mencari jawaban yang ingin di dengar Qing Yao. Namun, setiap kali dia melihat ekspresi senyuman dingin itu, Liu Shan selalu saja merasa dia sangatlah terpojok.
Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Di tambah lagi bagaimana Qing Yao menatapnya lembut dan tajam di saat yang bersamaan.
Di kala Liu Shan berada dalam keadaan terpojok, tiba-tiba Xiao Lin datang membelanya.
“Aku dengan Shan atau tidak, itu bukan urusan kak Yao!” bantah Xiao Lin.
__ADS_1
Qing Yao yang melihat respon tersebut pun berusaha menahan rasa terkejutnya, walau alis dan dahinya terlihat berkedut.
“Nona Lin, ini adalah akademi. Bukan tempat untuk wisata dan pacaran,” ketus Qing Yao.
“Liu Shan tidak salah. Dia hanya istirahat denganku setelah latihan!” ujar Xiao Lin.
Liu Shan dan Qing Yao sontak menoleh ke arahnya. Kedua mata Liu Shan berbinar-binar akan melihat bidadari yang telah menolongnya dari musibah.
“(Lin’er, aku berhutang budi padamu!)”
Namun, Qing Yao tidak termakan oleh ucapannya. Dia masih melipat kedua tangannya sembari mengganti arah tubuhnya pada Xiao Lin.
“Nona Lin, kau tidak perlu membela dia. Aku lihat kalau kalian berdua dari tadi sedang makan berduaan di sini,” balas Qing Yao.
Xiao Lin sontak terdiam mendengarnya. Dia berada di posisi malu sekaligus terbungkam di saat yang sama. Sedangkan Liu Shan yang melihat hal tersebut hanya bisa merintih tangis sembari berterima kasih pada Xiao Lin dalam hati.
“(Kau sudah berjuang, Xiao Lin. Terima kasih!)”
Di lain sisi, Qing Yao berbalik menatap pada Liu Shan. Tatapan lembutnya itu kini berubah menjadi sepenuhnya tajam dengan hawa mencekam.
Glek!
Air liur yang mengumpul di dalam tenggorokan pun ditelannya dengan gugup. Di kala Liu Shan di hadapkan situasi tegang itu, tiba-tiba saja ada suara laki-laki yang memanggilnya dari jauh.
“Liu Shan!”
Tak hanya dia, tetapi Xiao Lin dan Qing Yao juga ikut menoleh. Jauh di depan sana terlihat Hao Fenhua dengan satu tangan melambai tinggi dan satu tangan lagi yang kepenuhan memegang kantong belanjaan.
“Fenhua!” sahut Liu Shan sembari membalas lambaian tangannya itu. Lalu, “Aku menyayangimu!”
Kalimatnya di akhirnya itu tentu membuat Fenhua tertegun diam menatapnya. Kedua mata melebar dengan keringat dingin bercucuran seolah ketakutan.
“A … apa katanya barusan?” gumam Fenhua.
Selain Fenhua, Xiao Lin dan Qing Yao juga ikut terkejut mendengar ucapannya. Ungkapan Liu Shan itu membuat kedua mata mereka menoleh dengan tatapan tajam penuh dengan dendam terhadap Fenhua. Bahkan dari jauh pun, Fenhua dapat merasakan tekanan dahsyat yang membuatnya gemetaran.
“(Uwa, apaan nih?! Serem, serem banget!)”
Hao Fenhua yang berdiri dari jauh pun bisa tahu ada yang salah di antara situasi yang sedang di alami Liu Shan dua orang perempuan di dekatnya.
Kedua kaki diikuti dengan gerakan tubuh yang berbalik perlahan. Dia berjalan melarikan diri dari Liu Shan agar tidak terlibat situasi itu.
Melihat bagaimana Hao Fenhua kabur begitu saja pun membuat Liu Shan kesal.
“Hao Fenhua, mau kemana kau?!” teriak Liu Shan.
“Jangan libatkan aku pada urusanmu!” sahut Hao Fenhua.
“Kembali kau ke sini!” bantah Liu Shan.
Liu Shan sontak berlari mengejar Hao Fenhua yang berusaha kabur.
Di lain sisi, Xiao Lin tertinggal di sana bersama dengan Qing Yao. Alur situasi yang berubah begitu cepat membuat atmosfer di antara mereka berdua menjadi canggung.
__ADS_1
“Haaah,” hela Qing Yao sembari menepuk dahinya.
* * * *
Nafas yang terengah-engah dengan keringat bercucuran. Liu Shan dan Hao Fenhua yang berlari-larian tiada henti pun terkapar gang kecil belakang sebuah bangunan.
Hao Fenhua mengusap keringat di dahinya sembari menatap lelah ke arah Liu Shan.
“Haaah ... haahh. Kau … ngapain … ngejar-ngejar sih?”
Liu Shan yang kelalahan dengan posisi membungkuk pun mengangkat pandangannya.
“Diam kau. Kalau kau tidak lari, aku tidak perlu ngejar,” sahut Liu Shan.
“Kau sendiri yang mancing. Tiba-tiba berteriak ‘aku menyayangimu’ di tengah jalan. Dua perempuan itu menatapku seperti bersiap untuk membunuhku tahu!” gerutu Hao Fenhua.
“Aaah, sudahlah. Jangan di bahas!” balas Liu Shan.
Keduanya beradu mulut tiada akhirnya. Nafas yang terengah-engah sebelumnya pun mulai menghilang selagi mereka beristirahat. Setelah itu, Liu Shan berjalan keluar gang sembari melihat-lihat sekitarnya. Lalu lalang orang-orang di akademi Liliang yang mulai sore hari itu tidak kunjung mereda. Bahkan toko-toko dan pengunjung semakin antusias setiap waktunya.
Di kala matanya sedang melihat-lihat ragamnya orang berlewatan, Liu Shan mendapat perhatiannya terpaku pada satu orang. Kedua matanya menajam seolah berusaha fokus terhadap laki-laki yang sedang berjalan seorang diri.
“Hei, Fenhua.”
Hao Fenhua yang baru saja ingin menggigit bakso tusuknya pun menjadi terhenti.
“Apa lagi kau ini?”
“Kemarilah.”
“Sebentar, satu gigt saja.”
Ketika mulutnya terbuka lebar, Liu Shan menarik kerahnya sembari memutar tubuhnya untuk menghadap arah yang sama dengannya.
“Uwa!”
“Lihat itu.”
“Apa sih?!”
Ketika dia menatap sesuai arah yang Liu Shan tunjukan, di sana ada murid dengan angka liontin tertinggi di pelatihan mistis.
“Ah, dia orang yang mengalahkanmu dalam pelatihan mistis kemarin,” gumam Hao Fenhua.
“Yah, mengalahkanku dalam jumlah liontin sih,” bantah Liu Shan.
“Tang Shin ya,” ucap Hao Fenhua.
Begitu Hao Fenhua menyebutkan namanya, Liu Shan menjadi menoleh ke arahnya.
“Kau tahu tentangnya?” tanya Liu Shan.
“Sedikit sih,” sahut Hao Fenhua sembari mengunyah bakso.
__ADS_1