
Setelah dia keluar dari dalam ruang pelatihan, Liu Shan berjalan-jalan di sekitar akademi Liliang. Walaupun dia sudah tinggal di sana beberapa hari, tetap saja dia masih tak terbiasa. Akademi tersebut sangatlah luas. Di banding dengan akademi umumnya, akademi Liliang terlihat lebih seperti sebuah kota di dalam akademi kultivator.
Orang-orang yang berjualan di pinggir, maupun murid-murid akademi yang sedang pergi jalan-jalan dan bermain. Restoran-restoran ternama, terutama orang-orang yang datang berkunjung ke dalam akademi pun tidaklah sedikit.
Liu Shan yang berjalan di tengah kerumunan orang itu pun langsung melupakan perasaan kesalnya terhadap Xu Xiao tadi.
“Ini benar-benar hebat. Dibandingkan akademi, harusnya ini bisa menjadi kota yang berdiri sendiri,” gumam Liu Shan.
“Ayo ayo, kemarilah!” teriak penjual ikan.
“Ibu, aku ingin itu!” ucap gadis kecil.
“Sebentar ya, ibu masih belanja yang lain,” sahut ibunya sembari menahan putrinya untuk pergi.
Kerumunan orang itu sahut menyahut dengan melodi dari pengunjung maupun penjual. Hingga tak lama kemudian, Liu Shan mendengar sebuah ucapan seorang penjual wanita berteriak.
“Kemarilah, tuan nyonya kakak adik, semuanya! Bakpao nya masih hangat, rasa puncak dengan harga jurang!”
Liu Shan yang mendengar hal tersebut langsung tertarik. Dia berjalan menghampiri toko penjual bakpao itu. Terlihat bagaimana susunan bakpao yang masih segar dengan uap panas.
“Ayo kak, dibeli bakpaonya,” ujar wanita penjual bakpao.
“Bu, bakpaonya dua dong,” ucap Liu Shan.
“Oke, dua bakpao ya kak!”
Selagi menunggu wanita itu membungkus pesanannya, Liu Shan melihat ke meja toko tersebut. Berbagai varian dari bakpao dipajang di depan sana. Isi yang berbeda dengan pilihan tekstur yang banyak.
Di tengah melihat-lihat, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang datang berdiri di sampingnya. Perempuan itu pun memanggil sang penjual.
“Bibi, bakpaonya satu ya.”
Posisinya yang tepat berada di samping Liu Shan membuat perhatiannya teralihkan. Suara yang perempuan itu punya juga terdengar familiar. Ketika Liu Shan menarik pandangannya ke samping, perempuan itu juga melakukan hal yang sama.
Rambut hitam panjang yang berkibas lembut berpadu sempurna dengan kulit seputih susu. Kedua mata ungu yang berkilau terang berbalas menatap ke arahnya. Siapa sangka bahwa perempuan yang dia temui di sana adalah Xiao Lin, cucu dari tetua Khan.
“Lin’er?” gumam Liu Shan.
“Ah, Shan!” sahut Xiao Lin.
“Kebetulan sekali. Kau juga beli bakpao?” tanya Liu Shan.
Xiao Lin mengangguk pelan menjawabnya.
“Iya. Aku sedikit lapar setelah latihan tadi,” jelas Xiao Lin.
“Latihan?” sahut Liu Shan.
Ketika mereka sedang berbincang, wanita penjual bakpao itu pun menyela.
“Kakak, ini bakpaonya.”
Kedua tangan di ulur ke depan sembari memegang dua kantong berisi bakpao.
“Ah, terima kasih.”
Liu Shan dan Xiao Lin mengambil kantong bakpao mereka masing-masing setelah membayar. Setelah melihat mereka mengambilnya, wanita penjual bakpao itu menyahut.
“Kalian berdua beli bakpao yang berbeda?” tanya wanita penjual bakpao.
__ADS_1
“Berbeda gimana bu? Masa kita makan satu bakpao berdua,” sahut Liu Shan sembari tertawa kecil.
“Ya ga begitu juga. Tapi, kalian kan sepasang kekasih. Masa belinya pisah-pisah begitu? Kenapa ga di satuin aja?” ujar wanita penjual bakpao.
Ucapan wanita tersebut membuat salah paham. Liu Shan memang hanya terdiam dan membuka kedua matanya sedikit lebih lebar, tetapi Xiao Lin tidak. Wajahnya yang memerah malu itu berusaha dia sembunyikan dengan menunduk.
Di lain sisi, Liu Shan pun menyahut kembali pada wanita penjual bakpao.
“Hahaha, ibu bisa saja. Terima kasih bakpaonya ya bu,” ucap Liu Shan sembari berbalik jalan.
Saat dia ingin pergi, Liu Shan menggenggam tangan Xiao Lin dan membawanya pergi dari sana. Xiao Lin yang tertarik olehnya pun hanya bisa terkejut sekaligus diam mengikutinya dengan tenang.
Kemudian, keduanya telah sampai di sebuah taman. Liu Shan segera melepaskan genggamannya dan berbalik pada Xiao Lin.
“Maaf, Lin’er. Aku malah membawamu pergi secara paksa begini,” ucap Liu Shan.
Xiao Lin menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa kok. Aku juga ingin cari tempat buat makan bakpao,” gumam Xiao Lin.
Ketika Xiao Lin menoleh ke sekitar taman, dia melihat sebuah kursi panjang yang sedang kosong.
“Ah, itu. Bagaimana kalau kita duduk di sana dulu?” tanya Xiao Lin.
Liu Shan menoleh ke arah Xiao Lin menunjuk kursi tersebut.
“Hm? Oh, boleh saja kok,” sahut Liu Shan.
Mereka berdua pun duduk berdampingan di sana. Membuka kantong bakpao yang masih hangat sembari menyantapnya.
“Mmhh, bakpao bibi memang paling enak!” gumam Xiao Lin.
“Kau sering beli bakpaonya?”
“Dulu sih sering. Tapi sekarang sudah mulai jarang.”
“Kenapa begitu?”
“Semenjak akademi Liliang mulai pembelajaran, aku mulai fokus untuk latihan dan belajar terus. Waktu untuk keluar jadi berkurang, sedangkan kakek saja semakin ketat menjagaku.”
Dari penjelasan Xiao Lin, Liu Shan tahu mengapa kakeknya menjadi lebih ketat menjaganya. Kutukan iblis yang Xiao Lin miliki itu adalah suatu hal yang tidak bisa di prediksi. Dia hanya berusaha untuk menghindari kemungkinan terburuk.
Selain itu, Liu Shan juga tertarik terhadap ucapan Xiao Lin tentang latihannya.
“Ah, ngomong-ngomong soal latihan. Kau tadi bilang baru saja selesai melakukannya. Latihan apa memangnya?” tanya Liu Shan.
“Iya. Latihan pertarungan dan kultivasi dengan kakek,” sahut Xiao Lin.
“Kakek? Maksudmu tetua Khan?” ucap Liu Shan dengan kedua mata sedikit melebar.
Xiao Lin mengangguk pelan dengan mengonfirmasi ucapan Liu Shan. Tentu saja, seharusnya dia tidak terkejut kalau tetua Khan akan mengajar Xiao Lin secara pribadi. Tapi, kemampuan tetua Khan sebagai Raja petarung bintang satu dalam melatih Xiao Lin terasa sangat menguntungkan.
“Waah, jadi tetua Khan secara langsung melatihmu ya. Hebat sekali,” gumam Liu Shan.
“Kakek itu cukup keras kalau masalah latihan. Aku yang sebagai cucunya saja tidak di beri ampun olehnya,” sahut Xiao Lin.
“Benarkah?” ucap Liu Shan.
Xiao Lin kembali mengangguk menjawabnya.
__ADS_1
“Saat umur 15 tahun, kakek pernah menyuruhku untuk berkultivasi tepat di bawah air terjun.”
“Air? Air terjun?”
“Iya. Dari pagi hingga siang, kakek tidak memberiku istirahat. Aku terus-terusan di guyur oleh air dingin dari gunung itu.”
Selagi Xiao Lin bercerita, Liu Shan jadi teringat terhadap wajah tetua Khan. Walau terlihat seperti kakek tua yang sayang dengan cucu, tetapi dibaliknya terdapat sifat keras dalam mendidik.
“(Wah, penampilan memang tidak menentukan sifat orangnya ya)”
Di lain sisi, Xiao Lin melanjutkan ucapannya.
“Tapi, berkat kakek lah aku bisa mencapai titik ini. Berkultivasi dengan latihan keras seperti itu membantu tubuhku untuk menjadi lebih kuat,” ujar Xiao Lin sembari mengelus punggungnya sendiri.
Melihat gerakan Xiao Lin membuat Liu Shan membayangkan kutukan iblisnya. Arah pembicaraan itu menjadi tak enak. Liu Shan pun berusaha membanting arah obrolan menjadi lebih ringan.
“Oh, kalau gitu gimana latihanmu tadi?” tanya Liu Shan.
“Tadi sih lumayan berat. Kakek hari ini sedikit kasih keringanan, mungkin karena turnamen kekuatan akademi Liliang tinggal tiga hari lagi,” jelas Xiao Lin.
“Begitu ya,” gumam Liu Shan.
Setelah obrolan singkat mereka, keduanya terus melahap bakpao mereka. Xiao Lin yang hanya memiliki satu bakpao pun sudah kehabisan duluan. Sedangkan Liu Shan sudah ada di setengah jalan memakan bakpaonya yang kedua.
Xiao Lin merasa canggung karena tak melakukan apa-apa. Matanya yang melirik ke kiri dan kanan seolah gelisah itu juga membuat Liu Shan tersadar. Dengan inisiatifnya, Liu Shan menawarkan bakpao itu padanya.
“Kau mau?” tanya Liu Shan.
Kedua mata Xiao Lin terbuka lebar melihatnya menawarkan bakpao.
“Eh?”
“Kalau kau mau, gigit saja. Gapapa kok.”
Awalnya, Xiao Lin merasa malu-malu. Tetapi, dia mendekat gigit bakpao tersebut sembari merapihkan rambut ke belakang telinga.
Di saat yang bersamaan, di tengah jalan akademi Liliang. Salah satu petinggi akademi, Qing Yao sedang berjalan bersama dengan satu orang laki-laki yang mengikuti dari belakang. Keduanya terlihat seperti sangat sibuk membahas sesuatu.
“Kau sudah urus semuanya?” tanya Qing Yao.
“Sudah. Kali ini hanya tersisa di urusan panggung dan juga penggalangan dana.”
“Itu hal yang mudah. Kau hubungi tetua di gedung utama, mereka akan mengurusnya.”
“Baik, nona. Setelah itu, kita ada ….”
Ketika laki-laki itu sedang berbicara padanya, perhatian Qing Yao teralihkan saat melirik ke arah taman. Dia melihat punggung lebar Liu Shan yang sedang duduk manis bersama seorang gadis di sampingnya.
“Nona Qing Yao?” tanya laki-laki itu.
“Ah, maaf. Kau kembalilah, untuk urusan lainnya coba hubungi Sheng Tong. Aku ada urusan lain,” ujar Qing Yao sembari meninggalkan laki-laki itu.
Qing Yao berjalan mendekat dari belakang. Melihat bagaimana Xiao Lin mengambil gigitan dari bakpao Liu Shan itu dengan elegan.
“Seharusnya aku beli tiga saja. Kalau begini, kau pasti masih bisa kebagian bakpaonya,” ujar Liu Shan.
“Eh, ga perlu kok!” sahut Xiao Lin.
Dari belakang, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih muda yang harmonis. Qing Yao yang melihat mereka berdua bermesraan dari belakang pun melipat kedua tangan di depan dadanya.
__ADS_1
“Bakpaonya enak?”