
Guan Liu yang melihat tatapan tersebut sontak di aliri oleh bayangan kematian di dalam kepalanya.
Hao Fenhua yang berdiri di sampingnya pun berjalan ke belakangnya dan menepuk kedua pundaknya. Wajahnya yang masih tersenyum lebar dan ramah, bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan di telinga Guan Liu.
“Aku baru saja bertemu dengannya. Jadi jangan berharap kalau aku bisa membujuknya agar tidak membunuhmu”
Ucapan Hao Fenhua membuat Guan Liu semakin ketakutan. Nafasnya yang terkesiap membuat tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
Hao Fenhua melepas kedua tangan dari pundaknya dan mengambil langkah mundur seolah ingin menjauh dari Guan Liu.
“Semoga beruntung”
Ucapan itu tidak terdengar seperti sebuah dukungan. Melainkan sebuah salam perpisahan yang mengenaskan bagi Guan Liu. Dia yang mendengar hal tersebut langsung mendorong kedua pengikutnya untuk maju ke depan.
Buk!
“Aah!”
Kedua pengikutnya mengerang ketakutan sekaligus terkejut. Secara bersamaan, mereka menoleh ke arah yang sama di mana Guan Liu mendorong mereka dari belakang.
“Tu-tuan?!”
“Pasang badan kalian dan bunuh dia!”
“Ta-tapi, tuan-!”
“Lakukan sesuai apa yang ku katakan! Nyawa kalian tidak lebih penting dari milikku. Gunakan hidup kalian untuk melindungiku!”
Sebuah kalimat yang menunjukan sifat asli dari manusia ketika berada di situasi terpojok. Liu Shan sendiri yang melihat hal itu terjadi di depan matanya, menjadi mengingat kehidupan lamanya.
Walaupun di kehidupan sebelumnya lebih modern dan memiliki hukum yang membatasi perilaku manusia, tetapi hal seperti itu tidak pernah menghilang.
Di kehidupan dia saat menjadi direktur, Liu Shan telah melihat banyak orang yang berusaha menjual kesalahan kepada orang lain. Membuang mereka ke jurang agar diri mereka sendiri bisa meningkatkan kualitas hidup dan mendapatkan uang yang banyak.
Sama dengan dunia kultivasi yang kini di tempati olehnya. Uang yang banyak, memiliki nilai yang hampir sama dengan kekuatan kultivasi yang tinggi. Semakin banyak dan kuat mereka, maka akan semakin di takuti dan di hormati oleh orang lain.
Sedangkan Liu Shan yang melihat hal itu sudah sangat muak. Dia mengernyitkan wajahnya dan menatap tajam ke arah Guan Liu. Amarahnya di lampiaskan dengan pergerakan cepat yang membuatnya muncul tepat di hadapan Guan Liu, dan melewati kedua pengikut yang berdiri di depannya.
[ Skill : Sprint telah di aktifkan ]
[ Status kecepatan dan kelincahan telah di tingkatkan menjadi +50 poin ]
Skill yang membantunya bergerak dengan cepat itu tak bisa di tangkap oleh mata. Baik itu mata Guan Liu dan pengikutnya, maupun Hao Fenhua sendiri yang melihat dari jauh.
Kedua mata mereka melebar kuat seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sedangkan Liu Shan yang berdiri tepat di hadapan Guan Liu tak segan-segan menarik mundur kepalan tangannya yang di lapisi energi Ki.
“Kau memukulku, mungkin itu bisa aku tolerir. Tetapi, jika kau tidak menghargai nyawa orang lain, maka jangan salahkan takdir jika karma menjemputmu!”
Nafasnya terhenti, pandangannya kosong seolah pasrah pada takdir. Liu Shan yang di tengah mengayunkan tinju penuh aliran Ki itu bagaikan ajal telah datang menjemput Guan Liu di depan matanya.
__ADS_1
Hao Fenhua saja yang melihat aliran Ki itu dapat mengetahui bahwa Liu Shan tidak menahan balik kemampuannya.
Dan ketika ayunan tinju hampir mendarat tepat di wajahnya, datang sebuah aliran energi Ki lain yang melesat dengan cepat dan menahan serangan Liu Shan di antaranya.
DUAAR!
Ledakan kuat dari benturan energi Ki yang berbeda itu membuat semua orang di sekitarnya terhempas mundur ke belakang. Guan Liu dan kedua pengikutnya, dan juga Hao Fenhua yang hampir terbawa ledakan tersebut.
Liu Shan yang mengayunkan tinjunya lurus pun masih menatap tajam ke depan. Ledakan Ki yang berkobar di sekitarnya mulai mereda, dan memperlihatkan apa yang telah menahan serangannya itu.
Dan di sana, Liu Shan melihat adanya Qing Yao yang menahan tinjunya dengan satu telapak tangannya. Kepalan erat dari tangannya itu di genggam oleh Qing Yao seolah tak akan di lepaskannya.
Dengan tatapan serius yang menuju langsung ke dalam mata penuh amarah Liu Shan, Qing Yao berusaha menenangkannya.
“Liu Shan, turunkan tinjumu!”
Qing Yao berusaha membujuk Liu Shan dengan tatapan ganasnya itu. Sedangkan Liu Shan sendiri masih berpikir muak terhadap sikap brengsek milik Guan Liu. Tetapi, yang dia hadapi saat ini adalah Qing Yao.
Perempuan yang datang mengundangnya ke dalam akademi, terlebih lagi sosok yang di kagumi oleh Liu Shan ketika datang ke dunia tersebut. Karena alasan itu, Liu Shan menarik mundur tinjunya dan menghilangkan seluruh energi Ki yang mengancam.
Qing Yao pun menghela nafas lega ketika melihat Liu Shan dapat tenang dengan mudah. Tetapi, ada sesuatu yang terlihat seperti sedang di tahan oleh Qing Yao. Bibirnya sedikti mengerut seolah sedang menahan rasa sakit.
Dan ternyata, rasa sakit itu berasal dari telapak tangannya yang menahan pukulan Liu Shan. Telapak tangan kanannya terlihat seperti sedikit terbakar dan mengalami luka memar yang begitu berat.
“(Uckh! Tak kusangka pukulannya bisa sesakit ini. Bukankah dia masih seorang petarung jenderal bintang empat? Lantas dari mana seluruh energi besar itu datang?!)”
Qing Yao membatin kebingungan karena dia yang telah meningkat menjadi seorang petarung master bintang tiga, bisa mendapatkan luka dan bahkan merasa kesakitan dari serangan seorang petarung jenderal bintang empat seperti Liu Shan.
Semua orang yang berada di dekat sana berlari ramai-ramai dan berkumpul melihat apa yang terjadi di sana. Tatapan heran dan bisikan penuh kebingungan datang dari kiri dan kanan. Hingga tak lama kemudian, Liu Siyue datang dari dalam kerumunan itu dan menatap terkejut kepada kakaknya yang ada di tengah sana.
“Kakak?!” gumam Liu Siyue.
“Liu Siyue?” gumam Liu Shan yang menyadari keberadaan adiknya di belakang.
Tak lama kemudian, dari tengah kerumunan itu mulai menggeser dan memberi sebuah jalan setapak. Dari tengah jalan itu, muncul orang yang memiliki wewenang tertinggi di dalam akademi. Orang itu adalah tetua Xiao Khan.
Dia berjalan melewati kedua pengikut Guan Liu yang beranjak bangkit berdiri, dan menghampiri di tempat Liu Shan berdiri.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya tetua Khan.
Liu Shan, Qing Yao dan juga Hao Fenhua langsung membungkuk hormat pada tetua Khan.
“Tetua Khan, maaf karena anda harus melihat hal seperti ini” ucap Liu Shan.
“Qing Yao tidak menjaga dan mengajarkan murid yang Qing Yao bawa, mohon maaf atas pemandangan memalukan ini, tetua Khan,” sambung Qing Yao.
“Aku tidak memintamu untuk meminta maaf. Aku hanya meminta penjelasan saja,” sahut tetua Khan dengan nada tenang.
Di kala hal tersebut, tiba-tiba saja Guan Liu mengangkat tubuhnya dan berteriak memutar balik fakta.
__ADS_1
“Te-tetua Khan! Dia berusaha membunuhku. Aku datang untuk berlatih di tempat ini, tetapi dia mencegah dan menendangku keluar. Berkata bahwa aku, Guan Liu tidak berhak untuk berlatih di tempat yang sama dengannya!”
Jelas-jelas ucapan itu adalah kebohongan. Dan bagi orang yang menyaksikannya, termasuk Liu Shan, Qing Yao, Hao Fenhua dan bahkan kedua pengikut Guan Liu sendiri tertegun karena melihat betapa pengecutnya Guan Liu.
Namun, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Bahkan tetua Khan sendiri hanya menghela nafas dan mengangkat satu tangannya sejajar dengan kepala.
“Baiklah, kelihatannya ini hanya masalah kecil saja. Semuanya bubar-bubar, ini bukan sebuah tontonan.”
Dari ucapan tetua Khan, seluruh murid yang ada langsung berbalik dengan ragu-ragu karena masih penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Ketika tempat mulai sepi, tetua Khan berjalan menghampiri Liu Shan dan Qing Yao yang masih membungkuk hormat berdampingan.
“Kalian berdua, angkat kepala kalian,” ucap tetua Khan.
“Baik, tetua Khan,” sahut keduanya.
“Qing Yao, kau bawa anak ini kembali bersamamu,” ucap tetua Khan.
Mendengar hal itu dari belakang membuat Guan Liu sontak menolak dengan lantang.
“Tidak bisa! Tetua Khan, kau akan melepaskan anak ini begitu saja?! Dia hampir ingin membunuh-!”
Ucapan Guan Liu berhenti di tengah-tengah ketika melihat tatapan tetua Khan yang penuh senyuman ramah, namun mengeluarkan sebuah pancaran energi Ki yang begitu mencekam. Mulutnya tertutup rapat dan keringat dingin mulai bercucuran deras dari kepalanya.
Sedangkan tetua Khan sendiri menarik pandangannya kembali pada Liu Shan dan Qing Yao.
“Pergilah,” ucap tetua Khan.
“Di mengerti, tetua Khan. Liu Shan, ayo,” sahut Qing Yao sembari membawa Liu Shan pergi bersamanya.
Hao Fenhua yang melihat Liu Shan pergi pun berlari menyusulnya setelah memberikan hormat pada tetua Khan.
Ketika mereka telah berjalan pergi, tetua Khan kembali menatap pada Guan Liu.
“Dan Guan Liu,” ucap tetua Khan.
“I-iya tuan?!” sahutnya dengan membungkuk ketakutan
“Aku tahu apa yang kau lakukan. Jadi jangan coba-coba untuk membohongiku.”
Tidak ada niat dan bahkan aura yang menekannya, namun Guan Liu sudah langsung ketakutan di hadapan tetua Khan yang mengucapkan hal itu. Walaupun masih kesal terhadap Liu Shan, tetapi dia masih sayang dengan nyawanya dan tetap membungkuk hormat pada tetua Khan demi menutupinya.
“A-aku mengerti, tetua Khan. Ma-maafkan aku!” ucap Guan Liu.
“Sudahlah, pergi rawat dirimu jika ada luka,” sahut tetua Khan
“Baik, tetua Khan!”
Guan Liu berlari terbirit-birit dan menutupi wajahnya yang sedang menggertakan gigi begitu kesal.
__ADS_1
Sedangkan tetua Khan yang tertinggal seorang diri di sana menghela nafas panjang seolah terlihat lelah.
“Haahh … anak muda ataupun orang tua, mereka masih saja memandang rendah satu sama lain. Kapan dunia ini bisa damai?”