Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Bagaimana Ibu bisa menemukannya?


__ADS_3

"Apa tujuan mu sebenarnya?" ucap Vallen kemudian yang lantas membuat Erzhan langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.


Sadar jika niatannya sudah di ketahui dengan cepat oleh Vallen saat ini, lantas membuat helaan napas terdengar dengan jelas berhembus di mulut Erzhan saat itu. Membuat Vallen yang mendengar helaan napas tersebut tentu saja langsung penasaran seakan bertanya-tanya akan perubahan ekspresi raut wajah Erzhan saat ini.


"Aku tahu jika basa-basi sekalipun mungkin akan terdengar sangat aneh saat ini dan kamu pun tidak akan percaya akan hal itu. Baiklah aku akan jujur di sini, aku mendekati Felisa untuk mencari tahu tentang letak keberadaan harta tersembunyi tersebut. Ada beberapa alasan yang mendasari ku untuk bisa menuju ke harta tersembunyi tersebut, namun maaf aku sama sekali tidak bisa mengatakan alasan tersebut karena bersifat pribadi." ucap Erzhan secara langsung tanpa ada yang ia tutupi sedikitpun.


Sedangkan Vallen yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Erzhan saat itu tentu saja langsung tersenyum dengan simpul, ia jelas tahu watak Erzhan menurun dari siapa karena ia kenal satu orang dengan sikap dan juga watak yang sama.


"Kau putra Rayshiva rupanya..." ucap Vallen sambil tersenyum simpul, membuat Erzhan langsung mengernyit dengan seketika begitu mengetahui jika Vallen mengenalinya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" ucap Erzhan dengan raut wajah yang penasaran.


"Sifatmu itu benar-benar menurun darinya, kamu dan dia adalah fotokopiannya. Aku benar-benar takjub sekaligus heran, mengapa kamu bisa begitu persis sama seperti dengan dirinya?" ucap Vallen dengan tersenyum simpul.


"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" ucap Erzhan kemudian.


"Kami berdua adalah teman sekolah dulu, jangan terkejut karena memang itu lah kenyataannya. Jika kamu menginginkan harta tersebut kamu harus bisa meluluhkan hati Felisa tanpa paksaan, jika kamu memaksakan sesuatu yang bukan milik mu segalanya akan berakhir dengan sia-sia, ingat itu. Jika Felisa memang memberikannya kepada mu secara sukarela itu artinya kamu spesial dan Felisa percaya kepadamu. Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya, jadi aku harap kamu bisa melihat mana harta yang sesungguhnya. Jangan sampai kamu salah dalam memilihnya." ucap Vallen dengan nada yang santai sambil mulai mengambil langkah kakinya berlalu pergi dari sana.


Sedangkan Erzhan yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Vallen barusan, tentu saja hanya bisa terdiam sambil berusaha untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Entah apa yang dimaksud oleh Vallen saat ini, namun yang jelas perkataan Vallen seperti mengarah ke arah sesuatu yang lebih berharga daripada sebuah harta.

__ADS_1


"Entah apa yang coba ia katakan namun yang jelas sepertinya dia sama sekali tidak memperdulikan masalah harta tersebut. Setidaknya saingan ku tidak bertambah, jika sampai ia juga menginginkannya maka aku akan semakin kesulitan karena posisinya Felisa lah yang mengetahui segalanya." ucap Erzhan pada diri sendiri sambil menatap ke arah kepergian Vallen barusan.


***


Ruangan kamarnya


Setelah berbincang sebentar dengan Farel di depan, Felisa nampak langsung memasuki area kamarnya untuk mencari keberadaan anting-anting tersebut.


Felisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap ke area sekitar seakan mencoba untuk mengingat-ingat keberadaan anting-anting tersebut. Sampai kemudian helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulutnya saat itu, ketika ia baru menyadari jika dirinya melupakan letak dimana Felisa menyimpang hadiah pemberian Nelson ketika ulang tahunnya saat itu.


"Dimana aku menaruh anting-anting itu ya? Mengapa aku jadi pelupa begini?" ucap Felisa sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.


Sambil memikirkan dimana Felisa menaruh anting-anting tersebut, Felisa terlihat mulai melangkahkan kakinya menyusuri area kamarnya dan mencari keberadaan anting-anting tersebut.


Felisa terus mencari dan mencari keberadaan anting-anting tersebut. Namun anehnya meski Felisa sudah mencarinya hingga ke almari terkecilnya sekalipun, Felisa tetap saja tidak menemukannya dimanapun. Membuat Felisa yang mendapati hal tersebut lantas langsung mendengus dengan kesal.


"Dimana sebenarnya aku meletakkannya? Mengapa tidak ada dimana pun? Tidak mungkin hilang kan?" ucap Felisa dengan raut wajah yang panik karena tak kunjung menemukan keberadaan anting-anting tersebut.


Di saat Felisa tengah sibuk mencari keberadaan anting-anting tersebut. Sebuah suara yang berasal dari ambang pintu kamarnya, lantas langsung menghentikan gerakan tangannya saat itu juga dan membuat Felisa langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu cari?" ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Vallen saat itu.


"Ibu..." ucap Felisa lirih ketika mendapati Vallen tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada saat ini.


Mendengar panggilan dari Felisa barusan, lantas membuat Vallen langsung tersenyum dengan seketika. Vallen kemudian mengambil duduk tepat di atas ranjang kesayangan milik Felisa saat itu, ditatapnya Felisa dengan tatapan yang intens kemudian mengkode Felisa agar duduk tepat di sebelahnya saat ini.


"Apa yang sedang kamu cari?" tanya Vallen kemudian ketika Felisa mengambil posisi duduk di sebelahnya.


"Aku sedang mencari hadiah dari Ayah beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya aku melupakannya. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku memakainya saat itu, mengapa aku bisa melupakannya seperti ini?" ucap Felisa dengan raut wajah yang lesu ketika sama sekali tidak bisa mengingat tentang anting-anting tersebut.


Sedangkan Vallen yang mendengar perkataan dari Felisa barusan, hanya tersenyum dengan tipis kemudian mulai membuka sebuah lemari kecil di atas nakas dan mengambil sesuatu di sana. Mendapati hal tersebut kemudian membuat Felisa lantas menatap ke arah Vallen dengan tatapan yang mengernyit, seakan seperti bertanya-tanya apa yang sedang Vallen lakukan saat ini.


"Ada apa Bu?" tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Sampai kemudian Vallen yang memberikan Felisa sebuah kotak kecil yang tak asing di ingatannya lantas membuat bola mata Felisa membulat dengan seketika.


"Bukankah ini... Bagaimana Ibu bisa menemukannya? Aku bahkan mencarinya hampir ke seluruh ruangan ini namun tetap saja tidak bisa menemukannya dimanapun!" pekik Felisa yang seakan terkejut akan apa yang batu saja di berikan oleh Vallen barusan.


"Tentu saja Ibu tahu karena Ibu yang membantu menyimpannya untuk mu!" ucap Vallen dengan tersenyum tipis, membuat Felisa langsung mengernyit dengan seketika.

__ADS_1


"Apa Bu? Tapi untuk apa?" ucap Felisa dengan raut wajah yang penasaran begitu mendengar perkataan Vallen yang terasa aneh di telinganya.


Bersambung


__ADS_2