Endless System

Endless System
Bab 86


__ADS_3

Dengan respon Liu Siyue seperti itu, emosi Xu Xiao terpancing erupsi dalam waktu singkat. Tubuhnya di dorong melesat secepat mungkin ke depan.


Grak!


Tinju yang melayang datang di hadapannya. Liu Siyue merasakan perubahan drastis dari tubuhnya. Sebelumnya, dia hanya bisa bertahan dari serangan Xu Xiao. Tapi kini, pergerakannya jadi jauh lebih cepat seolah dapat melihat peluang yang bertebaran.


“(Aku melihatnya. Di sini!)”


Slep!


Tinju Xu Xiao yang datang pun dia tahan ke samping. Lalu, Liu Siyue datang membalas dengan pukulan telak di dada.


Buak!


“Ugh!” erang Xu Xiao.


“Masih belum,” gumam Liu Siyue.


Posisi tangannya berubah dengan telapak yang terbuka di dada Xu Xiao.


“Teknik tenaga dalam : Tolakan Ki!”


Sejumlah energi Ki mengalir di dalam tubuhnya. Merambat langsung ke dalam lengan dan memberikan sebuah pukulan Ki.


Buaakk!


“Uackkh!” erang Xu Xiao sembari terhempas mundur ke belakang.


Kedua kakinya berusaha untuk menahan tubuhnya agar tidak terhempas lebih jauh. Namun, dirinya yang tertahan saat itu jadi terjatuh di kedua lutut sembari mencengkram dada.


“Akh, ka-kau!” gerutu Xu Xiao.


Liu Siyue tidak membalas apapun selain dengan sorotan matanya. Kuda-kuda yang kokoh tepat di depan memandang dengan jelas bagaimana Xu Xiao terpukul mundur saat itu juga.


Kedua mata menajam, dahi mengerut serta gigi digertakan.


“(Jangan bercanda. Aku adalah Xu Xiao, sang jenius dari keluarga Xu dan kota Feng. Aku tidak akan mungkin kalah dari seseorang tanpa bakat sepertinya!)”


Harga diri yang tinggi terukir dari bagaimana Xu Xiao berpikir saat itu juga. Dirinya yang terima untuk kalah pun kembali menggunakan teknik tebasan Ki dari jauh.


“Jangan sombong dulu kau!”


“Perlepasan energi : Tebasan Ki!”


Bats!


Serangan beruntun yang datang itu sama seperti bagaimana Liu Siyue terpojok sebelumnya. Namun, pergerakan energi Ki yang mengelilingi tubuhnya saat ini telah merubah semuanya.


Kini, Liu Siyue maju melawan arah datangnya tebasan Ki tersebut.


Trang!


Xu Xiao berhenti menarik nafas sesaat setelah melihat Liu Siyue yang berlari maju ke arahnya. Setiap tebasan yang dia kerahkan berujung di tahan berulang kali.


“(Semua seranganku di tahannya?!)”


Sebelum Xu Xiao menyadarinya, Liu Siyue sudah berada tepat di depan mata.


“Tch!” keluh Xu Xiao.

__ADS_1


Reaksi lambatnya tidak bisa mengimbangi kecepatan Liu Siyue. Kedua tangannya di pukul keluar hingga membuat celah besar.


“(Celaka!)”


“Konsentrasi Ki : Telapak Penghancur Bumi!”


Tanpa menyentuhnya, Liu Siyue mengeluarkan menembakkan ledakan energi Ki di hadapan Xu Xiao.


Dum dum!


Dentuman keras yang mendarat telak di bagian depan tubuhnya itu tak bisa dia tahan lagi. Xu Xiao berpasrah diri selagi tubuhnya terhempas mundur hingga keluar dari arena.


“Arghh!”


Bruk bruk bruk!


Suasana arena hening sejenak. Semua orang terdiam sembari menelan ludah setelah melihat bagaimana pertarungan kelima sedang terjadi tepat di depan mata mereka.


Namun, Bai Ling sebagai pembawa acara sekaligus pengawas pun datang dengan sebuah keputusan.


“Pertarungan ketiga telah selesai. Liu Siyue lah pemenangnya!”


Waaa!!


Sorakan meriah dari penonton langsung membuat satu arena bergetar. Para pendukung Xu Xiao yang sebelumnya sangat semangat, kini terlukis dengan tatapan kosong dan pundak yang turun.


“Ti … tidak mungkin. Nona Xu Xiao … kalah?”


Hasil telah keluar di sana. Percaya atau tidak, terima atau tidak, pertarungan tersebut berjalan dan berakhir secara adil.


Dari ruang tunggu, Xiao Lin melihat kemenangan Liu Siyue pun menghela nafas lega sekaligus melompat-lompat.


Liu Shan berdiri sembari tersenyum tipis melihatnya.


“Huh, dari awal aku sudah yakin kalau dia akan menang. Aku tidak khawatir sama sekali,” sahut Liu Shan.


“Benarkah? Bukankah tadi kau bilang pertarungan itu akan menjadi sulit bagi adik Siyue?” tanya Xiao Lin.


“Memang. Tapi, bukan berarti Siyue tidak akan menang,” jawab Liu Shan.


Dia berjalan ke arah pintu keluar ruangan tersebut. Dan dari belakang, Xiao Lin berjalan mengikutinya. Dari sana, Xiao Lin menyadari sesuatu.


Tangan Liu Shan terlihat gemetaran.


“(Dia … sudah kuduga. Walau dia mengatakan seperti itu, tetapi sebenarnya dia tetap khawatir setengah mati terhadap adik Siyue)”


Xiao Lin saat itu berjalan tepat di sampingnya. Tangannya meraih masuk ke dalam tangan Liu Shan sembari menariknya dengan semangat.


“Huh, Lin’er?!” gumam Liu Shan dengan kedua mata terbuka lebar.


“Aku tidak ingin ketinggalan melihat adik Siyue yang sudah berusaha keras. Setidaknya, kita harus ucapkan selamat, ya kan?” sahut Xiao Lin sembari tersenyum lebar.


Rasa takut yang menghantui Liu Shan secara tidak sadar pun menghilang begitu melihat senyuman hangat Xiao Lin.


“Benar juga.”


* * * * *


Setelah pertarungan ketiga telah berakhir, Liu Siyue di bawa oleh tim medis untuk di rawat. Lalu, arena turnamen pun masih berlanjut dengan pertarungan selanjutnya.

__ADS_1


Pertarungan keempat dimenangkan oleh Tang Shin dengan mudah. Diikuti dengan pertarungan kelima, Liang Muchen yang dihentikan perjalanannya oleh Wu Wanxiao. Pertarungan ketujuh, Hao Fenhua memenangkan pertarungan dengan menghentikan pergerakan lawannya, Jingbei Yuan. Dan terakhir, pertarungan kedelapan dan kesembilan dimenangkan oleh Lei Wanbei dan Xiao Lin.


“Baiklah, itu semua adalah rekap pertarungan ronde kedua turnamen akademi Liliang. Kita akan lanjut kembali di ronde ketiga setelah istirahat sejenak!”


Waktu telah bergerak dengan cepat. Pagi hari dari mulainya turnamen, kini telah sampai waktu di mana matahari berada tepat di atas kepala.


Selagi para penonton beristirahat, Liu Shan mengambil waktu itu untuk mengunjungi adiknya di ruang perawatan.


Tok tok tok!


“Masuk.”


Pintu di dorong terbuka. Liu Shan melihat adiknya yang sedang duduk di atas kasur di obati oleh Sheng Tong, kultivator medis terbaik milik Akademi Liliang.


“Kakak,” ujar Liu Siyue.


“Sudah kuduga kau pasti akan datang lagi,” gumam Sheng Tong.


“Bagaimana keadaanmu?’ tanya Liu Shan.


“Dia baik-baik saja. Hanya sedikit goresan dan penggunaan energi Ki berlebih. Dia hanya perlu istirahat agar bisa pulih secara maksimal untuk pertarungan selanjutnya,” jelas Sheng Tong.


“Terima kasih, guru Sheng Tong,” sahut Liu Shan.


“Tidak masalah.”


Sheng Tong berjalan keluar ruangan setelah menepuk pundak Liu Shan.


Di lain sisi, Liu Shan di sana melihat adiknya dari atas hingga bawah. Memberikan tatapan dan perasaan aneh bagi Liu Siyue sendiri.


“A-apa?” tanya Liu Siyue.


“Tidak. Senang saja melihatmu baik-baik saja,” ujar Liu Shan.


“Apa sih kak?” gumam Liu Siyue sembari memalingkan wajah yang memerah.


Liu Siyue menggelengkan kepalanya. Lalu, dia mengganti topik pembicaraan dengan cepat.


“Kakak, bukankah di ronde ketiga nanti kau akan menjadi yang pertama untuk bertarung?” tanya Liu Siyue.


“Iya, kenapa?” sahut Liu Shan.


“Kakak tidak ada persiapan apa gitu?” ujar Liu Siyue.


“Dibandingkan ku, seharusnya kau lebih khawatir pada dirimu sendiri.”


“Aku sudah baik-baik saja. Kau tidak dengar dari guru Sheng Tong tadi?”


“Bukan itu maksudku.”


Bantahan Liu Shan saat itu membuat kedua mata Liu Siyue terbuka sembari tertegun diam.


“Terus apa?” tanya Liu Siyue.


“Kau sudah menang lawan Xu Xiao, tapi itu hanya satu dari banyaknya rintangan,” ujar Liu Shan.


“Rintangan? Maksudmu lawanku selanjutnya?” sahut Liu Siyue.


Liu Shan mengangguk pelan menjawabnya.

__ADS_1


“Kau akan melawan Tang Shin.”


__ADS_2