Endless System

Endless System
Bab 84


__ADS_3

Ronde kedua dari turnamen akademi Liliang telah dimulai. Pertarungan pertama dari ronde kedua, antara Liu Shan dan Fengyuan telah selesai dengan kemenangan telak diraih oleh Liu Shan.


Sama halnya dengan pertarungan kedua antara Tao Xihan dan Yuze Hanfei.


“Pertarungan kedua telah selesai. Pemenangnya adalah Tao Xihan!”


Waaa!


Penonton bersorak heboh mendengarnya. Kemampuan dari mereka berdua yang terbilang cukup setara telah membuat aksi dari pertarungan yang cukup sengit dibandingkan pertarungan lainnya.


Melihat hasil pertarungan tersebut pun tidak terlalu mengejutkan Liu Shan. Dia melihat melalui sebuah energi Ki yang dipancarkan di ruang tunggu para petarung. Ibaratnya, energi Ki tersebut membentuk sebuah resonansi yang membuat seseorang dapat melihat kejadian di tempat lain. Sama sepertinya dengan televisi ataupun camera di dunia modern.


Kedua tangannya yang memegang segelas minuman hangat pun di letakkan di atas meja. Salah satunya di ambil oleh Xiao Lin yang duduk di seberang meja sembari melihat hasil pertarungan yang sama dengannya.


“Terima kasih,” ucap Xiao Lin.


“Tao Xihan. Lawanku dia di ronde ketiga nanti ya,” gumam Liu Shan.


“Selanjutnya kan pertarungan keempat. Kalau tidak salah itu adik Siyue yang akan bertarung,” ujar Xiao Lin.


Tentunya, Liu Shan tidak melupakan hal itu. Karena lawan yang akan adiknya hadapi adalah mantan tunangannya sendiri, Xu Xiao.


“Iya, aku tahu.”


Tak lama, Xiao Lin kembali menyahut dengan wajah ragu-ragu.


“Xu Xiao. Adik Siyue akan menang bukan?”


Liu Shan terdiam sejenak. Dia memperhatikan ke arena pertarungan tanpa menoleh dan memberikan jawaban pasti sama sekali ke arah Xiao Lin.


“Entahlah,” gumam Liu Shan.


“Entah? Kenapa gitu?” tanya Xiao Lin.


“Walau aku ingin adikku menang, tapi lawannya adalah nona muda dari keluarga Xu. Ini akan menjadi pertarungan yang sulit bagi Siyue,” ujar Liu Shan.


Melihat Liu Shan mengatakan hal seperti itu adalah sebuah hal baru bagi Xiao Lin. Terlebih lagi, ucapannya terdengar seperti mengetahui tentang Xu Xiao cukup banyak.


“Kau … kelihatannya tahu banyak tentang dia ya?” tanya Xiao Lin.


Pandangannya tertarik ke belakang secara sekilas menatap Xiao Lin. Liu Shan berbalik dan duduk di seberang mejanya.


“Iya, aku tahu bahkan tahu terlalu banyak tentangnya. Karena dia dulu adalah mantan tunanganku.”


Kata-kata itu menyerang Xiao Lin secara telak di dalam kepala dan dada. Kedua mata terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


“Tu … tunangan?!” sahut Xiao Lin.


“Iya,” sambung Liu Shan.


“(Tu … tunangan. Aku tidak paham, tapi saat ini aku senang dan kesal secara bersamaan setelah mengetahuinya)” batin Xiao Lin.


Lalu, Xiao Lin berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan tersebut.


“Terlepas dari dia itu mantan tu … tunanganmu. Kenapa kau bilang ini akan menjadi pertarungan sulit untuk adik Siyue?” tanya Xiao Lin.


“Berbeda dengan adikku yang tekun untuk melatih dirinya, Xu Xiao lahir dengan bakat kultivasi yang tinggi,” jelas Liu Shan.

__ADS_1


* * * *


Suara Bai Ling dari arena turnamen pun menarik perhatian seluruh penonton.


“Baiklah, kita kembali pada turnamen akademi Liliang. Kini kita akan memasuki pertarungan ketiga, apakah semuanya masih semangat?!”


Waaa!!


Sorakan dari para penonton memberikan jawaban yang jelas. Tidak ada satupun dari mereka yang kehilangan semangatnya.


“Kalau begitu, mari kita mulai pertarungan ketiganya. Dua gadis dengan kemampuan menjanjikan, yaitu Xu Xiao melawan Liu Siyue!”


Dua peserta tersebut, Xu Xiao dan Liu Siyue telah berdiri di atas arena. Keduanya menatap satu sama lain dengan cara yang berbeda. Mengingat bagaimana kakaknya pernah dipermalukan olehnya, Liu Siyue menatap tajam Xu Xiao dengan besarnya dendam tersalurkan.


Sedangkan Xu Xiao membalas tatapan tersebut dengan senyuman tipis seolah sedang merendahkannya.


“Wah wah wah, kebetulan macam apa. Bisa bertemu dengan adik iparku yang cantik ini,” ujar Xu Xiao.


“Aku bukan adik iparmu dan tidak akan. Jangan sok kenal!” gerutu Liu Siyue.


“Galak sekali. Kakakmu tidak akan senang jika melihat calon istrinya di bentak begitu,” sahut Xu Xiao.


“Tidak tahu malu!” gerutu Liu Siyue.


“Hm?”


Xu Xiao memiringkan kepalanya kebingungan dengan raut wajah yang berubah tajam sesaat.


“Kau tidak tahu apa yang kakak lalui setelah kau memutuskan pertunangan itu. Dan sekarang kau ingin kembali dengannya setelah melihat kakak bisa kembali berkultivasi?!”


Bai Ling yang berada di samping arena tidak mendengar pembicaraan mereka, dan berlanjut untuk mulai.


Bersamaan setelah aba-abanya, emosi Liu Siyue yang terpancing pun membuatnya mengeluarkan sejumlah energi Ki di sekujur tubuh.


Wooshh!


“Aku tidak akan membiarkan kau mempermalukan kakak lagi!” bentak Liu Siyue.


Xu Xiao tidak bereaksi banyak. Namun, tatapan tajamnya saat itu masih belum berubah sembari melapisi tubuhnya dengan energi Ki.


“Kau tahu … aku tidak pernah menyukaimu sejak awal. Dan jangan pikir aku akan berbelas kasih, hanya karena kau adik Liu Shan,” ujar Xu Xiao.


Grak!


Keduanya melesat maju ke arah masing-masing. Melemparkan serangan secara beruntun tada henti. Tentu saja hal ini memberikan respon heboh bagi para penonton. Mereka langsung bersorak ria terhadap pertarungan sengit yang sudah terjadi di detik awal pertarungan.


Di lain sisi, Liu Siyue yang menghadapi Xu Xiao secara langsung di sana terlihat dapat menahan serangannya. Namun, hal itu berlaku sama bagi Xu Xiao.


“Ayo, jangan hilang semangat dulu. Barusan kau bilang akan melindungi kakakmu bukan? Apa kau bisa melindunginya dengan hanya bertahan? Cobalah untuk membalas!” ucap Xu Xiao dengan provokatif.


Liu Siyue tidak berusaha untuk menanggapi ucapannya. Dia terus berusaha fokus dengan setiap serangan yang dia lempar.


“(Aku bisa menahan serangannya. Tapi aku tidak boleh meremehkannya. Xu Xiao, dia termasuk salah satu jenius dari kota Feng. Terlebih lagi pewaris langsung dari keluarga Xu di umurnya yang muda. Aku tidak bisa menang hanya dengan menyerang saja!)”


Untuk sesaat, Xu Xiao melihat sedikit perasaan kosong datang dari Liu Siyue. Momen singkat yang dia dapatkan begitu menyadari hal tersebut dapat merubah alur pertarungan.


“Apa yang kau pikirkan?” bisik Xu Xiao.

__ADS_1


Kedua mata Liu Siyue sontak terbuka lebar mendengar kata-katanya. Dia yang sedang hilang dalam pikirannya sendiri, kini kembali dan sontak menghindar ke samping. Ayunan tangan Xu Xiao melewati bagian kanan telinganya, tetapi telapak tangannya sontak terbuka dan mengeluarkan sebuah energi Ki.


Buaak!


“Ugh!” erang Liu Siyue.


Energi Ki yang kuat itu memanfaatkan sekitar untuk membentuk dengungan keras yang menganggu pendengaran Liu Siyue.


Selagi keseimbangannya terganggu, Xu Xiao melemparkan sebuah energi Ki yang memukul tubuh Liu Siyue mundur.


Dak dak!


“Aghh!”


“(Sial, aku lengah! Dia dapat pendengaranku hingga membuat aku kehilangan keseimbangan. Dia sudah mengincarnya daritadi?)”


“Memangnya di tengah pertarungan kau boleh melamun?!”


Sahut Xu Xiao dari jauh. Dua jarinya dijepit dan diayun untuk membuat sebuah energi tebasan.


“Perlepasan energi : Tebasan Ki!”


Bats!


Liu Siyue menghindari tebasan Ki itu satu persatu. Tapi dengan jumlahnya yang datang secara beruntun, berujung membuat celah yang membuatnya tergores sedikit demi sedikit.


“Ayo, ayo, menari lebih lagi, Liu Siyue!”


Sret sret sret!


“Ugghh!”


Serangan beruntun itu membuat Liu Siyue terdiam diri di sana sembari berusaha untuk menahan setiap serangan yang datang. Memberikan situasi meriah pada penonton yang mendukung kemenangan Xu Xiao.


Waaaa!


“Hajar terus nona Xu Xiao!”


“Tebas terus!”


“Nona Liu Siyue, bertahanlah!”


“Jangan menyerah!”


Di lain sisi, Xiao Lin yang melihat bagaimana pertarungan tersebut pun terkejut bagaimana Liu Siyue di pojokan dengan cepat.


“Ini bahaya. Kalau terus seperti ini, lambat laun adik Siyue akan kalah!”


“Shan!”


Begitu dia menoleh ke belakang, di sana terlihat Liu Shan yang terdiam dengan kedua tangan menyatu tepat di depan bibirnya. Kedua mata menatap tajam seolah tak bergeming dari pertarungan tersebut.


“Masih belum,” ujar Liu Shan.


“Hah?” sahut Xiao Lin.


Dia melihat secara langsung pada adiknya di sana. Bagaimana dia berusaha terus-menerus menahan serangan beruntun itu terlihat dari sorot matanya.

__ADS_1


“Mata Siyue ... api di dalamnya masih membara.”


__ADS_2