
Keesokan harinya
Secercah sinar mentari yang begitu terang lantas perlahan-lahan menembus hingga ke dalam tenda, membuat Farel lantas mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali begitu merasa ada cahaya silau di sekitarannya. Farel kemudian bangkit dari posisi tidurnya sambil menggaruk lehernya khas orang bangun tidur dan melangkahkan kakinya keluar dari area tenda.
Farel yang baru saja keluar dari tenda nampak mengedarkan pandangannya ke sekitar sambil sesekali menguap karena masih mengantuk. Sampai kemudian ia yang baru sadar bahwa suasana di sekitarnya begitu sepi membuat Farel lantas sedikit mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Apa kakak sedang mandi? Lalu dimana pria itu? Apa jangan-jangan!" ucap Farel yang terkejut karena berpikir bahwa Erzhan telah mencelakai kakaknya itu.
Dengan langkah kaki yang terburu-buru Farel kemudian mencoba mencari keberadaan Felisa di dalam mobil dan berakhir dengan kekosongan. Tak ingin hanya berspekulasi Farel kemudian kembali berlari dan mencoba mencari keberadaan Felisa di sekitaran aliran sungai berharap di sana Farel bisa menjumpai kakaknya itu.
**
Sungai
Farel yang baru saja sampai di aliran sungai lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran mencari keberadaan Felisa namun Felisa tidak ada di manapun juga. Farel menjambak rambutnya dengan kasar karena khawatir akan keadaan Felisa saat ini.
"Kakak dimana?" ucapnya dalam hati sambil masih mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran.
Beberapa saat menatap ke arah sekitaran pandangan mata Farel kemudian terhenti pada sebuah jejak di tanah yang terlihat begitu aneh menurutnya. Farel yang penasaran akan hal tersebut lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah jejak itu untuk melihat jejak hewan atau memang jejak manusia, setidaknya dengan mengikuti jejak tersebut mungkin Farel akan menemukan keberadaan Felisa di sana.
__ADS_1
Farel yang melihat ada jejak tapak kaki hewan cukup banyak mengarah ke suatu tempat lantas memutuskan untuk mengikuti jejak tersebut secara perlahan sambil sekalian mencari keberadaan Felisa di sekitaran sana. Lama Farel melangkah dan terus melangkah sampai kemudian langkah kakinya terhenti pada sebuah dahan pohon besar. Farel yang tak menemukan apapun di sana lantas mengambil posisi berkacak pinggang sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
"Sia-sia aku mengikuti jejak itu sampai ke sini, benar-benar mengesalkan!" ucap Farel dengan nada yang kesal.
Sampai kemudian ketika Farel tengah sibuk menggerutu akan langkah kakinya yang sia-sia karena mengikuti jejak sesuatu yang tidak pasti, sebuah benda tiba-tiba jatuh dan mendarat tepat di kepalanya membuat Farel lantas langsung meloncat karena terkejut takut benda tersebut adalah binatang buas atau bahkan ular berbisa.
"Apaan tuh..." ucap Farel dengan spontan sambil bergidik ngeri.
Farel yang penasaran akan benda jatuh yang menimpa kepalanya barusan lantas perlahan-lahan mulai mendekat ke arah benda tersebut. Betapa terkejutnya Farel ketika ia sampai di dekat benda tersebut ternyata benda itu adalah sandal yang tak asing diingatnya, Farel yang mengenali sandal itu lantas mengambil sandal tersebut dan menatapnya dengan tatapan yang menelisik beberapa saat.
"Jika sandal itu jatuh dari atas itu artinya kak Feli pasti ada di...." ucap Farel kemudian sambil mendongakkan kepalanya ke atas mencoba menatap apa yang sedang ada di atas pohon.
"Kak Feli!" pekik Farel kemudian ketika melihat Felisa dan juga Erzhan malah asyik tidur di atas pohon tanpa memikirkan bahaya yang akan menanti mereka jika sampai mereka jatuh dari atas.
"Apa kau tidak sekalian meminjam toa masjid agar suaramu bisa terdengar sampai ke penjuru hutan ini? Kau benar-benar menyebalkan!" ucap Erzhan menggerutu sambil meloncat turun ke bawah.
"Benar-benar tuan bermulut tajam! Harusnya kau itu yang perlu menyaring perkataanmu. Lagi pula apa yang kalian lakukan sampai tidur di atas pohon seperti itu? Apa tidur di dalam tenda sangat tidak nyaman untuk kalian berdua ha?" ucap Farel tak mau kalah dengan Erzhan membuat Erzhan lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengarnya barusan.
"Kami semalam dikejar segerombolan babi hutan, jadi kami berdua memutuskan untuk naik ke atas pohon agar kami selamat dari kejaran mereka." ucap Felisa kemudian menjelaskan kepada Farel kronologinya, membuat Farel lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah kakaknya.
__ADS_1
"Apa kakak baik-baik saja? Mengapa kakak tidak memberitahu ku kemarin?" ucap Farel dengan raut wajah yang khawatir kepada Felisa, membuat Felisa lantas tersenyum ketika mendengar nada khawatir adiknya saat ini.
"Lagi pula apa yang bisa kau lakukan ketika berhadapan dengan segerombol babi hutan? Apa kau pawang babi hutan?" ucap Erzhan dengan nada yang datar sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.
Farel yang mendengar perkataan Erzhan barusan lantas hendak mengejar langkah kaki Erzhan dan memberinya pelajaran, namun Felisa malah menahannya agar tidak meneruskan langkah kakinya dalam mengejar kepergian Erzhan barusan.
"Sudahlah Rel... Lagi pula apa yang kalian berdua ributkan? Ini hanyalah masalah yang sepele, sudah ya? Tidak perlu diperpanjang lagi." ucap Felisa kemudian sambil menggenggam dengan erat tangan Farel agar tidak melarikan diri.
Sedangkan Farel yang mendengar perkataan dari Felisa barusan langsung berdecak dengan kesal karena kakaknya selalu saja melakukan hal tersebut. Terkadang terlalu bersikap baik itu tidaklah baik, hal itulah yang membuat Farel tidak terlalu suka dengan sikap kakaknya yang tidak pernah berubah.
"Tapi kak..." ucap Farel hendak melayangkan protes namun langsung menadapat tatapan yang menelisik ke arah Farel membuat Farel langsung terdiam dengan seketika.
"Baiklah baiklah aku menyerah kali ini terserah kakak!" ucap Farel kemudian dengan nada yang kesal membuat Felisa lantas tertawa dengan kecil ketika melihat ekspresi ngambek dari adiknya tersebut.
**
Area depan tenda di mana mobil mereka diparkirkan.
Erzhan yang baru saja sampai di mobil Felisa lantas langsung mengambil posisi berkacak pinggang. Erzhan benar-benar kesal akan tingkah adik Felisa yang selalu saja kekanakan dan tidak pernah bisa serius membuat kepala Erzhan selalu saja pusing ketika berhadapan langsung dengan Farel.
__ADS_1
"Benar-benar menyusahkan! Aku harus segera menyelesaikannya dengan cepat agar tidak lagi berurusan dengannya...." ucap Erzhan sambil sesekali melirik ke arah belakang untuk melihat apakah Felisa dan juga Farel berhasil menyusul langkah kaki dirinya.
Bersambung