Endless System

Endless System
Bab 95


__ADS_3

Hao Fenhua terlihat berdiri pada kedua kakinya. Kedua tangan dipasang ke depan seolah membentuk kuda-kuda bertarung yang siap siaga.


“Pertarungan kedua babak semi-final turnamen akademi Liliang, di mulai!”


Teriakan Bai Ling pun memberikan sinyal meriah bagi para penonton di dalam arena. Namun, baik Xiao Lin ataupun Hao Fenhua, mereka berdua tidak bergeming sama sekali. Berdiri diam seolah tubuh mereka membeku, walau mata tetap menajam tertuju ke arah satu sama lain.


Gesekan kaki yang perlahan bergerak.


Srek srek!


Insting mereka berdua menjadi jauh lebih tajam dari manusia biasa. Setiap kali ada salah satu dari mereka ingin melakukan pergerakan, keduanya pasti akan menyadari hal itu secara bersamaan.


Dalam kepalanya, Xiao Lin hanya memikirkan cara untuk menang. Dan selagi membayangkannya, dia mengingat bagaimana Liu Shan dapat mendaki turnamen itu hingga mencapai ke dalam final.


“(Aku akan menyusulnya. Oleh karena itu, maaf Hao Fenhua)”


Krak!


Aliran energi Ki merambat melalui salah satu kakinya. Masuk dan menggetarkan tanah yang di lapisi oleh beton yang menjadi area arena.


Dum dum dum!


“A-apa yang terjadi?!”


“Gempa?!”


Di kala para penonton yang kebingungan, hanya beberapa orang yang menyadari getaran di sekitar arena tersebut. Dan orang itu termasuk Hao Fenhua sendiri.


“(Dari bawah?!)”


Graak!


Getaran itu berakhir membuat sebuah perubahan bentuk bagi tanah di bawah dan menembus beton tersebut. Hao Fenhua memasang kedua lengannya untuk menahan pukulan dari perubahan bentuk tanah tersebut.


Buak … Sraaak!


“Uh, wah. Itu serangan pembuka yang sangat mengejutkan, Xiao Lin,” ujar Hao Fenhua selagi menahan dirinya terjatuh dari ujung pembatas arena.


“Hmph!”


“Konsentrasi Ki : Distorsi Alam!”


Dibandingkan menggunakan kakinya, kini Xiao Lin menenpuk ke arah tanah dengan kedua telapak tangannya. Secara bersamaan, reaksi dari tanah pun berubah bentuk selagi mengincar Hao Fenhua yang menghindar berulang kali.


Dum dum dum!


Di lain sisi, orang-orang tertegun melihat bagaimana Xiao Lin menyerang Hao Fenhua dari jauh. Termasuk bagi para petinggi akademi yang sedang duduk di sisi penonton.


“Dia merubah bentuk tanah?!” teriak Sheng Tong.


“Itu bukanlah teknik yang mudah. Menyalurkan energi Ki ke dalam benda mati dan membuatnya bergerak sesuai keinginan menguras banyak Ki dan juga salah satu teknik yang sulit untuk di kuasai!”

__ADS_1


Qing Yao yang duduk di sapingnya membuka kedua mata lebar seolah tak percaya. Kata-kata Sheng Tong di samping membuatnya mengangguk pelan.


“Tak kusangka nona muda Lin bisa menggunakan teknik semacam itu di usia yang muda.”


Reaksi yang sama datang dari mereka berdua. Menoleh ke belakang di mana tetua Khan, sebagai kakek dari Xiao Lin sedang duduk memperhatikan pertarungan.


“Hm, ada apa kalian berdua?” tanya tetua Khan.


“Tetua, apa kau tahu tentang kemampuan nona muda Lin dari awal?” tanya Qing Yao.


Tetua Khan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Memberikan Qing Yao dan Sheng Tong membuka lebar kedua mata dan mulutnya.


“Eh, tetua tidak tahu?!” sahut Qing Yao.


“Aku memang mengawasi anak itu setiap saat. Tapi, ada momen di mana dia tidak terlihat olehku. Dia bukanlah gadis kecil, sudah wajar kalau suatu saat dia akan pergi entah kemana. Termasuk dengan perkembangan kemampuannya,” jelas tetua Khan.


“Itu … benar juga. Kurasa, ini menjelaskan kenapa dia bisa memenangkan setiap pertarungan dengan mudah,” gumam Qing Yao.


“Iya. Dengan menguasai teknik semacam itu, nona muda Lin pasti telah mengasah fisik dan energi Ki nya ke dalam tahap yang lebih tinggi,” sambung Sheng Tong.


“Hm, untuk itu aku tidak yakin,” ujar tetua Khan sembari memainkan janggutnya.


Pernyataan tetua Khan membuat mereka berdua hilang dalam pikiran yang abu-abu.


“Eh, apa maksud tetua?” tanya Sheng Tong.


Tetua Khan menunjuk ke depan sembari berkata,


Mata menuju kembali ke arena. Di sana terlihat bagaimana Hao Fenhua bergerak lincah dalam menghindari serangan Xiao Lin dari berbagai arah.


Dum dum dum!


“Dia-!”


Sheng Tong yang terbata-bata pun terdengar seperti kata-katanya di lanjuti oleh Qing Yao dari samping.


“Pergerakannya tidak sembarangan. Dia bergerak seolah tahu di mana posisi serangan nona muda Lin selanjutnya.”


Ctak!


“Tepat. Walau cucuku menguasai kemampuan pengendalian Ki semacam itu, tetapi lawannya tidak juga kalah hebat. Dan dari tingkatnya, mereka berdua terlihat sama,” sahut tetua Khan yang menjentikan jari.


“Petarung master bintang satu melawan satu sama lain. Semakin dekat ke final, semakin menarik pula pertunjukannya,” gumam Sheng Tong.


Alih-alih dari analisis tersebut, Xiao Lin yang sedang mengerahkan energi Ki-nya dalam bertarung pun menajamkan mata sembari mengernyitkan dahi.


“(Dia sangat lincah. Aku tak menyangka bahwa aku hanya berhasil mendaratkan satu serangan padanya. Itu bahkan sebuah serangan kejutan)”


Melihat bagaimana derasnya aliran Ki yang keluar dari tubuhnya dalam menyalurkan serangan tersebut, Xiao Lin pun memutus energinya selagi menarik nafas panjang.


“Ah, kau berhenti?” gumam Hao Fenhua.

__ADS_1


Wush!


Pergerakan secepat kilat datang menghampirinya. Satu kedipan mata Hao Fenhua sangatlah krusial untuk menghindari pukulan yang datang di tengah udara.


Slep!


“Uwa, hampir saja!” keluh Hao Fenhua.


Sebelum kaki sampai menyentuh lantai arena, Xiao Lin mengayunkan tangannya seolah sedang menarik sesuatu.


Grak grak!


“(Dari belakang?!)”


Lagi dan lagi, tanah di bawah lantai arena pun berubah gerak menuju Hao Fenhua.


Tak!


Pergerakan lihai darinya hanya sanggup memberikan sedikit dari rambutnya terhadap serangan Xiao Lin. Dia menghindar dan melompat mundur sembari berpijak di salah satu tanah yang telah berantakan.


“Hup, fiuuhh. Hampir sekali, kau membuatku lengah barusan.”


Melihat bagaimana Hao Fenhua bereaksi pun membuat Xiao Lin mendecak.


“Kau bisa serius sedikit ga?”


Raut wajah tawa dan gesturnya yang tak bisa diam pun berhenti sejenak. Dia memandang ke arah Xiao Lin dengan hati-hati.


“Ada apa?” sahut Hao Fenhua.


“Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, tetapi aku tidak terima jika kau meremehkanku seperti ini,” ketus Xiao Lin.


Hao Fenhua membuka lebar kedua matanya. Dia menggaruk belakang kepalanya sembari tertawa kecil menjawab,


“Ah, ternyata kau berpikir begitu ya.”


Cara dia menjawab dengan tertawa seperti itu pun membuat Xiao Lin menjadi terpancing lebih. Dia menajamkan mata sembari sejumlah energi Ki meluap perlahan dari sekujur tubuh.


Wosshh!


“Sudah cukup. Terserah apa yang-!”


Srek!


Kata-katanya sontak terhenti begitu Xiao Lin melihat gestur tubuh Hao Fenhua berubah dalam sesaat. Dibandingkan tersenyum polos, kini dia tersenyum tipis sembari memasang kuda-kuda bertarung.


“Tenang saja. Dari awal, aku tidak pernah meremehkanmu kok.”


Energi Ki dan udara sekitar Hao Fenhua terasa menjadi lebih berat. Tak hanya Xiao Lin, tetapi beberapa orang di dalam arena juga menyadari hal tersebut. Sama seperti Liu Shan yang melihat dari kursi teratas di antara para penonton.


“(Hawa di sekitarnya berubah. Dia … kali ini tidak bercanda)” batin Xiao Lin.

__ADS_1


__ADS_2