Endless System

Endless System
Bab 88


__ADS_3

Setelah mulainya pertarungan, Liu Siyue membuka lebar kedua mata. Sorotan mata tertuju ke depan seolah tak bisa berpaling atas besarnya energi Ki yang sedang meluap.


Woshh … GRAK!


Dorongan keras dari kedua kakinya saat itu melempar tubuh Tang Shin melesat maju secepat kilat.


“(Serangan langsung?!)”


Liu Siyue sontak terkejut melihatnya. Namun, refleks tubuhnya yang dilapisi oleh aura Ki secara cepat pun membuatnya hanya berkorban sehelai dari rambutnya.


Slep!


Kedua alis Tang Shin terangkat begitu melihat serangannya dihindari.


“(Dia menghindarinya?)”


Di tengah situasi tersebut, Liu Siyue menyadari suatu hal.


“(Kakak bilang dia ini kuat, dan aku tahu itu. Tapi, tingkat kultivasiku sudah meningkat setelah pertarungan dengan Xu Xiao. Aku yang ada di tingkat petarung master bintang dua sekarang, punya kesempatan untuk melawannya dengan kemampuan setara. Dan mulai dari sini adalah pertarungan konsep!)”


“Teknik tenaga dalam : Tolakan Ki!”


Telapak tangan Liu Siyue yang terbuka mendekati dada Tang Shin. Dan secara langsung, sebuah tolakan energi Ki datang mengalir dari lengannya.


Dak dak!


“Ukh!” erang Tang Shin sembari terhempas mundur sedikit ke belakang.


Tidak diberikan ruang untuk bernafas. Liu Siyue terus melemparkan serangannya secara beruntun di hadapan Tang Shin, dan sebaliknya. Pertarungan di antara mereka berdua itu memukau para penonton yang terbagi menjadi dua sisi.


Waaa!


“Gila, tidak ada celah sama sekali!”


“Tak kusangka gadis seperti dia bisa menyaingi tuan muda Tang Shin!”


“Kalau tak salah, dia adik dari Liu Shan itu.”


“Liu Shan? Peserta curang itu?”


“Hush, apa sih. Kau tidak ada bukti konkrit seperti itu.”


“Benar tahu. Terlebih lagi, aku merasa ragu kalau dia curang.”


“Kenapa begitu?”


“Lihat saja. Adiknya, nona Liu Siyue saja bisa bertarung dengan Tang Shin secara sengit. Kurasa mereka memang berasal dari keluarga yang hebat.”


Pertarungan Liu Siyue memberikan sebuah pencerahan bagi para penonton. Tak hanya untuk pandangan orang-orang terhadapnya, tetapi juga untuk Liu Shan.


Liu Shan duduk di antara para penonton. Menyaksikan peratrungan adiknya dengan mengernyitkan mata begitu tajam. Sama juga dengan Xiao Lin dan Hao Fenhua yang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Hebat. Adik Siyue bisa mengimbanginya!” ujar Xiao Lin.


“Liu Shan, apa anggota keluargamu sehebat ini semua? Aku jadi penasaran sekali,” gumam Hao Fenhua.


“Siyue adalah pengecualian. Dibandingkan adikku yang kecil, Mingming. Siyue tidak jauh lebih berbakat darinya.”


Kata-kata Liu Shan saat itu membuat kedua mata mereka melebar. Kepala mereka menoleh secara cepat sembari menatapnya.


“Hah, gimana? Tidak jauh lebih berbakat?” sahut Xiao Lin.


Liu Shan hanya melipat kedua lengannya di depan dada sembari menyandarkan punggung ke kursi.


“Apa maksudnya, Shan?” sambung Xiao Lin.


“Seperti yang kubilang. Siyue tidak memiliki bakat murni dalam berkultivasi. Kelebihannya bukanlah di sana,” jelas Liu Shan.


Xiao Lin dan Hao Fenhua menatapnya seolah tak percaya. Kata-kata yang kelaur dari mulut Liu Shan saat itu terdengar kejam bagi seorang kakak untuk berkata semacam itu terhadap adiknya sendiri.


“Shan, kau bercanda kan? Bagaimana kau bisa tega mengatakan hal seperti itu?” lirih Xiao Lin.


“Bahkan untukku saja mendengarnya itu sangat pedih,” sahut Hao Fenhua.


“Aku hanya berbicara fakta. Fakta tidak akan pernah peduli dengan perasaan, siapapun orangnya. Dan Siyue sendiri memahami hal itu,” balas Liu Shan.


Keduanya terdiam sesaat Liu Shan mengatakan hal itu. Raut wajah mereka, terutama Xiao Lin yang menunduk sembari cemberut itu mengatakan semua perasaannya.


“Tapi …”


Perhatiannya kembali tertarik sesaat Liu Shan mengatakan sepatah kata lagi.


Mata Xiao Lin terbuka lebar sejenak. Bibirnya berubah tersenyum lebar sembari mengembuskan nafas lega padanya.


Namun, pertarungan Liu Siyue masih terus berlangsung. Serangan yang dilempar oleh mereka berdua membuat sebuah hempasan angin Ki yang merubah atmosfer arena berubah seiring waktu berjalan.


Wush wush!


“(Masih belum. Aku masih bergerak lebih cepat lagi. Pertarungan masih belum selesai!)”


Jerih payah yang Liu Siyue keluarkan tidaklah terukur. Latihan keras yang dia tempuh demi menyusul sang kakak mulai berputar kembali dalam kepalanya seperti sebuah rekaman.


Dibawah derasnya hujan, teriknya panas matahari, lelahnya tubuh yang tak mau menuruti keinginannya. Namun, Liu Siyue terus berlatih tanpa membuang-buang sedetik pun untuk menjadi lebih kuat.


“(Aku akan mengalahkannya. Menempuh tempat yang lebih tinggi, aku akan menyusul kakak)”


Di suatu kesempatan, Liu Siyue menghindari tendangan memutar dari Tang Shin. Celah besar yang dia lihat dari sisi tubuh Tang Shin pun membuatnya melemparkan serangan andalannya.


“(Sekarang atau tidak.akan pernah. Ini kesempatanku!)”


“Konsentrasi Ki : Telapak Penghancur Bumi!”


Wos

__ADS_1


Konsentrasi dari aura Ki yang terkumpul di dalam telapak tangan Liu Siyue dapat dirasakan oleh semua orang di dalam arena. Pukulan terkuat sebagai penentu pertandingan, jawabannya hanya akan muncul ketika serangan tersebut mendarat atau dihindari.


Nafas para penonton terhenti melihatnya. Liu Siyue yang menghempaskan serangannya pun mengguncang udara tepat di depan mata.


Dum dum!


Rahang terbuka sembari berdiri memegang rambut. Para penonton sontak ikut terkejut melihat apa yang ada di dalam arena. Mata melebar sembari alis mengangkat. Nafas terkesiap seolah terkejut melihat serangannya menyerang udara lepas.


“Mus … tahil!”


Liu Siyue terdiam tak percaya. Serangannya dengan celah sebesar itu dapat dihindari oleh Tang Shin yang telah menghilang di depan mata. Dan dalam sekejap, Tang Shin muncul tepat di belakangnya.


Aura Ki yang tipis, serta pergerakan secepat kilatnya itu tidak bisa di tangkap oleh mata para penonton.


“(Di belakang?!)”


Sebelum Liu Siyue sempat melakukan sesuatu, dia pergelangan tangannya sudah di tahan oleh Tang Shin sembari di banting ke lantai arena.


Duak!


“Ugh!” erang Liu Siyue.


Posisi terlihat tidak baik untuknya. Namun, Liu Siyue tidak menyerah sama sekali. Aura Ki di sekujur tubuhnya bergetar kuat sembari meronta.


Walau sekuat apapun dia berusaha untuk keluar, Tang Shin pun tidak bergeming sama sekali.


“Sudah cukup. Pertandingannya sudah selesai,” ujar Tang Shin.


“Masih belum. Jangan memutuskannya sendiri, aku belum menyerah!” bantah Liu Siyue.


Karena melihat Liu Siyue yang tidak berujung berhenti meronta, Tang Shin membalas dengan tekanan dari aura Ki miliknya.


Deg!


Desakan kuat tersebut membuat Liu Siyue terdiam. Besarnya kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya juga membuat Liu Siyue tak berdaya untuk melawan balik.


Otot di seluruh tubuhnya pun melemas. Memberikan signal bagi Bai Ling untuk mengakhiri pertarungan.


“Pertarungan kedua turnamen akademi Liliang telah selesai. Pemenangnya adalah Tang Shin!”


Waaa!!


Penonton bersorak heboh mendengar hasil pertarungan. Kemenangan Tang Shin sekali lagi mengguncang arena.


Di lain sisi, hanya Liu Shan, Hao Fenhua dan Xiao Lin yang terlihat berdiam duduk di antara para penonton. Raut wajah tak berubah banyak bagi Liu Shan, namun Xiao Lin hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


“Tidak mungkin. Adik Siyue … kalah,” lirih Xiao Lin.


“Padahal mereka berdua ada di tingkat kultivasi yang sama. Tapi, Tang Shin masih sanggup untuk mengelabuinya,” gumam Hao Fenhua.


Terlepas dari itu, Liu Shan tak memalingkan pandangannya dari sana. Dia melihat bagaimana adiknya sendiri dibuat tak berdaya di hadapannya.

__ADS_1


Kedua kaki membawa tubuhnya berdiri dari kursi tersebut. Xiao Lin yang melihatnya pergi dari area penonton pun tak bisa menghentikannya. Dia hanya bisa terdiam sembari melihat Liu Shan pergi dari sana.


Di lain sisi, pertarungan kedua telah selesai. Liu Siyue yang telah kalah hanya bisa menggigit bibir sembari menundukkan kepala. Kepalan tangan menguat hingga menimbulkan luka goresan yang dalam.


__ADS_2