
Xin Yan sontak mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Kedua kakinya itu mengeluarkan kekuatan dahsyat yang bahkan membuat lantai arena retak.
Grak grak!
Wush!
Konsentrasi Ki tepat di kepalan tangan kanannya itu di ayunkan sekuat tenaga. Xin Yan telah bergerak hingga dalam hitungan detik untuk muncul di hadapan Liu Shan.
Slep!
Ayunannya yang dia kira akan mendarat di wajah Liu Shan, kini berakhir memukul bayangannya yang memudar.
“(Hilang? Dimana dia?!)”
Liu Shan muncul tepat di belakang Xin Yan sembari memberikan sebuah pukulan di punggung.
“Belakangmu.”
Duak!
“Agh!”
Xin Yan terpental jauh ke depan. Tubuhnya yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak terhempas lebih jauh agar tidak jatuh dari arena.
“Ugh, sial!” gerutu Xin Yan sembari berbalik waspada menatap Liu Shan.
Dia tidak menunggu sedetikpun. Xin Yan kembali menerjang maju sembari melemparkan serangannya secara beruntun.
“Hyah!”
Tangan dan kaki, teknik demi teknik dia keluarkan untuk mendaratkan satu pukulan. Tetapi, tidak ada satupun serangan telak masuk pada Liu Shan.
“(Sial, dia cepat sekali. Tak hanya itu, refleksnya juga diluar dugaan. Dia bahkan menghindari seluruh gerakanku setelah menggabungkan kekuatan dengan Kai)”
Rasa geram Xin Yan yang tak kunjung bisa melemparkan satu serangan telak pun memuncak. Dan di satu kesempatan, Xin Yan melemparkan tendangan memutar.
Wush!
“Hup!”
Liu Shan melompat mundur untuk mencari jarak. Namun, di selang detik itu, Xin Yan justru melesat maju tepat di hadapannya sekali lagi. Tidak mengepal tangannya untuk melancarkan serangan fisik.
Dia menatap Liu Shan secara langsung, seolah berusaha untuk meraih jiwanya.
“(Strategi adalah kunci kemenangan. Kalau tak bisa melawannya secara fisik, maka aku akan membuatnya tertekan terlebih dahulu)”
Hentakan kuat dari kedua matanya itu beresonansi dengan Ki yang dia miliki. Sejumlah Ki sontak bergerak mengelilingi Liu Shan dari segala arah.
Wush!
Kekuatan yang Liu Shan rasakan di dalamnya itu seperti memberontak. Seperti ada dobrakan yang menginginkannya untuk tunduk. Dia paham apa yang ingin dilakukan Xin Yan. Oleh sebab itu, dia membalas dengan cara yang sama.
[ Skill : Bloodlust - Aktif > MP - 100 ]
[ Target telah terkena efek skill ]
[ Pengurangan status sebanyak -50% ]
__ADS_1
[ Pelumpuhan tubuh selama satu menit ]
Deg!
Gejolak dahsyat mengamuk di dalam tubuh Xin Yan. Jiwanya seperti dimakan hidup-hidup hingga tubuhnya berhenti dan gemetaran tiada henti. Tatapannya terlihat kosong sekaligus keringat dingin bercucuran.
“(Dia … sengaja. Saat aku berusaha menekannya, dia melawanku secara langsung!)”
Tubuhnya yang tak bisa bergerak saat itu membuat Xin Yan terjatuh di kedua lututnya.
Bruk!
“(Ternyata … kalah telak)”
Xin Yan terjatuh pingsan di atas arena. Membuat semua penonton terdiam kebingungan. Tak ada satupun yang bersorak, melainkan berbisik satu sama lain terhadap apa yang terjadi di arena.
“Eh, gadis itu terjatuh?”
“Apa yang terjadi? Dia menyerah?”
“Masa sih? Aku bahkan tidak melihat si Liu Shan itu menyentuhnya.”
“Lalu kenapa dia terjatuh di kedua lututnya?”
Para penonton berbisik kebingungan. Sedangkan Bai Ling yang berada di samping arena pun langsung melompat masuk. Dia melihat bagaimana kondisi Xin Yan telah tak sadarkan diri di sana pun segera mengambil keputusan terhadap hasil pertarungan.
“Pertarungan pertama telah selesai. Liu Shan pemenangnya!”
Setelah pengumuman itu, penonton masih tidak bereaksi banyak selain menatap kebingungan terhadap apa yang telah terjadi. Namun, semua terus berlanjut seperti biasa. Xin Yan segera dibawa oleh para tim medis bersama Sheng Tong untuk di periksa. Sedangkan Liu Shan berbalik pergi ke arah lorong keluar arena.
“Wah pertarungannya benar-benar selesai.”
“Ah, aku yakin kalau dia pasti menggunakan trik kotor. Kalau tak salah, dia itu murid baru yang kebetulan masuk karena direkrut nona Qing Yao.”
“Kalau di rekrut nona Qing Yao, seharusnya kemampuannya menjanjikan dong?”
“Huh, aku rasa dia hanya beruntung saja.”
“Liu Shan ya. Kalau tak salah, dia juga langsung terlibat masalah ingin memukuli tuan muda dari keluarga Guan saat baru masuk ke akademi.”
“Benarkah? Wah, gila juga ya dia.”
Di lain sisi, Liu Siyue mengembangkan pipinya sembari cemberut sepanjang waktu ketika mendengar ocehan para penonton. Karena duduk satu kursi di belakangnya, Xiao Lin dapat mendengar hal yang sama.
Dia mendekat dan memanggil Xiao Lin dengan khawatir.
“Adik Siyue, kau baik-baik saja?” tanya Xiao Lin dengan lembut.
“Hmph, mana ada. Kakak sudah menang, tapi mereka tetap saja tidak terima. Kurang hebat apa lagi, kakak bahkan tak perlu menyentuh lawannya untuk membuatnya mennyerah,” bantah Liu Siyue.
Langkah kaki datang dari belakang mereka berdua. Lalu diikuti dengan suara laki-laki yang menyambung obrolan.
“Wajar kalau tidak terima.”
Suara itu sontak menarik perhatian mereka berdua dalam sekejap. Raut wajah Liu Siyue sontak berubah menjadi lebih ganas seolah akan meluapkan amarahnya.
“Apa kata-!”
__ADS_1
Laki-laki yang menyahut ke dalam obrolan mereka berdua itu adalah Hao Fenhua. Dia datang sembari berdiri mendekati mereka.
“Liu Siyue, kalau bukan karena dia kakakmu. Atau aku dan nona Xiao Lin yang mengenalnya, kau juga pasti akan berpikiran sama seperti para penonton lainnya.”
Liu Siyue sontak terdiam selagi mendengar Hao Fenhua melanjutkan kata-katanya.
“Menghentikan pergerakan seseorang tanpa harus menyentuh tubuhnya. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan tekanan dahsyat yang dimiliki oleh pengguna atau lawan. Kebanyakan penonton tidak sadar akan hal itu. Tapi ….”
Hao Fenhua mengarahkan telunjuknya ke bagian sisi tempat duduk dimana para petinggi akademi, termasuk Qing Yao dan tetua Khan berada. Terlihat bagaimana raut wajah mereka berbeda sendiri dari reaksi penonton. Kedua mata yang terbuka lebar ataupun menajam selagi melihat ke arena.
Raut wajah mereka dapat mengatakan bagaimana hasil pertarungan itu mengejutkan semua orang layaknya dua sisi koin yang berbeda. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang dapat memahami apa yang telah terjadi di dalam arena tersebut.
Setelah semua itu, Bai Ling sebagai pembawa acara langsung mengambil alih situasi.
“Baiklah, turnamen akan berlanjut ke pertarungan kedua!”
Wosh!
Perubahan dari braket yang dibentuk oleh energi Ki di atas arena turnamen pun telah diperbaharui. Nama Liu Shan maju ke pertarungan selanjutnya. Dan kini, menyorot kedua peserta di pertarungan kedua.
“Ah, pertarungan keduanya akan segera dimulai,” gumam Hao Fenhua sembari duduk di samping Xiao Lin.
“Siapa selanjutnya?” tanya Liu Siyue sembari melihat ke braket di atas.
“Tang … shin lawan Zhao Ninging,” sahut Xiao Lin.
Nama tersebut membuat mereka teringat pelatihan mistis hutan Shenmi. Satu-satunya orang yang menduduki posisi tertinggi dengan liontin terbanyak, mengalahkan Liu Shan dan mereka semua.
“Dia orang yang mengalahkan kakak!” ketus Liu Siyue.
“Bukan kalah, tapi punya liontin lebih banyak,” bantah Xiao Lin.
“Yah, itu tetap kalah sih itungannya,” sahut Hao Fenhua.
Xiao Lin terdiam cemberut sembari menahan pipinya mengembang. Di lain sisi, Hao Fenhua menajamkan sorot matanya ke arah Tang Shin yang berjalan masuk ke dalam arena.
“Pertarungan kedua akan menyajikan Zhang Ningning melawan Tang Shin!”
Dua orang itu berjalan memasuki arena. Semua orang terfokus pada Tang Shin, karena reputasinya sebagai satu-satunya murid didikan Bai Ling.
“Wah, lihat. Itu Tang Shin!”
“Tang Shin, Tang Shin!”
“Auranya berbeda sekali.”
“Aku sih tidak heran. Satu-satunya murid didikan langsung dari nona Bai Ling. Aku sangat menantikan apa yang akan dia lakukan di arena!”
Tang Shin dan Zhang Ningning berdiri tepat di atas arena. Keduanya menatap satu sama lain, berusaha untuk mendominasi lawannya sebelum pertarungan dimulai. Namun, dari situasi bagaimana arena sedang riuh dengan nama Tang Shin, Zhang Ninging tau kalau dia sudah terpojok sebelum melawannya.
“Bisa melawan seorang murid didikan langsung dari nona Bai Ling adalah sebuah kesempatan langka,” gumam Zhang Ninging.
“Hm?” sahut Tang Shin sembari menajamkan matanya kebingungan.
Tiba-tiba saja, Bai Ling datang memotong perbincangan mereka.
“Pertarungan kedua turnamen akademi Liliang, dimulai!”
__ADS_1
Zhang Ninging mengeluarkan aura Ki yang membara dari sekujur tubuhnya. Memberikan perubahan reaksi terhadap Tang Shin yang terlihat lebih waspada.
“Tapi, bisa mengalahkanmu akan menjadi sebuah batu loncatan besar untukku!”