Endless System

Endless System
Bab 51


__ADS_3

Ketika masuk ke dalam rumahnya, Xiao Lin segera duduk di seberang meja ruang tamu. The yang telah di sediakan oleh Liu Shan belum dia sentuh. Melainkan Xiao Lin sendiri masih begitu gugup dan kedua tangannya mengepal erat di atas pahanya itu karena terlalu gugup untuk melakukan apapun.


Dia melirik kiri dan kanannya, berusaha mencari-cari tahu tentang Liu Shan yang tinggal di dalam rumah itu.


“(Ja…jadi ini… rumah yang tuan Shan tempati ya….)” batin Xiao Lin


Di kala Xiao Lin sedang hilang dalam pikirannya sendiri, Liu Shan yang sejak tadi memanggilnya pun tak kunjung di respon olehnya. Dan pada akhirnya, Liu Shan sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Xiao Lin.


“Nona Xiao Lin?” panggil Liu Shan.


“A-ah, iya!” sahut Xiao Lin yang sontak kembali sadar.


“Umm … apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Liu Shan.


“Eh?”


Xiao Lin memiringkan kepalanya dan menatap bingung ke arah Liu Shan. Pikirannya yang melayang entah kemana belum sanggup untuk menangkap maksud dari ucapan Liu Shan.


“Kau datang jauh-jauh ke asrama laki-laki untuk bertemu denganku, sebenarnya ada apa? Apa kutukanmu itu kembali aktif lagi?” tanya Liu Shan


“Bu-bukan itu … Sebenarnya … aku … datang kesini untuk….”


Xiao Lin melipat kedua tangannya tepat di antara pahanya dan di gesek seolah ragu dan malu untuk melanjutkan ucapannya.


Liu Shan yang terus menatap ke arahnya mulai bingung karena Xiao Lin berhenti di tengah-tengah kalimatnya. Dia menunggu dan terus menunggu hingga dia ingin membuka mulutnya.


Dan ketika saat itu tiba, bukannya membuka mulut untuk melanjutkan ucapannya. Tetapi, Xiao Lin justru menyodorkan keranjang yang dia bawa tepat ke hadapan Liu Shan.


Tak tahu harus bereaksi apa. Liu Shan sempat tertegun diam dan menatap kebingungan ke arah keranjang dan juga sikap Xiao Lin yang begitu aneh.


“(Eh, apa ini?! Tradisi orang kaya di zaman kuno?! Aku tidak tahu. Aku datang di pergaulan orang kaya di dunia modern! Hei sistem, lakukan sesuatu!)”


Liu Shan yang tak mengerti apa arti dari hal tersebut pun tak berani berbicara atau berbuat sembarangan. Sampai tak lama kemudian, Xiao Lin mulai kembali membuka mulutnya.


“A-anu-! Tu-tuan Shan, te-terima kasih!”


“Eh?!”


“Ibu telah memberitahuku. Kalau tuan Shan datang untuk membantu memulihkan kutukan iblis yang ada di dalam tubuhku. Dan ketika ibu tertular oleh kutukan itu, tuan Shan juga menyembuhkan ibu. Karena itu, aku datang kemari untuk … be-berterima kasih pada tuan Shan!”


Ternyata seperti itu, pikir Liu Shan.


Dia menghela nafas lega karena dia sempat berpikir bahwa dia harus membalas pemberian Xiao Lin yang merupakan tradisi sapaan seseorang dari zaman kuno. Namun, Xiao Lin datang ke sana dengan niat untuk berterima kasih karena sudah menolongnya.


“Sama-sama. Tetapi, menolong seseorang itu sudah menjadi hal yang wajar. Jadi tidak perlu sungkan seperti itu, Nona Xiao Lin.”


Xiao Lin mengangkat pandangannya ketika mendengar ucapan Liu Shan. Dia tidak mengambil keranjang yang dia berikan, melainkan tetap tersenyum tipis dan berkata seakan menolong seseorang itu adalah hal yang wajar di lakukan.


Pada saat itu, Xiao Lin terpana dengan ketampanan Liu Shan yang di bantu dengan sikapnya yang begitu ramah dan juga menghangatkan hatinya. Jantung Xiao Lin menjadi semakin berdegup kencang seperti gendang yang ingin pecah, sedangkan wajahnya semakin memerah seperti tomat dan memandang kosong ke arah Liu Shan seolah kehilangan konsentrasi.


Sudah lebih dari 1 menit Xiao Lin tidak memberikan respon. Liu Shan yang membuka matanya dan menatap ke arahnya pun kebingungan ketika melihatnya yang tak kunjung bergerak dan masih menatap kosong ke arahnya.

__ADS_1


“U-um … nona Xiao Lin?”


Liu Shan memanggil Xiao Lin lebih dari tiga kali. Tetapi dia tidak kunjung merespon, seolah kesadarannya sedang pergi entah kemana. Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya karena bingung pada Xiao Lin yang sejak awal bertemu sering kali kehilangan fokus.


“(Ada apa dengannya? Apa ini efek samping dari kutukan iblis itu?)”


“Hei, nona Xiao Lin?”


Liu Shan mendekatkan jarinya ke depan wajah Xiao Lin. Dan dia langsung menjentikan jari untuk memunculkan bunyi yang mengejutkan.


Ctak …!


“Ah-!” teriak Xiao Lin yang sontak bangun.


“Kau tidak apa?” tanya Liu Shan.


Saat menatap ke arah Liu Shan, wajah Xiao Lin menjadi semakin merah dan degup jantungnya berdetak kencang. Dia yang tak kuat menatapnya langsung memalingkan pandangannya ke samping.


“Ti-tidak apa-apa!”


“Eh?!”


Sedangkan Liu Shan yang melihat sikap Xiao Lin langsung berubah dan memalingkan wajahnya terlihat seakan sedang kesal atau terganggu dengannya.


“(EHH?!! Ke-kenapa dia membuang buka dariku?!)” batin Liu Shan.


“(A-AAHH!! Ke-kenapa aku malah membuang muka?! Dia pasti akan berpikir kalau aku membencinya sekarang!)” batin Xiao Lin.


“A-anu, ma-maaf nona Xiao Lin! A-aku telah membuatmu merasa tidak nyaman!”


“E-eh?! Ti-tidak. Justru aku yang seharusnya minta maaf, karena membuatmu menjadi merasa aneh!”


Xiao Lin berbalik minta maaf sembari menyodorkan keranjang yang dia bawa sebelumnya.


“To-tolong tuan Shan terima ini sebagai permintaan maaf dan terima kasihku!”


“Ti-tidak usah repot-repot nona Xiao Lin. A-aku-!”


“Sudahlah, te-terima saj-!”


Saat Xiao Lin mendengar Liu Shan ingin menolak, dia sontak menjadi berusaha agresif dan memaksa Liu Shan untuk menerima keranjangnya itu. Namun, pergerakan ceroboh dari Xiao Lin membuatnya tak menyadari sekitarnya dan menjadi tersandung meja di depannya.


Duk…!!


“AAAH!!”


“Awas!”


Liu Shan sontak menangkap Xiao Lin yang akan terjatuh, namun dia berusaha menangkapnya pun menjadi ikut terbawa jatuh ke lantai.


Bruk…!!

__ADS_1


Keduanya saling mengerang pelan dengan menahan rasa sakit itu. Liu Shan yang menggunakan punggungnya untuk jatuh dan menjadi alas pun mulai membuka matanya secara perlahan.


“Uuhh … nona Xiao Lin, kau baik-baik saja?”


Liu Shan bertanya akan kondisi Xiao Lin yang hampir terjatuh itu. Namun, saat  dia melihatnya terbaring tepat dia tas dada, Liu Shan merasakan sebuah perasaan empuk yang menggesek di tubuhnya.


Di sisi lain, Xiao Lin mengusap kepalanya seolah terkena sedikit rasa pusing.


“Uuh … I-iya, aku tidak apa….”


Dan saat Xiao Lin mulai beranjak untuk bangun, di membuka kedua matanya secara perlahan. Dia menatap ke bawah dan melihat ke arah Liu Shan yang sedang membuka lebar kedua matanya yang indah dan menatapnya dengan seksama.


Bagaimana tidak?


Liu Shan melihat seorang gadis yang begitu cantik sedang berada tepat di atasnya. Suara dan hembusan nafasnya dapat terasa langsung di wajah mereka yang begitu dekat. Belum juga dengan kecantikan dan juga tubuh Xiao Lin yang sangat ‘proporisonal’ itu bisa menjadi model papan atas di majalah.


Sedangkan Xiao Lin yang berada tepat di atas Liu Shan juga ikut terpana. Melihat ketampanan dan kegagahan dari seorang laki-laki yang telah menyelamatkannya dari kutukan iblis. Serta kebaikan dan keramahan yang dia rasakan membuat hatinya tenang sekaligus berdegup kencang karena perasaan yang tak karuan ketika berada di dekatnya.


“Nona Xiao …. Lin?”


“Tuan … Shan?”


Keduanya tenggelam di dalam suasana tersebut. Saling menatap satu sama lain, tak peduli apa yang ada di sekitarnya. Perlahan tapi pasti, nafsu di dalam tubuh manusia mereka, insting seorang pria dan wanita mulai mengambil alih. Liu Shan dan Xiao Lin mulai mendekati bibir mereka dengan perlahan.


Ketika ujung bibir akan bertemu, suara pintu rumah yang terbuka sontak mengejutkan mereka.


Kreakk…!!!


“Hei, Shan! Apa kau sudah dapat kabar tentang pelatihan-!”


Orang yang berteriak dan langsung masuk ke dalam rumah adalah Hao Fenhua. Teman serumah Liu Shan di dalam asrama laki-laki. Dia yang pagi-pagi telah pergi lebih dulu, kini pulang di waktu yang tidak tepat.


Dia sontak menghentikan kalimatnya dan menatap dengan kedua mata yang melebar ketika melihat posisi Liu Shan dan Xiao Lin yang terlihat begitu ‘mencurigakan’.


Sedangkan Liu Shan dan Xiao Lin sendiri menjadi terhenti pergerakannya dan menatap balik ke arahnya dengan raut wajah panik.


“Hmm … Hm… aku pulang disaat yang tidak tepat ya….”


Hao Fenhua yang melihat situasi tersebut pun langsung mengangguk dan melipat kedua tangannya tepat di depan dadanya. Dan tiba-tiba saja, dia membuka salah satu matanya dan tersenyum lebar sembari mengacungkan ibu jari ke arah Liu Shan seakan sedang mendukungnya.


“Tidak apa. Aku akan keluar lagi, selesaikan urusan kalian! Masa muda itu singkat loh, jadi nikmati selagi bisa!”


Tiba-tiba saja, sebuah lemparan energi Ki berupa pukulan udara menghantam Hao Fenhua tepat di wajahnya.


BUAAK…!!


“Uaagh!!” erang Hao Fenhua


Serangan itu berasal dari Liu Shan yang kesal dan juga canggung terhadap situasi tersebut.


“Masa muda matamu, dasar orang gila!”

__ADS_1


__ADS_2