
Liu Shan menutup panel sistem secepatnya. Dia langsung berbalik dan melihat jauh ke bawah.
“Ini adalah negara Huo.”
Walau Liu Shan berada di atas punggung Gu yang sedang terbang jauh 10 ribu meter di atas daratan, tetapi dia dapat melihat betapa luas dan besarnya negara Huo.
Tidak pakai lama, Gu langsung mengepakkan sayapnya sekuat mungkin. Dia menukik cepat ke arah perkotaan negara Huo, tepat di salah satu taman luas yang paling hijau dan indah.
Wuushh!
Cakar raksasanya menginjakkan kaki di atas taman tersebut. Liu Shan sontak melompat turun sembari menoleh ke kiri dan kanan dari sekitaran bangunan negara Huo.
“Agak … beda ya.”
Liu Shan menyadari perbedaan antara negara Huo dan negara Tu ketika melihat sekitarnya. Gu yang masih berada di sisinya pun sontak menolah dan bertanya,
“Ada apa?” tanya Gu.
“Entah ini perasaanku saja atau bukan, tetapi negara Huo terasa lebih … berwarna.”
Hawa disekitar lalu lalang kota terlihat sangat ramai dan penuh tawa. Orang-orang terlihat gembira dengan setiap blok yang terlihat banyak hiasan. Bukan hanya taman, tetapi setiap sisi terlihat memiliki bunga-bunga yang indah, lampion yang bergantungan dan banyak hal lain seperti terlihat ada festival.
“Ah, ini memang sudah menjadi ciri khas negara Huo. Selain di sebut negara api, negara ini di katakan sebagai ‘Negara Festival’,” jelas Gu.
“Negara Festival?” sahut Liu Shan.
“Iya. Kau akan mengerti setelah beberapa lama di sini. Tapi kau punya sesuatu yang lebih penting datang kemari,” ujar Gu.
“Aku tahu itu,” ucap Liu Shan.
“Sedikit pesan dari tetua Khan. Perihal informasi dari para klan iblis, kau hanya perlu datang ke ruang api suci untuk bertemu dengan penerima pesan. Dari sana, dia akan membantumu bertemu dengan pemimpin negara,” jelas Gu.
“Baiklah. Terima kasih, Gu.”
Wuushh!
Kepakan sayapnya membawa Gu terbang secepat mungkin. Meninggalkan Liu Shan di negara Huo sendiri di tengah taman tersebut.
Dengan pesan yang telah di titipkan, Liu Shan langsung jalan mengelilingi kota sembari mencari ruang api suci. Dan di kala dia sedang melihat-lihat, kota di dalam negara Huo memang sangat meriah suasananya.
__ADS_1
“Hahaha, sekali lagi!”
“Paman, aku mau itu!”
“Ayo ayo, jangan lupa untuk beli lampionnya. Kalian tidak ingin rumah kalian gelap di saat malam festival bulan nanti bukan?”
Mendengar salah satu paman penjual berkata seperti itu sedikit menarik perhatian Liu Shan. Langkah kakinya menuntun dia bergerak mendekat ke toko paman itu.
“Permisi.”
“Ah, iya tuan. Kau ingin lampionnya? Satu lampion hanya seharga 20 koin perunggu. Kalau beli dua, hanya 30 koin perunggu.”
“Maaf, aku tidak berasal dari sini. Festival bulan itu apa ya?”
“Oh, ini kedatangan tuan pertama kali di negara Huo ya. Wah, anda datang di saat yang tepat. Sebagai kota pusat negara Huo, kota Shenghuo akan memberikan anda kenangan yang indah dengan festival bulan ini!”
Antusiasme dari paman penjual itu membuat Liu Shan semakin penasaran dengan festival bulan.
Festival bulan adalah suatu perayaan yang di lakukan oleh negara Huo setiap setahun sekali. Kebiasaan umum yang di lakukan oleh para penduduk negara Huo adalah untuk memamerkan lampion serta memakan kue bulan bersama dengan orang-orang yang mereka sayang.
“Tuan, karena ini kedatangan pertamamu di negara Huo, aku ucapkan selamat datang dengan sebuah hadiah kecil!”
“Terima kasih, paman.”
“Tak perlu di pikirkan. Nikmati festivalnya ya, dan kalau kau kembali lagi, jangan lupa mampir!”
Liu Shan mengangguk pelan sembari berjalan meninggalkan toko tersebut. Dia tak habis pikir dengan suasana negara Huo yang benar-benar berbeda. Damai namun ramai penuh kegembiraan, mereka sama sekali tak memiliki beban layaknya sedang hidup dalam kayangan.
Namun, di tengah hal tersebut Liu Shan melihat sisi gelap. Walau senyuman mereka sangatlah lebar, tetapi itu tidak akan bertahan lama jika klan iblis masih berkeliaran. Dia yang mengingat tujuannya pun langsung melangkah kembali mencari ruang api suci.
Langkah kakinya menuntunnya pergi ke arah tengah kota Shenghuo. Tepat saat Liu Shan mengangkat pandangannya, dia melihat sebuah paviliun besar dengan motif burung api di berbagai sisi.
“Kelihatannya ini tempatnya.”
Motif nyentrik sekaligus penjagaan ketat membuatnya menjadi semakin yakin. Sebelum dia ingin melangkah ke tangga paviliun, tiba-tiba saja dia mendengar suara seorang perempuan dari belakang.
“Kau Liu Shan ya?”
Suara lembut yang memanggil namanya membuat Liu Shan menoleh dengan cepat. Dia belum berkenalan dan bahkan tidak mengenal siapapun sebelumnya di negara Huo, tetapi sudah ada yang tahu namanya.
__ADS_1
Sosok perempuan yang memanggilnya memiliki paras yang anggun dengan tubuh yang langsing. Rambut perak panjang yang terlihat di kepang terbelah ke satu sisi ke depan dada sembari tersenyum tipis menatapnya.
“Kau-“
“Maaf mengejutkanmu begini, namaku Han Yue. Aku adalah penerima pesan yang tetua Khan suruh bertemu denganmu.”
Ting!
[ Nama : Han Yue ]
[ Umur : 24 tahun ]
[ Tingkat Kultivasi : Petarung raja bintang satu ]
Panel sistem muncul seperti biasa dengan memperlihatkan status Han Yue. Setelah itu,
“Ah, nona Han Yue. Senang bertemu denganmu,” ujar Liu Shan sembari menjabat tangannya.
“Panggil Yue saja, jangan terlalu formal begitu,” sahut Han Yue.
“Baiklah.”
“Tetua Khan berbicara banyak tentangmu dari surat. Aku dengar kau adalah murid yang memenangkan turnamen akademi Liliang.”
“Tetua bilang seperti itu? Terima kasih.”
“Tidak enak jika berbicara di depan seperti ini. Mari masuk.”
Han Yue melangkahkan kakinya bersama Liu Shan masuk ke dalam ruang api suci. Mereka berjalan di dalam lorong yang memiliki motif burung api dimana-mana, serta perhiasan di sekeliling ruangan. Membuatnya berbeda sekali dengan negara Tu dengan ruang naganya.
Han Yue menyadari tatapan Liu Shan yang tidak lepas melihat sekitar ruangan tersebut.
“Ada yang membuatmu merasa tak nyaman? Daritadi aku lihat kau terus melihat sekitar,” ucap Han Yue.
“Bukan begitu. Hanya saja, di sini berbeda sekali dengan negara Tu. Walau di akademi Liliang ada ruang naga yang menyimpan berbagai gulungan rahasia, tetapi tidak sampai bermotif dan memiliki banyak hiasan seperti ini,” ujar Liu Shan.
“Ah, kau agak terkejut ya. Yah, karena Negara Tu dan negara Huo cukup berbeda dari mulai pemerintahannya. Negara Tu tidak berada dalam pemerintahan dari salah satu 4 dewa mata angin, yaitu Xuan Wudan. Melainkan, mereka memiliki pemerintahan yang di kelola oleh mereka sendiri,” jelas Han Yue.
“Keluarga Xiao,” sambung Liu Shan.
__ADS_1
“Tepat. Keluarga Xiao, lebih spesifiknya adalah keluarga dari tetua Khan sendirilah yang mengurus pemerintahan di negara Tu. Sedangkan negara Huo berada dalam pemerintahan dari salah satu 4 dewa mata angin secara langsung. Satu-satunya burung api suci di alam dewa dan manusia, sang agung Zhu Que.”